
Selesai berbelanja, kini tugas mereka adalah membayar belanjaan menuju kasir. Ada satu momen yang membuat Qyen sangat canggung, bagaimana tidak? Albra memaksa ingin membayar semua belanjaan Qyen yang kini sudah terisi satu troli penuh karena ulah Alan, yang memasukan hampir semua makanan ke dalam troli Qyen. Niatnya Qyen akan mengembalikan makanan itu ketempatnya setelah mereka berpisah nanti, namun nyatanya, sampai saat ini, Albra, Qyen dan Alan masih bersama.
Sama seperti Qyen, Albra pun memiliki belanjaan satu troli penuh di sana.
“Biar aku aja yang bayar, kamu tidak usah repot, Pak,” ucap Qyen yang hendak membuka dompetnya namun tertahan karena ucapan Albra. Qyen mulai mencoba untuk berbicara memakai bahasa santai kepada Albra, agar dirinya tidak merasa terlalu canggung di sini.
“Saya masih mampu membayar. Biarkan saja, atau Alan tahu dan protes kepada saya,” jawab Albra sedikit pedas sambil memberikan kartunya kepada kasir.
Mendengar itu, napas Qyen memburu, bagaimana bisa Albra berbicara seperti itu kepada dirinya, untung saja Alan tidak melihat karena anak itu asyik memperhatikan boneka yang sedang bergoyang-goyang di depan pintu super market, tak lupa tangan kecilnya selalu menggenggam tangan Qyen.
Selesai dengan acara membayar, Qyen yang hendak membawa belanjaannya tidak diizinkan oleh Alan. “Oh no, kamu tidak boleh membawa banyak belanjaan itu, biar Papaku yang bawa. Dia kuat,” kata Alan dengan santainya dan mengajak Qyen jalan terlebih dahulu, meninggalkan Albra dibelakang mereka.
Albra yang melihat kelucuan anaknya itu sedikit tersenyum. Ia belum pernah merasa nyaman dan terjaga saat bersama dengan wanita lain seperti ini. Begitupun dengan Alan, Albra bisa melihat jika Alan seperti memiliki ikatan batin yang kuat dengan Qyen, lihat saja anak itu meras nyaman ketika berada di dekat Qyen. Padahal Qyen adalah orang yang baru saja mereka kenal.
“Kenapa juga saya mau disuruh-suruh seperti ini,” gumam Albra sambil mendorong dua troli belanjaan mereka menuju tempat parkir. Padahal biasanya ia akan menyuruh seorang petugas untuk membawa belanjaannya, namun kali ini berbeda, Albra sendiri yang membawanya.
“Kamu tau, Qyen?” Alan membuka obrolan kembali.
“Tau apa, Alan?” tanya Qyen dengan nada bicara lembut yang selalu ia gunakan.
“Ian bilang, tadi pagi ke rumah kamu, apakah betul?”
“Emm … kenapa?”
“Tidak, aku hanya ingin tau saja. Kalau Ian berani main ke rumah kamu tanpa seizin aku, lihat saja nanti. Habis dia ditanganku,” ucapnya dengan napas memburu.
Merasa gemas dengan ucapan Alan, Qyen mengusap kepala anak kecil itu dengan lembut. “Tidak perlu seperti itu. Ian datang kerumahku hanya untuk pekerjaan,” jawab Qyen.
Sesampai ketiganya di depan mobil, Qyen membukakan pintu mobil untuk Alan, ia pun mundur untuk mengambil belanjaannya dan berniat untuk pulang. Tapi, pada saat Qyen ingin mengambil belanjaannya, ternyata kantung belanjaan besarnya itu sudah Albra masukkan kedalam bagasi mobilnya.
“Loh, Pak? Itukan belanjaan aku,” kata Qyen berbicara secara refleks.
Belum sempat Albra menjawab, suara Alan pun terdengar. “Qyen, ayo masuk mobil. Kamu harus ikut kerumahku sekarang,” katanya.
Setelah mendengar itu, Qyen langsung melihat kearah Albra untuk meminta penjelasan. Bagaimana bisa ia pergi malam-malam seperti ini menuju rumah duda anak satu, bagaimana jika ada orang lain yang bergosip? Apalagi Albra bukanlah orang yang sembarangan.
“Dengar? Bukan saya yang berbicara,” ucap Albra dengan santai, lalu berjalan masuk ke dalam mobilnya.
Qyen sangat kesal melihat hal itu, ia pun menghentakkan kakinya. Tidak anak tidak ayah, selalu saja bisa membuat orang kesal.
Mobil sudah menyala, dan Qyen masih diam diluar. Ingin rasanya merajuk namun tidak bisa. Ia pun masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Alan yang sudah nyaman bersandar dicarseat-nya.
“Kamu tidak duduk dengan Papaku di depan?” tanya Alan dengan santai.
“Tidak perlu, dengan kamu saja,” kata Qyen yang kini memakai sabuk pengamannya.
“Yes! Hahaha … Papa lihatkan? Qyen milih aku,” ucap Alan dengan berbangga hati.
“Ya silahkan, Alan …” jawab Albra dengan santai.
Mobil mewah yang dikendarai oleh Albra pun melaju dengan mulus. Qyen merasakan momen seperti ini terulang kembali, bahkan tidak terpikirkan sedikitpun oleh Qyen akan bertemu dengan Albra dan anaknya. Kini perasaannya pun semakin canggung. Semoga saja di tengah jalan nanti ia diizinkan untuk pulang oleh Alan.
“Qyen, kamu sudah makan malam? Aku lapar sekali,” gumam Alan yang didengar oleh papanya.
“Kamu lapar? Mau pergi mencari makan terlebih dahulu?” tawar Albra.
Alan menggelengkan kepalanya. “Tidak, aku ingin makan makanan buatan Qyen. Bisakan?” tanyanya.
“Ha? Em …” Qyen tidak bisa menjawab karena tidak tahu harus menjawab apa.
“Kamu bisa memasak?” kini Albra bertanya kepada Qyen.
“Aku biasa masak rumahan, tapi tidak dengan makanan yang rumit,” ucap Qyen menjawab.
“Turuti saja mau Alan, saya tidak mau anak saya kecewa,” kata Albra pelan.
Qyen menarik napasnya dan mengeluarkannya secara perlahan. Jika bukan karena Alan, anak kecil yang sudah ia selamatkan kemarin, Qyen tidak akan mau berada di sini bersama dengan orang menyebalkan seperti Albra.
“Baik, Pak.” Sepertinya saat ini yang harus Qyen lakukan hanyalah pasrah, tidak ada lagi waktu yang tepat untuk dirinya kabur dari sini.
Hanya butuh waktu 15 menit, akhirnya mereka sampai di gedung apartemen milik Albra yang berada di lantai 13. Tidak ada pintu lain selain apartemen milik Albra di sini.
Ketika sedang berjalan hendak masuk ke dalam lift tadi, banyak pasang mata para pegawai melihat kearah Albra, Qyen dan Alan. Mungkin menurut mereka itu adalah pemandangan baru, dimana Alan di pangku oleh Qyen dan berjalan berdampingan dengan Albra yang membawa dua kantung belanjaan yang sangat besar. Membayangkannya saja sudah seperti keluarga harmonis dan bahagia.
Kini, ketika sudah masuk ke dalam apartemen milik Albra, Alan pun turun dari pangkuan Qyen, ia berjalan sempoyongan menuju kamarnya. “Qyen, kamu tunggu sebentar, aku akan berganti baju,” ucap Alan dan masuk ke dalam kamarnya.
Qyen mengangguk, dan berjalan masuk ke dalam ruangan yang sangat mewah ini. Albra yang melihat gerak-gerik Qyen, ia merasa kasihan karena sepertinya Qyen merasa tidak nyaman di sini.
“Sorry, Alan selalu merepotkan,” kata Albra yang kini merapihkan belanjaannya di dapur.
Qyen yang tidak memiliki tugas apa-apa, dan merasa hal yang dilakukan oleh Albra itu salah, ia pun bergegas membantu Albra.
“Makanan ringan milik Alan, tidak perlu Bapak masukan ke dalam lemari pendingin,” ucap Qyen yang tanpa sengaja memegang tangan Albra, untuk menahan agar Albra tidak memasukan makanan itu ke dalam lemari es.
“Ups … Sorry ….”
Qyen melepaskan tangannya dari sana, belum sempat tangannya kembali turun, dengan cepat Albra memegang tangan Qyen dan mendekatkan tubuhnya kearah Qyen. Napas mereka berburu secara bersamaan, Qyen merasa gugup, begitu juga dengan Albra.
“Ma ….”
“Kamu sudah melakukan kesalahan malam ini,” bisik Albra penuh dengan penekanan, hal itu membuat sekujur tubuh Qyen panas dan merinding.
“Kamu tahu apa yang akan terjadi selanjutnya? Kamu tidak tahukan siapa saya?”
“Ma … maaf, aku ….”
Alih-alih memegang tangan Qyen, dengan tangan kanannya, kini Albra meraih pinggang kecil Qyen sampai tubuh mereka bertabrakan. Albra bisa mencium aroma wangi yang sangat manis dari rambut Qyen.
“Lain kali hati-hati, saya tidak akan memaafkan kamu untuk kedua kalinya,” ucap Albra tepat diwajah Qyen.
Ia pun langsung melepaskan tangannya dari pinggang Qyen karena sudah mendengar suara pintu terbuka yang berasal dari kamar Alan. Dari sini, Albra bisa melihat wajah Qyen yang memerah dan napasnya berburu.
“Hey? Kamu sudah membuatkan sesuatu untukku?” tanya Alan yang menghampiri Qyen.
Qyen yang merasa terpanggil, ia pun kembali fokus dan menjawab pertanyaan Alan. “Belum, aku belum buatkan makanan untuk Alan,” ucap Qyen.
Bukannya menjawab, Alan malah tersenyum sambil melihat kearah wajah ayahnya. Qyen yang penasaran pun melihat kearah Albra, apakah ada yang salah dengan keduanya?
“Ka … kalian kenapa?” tanya Qyen karena merasa ada yang tidak beres.
“Aku curiga, kenapa bisa Papaku senyum-senyum sendiri sambil menuangkan minumnya,” kata Alan yang kini tertawa terbahak-bahak.
Qyen yang belum terbiasa berada di lingkungan yang sangat aneh ini, ia pun hanya bisa pasrah saja.
“Kamu memakai baju sendiri?” tanya Qyen yang kini mendekati Alan, lalu berjongkok dihadapannya.
“Ya, aku pakai baju sendiri.”
Qyen tersenyum kecil, ia pun membenarkan kancing piyama berwarna biru yang sedang dipakai oleh Alan. Kancingnya itu terpasang tidak sesuai dengan urutan. Selain merasa kesal dan jengkel kepada Alan, Qyen pun merasa kasihan melihat Alan karena sepertinya tidak ada seorang wanita yang mengurusi dirinya, bahkan itu seorang suster pun.
“Sebelum pakai baju, kamu harus lihat terlebih dahulu kancing baju kamu. Kamu pakai sesuai dengan urutannya. Nah, jika seperti inikan terlihat rapi,” ucap Qyen yang diakhiri dengan membenarkan rambut Alan yang sedikit berantakan.
Melihat hal itu, tanpa sengaja Albra tersenyum dengan lebar. Dari yang ia lihat, Qyen memiliki hati yang lembut, cantik dan juga penyayang. Andai saja Albra bisa berkencan dengan wanita, mungkin ia akan mencari wanita yang sama seperti Qyen, yang bisa menyayangi anaknya dengan tulus. Pikirannya buyar karena ada seseorang yang memanggilnya.
“Pak Albra? Aku mau membuatkan sesuatu untuk Alan. Lebih baik kamu mandi dan berganti baju terlebih dahulu,” ucap Qyen yang kini berbicara tanpa rasa gugup.
Melihat Qyen yang sangat manis dihadapannya, membuat Albra ingin kembali menggoda wanita muda itu. “Baiklah, saya titip Alan,” ucap Albra dan berjalan menuju kamarnya.
Alan kini menunggu Qyen di atas kursi makannya sambil bermain balok kesukaannya.
“Aku harus membuat apa ya?” gumam Qyen ketika melihat bahan makanan di rumah Albra yang tidak banyak.
“Alan kamu ingin dibuatkan apa?” tanya Qyen dengan lembut.
“Emm … Papa suka pasta, aku dengan telur pun tidak apa-apa. Aku tidak suka sayuran, kamu tidak perlu membuat sayuran.”
Seperti mendengarkan ucapan bosnya, Qyen pun mengangguk. Ia mengesampingkan terlebih dahulu barang belanjaan Albra yang nanti akan ia susun, untuk saat ini, karena sudah malam ia akan terlebih dahulu membuatkan sesuatu untuk Albra dan Alan.
Qyen mulai merebus tomat, dan menyiapkan daging giling yang tersedia di sana. Rencananya Qyen ingin membuat pasta saus tomat yang simple, dan ditemani dengan pizza frozen yang tersedia di dalam lemari es. Sepertinya ia harus memasak dengan cepat.
Memakai celemek dan mulai memasak sambil mendengarkan celotehan Alan yang selalu saja mengajak Qyen mengobrol, dan akhirnya menghabiskan waktu 17 menit, Qyen pun selesai membuat masakannya. Berbarengan dengan Albra yang keluar dari kamarnya.
Qyen hampir saja salah fokus melihat Albra yang keluar menggunakan piyama berwarna biru yang sama dengan Alan. Walaupun terlihat kaku, namun ternyata keduanya saling memahami.
Selesai menyajikan pasta itu ke dalam piring dan selesai menghangatkan pizza di dalam microwave, Qyen pun membawa makanan itu menuju meja makan, dimana sudah ada Albra dan Alan yang menunggu.
“Pasta saus tomat dan pizza yang aku temukan di dalam lemari es. Silahkan dinikmati,” ucap Qyen dengan senyum lebar.
“Wah … masakan kamu wangi banget. Kamu tidak makan, Qyen?”
“Aku masih kenyang karena sudah makan malam di rumah. Kamu saja yang makan, Alan.” Qyen tersenyum sambil mengambilkan satu potong pizza untuk Alan.
“Terimakasih,” ucap Albra sambil memperhatikan makanan yang tersaji di sana.
“Sama-sama. Silahkan di makan.” Qyen yang hendak beranjak dari meja makan untuk pergi membereskan belanjaan Albra, itu pun tertahan, karena Albra memegang tanganya.
“Mau kemana?” tanya Albra dengan tangan kiri yang memegang garpu.
“Aku mau membereskan belanjaan kamu, Pak. Agar tidak cepat busuk buah-buahannya.”
Albra menggeleng. “Temani saya makan terlebih dahulu di sini.”
Perkataan singkat Albra yang membuat jantung Qyen berdetak dengan sangat kencang.