
Tinggal di rumah utama keluarga Max ternyata tidak seburuk yang Qyen bayangkan. Terhitung sudah satu minggu ia menetap di rumah ini, dan semuanya berjalan baik-baik saja.
Frans, sumber utama yang Qyen takuti, ternyata sekarang tidak banyak berbicara seperti dulu. Wajahnya masih menunjukan kebencian ketika berpapasan dengan Qyen, namun ia tidak melakukan hal apapun yang menyakiti Qyen.
Suasana rumah bak istana itu, tentunya menjadi ceria dan sedikit ramai ketika Qyen hadir di dalamnya. Seperti pagi ini, suara bujukan Qyen dan tawa menggelegar Alan terdengar di dalam kamar anak laki-laki itu, bahkan karena heningnya rumah besar ini, suara tawa yang berasal dari kamar Alan sampai ke lantai satu. Sehingga membuat siapapun yang mendengarnya akan ikut tertawa juga.
“Suara yang sama di setiap harinya, rumah ini terasa benar-benar rumah, Tuan,” ucap Brian yang kini sedang menghampiri Frans, mereka akan pergi ke kantor pusat karena ada hal yang perlu ditangani.
“Ada apa di atas?” tanya Frans kepada penjaganya.
“Itu teriakan Tuan kecil dan Nonya, Tuan.”
Frans mengangguk, sedikit tersenyum lalu pergi keluar untuk menaiki mobilnya. Brian melihat senyum tipis itu, mungkin pintu hati Frans sudah terketuk untuk bisa menerima hadirnya seorang wanita dalam hidupnya, walaupun itu adalah mantunya.
“Alan, ayolah, ini sudah jam tujuh kelas kamu akan di mulai satu jam lagi. Kamu tidak tahu lamanya perjalanan dari sini ke sekolahmu?”
Tidak biasanya Alan berlari-lari dan mengajak Qyen bermain. “Iya, aku mau pakai baju kalau kamu bisa tangkap aku. Hahaha …”
Alan terus berlari-lari mengelilingi kamarnya, Qyen ingin meladeni bercandaan Alan, namun apalah daya ia tidak bisa berlari karena perut besarnya. Albra sudah pergi untuk perjalanan bisnisnya ke Singapore bersama Ian dan Meta. Kini tinggalah Qyen sendiri menghadapi kelakuan Alan disetiap paginya, sepertinya mood Alan sedang baik.
“Ayolah, sayang. Om Parell sudah menunggumu.” Qyen melihat matanya kearah Parell yang juga sedang memperhatikan Alan.
“Tuan kecil, kasian Nyonya, ayo kita sudah terlambat.” Parell membuka suaranya, akhirnya Alan yang sedang berlarian, kini melangkahkan kakinya kearah Qyen.
“Kamu tidak tahu perutku sebesar ini, kamu mau mengajak aku lari-larian?”
Qyen mengusap keringat Alan, padahal anak itu baru saja mandi pagi. “Hahaha … Maafkan aku, Qyen. Kamu ikut antar akukan?”
“Kamu biasa pergi ke sekolah dengan Om Parell, kenapa harus dengan aku?”
“Aish, kamu suka begitu,” kesal Alan yang kini melipat tangannya di dada.
“Iya-iya aku ikut ke sekolahmu, tapi ayo cepat ini sudah siang.”
Setelah drama pagi antara ibu dan anak selesai, kini Alan sudah menunggu Qyen di dalam mobilnya. Parell pun sudah siap di kursi kemudi, juga menunggu Qyen datang.
Tak lama, Qyen datang dengan stelan sederhana sehari-harinya. Dress berwarna putih, sepatu pinknya, dan tas yang senada dengan bajunya. Bahkan Qyen tidak memakai riasan penuh diwajahnya, hanya memakai bedak dan lipstick yang tipis, rambutnya pun dibiarkan terurai.
“Om, Qyen tidak mau menjadi pacarku, dia maunya menjadi ibuku.” Lagi-lagi Alan berbicara seperti itu kepada orang lain, sedangkan Parell hanya tersenyum kecil menanggapinya.
Tak heran jika Alan berbicara seperti itu, anak kecil saja terpesona dengan kecantikan Qyen yang alami. Qyen masuk ke dalam mobil perjalanan kesekolah Alan pun dimulai.
Butuh waktu berpuluh-puluh menit untuk bisa sampai di sekolah Alan, sebab rumah utama Max berada jauh dari kota.
Sesampainya di sekolah, Qyen mengantar Alan untuk sampai di kelasnya. Banyak sekali pasang mata menatap takjub kearah mereka karena Qyen dan Alan yang berjalan di jaga oleh Parell di belakang mereka. Bahkan Parell pun menjadi daya tarik sendiri.
“Selamat pagi, Nyonya. Alan apa kabar hari ini?” tanya guru pendamping Alan yang masih terlihat muda.
“Selamat pagi, Bu,” sapa Qyen balik.
“Alan baik,” jawab Alan dengan singkat.
Guru pendamping itu hanya tersenyum dan menerima tas makan Alan dari tangan Qyen.
“Qyen, aku masuk ya. Kamu jangan ke mana-mana …” Alan melambaikan tangannya lalu masuk ke dalam kelas.
Qyen mengangguk dan juga melambaikan tangannya, dari arah pintu ia bisa melihat jika Alan hanya bergabung dengan anak laki-laki saja, melihat hal itupun guru pendamping Alan berbicara. “Alan hanya bergabung dengan Diego, dan Petra, seperti yang Tuan Albra bilang.”
“Alan tidak apa-apa bergabung dengan murid yang lain, Bu. Di masanya yang sekarang, bermain dengan banyak teman sepertinya hal yang baik.”
“Baik, Nyonya. Saya akan membantu Alan untuk bisa bergabung dengan murid lainnya.”
Setelah mengobrol sebentar, Qyen kini pamit niatnya ia akan kembali ke mobil dan beristirahat, sedangkan Parell tetap menjaga tugasnya untuk berjaga siap siaga di depan kelas Alan. Qyen yang melihat itu dari arah mobil bahkan terkekeh.
“Gimana bisa Ian mempekerjakan orang tampan seperti Parell jadi pengasuh Alan? Lihatlah jadinya banyak ibu-ibu yang menggoda Parell,” gumam Qyen dan kembali sedikit tertawa.
Ia memotret posisi Parell yang diperhatikan banyak orang, lalu mengirim gambar itu kepada suaminya.
Pak Albra
Foto
Kak, lihat deh kasian banget Parell harus dikerumunin sama ibu-ibu gitu.
Tak lama Albra membalas pesannya.
Pak Albra
“Mana ada cari jodoh sama ibu-ibu yang udah punya anak,” gumam Qyen yang memilih untuk mematikan ponselnya. Albra selalu saja membahas jodoh orang, padahal melakukan hal itu tidak baik.
Menunggu sekolah Alan usai, ia pun memilih mengistirahatkan dirinya dan tertidur di dalam mobil.
…
Setelah kegiatannya mengantarkan Alan pergi ke sekolah kini mereka sudah kembali ke rumah. Kegiatan mereka selanjutnya adalah mengadakan kelas memasak. Guru les memasak Alan dan Qyen akan datang 20 menit lagi.
Saat ini Parell sedang disibukan dengan kegiatan Alan yang kesulitan mencari baju untuk les memasak nanti, ia mengacak-acak lemarinya dan mencari kostum chefnya yang sudah pernah ia beli.
Untung saja rasa sabarnya Parell lebih besar dibanding Ian, kini dengan telaten ia pun membantu Alan dengan kata-kata bijaksanannya.
“Tuan kecil, jika anda terus mencari pakaian seperti itu, apakah pakaiannya akan terlihat?”
“Tidak, makanya itu aku bingung dimana pakaian kostumku,” kesalnya dan kembali mengacak isi lemari pakaiannya.
Parell menghela napasnya, ia menahan pintu lemari besar itu, dan mengambil kostum Alan yang masih terbungkus dengan plastik di atas lemari. “Ini? Anda tidak bisa memakai emosi jika sedang mencari sesuatu, Tuan.”
Alan menerima pakaian itu. “Terimakasih, Om. Panggil aku Alan saja jika tidak ada Papa. Kamukan temanku,” ucapnya dan kini memakai kostum chefnya.
Parell hanya bisa mengangguk dan kini membantu Alan memakai pakaiannya. Jika bukan karena pekerjaan dengan gaji besar, Parell sebenarnya tidak ingin berhadapan dengan anak kecil. Namun, ia harus bisa professional dengan pekerjannya dan menerima pekerjaan ini dari teman lamanya dulu. Lagipun ia sedang butuh uang untuk biaya hidupnya.
Qyen datang, dan terkekeh geli melihat antusias Alan dalam kelas memasak kali ini. Albra sengaja mendatangkan guru memasak untuk Qyen dan Alan ke rumah utama agar mereka tidak harus pergi keluar.
Frans melarang orang asing untuk masuk ke dalam rumahnya. Oleh karena itu, Albra mengosongkan sebuah ruangan besar yang berada di pinggir danau belakang rumah besar mereka, menjadi sebuah dapur yang akan mereka gunakan untuk kegiatan kelas memasak yang dilaksanakan dua minggu sekali.
Dengan menggunakan golf car, Parell membawa Qyen dan Alan ke ruangan besar tersebut dan sudah ada beberapa penjaga yang menjaga mereka, juga 3 orang guru wanita yang akan mengajarkan kelas hari ini.
“Kamu terlihat sangat semangat, Alan,” ucap Qyen.
Alan mengangguk dengan senyum bahagianya, bahkan anak itu sudah memakai topi chefnya yang sangat tinggi. Tangannya tak berhenti menggenggam tangan Qyen.
“Siapa yang menyiapkan ini Parell?” tanya Qyen yang takjub dengan ruangan dapur yang terlihat mewah ini. Di setiap meja yang dilapisi marmer mewah sudah terdapat perlengkapan memasak.
“Tuan besar yang menyiapkannya, Nyonya.”
“Tuan besar?” gumam Qyen. Frans?
Guru memasak Alan dan Qyen sudah memperkenalkan diri. Pertemuan kali ini adalah pengenalan bumbu dasar kepada Alan, dan Qyen yang juga bertanya-tanya tentang rempah-rempah yang belum ia ketahu namanya. Ternyata banyak sekali bahan dasar yang belum Qyen ketahui.
“Bu guru, hari ini kita akan membuat apa? Aku sudah menghafal hampir semua yang ada di sini. Hanya gula yang manis, garam yang asin, dan lada yang pedas. Iyakan?”
Qyen berdiri di samping Alan, ia pun terkekeh, namun begitu Alan sudah belajar mengingat bumbu dasar dalam masakan.
“Baiklah, Tuan, dan Nyonya kali ini kita akan mulai membuat toast. Di minggu ini kita akan fokus dengan tema breakfast. Tuan kecil, anda suka sarapan dengan apa?” tanya salah satu guru kepada Alan.
“Emmm … Pagi tadi aku makan telur mata sapi buatan Mamaku,” ucapnya sambil melihat kearah Qyen yang ada di sebelahnya.
Qyen tersenyum malu, ketika Alan berbicara dengan orang lain, ia selalu memperkenalkan Qyen dengan panggilan ‘Mamaku’ dan hal itu membuat Qyen merasa berharga.
“Diantara semua makanan, Alan hanya suka telur mata sapi dan coklat.”
Kegiatan les memasak di mulai, Parell tak lepas berada di samping Alan tentunya. Apalagi mereka saat ini sedang berada di dapur, dan kewaspadaannya harus ditingkatkan.
Sudah 2 jam berlalu, kegiatan les yang seru sangat membuat Qyen dan Alan bahagia. Hasil masakan yang mereka buat, Qyen bagikan kepada para pelayan yang menjaga rumahnya karena mereka membuat makanan itu sangat banyak.
Setelah turun dari golf car, saat ini mereka hendak masuk ke dalam rumah. Tak hentinya Alan menggenggam tangan Qyen karena kebahagiaan hari ini. “Qyen, Parell mengakui jika masakanku enak. Berarti aku sudah bisa memasak?”
Qyen mengangguk setuju sambil mengangkat jempolnya. “Tentu saja, kamu sangat hebat hari ini.”
“Terimakasih, Qyen …”
Kegiatan mereka yang berjalan masuk ke dalam rumah ternyata diawasi oleh Frans yang baru saja hendak pergi menuju ruang kerjanya. Melihat kegiatan mengobrol Alan dan Qyen yang terlihat sangat bahagia tak sadar Frans pun ikut tersenyum kecil.
“Ada Grapa, silahkan di sapa dulu,” bisik Qyen.
Alan berlari kearah kakeknya, genggaman tangannya tidak pernah lepas dari Qyen dan hal itu menjadikan Qyen terbawa dan saat ini sudah berhadapan dengan Frans.
“Tuan besar,” sapa Qyen.
“Grapa? Grapa baru pulang? Bukannya Grapa pergi ke Jakarta? Grapa tau tidak, aku baru saja selesai les memasak. Aku kira Grapa tidak pulang, makanya aku tidak membuat sesuatu untuk Grapa,” ucap Alan dengan kalimat panjangnya.
Frans tersenyum kecil mengusap rambut cucunya. “Iya, Grapa baru pulang. Lain kali buatkan aku sesuatu setelahnya ya.”