ALBRA

ALBRA
36. Dua Test Pack



Hujan lebat mengisi kekosongan hati Qyen yang baru saja mendapat ancaman dari Frans. Selesai terbangun di rumah sakit dengan selang infus ditangannya, saat ini ia tengah berada di dalam mobil bersama dengan Brian. Katanya Brian akan mengantarkan dirinya kembali ke penthouse Albra, dengan catatan Qyen tidak boleh memberitahu jika dirinya hari ini bertemu dengan Frans. Tidak bisa menolak atas perintah itu, Qyen pun hanya mengangguk mengiyakan.


Tidak ada obrolan yang terjadi di dalam mobil hitam ini, para pengawal selalu berjaga disebelahnya, padahal niatan untuk kabur saja tidak ada dihati Qyen. Sebenarnya Qyen ingin pulang kerumahnya, namun ia masih memikirkan jika ia pulang kerumahnya  keamanan yang ada belum tentu terjamin. Ia masih takut tentang hal yang akan terjadi kedepannya.


“Sudah sampai, saya hanya bisa mengantarkan sampai sini, anda bisa masuk kedalam gedung dan menaiki lift. Ingat janji kita, sampai bertemu lagi.” Brian membukakan pintu mobil dan membiarkan Qyen untuk keluar.


Qyen tidak membalas apapun ucapan Brian, ia berjalan gontai masuk ke dalam gedung untuk menaiki lift dan menekan tombol lantai teratas sambil memasukan kode akses penthouse Albra yang sudah ia ketahui. Lift berjalan, berbarengan dengan air mata Qyen yang luruh begitu saja.


Pintu lift terbuka, siang sudah berganti malam. Tak terhitung berapa jam ia berada diluar rumah. Qyen mengeluarkan kartu akses didalam saku celananya, untung saja ia membawa kartu itu, jika tidak ia tidak akan bisa masuk kedalam. Bahkan saat ini Qyen tidak membawa dompet ataupun ponselnya.


Pintu penthouse terbuka berbarengan dengan Qyen yang sudah menempelkan kartu aksesnya. Qyen bisa melihat wajah panik, dan kebingungan Albra disana.


“Pak aku ….”


Belum sempat Qyen menyelesaikan ucapannya, Albra langsung memeluk tubuh Qyen dengan sangat-sangat erat. Hal itu membuat Qyen terkejut sekaligus kehabisan napas secara bersamaan.


“Saya sudah bilang jangan pernah pergi dari sini.” Albra masih belum melepaskan pelukannya, Qyen yang berada didalam pelukan Albra, ia kini merasakan dirinya mual mencium parfum mahal Albra.


‘Huek … huek ….’


Albra kini terkejut mendengar suara Qyen yang aneh, ia melepaskan pelukannya, dan Qyen langsung berlari kedalam kamar Albra untuk pergi ke toilet.


“Qyen? Are you okay?” Albra menghampiri Qyen yang sudah terduduk lemas disamping toilet.


“Jangan deket-deket!” Qyen kembali merasakan mual disaat dekat dengan Albra. Ia kembali memuntahkan isi perutnya walaupun hanya berupa cairan putih saja.


“Oke-oke saya mundur,” ucap Albra sambil berjalan mundur.


“Kamu bisa ganti pakaian kamu? Bau kamu menyengat banget.” Qyen berkomentar sambil menutup hidungnya, entah apa yang terjadi kepada dirinya yang pasti ia sangat lemas kali ini.


Albra mencium pakaian kerjanya, ia merasa jika pakaian yang ia pakai tidak bau, walaupun ia tidak sempat mandi karena mencari Qyen tadi.


“Saya bau?”


Qyen mengangguk lemas untuk menjawab pertanyaan Albra. Niatnya membantu Qyen untuk bangun dari duduknya yang lemas ia urungkan karena tidak ingin membuat Qyen kembali mual.


Dari jaraknya yang masih cukup jauh dengan Qyen, Albra pun berbicara,”yasudah kamu istirahat dulu, saya akan mandi.” Qyen melenggang pergi dari sana, bahkan untuk berbicara dirinya sudah tidak memiliki mood.


Qyen duduk disofa sambil melipat lututnya, pusing yang sangat hebat kini menyerang Qyen. “Kayaknya aku masuk angin deh, apa mau datang haid ya? Gak biasanya perut sakit sambil mual kaya gini.”


Di dalam kamar, Albra kini sudah memakai kaus polos dengan celana santainya, ia tidak menyemprotkan parfum apapun ketubuhnya agar Qyen tidak berkomentar lagi. Pikirannya kini sedikit menyimpang tentang Qyen yang menunjukan tanda-tanda aneh dihadapannya.


“Sudah hampir dua minggu dari malam itu, enggak mungkin Qyen hamil,” ucapnya sambil membuka ponsel menelpon seseorang untuk berjaga-jaga.


“Ya, kirimkan barang yang sudah saya suruh dari lama.” Kalimat singkat yang ia sampaikan dalam telpon. Dengan langkah santai Albra keluar dari kamarnya untuk mencari Qyen yang sepertinya sudah nyaman duduk disofa.


“Qyen? Sudah merasa baikan?” Albra bertanya sambil duduk disebelah Qyen yang saat ini sedang memejamkan matanya.


Kembali mencium bau aneh yang ada ditubuh Albra, ia pun menjepit hidungnya dan sedikit menghindar dari Albra. “Aku gak mau deket-deket kamu, kamu bau banget Pak …” ucapnya sedikit menyesal. Sebenarnya Qyen tidak tega berbicara sembarangan kepada Albra, namun kenyataannya tidak bisa dipungkiri jika ia tak tahan mencium bau aneh Albra.


“Saya sudah mandi, Qyen. Saya gak bau.” Albra sedikit frustasi karena Qyen terus berbicara jika dirinya bau.


‘Huek … huek ….’


“Oke-oke … saya harus bagaimana agar bau saya hilang?”


“Buka baju kamu, pakai ini.” Qyen memberikan botol parfum miliknya kepada Albra.


Tidak ingin membantah Albra membuka kausnya dan menyemprotkan parfum yang memiliki aroma lembut itu keseluruh badannya. Hendak memakai kausnya kembali, namun Qyen menahannya. “Udah gak usah dipakai, baju kamu juga bau.”


Albra menghembuskan napasnya lelah. “Kamu marah? Kamu bener bau kok …” Suara Qyen berubah menjadi parau, karena menahan tangisnya.


“Tidak … saya tidak marah. Sini ….” Albra kembali membawa Qyen kedalam pelukannya. Qyen kini bisa melihat dengan puas perut kotak-kotak Albra, bahkan ia bisa merasakannya karena Albra kini memeluk Qyen tanpa pakaian atasnya.


“Sudah gak bau?” tanya Albra.


Qyen menggeleng, wangi tubuh Albra kini sudah bercampur dengan parfumnya, dan Qyen menyukai itu. “Aku mual banget, kepalaku pusing, perutku juga sakit, kayaknya aku masuk angin ….”


Albra terdiam, semua gejala itu ditunjukan ketika wanita sedang hamil trisemester pertama. Walaupun Albra tidak memiliki pengalaman tentang hal ini, tapi Albra memiliki pengetahuan yang luas, bahkan dirinya dulu pernah mengikuti kelas kesehatan masyarakat dan mendapatkan sertifikat atas hal tersebut.


Rasa senang dihatinya terlihat jelas ketika Albra tersenyum sambil memeluk Qyen. Qyen hamil, Albra sangat-sangat menantikan hal itu. Ia tidak kecewa ataupun marah, ia sangat senang karena ini adalah alasan dirinya untuk memiliki hubungan yang lebih serius dengan Qyen. Lagipun disaat melakukannya, Albra sadar dan seratus persen paham akan konsekuensi yang dialaminya nanti.


‘Tapi, sepertinya tidak mudah bagi Qyen untuk menerima keadaan seperti ini. Banyak hal yang harus saya lakukan agar Qyen dapat menerima dirinya sendiri …’ Albra sudah memikirkan konsekuensi terburuknya saat ini jika Qyen hamil.


“Kamu dari mana saja? Kenapa tidak membawa ponsel jika keluar dari rumah? Saya sudah bilang untuk tidak pergi keluar, bagaimana jika kamu kenapa-kenapa?”


Qyen melihat wajah Albra yang terlihat bahagia, tidak ada rasa khawatir dan bingung seperti tadi. “Hm? Aku cuma diem di kafe bawah aja kok. Kamu gak tau ada kafe baru buka disana? Aku suntuk disini makanya aku cari suasana baru dan turun kebawah tadi.”


“Kamu yakin? Kenapa pipi  kamu memerah?”


Detak jantung Qyen hampir berhenti disaat Albra menanyakan tentang pipi merahnya karena ditampar oleh Frans tadi, ternyata pipinya masih membekas dan memerah. “A—ah … mungkin karena aku salah pakai blush on?”


Albra melepaskan pelukannya, dan kini fokus melihat wajah Qyen dengan seksama. “Kamu kenapa liatin aku kaya gitu sih, Pak ….”


Qyen tertawa kecil mendengar keluhan Albra. “Loh … kamukan memang bapak-bapak, kamukan sudah punya anak. Makanya aku panggil kamu bapak. Gak sopan dong kalau aku panggil kamu nama aja?”


Albra menggeleng. “Enggak. Saya gak mau dipanggil bapak sama kamu,” jawabnya.


Wajah Albra telihat sangat gemas sampai Qyen tak sadar mencubit pipi Albra dan menciumnya. “Kamu gemes banget sih, gak sesuai sama umur kamu, hahaha ….”


“Qyen …” tegur Albra yang semakin minder karena umurnya sudah tua.


“Iya … iya, terus aku harus panggil kamu apa, tuan?”


“No … just Albra. Saya gak setua itu,” ucapnya lagi yang semakin terlihat kesal.


Qyen pun tertawa dan Albra yang melihat Qyen tertawa lepas pun ikut tertawa. Hari-harinya memang terasa sangat indah jika bersama Qyen. Tidak biasanya ia pulang kerumah akan tertawa seperti ini, namun jika bersama dengan Qyen, semuanya terasa menyenangkan. Albra dan Qyen yang sedang bercanda itu, sejenak melupakan masalah yang terjadi.


Qyen bersyukur Albra sudah lupa dengan kepergiannya yang tiba-tiba, dan Albra merasa senang karena Qyen tidak kembali mual-mual dan kini mereka malah asik bercanda tanpa memikirkan masalah apa yang sebenarnya terjadi.


Sampai, pintu penthouse terbuka dan munculah Meta dan Kender disana. Mereka sedikit terkejut karena melihat tuannya yang sedang tertawa lepas dengan Qyen tanpa menggunakan pakaian atas.


“Sepertinya kita harus menunggu,” ucap Kender kepada Meta.


“Ki ….”


Belum sempat Meta menjawab, Qyen terlebih dahulu menyadari kehadiran mereka berdua. “Hey, ada sekertaris kamu,” ucap Qyen sambil tersenyum kearah Meta dan Kender.


Albra menetralkan ekspresinya, ia bangun dari duduknya dan menghampiri kedua orang yang menjadi kepercayaannya.


“Bu Meta … em … mau minum ….”


“Panggil saja saya Meta dan ini rekan saya Kender, Nona.”


“Ah … oke. Sebentar ya, aku buatkan minum terlebih dahulu.”


“Tidak perlu, kami hanya.”


“Syut … kalian pasti capek. Tunggu ya,” ucap Qyen yang memotong dan saat ini ia berjalan kearah dapur untuk membuatkan sesuatu yang segar.


Albra tersenyum melihat wajah canggung Meta dan Kender, ia pun menyuruh mereka untuk mengikuti berjalan keruangan kerjanya.


“Tuan, apa Nona hamil?” tanya Meta langsung sambil memberikan sebuah paperbag berukuran besar kepada Albra.


“Gejalanya sudah menunjukan hal yang sepertinya akan terjadi,” jawab Albra tak lupa dengan senyum lebarnya.


Kender menggaruk kepalanya yang tak gatal, sedari tadi ia hanya bisa menyaksikan hal apa yang terjadi tanpa bertanya. “Anda senang, Tuan?” Kender kini bersuara karena sangat penasaran.


Albra tersenyum singkat. “Hal ini yang akan menjadikan kebahagian saya. Seperti yang sudah pernah kalian sampaikan kepada saya, saya harus memiliki teman hidup. Ya, dan saat ini saya sedang berusaha.” Albra tidak ragu mencurahkan isi hatinya kepada dua orang kepercayaannya itu. Merekalah yang sudah menjadi orang terdekat Albra selama ini.


“Kesenangan Tuan, menjadi kesenangan bagi kami juga.”


Albra mengangguk. Mereka kini malah membahas tentang hal yang terjadi dalam dunia bisnis mereka. Laporan demi laporan yang tak sempat tersampaikan dikantor tadi, kini Meta sampaikan dan Kender pun menghandle beberapa tugas Albra.


Obrolan mereka berhenti ketika Qyen masuk sambil membawakan minuman berwarna merah yang sudah diisi berbagai buah didalamnya. “Maaf jika aku ganggu. Silahkan diminum,” ucap Qyen sambil meletakan nampan diatas meja.


“Terimakasih, Nona,” ucap Kender sambil tersenyum, begitupun dengan Meta.


Qyen mengangguk dan pergi agar tidak mengganggu obrolan penting mereka.


“Kami sama sekali tidak menemukan siapa orang tua Nona Qyen sebenarnya.” Kender berbicara ditengah keheingan mereka.


“Berarti hal itu benar? Qyen sejak lahir tinggal dipanti asuhan?”


“Hal itu sudah sangat benar, Tuan. Nona menghabiskan seumur hidupnya disana.”


“Biar itu menjadi urusan saya. Sekarang tolong cek CCTV, di kafe baru yang ada dibawah gedung ini, katanya Qyen tadi menghabiskan waktunya disana. Tapi saya melihat wajah Qyen seperti terdapat sebuah tamparan.”


Kender dan Meta menyanggupi tugas tersebut. Merekapun lekas pergi. Albra yang sudah diam didalam ruang kerjanya kini memanggil Qyen, tak lupa ia kembali mencopot baju atasnya agar Qyen tidak kembali protes.


“Kenapa, Pak? Bukannya kamu lagi kerja?”


Cup


Satu kecupan mendarat dibibir Qyen.


“Aish … Pak Albra!”


Cup


Albra terdiam dan menampilkan wajah datar. Qyen sadar akan kesalahannya ia pun menggaruk kepalanya. “Iya, sorry Albra ….”


Dan setelah mendengar itu, Albra merangkul Qyen untuk bisa duduk disofa bersama. Albra mengambil sesuatu dari dalam paperbag yang dibawa meta tadi. Dua kardus kecil yang bergambar sebuah alat pemeriksa kehamilan atau test pack.


“I—ini maksudnya apa?” suara Qyen bergetar.