ALBRA

ALBRA
77. 'Panggil saya Papa'



Selesai mengobrol dengan Nesi yang akan mengurus kamar calon bayi Qyen dan Albra, kini Qyen berjalan menuruni tangga dengan langkah yang sangat pelan. Perutnya sudah membesar, dan itu menyulitkan Qyen untuk berjalan, apalagi tubuh Qyen yang tidak tinggi.


“Tangga rumahnya yang terlalu banyak, atau akunya yang cepat lelah ya? Kenapa lama banget Cuma buat nurunin tangga aja,” gumam Qyen yang benar-benar kesulitan untuk berjalan di atas tangga.


Tak lama, terasa sebuah tangan yang menggandeng tangan kanannya. “Ian?” tanya Qyen terkejut.


“Kenapa? Gue habis dari kamar. Mau apa kebawah?” Ian bertanya sambil menuntun Qyen membantunya menuruni tangga rumah Max yang sangat panjang dan mewah ini.


“Aku mau cek bahan-bahan dapur buat makan malam. Bukannya kamu ada di belakang? Kok tiba-tiba ada di sini?”


Qyen tidak menolak ketika Ian menggandeng lengannya, karena ia memang butuh bantuan saat ini.


“Di belakang kamar Gue ada tangga, jadi Gue langsung lewat tangga.”


Qyen menganggukan kepalanya. Terlalu lelah berjalan dengan membawa beban apalagi sambil mengobrol.


“Mending Lo pindah kamar aja di bawah buat sementara. Dari pada naik turun tangga nanti kalau Lo lahiran di tengah-tengah jalan tangga gimana?”


“Gak mungkin dong, justru banyak bergerak itu bagus.”


Ian mengusap kepala Qyen dengan gemas. “Masih kecil udah hamil sih, Lo.” Keduanya pun tergelak mendengar candaan Ian.


“Aku udah dewasa ya, udah nikah!” ucap Qyen disela tawanya, sambil menunjukan cincin nikahnya.


Akhirnya setelah menghabiskan beberapa menit melewati tangga, kini keduanya pun sudah berada di lantai satu.


“Udah ya, kalau mau ke atas tunggu Albra aja. Gue mau lanjut main golf lagi.” Ian pun pergi dari hadapan Qyen.


“Udah sore loh, kalian gak capek di lapangan dari siang?”


“Tanggung, bentar lagi. Byeee ….”


“Ian-Ian,” gumam Qyen sambil menggelengkan kepalanya.


Sambil bersenandung kecil, Qyen berjalan menuju dapur. Saat ini, semua urusan dapur dan rumah sudah di kelola oleh Albra, otomatis Qyen juga yang mengurusinya. Bahkan rumah yang dulu di dominasi oleh warna emas dan putih, kini sudah tercampur tangan oleh Qyen, dan menjadikan perpaduan warna baru.


Seperti halnya kemarin, Qyen baru saja menyuruh para pelayan untuk mengganti gorden di lantai dua dengan menggunakan gorden warna pink, pun di lantai satu, ada beberapa barang yang diganti dengan warna baru agar tidak terlalu monoton dan formal.


Tentang tanggapan Frans, tentunya ia tidak protes akan hal itu. Kini tidak ada aksi jahat lagi yang keluar dari sifat ataupun sikapnya. Bahkan ia sudah menunjukan jika ia peduli dengan Qyen, lihat saja ketika ia mendatangkan seorang arsitek untuk kamar calon bayi.


“Ekhem!”


Suara seseorang yang sangat Qyen kenali terdengar, ia pun menengok kearah belakang, di sana sudah ada Frans yang menatap kearahnya. Qyen tersenyum dan berjalan mendekat kearah Frans.


“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?”


“Oh iya,  Tuan terimakasih sudah memberikan saya izin untuk tinggal di sini. Dan … Terimakasih juga sudah mendatangkan Nesi yang akan mengurus kamar calon bayi. Tadinya, Tuan Albra bilang jika kami tidak memerlukan kamar bayi karena akan berada di kamar kami.”


Frans tersenyum kecil, sangat-sangat kecil mendengar penuturan Qyen yang sangat panjang itu.


Menanggapi Qyen, Frans hanya menganggukan kepalanya, lalu berbicara, “saya hanya melakukan hal yang seharusnya saya lakukan.”


Senyuman Qyen tidak pernah hilang jika sedang berbicara dengan Frans, ia selalu menampilkan senyum manisnya agar Frans merasa nyaman mengobrol dengan Qyen. “Tuan hendak pergi? Perlu saya siapkan makan malam Tuan?”


“Tidak perlu, saya akan pergi ke Dubai selama dua minggu. Kapan perkiraan dia lahir?”


“Tepat satu bulan lagi, Tuan.”


Frans mengangguk mengerti, sepertinya ia harus turut hadir ketika cucu keduanya lahir.


“Baiklah …”


Keadaan diantara keduanya pun canggung sampai Qyen membuka suaranya. “Tuan akan berangkat malam ini? Atau esok hari?”


“Satu jam lagi saya harus ke bandara …” Frans memasukan kedua tangannya ke dalam saku kantong celana, Qyen bisa melihat jika wajah Frans sedikit gelisah dan gugup. Hendak bertanya, tapi Frans sudah kembali membuka suaranya. “Panggil saya Papa sama seperti Albra dan Ian.”


Suaranya datar dan terdengar buru-buru, lalu Frans melangkahkan kakinya menjauh dari Qyen. Sedangkan Qyen yang mendengar hal itu, ia pun tersenyum lebar dan menyeimbangi jalannya dengan Frans. “Sebentar, Tuan.” Panggil Qyen.


Langkah Frans terhenti. “Kamu tidak dengar?”


Kini runtuh sudah pertahanan Frans melihat wajah bahagia Qyen dihadapannya. Senyumya melebar dan Frans mengangguk. “Tentu saja.”


“Terimakasih sudah menerima aku, Pa …”


Tak terlihat seperti seorang menantu perempuan yang sedang hamil. Di mata Frans, Qyen kini terlihat seperti anak perempuan yang bahagia karena dibelikan tas baru oleh Papanya, entah mengapa melihat hal itu membuat Frans merasa bahagia. Andai ia bisa menerima Qyen sejak dulu, mungkin ia akan menemukan kebahagiaannya sejak lama.


“Tentu, saya juga ingin minta maaf atas sikap saya dulu. Saya belum bisa menceritakan semuanya, tapi saya benar-benar menyesal telah melakukan hal itu kepada kamu.”


Senyum Qyen tak luntur dari wajahnya, kini terasa sebuah tangan hangat memeluk tubuhnya, siapa lagi jika bukan Albra. Albra datang masih dengan pakaian golfnya, bahkan ia tak sempat membuka sarung tangan di tangan kirinya. Ia pergi ke rumah atas suruhan Ian karena Qyen yang kesulitan berjalan. Tapi ternyata momen kedatangannya sangat tepat, dan ia mendengar semua obrolan Frans dan Qyen dari kejauhan.


“Tidak apa-apa, Pa. Dengan Papa menerima baik kehadiran aku, aku sudah sangat bersyukur dan bahagia,” ucap Qyen dengan air mata yang tidak bisa ia tahan. Mengapa tiba-tiba saja matanya memanas dan ingin menangis.


“Peluk Papa, sayang,” bisik Albra di telinganya.


Qyen mengangguk, di sela tangisnya Qyen pun meminta izin untuk memeluk Frans. Tentu saja Frans menerima hal itu. Dengan lembut Frans membawa Qyen ke dalam pelukannya, dan Albra ikut memeluk keduanya.


“Perutmu!” ucap Frans terkejut ketika merasakan ada gerakan yang sangat intens dari perut Qyen yang bisa ia rasakan.


Qyen terkekeh. “Bayinya menendang, Pa. Sepertinya dia bahagia.”


“Bayi bisa menendang, Albra?” tanya Frans dengan wajah yang masih terkejut, ia pun meminta jawaban kepada anaknya.


Albra mengangguk. “Tentu saja, Pa. Papa harus merasakan bagaimana tendangannya.” Albra mengambil tangan kanan Frans, dan ia bawa ke permukaan perut Qyen. Bertepatan hal itu, sebuah gerakan pun terasa di tangan kanan Frans.


“Ah … Saya baru bisa merasakannya.”


Qyen sangat-sangat bahagia hari ini, pengakuan maaf Frans membuat tangis bahagia di hatinya. Entah ia berlebihan atau tidak, yang pasti kini Qyen tidak memiliki beban untuk hidup di sekitar Frans.


Mereka berbincang sebentar sebelum Frans pergi. Setelah waktu mulai petang, Albra dan Qyen mengantarkan Frans sampai ke depan mobilnya. Bahkan para penjaga sudah bersiap-siap untuk mengantarkan Frans ke bandara.


“Papa, ini jangan lupa di makan ya. Waktu kelas memasak kemarin aku dan Alan membuat croissant.” Qyen mengulurkan tangannya untuk memberikan satu tas kotak bekal kepada Frans.


Ini baru pertama kali Frans merasakan perhatian ketika akan pergi bekerja. Ia menerima tas itu, lalu tersenyum. “Terimakasih, saya pergi dulu.”


Qyen mengangguk, lalu melambaikan tangannya berbarengan dengan mobil Frans yang meninggakan pekarangan rumah mereka.


Di dalam mobil, tak hentinya Frans menunjukan wajah jika ia sedang bahagia. “Brian, mengapa selama ini saya selalu dibutakan dengan kelakuan ibu saya dulu?”


Brian yang duduk di kursi depan pun, melihat sekilas kearah tuannya. “Kini belum terlambat, Tuan. Anda bisa merasakan hal itu dengan anak-anak anda saat ini.”


Frans membenarkan hal itu. Kehadiran Qyen di dalam hidup keluarganya, spertinya adalah pilhan yang tepat.



“Kamu bahagia?” Albra merangkul Qyen dan menghujani Qyen dengan ciuman kecil di seluruh wajah Qyen.


“He’em, aku gak nyangka Papa akan bicara seperti itu kepada aku,” ucap Qyen yang masih memperhatikan mobil Frans yang menjauh.


“Ayo masuk ke dalam.” Albra merangkul Qyen dengan penuh kelembutan. “Itu semua karena sikap lembut kamu yang selalu menerima Papa. Hati Papa sudah luluh, kamu hebat, sayang.”


Qyen membenarkan hal itu. Ketika sebuah keegoisan seseorang dibalas dengan kebencian, sepertinya tidak akan menemukan titik terang untuk keluar dari masalah yang ada. Tapi coba lihatlah, ketika keegoisan seseorang dibalas dengan kelembutan hati, dan mencoba memahami sikapnya, maka rasa egois itu akan hilang dengan sendirinya.


Albra membawa Qyen untuk duduk di sofa ruang tamu, ia menyuruh Qyen untuk menunggu selama ia berganti pakaian. Tak lama, Albra kembali turun sambil membawa Alan dipangkuannya.


“Alan sudah bangun?”


“Sudah, Qyen,” ucap Alan yang kini duduk dan bersandar dibahu Qyen.


“Ganteng banget sih kamu.” Mengacak rambut Alan dengan gemas lalu mencium dahi Alan dengan lembut.


“Saya gak di puji?” tanya Albra dengan wajah merajuk yang kini juga duduk di sebelah Qyen.


Qyen terkekeh pelan, ia pun mencium pipi kanan Albra. “Yang ini lebih tampan,” bisik Qyen ditelinganya.


“Kamu mau lihat ketampanan saya, sayang? Sudah lama kita gak—“


Belum sempat Albra menyelesaikan ucapannya, sebuah bantal terlebih dahulu melayang kearah wajahnya. “Iya-iya, sayang. Saya bercanda.”