
Qyen baru tersadar jika badai yang datang tadi, kini digantikan oleh rintik hujan. Ia bisa melihat jika rintik hujan itu membawa suasana damai dan sedikit haru dihatinya. Mengapa haru? Karena ia masih memikirkan bagaimana nasib dirinya saat ini yang terlantar disebuah penthouse megah, yang katanya rumah ini adalah milik Albra, seorang laki-laki yang bahkan belum ia temui selama satu minggu ini.
Rintik hujan membawa suasana hati Qyen tak bergairah dan kini pikirannya pun penuh dengan bayangan kehidupan yang akan terjadi kedepannya. Bagaimana jika ia nanti dibuang ke ujung pulau di bumi ini? Bagaimana nanti jika ia harus mengganti rugi? Bagaimana nanti jika ia harus terus berurusan dengan Albra? Juga bagaimana nanti ia harus bertemu dengan Fin setelah kejadian yang terjadi siang tadi. Pertanyaan-pertanyaan itu terus terngiang ditelinganya, sampai ia tidak sadar jika Albra sudah memperhatikannya sedari tadi.
Qyen menyandarkan tubuhnya ditembok, dimana sebelah tembok itu adalah sebuah kaca besar yang memperhatikan pemandangan luar dari gedung di lantai 20 ini. Lamunannya buyar disaat gorden itu tertutup secara otomatis dihadapan Qyen, sampai Qyen terkejut dan mengeluarkan reaksi berlebihan.
“Astaga …” kesalnya.
Disaat itu juga, Albra yang melihat tingkah menggemaskan Qyen, ia pun sedikit tertawa, dan Qyen bisa mendengar suara tawa menyebalkan dari Albra.
Ia melirik seklias dimana Albra berada, saat ini laki-laki itu sudah berganti pakaian santai namun menurut Qyen pakaian yang Albra gunakan masih terasa formal. Entahlah, mungkin itu pakaian orang kaya, pikir Qyen.
“Kenapa ketawa?” tanya Qyen yang kini berjalan untuk bisa duduk disofa.
“Siapa?”
“Bapaklah, kenapa kamu ketawa terus,” jawab Qyen masih dengan nada juteknya. Ia masih merasa kesal karena Albra yang bercanda tadi.
“Hmm … nothing.”
Albra datang sambil membawa dua gelas wine ditangannya, dan memberikan satu gelas itu kepada Qyen. Qyen yang melihat Albra memberikan minuman keras, ia pun langsung menolak, karena pasalnya ia tidak pernah mengonsumsi minuman tersebut.
“Kenapa? Kamu punya agama?” tanya Albra ketika melihat ekspresi wajah Qyen melihat minuman yang ia beri.
“Aku gak punya agama. Tapi, aku gak mau minum kaya gitu, kalau pingsan mau tanggung jawab?” tanya Qyen.
“Hmm … kamu tidak akan pingsan, Qyen ....”
‘Deg ….’
Jantung Qyen berdetak hebat disaat Albra memanggil langsung namanya dengan suara lembut yang tak biasa ia keluarkan.
“Ta—tapi aku tetep gak mau,” katanya dan memilih untuk bersandar disofa.
Albra melirik sekilas kearah Qyen sebelum akhirnya ia membawa kembali gelas tersebut dan pergi menuju pantry, sebelum akhirnya kembali sambil membawa minuman kemasan bergambar kartun dan memberikannya kepada Qyen.
“Punya Alan,” ucapnya sambil memberikan kepada Qyen.
“Dasar manusia kaku. Kenapa gak ngasih air putih aja sih,” kesal Qyen dengan nada bicara sepelan mungkin. Kini ia merasa emosinya menjadi-jadi dan tidak stabil, ia pun masih tidak tahu apa penyebabnya.
Namun untung saja, Albra tidak mendengar ucapan Qyen, karena Albra yang duduk dihadapan Qyen kini sibuk mengecek ponselnya dan tak lupa meminum wine yang ia siapkan sendiri. Melihat Albra yang sibuk dengan ponselnya, Qyen kini malah memikirkan nasib tas dan ponselnya yang tertinggal dikediaman ayah Albra.
“Ck!” decak Qyen untuk mengalihkan perhatian Albra.
Benar saja, mendengar itu, Albra mematikan ponselnya dan kini memperhatikan Qyen sambil sesekali meminum winenya.
Merasa diperhatikan oleh Albra, Qyen pun memperhatikan Albra kembali, sampai keduanya adu tatap, tatapan tajam.
“Apa kamu,” kata Qyen.
“Huft …” suara hembusan napas Albra terdengar dan ia pun berdiri dari sana mengambil sesuatu disebuah lemari besar yang berada didekat televisi.
Ia mengambil sebuah handuk dan melempar handuk itu kepada Qyen. “Kamu seperti anak ayam. Saya tidak suka, sana mandi,” katanya dan kini berdiri dihadapan Qyen.
Qyen membelalakan matanya terkejut, bagaimana bisa Albra berbicara seperti itu dengan wajah datar? Apa? Seperti anak ayam? Bahkan Qyen tidak peduli jika dirinya seekor sapi saat ini.
“Gak. Aku gak mau mandi,” jawab Qyen. Bukan apa ia berbicara seperti ini, lagipun jika ia mandi dan tidak berganti baju itu sama saja bohong.
“Cepat, tidak pakai lama,” ucapnya dan menyuruh Qyen untuk bangun dari duduknya menggunakan tatapan matanya.
Melihat tatapan elang yang keluar dari Albra, mau tak mau Qyen pun berdiri, dan berjalan kearah dapur, karena menurutnya toilet pasti berada dekat didapur.
“Mau kemana kamu?”
Langkahnya berhenti ketika suara Albra terdengar ditelinganya. Qyen pun berhenti dan berbalik untuk meminta penjelasan kepada Albra.
“Ya aku mau ketoiletlah, Pak. Terus aku mandi dimana?”
“Gak ada disitu. Sini,” ucapnya yang berjalan terlebih dahulu, disusul Qyen dibelakangnya.
Sebentar … sepertinya Qyen sedikit hafal dengan jalan ini. Ya! Tepat sekali, ini jalan menuju kamar Albra.
Albra mengajak Qyen menuju kamar pribadinya. Tentunya bukan untuk apa-apa, hanya untuk mengantarkan Qyen menuju toilet saja.
Kini, Qyen pun bisa melihat jelas kemewahan kamar Albra yang tidak kalah dengan kamar yang ada diapartemennya kemarin, dan kali ini Qyen tidak menyangka bisa memasuki ke kamar pribadi Albra lainnya.
“Itu hanya perumpamaan saja. Cepat, tidak usah banyak berbicara saya pusing mendengar suara kamu.”
Lagi dan lagi, Albra terus saja mengaku jika dirinya selalu pusing ketika mendengar suara Qyen. Qyen yang merasa kesal ia pun masuk ke dalam toilet Albra dengan cepat. Tapi sebentar, ketika masuk ia baru sadar jika toilet Albra ini memiliki jendela kaca besar yang menghadap kejalanan. Lalu bagaimana ia bisa mandi dengan tenang disini.
Tidak ingin bingung ia pun kembali keluar untuk bertanya. “Pak! Sebentar,” ucapnya ketika sudah melihat Albra hendak keluar dari kamarnya.
Albra membalikan badannya dan mengangkat satu alisnya tanda ia bertanya. “I—itu, kaca jendelanya gak bisa ditutup?” tanya Qyen sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Qyen kini bisa melihat Albra yang sedang memijat dahinya pelan. “Itu tidak tembus pandang.”
Qyen yang mendengar jawaban seperti itu, ia pun kembali melihat kearah jendela berkaca besar itu. Ia masih sedikit ragu untuk bisa membersihkan badannya disana.
Albra yang merasa kasihan sekaligus greget melihat Qyen, ia pun pasrah dan kini masuk ke dalam toilet untuk menutup tirai yang ada disana. Qyen melihat pergerakan Albra yang sangat jantan dan gagah tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, Albra keluar dari sana.
“Hehehe terimakasih, Pak,” ucapnya dan langsung menutup pintu toilet dengan cepat.
….
Satu jam berlalu, langit kini sudah berubah menjadi hitam, setelah membersihkan dirinya, kini Qyen masih berada didalam toilet karena ada sesuatu yang tiba-tiba saja terjadi kepada dirinya. Qyen merasa jika ini adalah masalah yang besar, bagaimana bisa disaat-saat seperti ini ia harus datang bulan?
Qyen sedari tadi mondar-mandir didalam toilet sambil menahan sakit yang menerjang perutnya karena ini adalah hari pertamannya haid. Ia sangat-sangat bingung, bagaimana cara dirinya keluar dari sini saat ini juga.
“Duh … ada-ada aja lagi ….”
“Gimana ya? Gak mungkin aku keluar kaya gini, bahkan celanaku … aish ….”
“Hiks … aku harus gimana ….”
Keluhan-keluhan itu berhenti ketika ketukan dipintu toilet terdengar dan dibarengi dengan suara Albra. “Keluar, sudah berapa jam kamu didalam sana ….”
Qyen diam, ia menutup mulutnya agar tidak terdengar oleh Albra.
“Hey ….”
“Kamu pingsan?”
“Buka, atau saya dobrak!”
Mendengar itu, Qyen yang tidak tahu harus bagaimana lagi, ia pun memberanikan diri untuk membuka pintu dan menyembulkan kepalanya disana.
Qyen bisa melihat wajah Albra yang sedikit khawatir, ia pun tersenyum meringis sambil melihat kearah Albra. “Pak … aku gak bisa keluar dari sini …” gumam Qyen berbisik yang bahkan Albra tidak bisa mendengar suara tersebut.
“Ha? Kamu bicara apa?”
“Aku gak bisa keluar dari sini …” ucapnya lagi yang kini berubah menjadi rengekan.
“Kenapa?” tanya Albra yang acuh.
“Anu … itu ….”
“Ck! Yang jelas, saya tidak mengerti,” ucap Albra dengan wajah yang sudah penasaran.
“Itu loh … aku se—sedang datang bulan ….”
Qyen melipat bibirnya, ia bisa melihat wajah datar Albra kini berubah menjadi kebingungan. Sebenarnya Qyen ingin tertawa namun ia tahan, karena merasa sudah membebani Albra saat ini.
Albra tahu tentang apa itu datang bulan, ia saat ini sangat kebingungan, bahkan ini kali pertamanya dalam hidupnya selama 30 tahun harus bisa menghadapi wanita yang sedang datang bulan seperti ini, Albra bingung apa yang harus ia lakukan sekarang.
“La—lalu saya harus bagaimana?” tanya Albra dengan polosnya.
“Ya akupun gak tau, Pak. Intinya aku gak bisa keluar dari sini karena ….”
“Oke – oke. Kamu tunggu disini.”
Albra yang tidak tahu apa-apa dan sedang mencari tahu jalan keluar ia pun mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang saat itu juga.
“Bawakan saya hal apa saja yang harus perempuan gunakan ketika sedang datang bulan. Tidak pakai lama.”
Qyen mendengar Albra berbicara seperti itu didalam telpon, Qyen sedikit terkejut dan banyak malunya. Kini Albra kembali memperhatikan Qyen yang hanya terlihat kepalanya saja yang menyembul diantara pintu.
“Hm … repot,” ucap Albra yang langsung pergi dari sana.
Melihat punggung Albra yang menjauh dari pandangannya, ingin sekali rasanya Qyen menendang punggung belakang Albra tersebut.