
Flashback
Frans yang masih berusia 12 tahun kini sedang duduk disebuah halaman rumahnya yang terlihat mewah namun tak berpenghuni. Diumurnya yang masih sangat-sangat belia, Frans kecil harus tahu kenyataan bahwa dirinya hanyalah seorang anak kecil yang hidup sebatang kara, tanpa ayah, apalagi tanpa ibu. Ia bisa berbicara seperti itu, bukan berarti ia anak yatim piatu, melainkan, kedua orang tuanya yang tidak peduli terhadap dirinya.
Frans kecil hanya diasuh oleh sang kakek yang sudah cukup tua, namun masih gila kerja, di urus oleh sang kakek pun, Frans tidak merasakan kebahagiaan apalagi kehangatan. Hidupnya datar, dingin, tak tersentuh, dan tak ada gairah untuk hidup.
“Frans? Kamu tidak ikut pergi ke Belanda bersama kakekmu kemarin?” tanya Fany seorang teman dan sahabat Frans yang satu-satunya Frans miliki.
Frans kecil hanya bisa menjawab dengan gelengan.
“Kamu di sini dengan siapa?” Fany kembali bertanya sambil memperhatikan Frans. Frans memiliki daya tarik tersendiri di mata Fany, karena Frans dulu terlihat sangat tampan dibanding laki-laki seumuran mereka.
“Hm … hanya dengan pembantu,” jawabnya lesu.
“Perjalanan dari Indonesia ke Belanda membutuhkan waktu belasan hari untuk sampai di sana, kamu tidak apa-apa?”
“Huft … kamu terllau banyak bicara. Aku sudah bilang kalau aku tidak apa-apa, lagipun aku sudah biasa hidup sendiri.” Ekspresi dingin masih terlihat diwajahnya, namun begitu Fany tidak menyerah, gadis periang keturunan Jepang itu terus mengajak Frans berbicara.
“Yasudah, karena besok libur sekolah gimana kalau kamu ikut berlibur ke Bandung bersama keluargaku?”
Frans terdiam, ia tidak bisa berbohong jika ia sangat nyaman berada didekat Fany. Fany adalah perempuan cantik, lucu, pintar, dan berwibawa diumurnya yang juga sama sepertinya.
“Kenapa diam? Kalau kamu mau ikut, nanti Papaku bantu buatkan surat untuk kakekmu. Atau papaku bisa bilang kepada ayahmu nanti.”
“Aku bisa berlibur?”
Fany mengangguk sambil tersenyum menampilkan lesung pipi yang sangat cantik. “Iya! Ikut ya! Yeay ….”
Belum sempat Frans menjawab, Fany sudah bersorak riang karenanya. Mau tak mau akhirnya ia mneyetujui untuk ikut Fany pergi berlibur ke Bandung.
“Aku bilang Papa dulu ya, nanti kalau aku sudah bilang Papa, aku bantu kamu buat siapkan pakaian.” Fany pergi begitu saja dari hadapan Frans.
Frans hanya tersenyum kecil melihat tingkah lucu Fany yang sangat menggemaskan dimatanya kala itu. Frans yang sudah tak sabar akan ikut berlibur, ia pun masuk ke dalam rumahnya untuk pergi ke kamarnya yang berada di lantai 2. Sebelumnya, beberapa waktu yang lalu ia lihat jika dihalaman rumahnya terdapat mobil sang Papa, namun ia tidak melihat Papanya berada dimana.
Ketika masuk kedalam rumah mewah yang sangat sunyi itu, Frans disuguhkan dengan suara-suara aneh dari kamar sang Papa yang berada di lantai 1. Ia seperti mendengar ada suara beberapa wanita yang sedang mengucapkan kata-kata yang tak pantas ia dengar. Frans kecil yang penasaran, ia pun menghampiri kamar ayahnya, dan mengintip sedikit dibalik celah pintu, karena pintu itu tak terkunci.
Betapa terkejutnya Frans melihat ayahnya sedang berhubungan badan dengan 5 orang wanita sekaligus. Jantung Frans berdetak sangat hebat, apalagi ia bisa melihat ibunya yang sudah lama tak berjumpa pun ada di sana. Bermain memuaskan nafsu ayahnya bersama 4 wanita yang Frans sendiri tidak kenal.
“Papa … Mama …” gumamanya kecil sambil menutup mulutnya, air matanya keluar karena ia merasa jijik melihat hal itu.
Frans terdiam dibalik pintu cukup lama. “Franssss!” sebelum akhirnya suara Fany yang berteriak mengejutkan dirinya sampai ia terjatuh dan pintu itupun terbuka dengan lebar, alhasil keenam 6 yang tengah berhubungan badan itu melihat kearah pintu.
Fany yang melihat itupun terkejut dibuatnya, ia menutup matanya dan bersembunyi di balik tangga.
“Frans! Ngapain kamu disini!” Max sangat-sangat marah ketika melihat Frans yang terduduk di lantai sambil menudukan kepalanya menangis.
“Kenapa kamu tidak ikut dengan kakekmu!” Max masih berteriak dihadapan Frans dengan sangat kencang sehingga membuat Fany yang mendengar itu pun bergetar hebat.
Frans tidak menjawab, ia tidak berani melihat wajah papanya yang sangat murka, satu hal pasti yang menjadi perhatiannya adalah mamanya yang kini terduduk di pinggir kasur, merokok, dan tanpa busana melihat kearahnya, menampilkan senyum miring yang ia punya.
“Frans!” Max kembali berteriak.
“Ma—maaf, Papa ….”
“Pakai baju kalian semua,” ucap Max kepada 5 wanitanya, ia pun mengambil tas kerjanya.
Frans bisa melihat, jika Max melemparkan ratusan lembar dolar kearah 5 wanita itu termasuk mamanya yang ada di sana. Frans bisa melihat wanita itu berebut sambil tertawa, menanti uang itu untuk bisa mereka genggam. Frans sangat geram melihat semua wanita yang ada di sana, terlebih lagi ibunya.
“Sini kamu!” Max menyeret Frans untuk sampai di dapur.
“Adanya hidup kamu itu tidak berguna di dalam hidup saya, Frans!”
“Papa … Mama kenapa ada disana, kenapa perempuan itu juga ada di sana. Papa memiliki banyak istri?” Frans yang masih butuh penjelasan pun bertanya, diumurnya yang akan menginjak 13 tahun ia sudah mengerti tentang hal itu, apalagi banyak teman seumurannya juga sudah memiliki pasangan diusia muda.
“Kamu tidak perlu tahu tentang urusan dewasa ….”
“Papa … aku mau ketemu Mama, aku mau ketemu Mama …” Frans meminta kepada max ingin bertemu dengan ibunya dengan air mata yang berderai.
“Mama? Mama siapa? Kamu tidak memiliki ibu!” Max kembali meninggikan suaranya.
“Tapi, Pa … itu Mama pergi …” Frans berlari mengejar seorang wanita yang ia ingat sekali sebagai ibunya, ia berlari sambil menangis mengejar mobil yang sudah pergi dari halaman rumahnya.
“Frans! Sini kamu!” Max berlari mengejar Frans, dan menarik tangan anaknya itu sampai terjatuh. “Kamu harus ingat sesuatu! Tidak ada yang namanya wanita di dunia ini! Wanita itu hanya pemuas nafsu! Wanita itu tidak berguna! Dan wanita itu hanya butuh harta. Dia bukan ibumu! Kamu tidak perlu memiliki ibu!”
Frans menangis, namun ia masih mendengar ucapan papanya. Max pergi dari hadapan Frans, memakai jaketnya lalu menaiki mobilnya, mobil itu pun pergi berbarengan dengan Fany yang berlari dihadapannya.
“Fany!” panggil Frans.
“Fany aku di sini. Aku mau ikut kamu pergi ke Bandung. Fany!”
Fany, wanita kecil itu terus berlari dan tidak memperdulikan Frans yang terduduk kesakitan dan menangis sambil memanggil namanya.
Frans yang melihat itu terdiam dan termenung, hujan tiba-tiba datang, semua kejadian yang mengerikan tiba-tiba saja terjadi dalam hidupnya yang masih cukup belia. Frans membiarkan hujan membasahi tubuhnya.
Frans merasa kecewa, dan hatinya merasa terkhianati dengan Max, mamanya dan juga Fany. Terlebih dengan mamanya dan Fany, mengapa mamanya tidak kenal dengan dirinya? Lalu, mengapa mamanya tidak menolong dirinya disaat menangis tadi? Mengapa mamanya hanya sibuk mengambil uang tanpa peduli sedikitpun tentang dirinya. Juga tentang Fany, mengapa Fany yang sudah menjadi harapan bagi Frans, kini malah pergi jauh meninggalkan dirinya tanpa satu patah katapun, padahal Fany tahu tentang kejadian apa yang menimpa dirinya.
Ia berjalan gontai ke kamarnya, ia termenung sendiri, di sudut kamar tanpa penerangan. “Semua manusia di dunia ini sama sama, tidak ada yang peduli denganku. Apalagi mama dan Fany, aku membenci perempuan dan Papa. Ya, aku membenci semuanya ….”
Flashback off
Keadaan dikantor Albra masih sama dengan beberapa kejadian waku lalu, Frans yang tidak setuju dengan cara pikir Albra untuk mempertahankan Qyen, ia pun enggan pergi dari kantor ini sebelum mendapatkan jawaban yang membuat dirinya lega.
“Kamu bisa mendapatkan anak yang dia kandung, tapi … jika anak itu laki-laki. Dan … setelah itu kamu harus melepaskan wanita itu pergi jauh dari kehidupan kamu.”
“Whatever. Saya akan menikahkan Qyen besok.”
Albra mencoba keluar dari kantornya, ia tidak peduli dengan Frans yang selalu mengancamnya. Tujuannya saat ini adalah Qyen.
“Albra! Berani-beraninya kamu!”
Suara Frans semakin meninggi, ia pun menghalangi jalan agar Albra tidak bisa keluar dari sana. Albra masih belum tahu apa yang menjadi alasan papanya yang selalu melarang dirinya untuk kencan dengan seorang wanita.
“Papa …” Ian kini datang karena mendapat laporan keributan dari Meta.
“Urusi kakamu ini! Dia tidak tahu malu!”
“Apa yang Papa maksud tidak tahu malu! Saya hanya ingin memperjuangkan wanita yang saya cintai!”
“Cinta!Cinta! Cinta! Tidak ada cinta didunia ini, Albra! Dia hanya butuh hartamu! Wanita itu membuat laki-laki bodoh! Dan kamu … tidak perlu berurusan dengan seorang wanita.”
Perdebatan mereka terus berlanjut, Kender dan Brian hanya bisa menunduk patuh memperhatikan keributan yang ada.
“Papa, sudah … kita pulang Papa bisa sakit,” ucap Ian mencoba lunak kepada Frans.
“Diam!” kini Frans memarahi Ian yang mencoba meleraikan semuanya.
“Papa belum pernahkan merasakan cinta kepada seorang perempuan? Saya tidak butuh apapun lagi dengan Papa, bahkan untuk memutuskan hubungan dengan Papa pun saya sanggup.” Albra berbicara dan meninggalkan Frans yang terdiam seribu bahasa.
Albra keluar dibarengi dengan Kender dibelakangnya.
Kaki Frans lemas, darahnya berdesir hebat, jantungnya berdetak 2 kali lebih cepat sebelum akhirnya ia kehilangan kesadaran.
“Papa!”
“Tuan!”
Mendengar teriakan Ian dan Brian secara bersamaan, Albra yang hendak menaiki lift pun tidak jadi, ia kini berlari kearah sumber suara. Ternyata Frans sudah dibopong oleh Brian.
“Papa hilang kesadaran, Al!” ucap Ian yang panik.
Albra yang masih memiliki hati nuari terhadap papanya, ia pun juga panik dan membantu Brian untuk membawa Papanya. “Siapkan mobil dilantai 5 sekarang!” teriak Albra kepada Kender.
30 menit kemudian, Frans sudah berada di rumah sakit, Frans memiliki riwayat menyakit jantung yang sangat kronis. Diumurnya yang sudah tua, sesekali Frans selalu menyampatkan diri untuk berobat jalan ke Amerika, namun tahun ini Frans belum sempat karena kesibukan dirinya.
Tubuh Frans yang terbaring lemah diatas brankar, kini sudah terpasang oleh beberap alat. Untung saja Frans melewati masa kronisnya.
Albra merasa bersalah karena sudah membuat Frans seperti ini. Sedari tadi, ia sibuk mondar-mandir di depan ruang Frans, ditemani dengan Ian, dan Kender.
“Albra, udahlah … Gue pusing liat Lo kaya setrikaan. Lo sendiri yang teriak ke Papa tadi, giliran Papa kaya gini, Lo juga yang pusing,” ucap Ian yang berbicara dengan nada tidak santai.
“Kamu pikir saya juga mau berbicara seperti itu ke Papa saya?”
“Ck! Kalau Papa gak sadar sampai beberapa jam lagi, mau gak mau kita harus bawa Papa ke Amerika apapun caranya.”
Albra hanya terdiam, pikirannya sangat-sangat kacau kali ini. Selain memikirkan Frans, otaknya pun memikirkan Qyen tentang kejadian tadi. Albra pun mengetikan sesuatu di ponselnya untuk memberikan pesan kepada Qyen tentang hal apa yang terjadi.
“Qyen dengan Meta?” tanya Albra kepada Kender.
Kender pun mengangguk. “Iya, Tuan.”
Albra menghela napasnya lega, setidaknya Meta akan menjaga Qyen dan baik-baik saja.
“Papa …” suara seorang anak kecil berlari dari lorong rumah sakit, dan tiba langsung memeluk kaki Albra.
“Hai jagoan Papa,” sapa Albra menampilkan senyuman indahnya di depan Alan. Janjinya terhadap diri sendiri, ia akan selalu menjaga Alan, mendidiknya dengan baik.
“Papa, Grapa kenapa? Kok supir ngajak aku kesini? Kenapa Qyen tidak menjemputku, katanya Papa janji akan mejemputku dengan Qyen.” Alan yang baru pulang dari sekolahnya, yang masih mengenakan seragam sekolahnya pun bertanya, mengapa hari ini berjalan tidak sesuai dengan rencananya.
“Maaf. Papa tidak bisa jemput kamu bersama dengan Qyen. Grapa sakit, dan Qyen harus istirahat di rumah. Sekarang, kamu bisa pulang dan temani Qyen?”
Alan tidak menjawab, ia memperhatikan kakeknya melalui kaca kecil dari depan pintu. “Hm … Grapa baik-baik sajakan?”
Albra mengangguk. “Grapa akan baik-baik saja.”
“Yasudah, aku ingin pulang, dan nanti jika Grapa sudah bangun Papa kasih tau ya, aku akan kembali kesini.”
...
Dukung terus dengan cara like komen yaa ...
Terimakasih!