ALBRA

ALBRA
49. H-1 Pernikahan



Setelah bersembunyi selama 4 bulan lebih lamanya dari mata-mata Frans, kini akhirnya Albra merasa lega bisa membawa Qyen ketempat umum di sisinya. Walaupun Frans belum sepenuhnya menyetujui kedekatan mereka, tapi ketika melihat sikap Frans semalam membuat Albra semakin berani untuk memperjuangkan Qyen menjadi istrinya.


Seperti saat ini, setelah kunjuangan ke panti selesai, Albra mengajak Qyen dan Alan pergi ke sebuah restoran mewah yang ada di dekat sebuah pantai. Albra membawa Qyen untuk menikmati makan siang mereka sambil menikmati semilir angin pantai dan pemandangan pantai Bali yang sangat indah. Walaupun mereka sudah bosan melihat pantai, namun ketika menikmati pemandangan itu dengan orang terkasih, rasanya sangat berbeda.


Albra dan Qyen duduk bersebelahan, dan Alan duduk dihadapan sang ayah. Sebenarnya Albra sudah memboking ruang privat untuk mereka, tapi Qyen memilih untuk makan di ruangan bersemi outdor tersebut, mau tak mau Albra menuruti semua kemauan Qyen.


“Ah … gigiku hilang dua, bagaimana caranya aku makan Qyen?” tanya Alan sambil melipat tangannya di dada. Suhu badan Alan sudah stabil, ia pun sudah tidak mengeluh merasakan sakit di dalam mulutnya, mungkin hanya luka sariawannya saja yang masih perlu disembuhkan.


Qyen terkekeh geli mendengar keluhan Alan, begitu juga dengan Albra. Mereka merasa gemas melihat wajah tampan Alan kini dihiasi dengan gigi ompong.


“Kamu kan mengunyah di gigi belakang, Alan. Kamu gak perlu khawatir, nanti dalam tiga minggu giginya akan kembali muncul,” jawab Qyen untuk meyemangati Alan.


“Pa, apakah aku masih tampan? Aku takut teman-temanku meledekku di kelas karena gigiku hilang dua.” Alan masih saja tidak percaya diri dengan kehilangan kedua giginya.


Albra menahan tawanya, ia pun mengusap pipi Alan dengan lembut. “Anak Papa selalu tampan. Gigi ompong buat anak laki-laki seumuran kamu itu namanya keren. Kalau gak percaya tanya Qyen.”


Qyen pun mengangguk membenarkan ucapan Albra. Alan menghela napasnya pelan, ia kini mencoba menerima nasib jika giginya hilang dua.


Tak lama hidangan pesanan mereka telah sampai. Alan dan Albra sangat suka sekali dengan seafood, mungkin karena mereka tinggal dikawasan pantai, begitu juga dengan Qyen yang hanya bisa mengikuti selera makan mereka, karena Qyen bisa makan makanan apa saja.


“Wow … Lobster ini sama seperti lobster yang aku makan di Singapore kemarin, benarkan, Pa?”


Albra mengangguk mengiyakan.


“Alan, cuci tangan dulu, nanti aku siapkan makanan untuk kamu.”


Alan berjalan kesudut ruangan untuk mencuci tangannya. Sedangkan Qyen kini sibuk membuka kulit udang untuk Albra dan Alan memakannya dengan cepat. “Biar pelayan yang mengerjakan itu, Qyen ….”


“Syut … makan saja, Alan gak suka kalau makanannya disentuh sama orang lain,” ucap Qyen dan hal itu dibenarkan oleh Albra.


Mereka makan dalam keadaan tenang dan santai, sesekali obrolan Qyen dan Alan menjadi candaan mereka. Albra sudah bisa melihat gambaran keluarga kecilnya dimasa depan, akhirnya … Albra bisa memiliki keluarga diumurnya yang menginjak 32 tahun.


“Kamu lihat orang yang sibuk mempersiapkan acara pernikahan di depan sana?” Albra mulai membuka suaranya untuk memberitahu Qyen tentang hal yang ia lihat.


Qyen yang tengah fokus dengan Alan pun teralihkan, dan melihat kearah yang ditunjuk oleh Albra. “Iya, kenapa, Kak?”


“Itu acara persiapan kita,” ucapnya dengan santai.


‘Uhuk-uhuk-uhuk!’


Qyen tersedak dengan air liurnya sendiri, Albra pun dengan sigap memberi Qyen minum. “Kamu kenapa? Kok bisa tersedak.”


Qyen menggeleng. “Aku … aku masih gak percaya kalau besok bakal nikah sama kamu,” ucapnya dengan tatapan sendu, haru, dan bahagia.


Albra membenarkan rambut Qyen yang tertiup angin. “Saya sudah berjanji akan membahagiakan kamu, dan saya akan membuktikan itu esok hari.”


Qyen menampilkan senyum manisnya, hal itu memang sudah menjadi harapan Qyen, tapi hatinya merasa sangat sakit karena ia akan menikah tanpa dihadiri oleh sanak keluarganya sendiri. Memikirkan keluarga saja, Qyen tidak tahu jika ia memiliki keluarga atau tidak.


“Kenapa diam?” tanya Albra yang melihat perubahan ekspresi Qyen. Sedangkan Alan masih fokus dengan kegiatan makannya.


“Kak … aku cuma sedih aja karena aku bakal menikah namun tidak ada keluarga aku yang hadir.” Qyen tersenyum menjeda ucapannya. “Aku memang tidak memiliki orang tua sejak bayi, bahkan sejak bayi merah aku sudah dititipkan ke panti asuhan, dan Bu Desi yang merawat aku sampai besar. Bu Desi pun tidak tahu siapa kedua orang tuaku, bahkan keluarga terdekatku. Dulu katanya, kedua orang tuaku mendaftarkan namaku kepanti asuhan dengan identitas palsu mereka, dulu Bu Desi tidak memiliki barang titipan dari kedua orang tuaku. Tapi tadi beliau ngasih aku ini tadi.” Albra melihat kearah jari tengah Qyen, sebuah cincin berlian yang sangat mahal terpajang manis di sana.


Albra tahu jika cincin itu memiliki harga yang sangat mahal, namun ia hanya bisa diam. “Bu Desi mendapatkan dari mana cincin itu?” Albra berbicara sambil merangkul Qyen, mencoba untuk memberikan Qyen sandaran agar tidak sedih. Qyen pun meletakan kepalanya dibahu Albra, sambil melihat cincin cantik yang berada di jari tengahnya, Qyen pun tersenyum.


“Bu Desi bilang … ada sebuah kardus besar yang dikirim ke panti tiga tahun lalu, dan di sana tertulis namaku. Bu Desi yang tidak memiliki kesempatan buat bertemu aku, beliau menyimpan kotak itu tanpa membukanya, dan Bu Desi sangat bersyukur karena aku pergi ke sana hari ini, beliau bisa memberikan ini untuk aku. Mungkin sebagai petunjuk agar aku bisa mencari keluargaku.”


Albra tidak menanggapi ucapan Qyen, lebih tepatnya ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Ia tidak ingin terlihat berlebihan, ia hanya ingin melindungi Qyen. Albra mengusap bahu Qyen dengan lembut. “Maaf aku baru cerita tentang hal ini ke kamu, Kak. Atau kamu mungkin udah tau?”


Albra dan Qyen saling tatap, mata dingin Albra dulu yang Qyen lihat, sudah berubah menjadi mata hangat yang menyejukan hati Qyen. Albra tersenyum, mengusap tangan Qyen penuh dengan kelembutan. “Saya hanya tahu garis besarnya saja. Tidak apa-apa kamu bercerita saat ini, saya sangat senang karena kamu membagi cerita kehidupan kamu dengan saya.”


Albra menjeda ucapannya, mereka terdiam cukup lama, sampai akhirnya Albra kembali berbicara. “Saya menerima semua kekurangan kamu, Qyen Fayre. Saya akan menjadi pelengkap dikehidupan kamu. Jangan sedih, ada saya di sini. Jika kita memiliki kesempatan untuk bisa bertemu dengan keluarga kamu, saya akan menemani kamu untuk mencarinya.”


Qyen terharu mendengar semua ucapan Albra yang sangat manis dan menenangkan di hatinya. Ia pun berhambur kepelukan Albra, tuhan mempertemukan dirinya dengan Albra dengan cara yang sangat-sangat istimewa.


“Alan, peluk Qyen,” ucap Albra.


Alan turun dari kursinya, lalu memutari meja dan datang memeluk Qyen. “Terimakasih sudah mau menjadi mamaku, Qyen ….”


Mendengar suara lucu dan polos itu membuat Albra dan Qyen tertawa. Qyen memeluk Alan dan mengusap rambut gondorng anak bule tersebut. “Terimakasih juga sudah hadir di dalam kehidupanku ….”



Setelah acara makan siang selesai dengan seisi drama di dalamnya, kini Albra mengajak Qyen dan juga Alan untuk melihat venue pernikahan mereka yang akan dilaksanakan esok hari sekitar pukul 4 sore karena mereka memilih menikah disaat senja.


Sedari tadi Qyen terkagum-kagum karena melihat kemewahan yang ada, bahkan tak hentinya ia mengucapkan banyak terimakasih kepada Albra.


“Papa dengan Qyen akan menikah besok? Papa bilang hari ini,” ucap Alan yang kini berpegangan dengan Albra.


“Besok, sayang. Kamu senang Qyen akan menjadi ibumu?” Albra kembali bertanya.


“Senanglah! Itukan memang kemauanku. Aku punya ibu yang masih muda dan cantik. Tidak seperti temanku yang memiliki ibu sudah tua dan nenek-nenek.”


Albra dan Qyen tertawa mendengar itu. “Siapa yang ibunya sudah nenek-nenek, Alan? Tidak baik berbicara seperti itu.”


“Iya benar, ibunya Diego itu sudah nenek-nenek. Tapi, Pa … kalau Papa dan Qyen menikah, aku tidak bisa menjadi pacar Qyen dong?” wajah polos Alan ketika berbicara seperti itu membuat keduanya panik dan terkejut, bagaimana bisa Alan berbicara seperti itu.


Albra sempat mendengar ucapan ini dari Alan, namun sudah lama, dan hari ini ia kembali mendengar. “Tidak, Qyen milik Papa. Dan Qyen akan menjadi ibu kamu. Cari pacar yang lain saja.” Albra yang sedikit kesal mendengar ucapan anaknya, ia pun kini merangkul pinggang Qyen, merasa jika dirinya tersaingi dengan Alan.


Alan sudah memajukan bibirnya dengan kesal. Berbeda dengan Qyen yang sibuk tertawa.


“Permisi Tuan, Nyonya. Silahkan masuk ke dalam baju untuk esok hari sudah siap.”


Mereka pun memasuki hotel yang sudah Albra boking jauh-jauh hari. Ia memang sudah memiliki niat untuk menikahi Qyen di minggu ini, dan waktunya pun sangat tepat jadi ia tidak perlu mengurusi hal lain lagi.


Mereka diantarkan kesebuah kamar yang sangat-sangat luas, kamar yang memang sudah dikhususkan untuk sebuah acara. Dari kejauhan mereka sudah melihat sebuah gaun putih yang mewah, simple dan terlihat cantik, terdapat tuxedo yang serasi dengan gaun putih tersebut, dan juga stelan tuxedo berukuran kecil untuk Alan sudah terpajang di sana.


“Wow … Kak, kayaknya aku gak bisa deh pakai baju itu. Perutku kan sedang besar,” ucap Qyen sambil mengusap perutnya. Ia merasa kesal saat ini dengan Albra karena sudah menghamilinya sebelum melaksanakn pernikahan mereka. Qyen juga ingin memakai gaun pernikahan dengan tubuhnya yang langsing. Walaupun kandungannya belum benar-benar terlihat dan menonjol, tapi tetap saja, jika pakai gaun pengantin, pasti perutnya akan terlihat.


“Itu sudah sesuai ukuran, perut kamu tidak akan terlihat sayang, dan kamu pasti akan cantik,” bisik Albra unruk menenangkan Qyen.


“Mari, Tuan, Nyonya, anda sudah bisa mencoba pakaiannya.”


Mereka pun masuk ke sebuah room yang berbeda, Qyen sudah dibantu oleh tiga orang, Albra pun dibantu oleh satu orang pelayan, begitu juga dengan Alan yang merasa senang jika berkenaan dengan mencoba pakaian.


Qyen dibantu oleh tiga orang pelayan untuk memakai gaunnya. Gaun ini ternyata tidak terlalu berat, dengan model ball gown, perut Qyen saat ini tidak terlihat jika sedang hamil. Ia bisa menatap dirinya dipantulan cermin jika gaun ini sangat pas dengan bentuk badan dan kulitnya, juga gaun ini tidak terlalu terbuka, hanya memperlihatkan sedikit punggungnya saja, namun masih terkesan seksi.


“Mbak, perut aku tidak terlihat besarkan?” tanya Qyen sambil melihat pantulannya dikaca.


“Tidak Nyonya, anda terlihat sangat cantik dan menawan. Dan silahkan dicoba sepatunya.” Pelayan itu memberikan sepasang sepatu cantik, dengan hak yang tidak terlalu tinggi, bahkan kini Qyen merasa nyaman memakai sepatu tersebut.


“Tuan, dan Tuan muda sepertinya sudah menunggu anda di luar, Nyonya. Mari saya bantu untuk berjalan.”


Qyen merasa gugup untuk memperlihatkan dirinya dihadapan Albra dan Alan, ia pun berjalan keluar ruangan dan memperlihatkan dirinya kepada Albra dan Alan.


“Oh my god, you’re so beautiful, Qyen. You like princess …” Alan datang menghampiri Qyen dan meraih tangan Qyen dengan cepat.


“Kamupun sangat tampan Alan,” Qyen tersenyum membalas pujian Alan.


Sedangkan Albra kini hanya bisa terdiam melihat pesona Qyen dalam balutan gaunnya. Ia memang tidak salah dalam menentukan pilihannya, sebenarnya gaun yang mereka gunakan itu berasal dari seorang desainer yang merupakan teman dekat  Ian. Ian yang memesan semua pakaian pernikahan mereka, dan Albra sangat puas dengan hal itu.


“Sudah saya bilang, kamu itu sangat cantik,” puji Albra sambil berbisik ditelinga Qyen.


Qyen tersenyum dengan malu. “Pak Albra juga selalu tampan.”


Mendengar itu Albra mendengus kesal karena lagi dan lagi Qyen memanggilnya dengan sebutan ‘Pak’.