
Berhari-hari lamanya ia berkutat dengan semua dokumen yang ada di mejanya, kini akhirnya Albra pun bisa menghembuskan napasnya lega. Hampir semua dokumen sudah ia tangani, dan saat ini Albra tengah beristirahat memejamkan matanya sejenak untuk mengusir kantuk yang menguasai dirinya.
Jam menunjukan pukul 4 sore, ia berniat untuk pulang, tapi Kender bilang ia sudah memiliki janji makan malam dengan rekan bisnisnya. “Waktu berjalan sangat lama, saya mau pulang,” gumam Albra. Bayangan Qyen tersenyum kini memenuhi isi kepalanya, tak sadar Albra pun ikut tersenyum.
Terkadang, Albra masih belum percaya ketika ia sudah memiliki ikatan pernikahan dengan wanita yang bahkan baru ia temui selama setengah tahun. Tanpa ada pengenalan yang pasti, tanpa ada janji yang pasti, tiba-tiba saja Qyen datang di kehidupannya. Seolah-olah tuhan memberikannya anugrah sangat besar di dalam kehidupannya.
Kender yang tengah duduk di sofa membantu Albra mengecek dokumen yang ada pun aneh, melihat bosnya selalu bersikap seperti itu. Matanya memang terpejam, tapi bibirnya selalu membentuk senyuman. Kadang Kender merasa geli melihatnya.
“Tuan? Anda ingin pulang?” tanya Kender yang mendengar gumaman kecil Albra tadi.
Albra menggelengkan kepalanya. “Kamu tidak usah sibuk kerja, Kender. Umurmu sudah mulai tua, cari pacar sana.”
Bagaikan kejatuhan buah durian, Kender terkejut dengan ucapan yang Albra lontarkan. Benarkan Albra yang berbicara? Benarkan Tuannya itu yang mengusulkannya untuk mencari kekasih? Kender memang sudah memiliki umur yang matang, tapi ia sangat terkejut ketika Albra berbicara seperti itu kepadanya.
“Saya masih ingin sendiri, Tuan,” jawab Kender tanpa melihat kearah Albra.
Albra yang tertarik dengan ucapan Kender, ia pun bangkit dari duduknya dan berjalan menuju sofa lalu berakhir duduk dihadapan Kender. Albra merasa, dirinya harus memberikan wejangan ini kepada Kender.
“Umur kamu berapa?” tanya Albra dengan mata memicing.
Kender mencoba menghela napasnya, meladeni Albra berbicara yang tidak penting membuatnya sedikit aneh. Bahkan kini pekerjannya terganggu karena Tuannya sendiri. “Umur saya 29, Tuan.”
“Oke, kamu sudah tua. Cepat menikah.”
‘Tuan pikir mencari perempuan segampang merobek kertas?’ Ingin sekali Kender mengutarakan isi hatinya.
“Sepertinya saya akan menundanya, Tuan. Saya masih ingin bekerja.”
Albra meletakan tangan kanannya di dagu, ia melipat kakinya juga sambil bersandar di sofa. Wajahnya mengeluarkan ekspresi seolah-olah dirinya sedang berpikir keras saat ini.
Melihat ekspresi tuannya yang sedang gelisah, ia pun mengangkat alisnya dan bertanya. “Kenapa, Tuan?” Sifat Kender lebih dingin dari pada Albra ketika berhadapan dengan orang lain. Mengingat Albra adalan Tuannya, Kender harus lebih banyak bicara dan Albra tahu akan hal itu.
“Emm … kamu,” Albra menunjuk Kender dengan jari telunjuknya. “Atau mau saya jodohkan saja?”
Uhuk!Uhuk!Uhuk!
Mendengar itu, bahkan air liurnya sendiri pun beraksi, ia tersedak karena air liurnya sendiri. Kender saat ini menjadi ragu, jika dihadapannya ini adalah Albra.
“Minum-minum.” Tangan Albra terulur memberikan Kender botol minum mineral.
Kender menerima itu dengan kedua tangannya dan langsung meminumnya. Jantungnya terlalu shok menghadapi sikap dan sifat Albra yang semakin hari semakin aneh.
“Kamu mau saya jodohkan saja?” Lagi-lagi Albra berbicara seperti tanpa beban dihidupnya.
“Tidak perlu, Tuan.”
“Sebenarnya, banyak sekali rekan bisnis saya yang ingin menjodohkan kamu dengan anaknya. Bahkan mereka meminta langsung kepada saya,” ucap Albra yang saat ini berperan seperti ayah Kender.
Wajah Kender memelas, ia pun bingung bagaimana caranya untuk menanggapi hal ini. “Tapi, Tuan. Saya masih belum mau menikah.”
“Sayang sekali ketampanan kamu hanya dilihat oleh dokumen-dokumen itu,” ujar Albra dan kembali bersandar di sofa.
Ingin rasanya Kender membalas ucapan Albra, namun ia urungkan. Tak sadarkah Albra dulu juga sama sepertinya. Kender sudah lama sekali bekerja dengan Albra, dan Albra bisa saja berbicara saat ini kepadanya karena saat ini Albra sudah memiliki istri.
“Anda tidak perlu memikirkan saya, Tuan.”
“Hmm … Tapi saya akan tetap mencoba menjodohkan kamu dengan anak dari rekan bisnis saya.” Albra melihat ekspresi wajah Kender kaku dan tegang, ia pun kembali berbicara. “Hanya kencan, Kender. Kamu sendiri belum pernah kencan-kan?”
Pikirannya sudah bercampur aduk dengan ucapan Albra yang tiba-tiba terngiang di telinganya. Bahkan kini Kender sudah tidak mood dengan dokumen-dokumen yang ada dihadapannya.
“Kender, dengan ini bagaimana? Anak dari Revila Group, dia pintar, baik dan saat ini bersekolah di Swiss. Mau saya kenalkan dengan dia.”
“Tuan ….”
‘Boleh tidak saya menyentuh wajah anda dengan apel ini?’ Bidik matanya terarah kepada buah apel yang ada di atas meja.
“Hm? Kenapa?” tanya Albra sambil menyimpan tabletnya yang masih memperlihatkan foto perempuan itu di atas meja.
“Saya sedang bekerja, Tuan. Bisakah anda tidak membahas ini?” Kender sepertinya memang harus tegas kepada Albra. Lagian, sejak kapan Tuannya itu berubah menjadi makcomblang. Tidak biasanya Albra peduli dengan kehidupan orang lain.
Albra terdiam menatap sekertarisnya yang sudah ia anggap sebagai keluarga sendiri. “Okay, kalau kamu berubah pikiran kamu bisa meminta kontak dia kepada saya. Papanya sendiri yang meminta saya untuk menjodohkannya dengan kamu.”
Sudah … Kender sudah tidak kuat mendengar ocehan Albra. Ia pun mengeluarkan sifat aslinya, Kender bersandar di sofa seperti yang Albra lakukan, dan mengusap wajahnya berkali-kali, sungguh ia merasa sangat frustasi menghadapi kebawelan Albra yang sama seperti anaknya, Alan.
“Hari ini kalau kamu lelah kamu bisa selesaikan nanti saja. Panggil Meta,” ucap Albra dan hanya bisa diangguki oleh Kender.
Kender pun keluar ruangan, namun sebelum kakinya melangkah keluar dari ruangan Albra, suara Tuannya kembali terdengar. “Jangan kabur Kender.”
Kender menutup pintu ruangan Albra sedikit kencang, melihat hal itu Albra menggelengkan kepalanya. “Tidak tahu diuntung anak itu, saya berniat baik untuk menjodohkan dia, malah seperti itu …” Albra menggelengkan kepalanya, saat ini ia bersikap seperti seorang kakek yang melihat cucunya marah-marah.
Sedangkan Kender berjalan gontai kearah meja kerjanya dengan Meta yang ada di depan ruangan Albra. “Kenapa? Tuan berulah?” tanya Meta yang sudah melihat ekspresi Kender yang tak semangat seperti biasanya.
“Di panggil. Jangan kaget kalau Tuan ngomong sesuatu sama kamu,” ucap Kender yang kembali berjalan gontai kearah ruangan Albra.
Meta yang mendengar itu terkejut, apa jangan-jangan ia akan di pecat? Banyak sekali pikiran aneh di kepalanya, sampai ia pun kini sudah duduk di sebelah Kender dan menghadap kearah Albra yang tengah santai memainkan tabletnya.
“Meta …” panggil Albra dan meletakan tabletnya. “Berapa umur kamu?”
‘Kena jugakan kamu.’ Hati Kender berbisik dan ia pun sedikit menahan tawanya. Melihat rekan kerjanya yang terkejut dengan mata yang melihat keseluruh arah, ingin rasanya Kender tertawa terbahak-bahak, sepertinya Meta akan diintrogasi sama dengan dirinya perihal jodoh.
“Dua puluh tujuh, Tuan.”
“Hm … Sudah tua. Cepat menikah.”
Mendengar itu, Meta yang tidak tahu apa-apa, melirik kearah Kender, ia butuh jawaban saat ini, sebenarnya ada perlu apa tuannya memanggil dirinya kemari. Mengapa Albra tiba-tiba menanyakan umurnya dan menyuruh dirinya untuk menikah?
“Ma—maksud, Tuan?” tanya Meta yang masih belum mengerti.
“Kepala saya rasanya hampir meledak melihat kalian yang tidak pernah kencan dengan siapapun.”
‘Ini kenapa sih, kenapa Tuan seolah-olah berubah jadi makcomblang?’ Meta menatap Albra dengan penuh tanya dikepalanya.
‘Lagipun kejombloan saya tidak merugikan perusahaan, Tuan.’ Kender kembali berbicara dengan pikirannya.
“Meta, mau saya jodohkan dengan orang pilihan saya?”
Meta membelalakan matanya terkejut kearah Albra, dan Albra hanya menaikan kedua alisnya untuk mempertanyakan ekspresi apa itu? Bahkan kini di sebelahnya Kender sudah berusaha sebisa mungkin tidak menyemburkan tawanya. Bisa hancur imagenya jika seperti ini.
“Saya tidak perlu dijodohkan, Tuan. Saya senang dengan kehidupan saya sendiri.” Meta mencoba menjawab ucapan Albra dengan sesopan mungkin. Ia masih bisa menghargai jika lawan bicaranya adalah Albra.
“Kalian itu memang benar-benar samanya. Apa perlu saya menjodohkan kalian berdua?”
“Tidak, Tuan.”
“Jangan, Tuan.”
Keduanya sama-sama menjawab secara serentak. Kender tidak bisa membayangkan jika wanita tomboy seperti Meta nanti menjadi istrinya, bahkan Meta pun tidak bisa membayangkan bagaimana bisa Kender menjadi suaminya. Huh … itu tidak akan pernah mungkin terjadi.
“Satu minggu, saya beri kalian kesempatan berlibur. Setelah saya pulang dari Jepang, kalian harus membawa teman kencan kalian dihadapan saya.”
….
Selesai dengan kegiatan dikantor dan makan malam dengan rekan bisnisnya, saat ini Albra pulang menuju penthouse untuk mengistirahatkan tubuhnya, sebelum esok pagi hari mereka akan berangkat pergi ke Jepang sesuai keinginan yang Alan inginkan.
Pertama kali menginjakan kakinya di penthouse, Albra disuguhkan dengan 5 buah koper yang berjejer dan Qyen yang tengah melipat selimut di sana. Ia terkejut karena sepertinya Qyen yang menyiapkan semua ini. Di Jepang sedang musim dingin, alhasil koper mereka semakin banyak.
“Sayang …” Albra memanggil Qyen yang tak sadar akan kehadirannya.
“Hai …” sapa Qyen seperti biasa.
“Kenapa kamu yang siapkan ini? Saya bisa mneyuruh orang lain.”
Qyen tersenyum, menyambut suaminya dan mengajaknya untuk duduk di sofa. “Perut kamu udah tidak bisa diajak untuk bekerja, Qyen kalau bayinya tiba-tiba keluar bagaimana?”
Qyen harus sudah terbiasa mendengar ocehan Albra yang sangat panjang .Mungkin Albra tertular dari cara bicara Qyen.
“Aku gabut, sayang. Makanya aku kerjain. Aku dibantu Meta kok, tadikan Meta kesini pagi. Lagipun aku seneng karena besok aku mau pergi jalan-jalan.” Ucap Qyen dengan wajah happynya.
Melihat itu, Albra memeluk Qyen dengan lembut. “Tapi, Kak. Muka kamu kenapa kusut kaya gitu? Kerjaan di kantor numpuk banget?”
Albra menggelengkan kepalanya. Mukanya kusut bukan karena pekerjaan kantor, tapi niatnya yang ingin menjodohkan kedua sekertarisnya kini gagal karena mereka menolak secara mentah-mentah, maka dari itu wajah Albra sangat kusut.
“Bukan.”
“Lalu kenapa? Ada yang menganggu pikiran kamu?”
“Jadi gini, saya ngobrol bertiga dengan Meta dan Kender, mereka gak mau dijodohkan. Padahal saya sudah mencarikan jodoh mereka yang pas.” Tak hanya itu saja, Albra juga menceritakan semua jawaban Kender dan Meta yang hampir sama, mereka tidak ingin dijodohkan, juga mereka masih ingin bekerja.
“Yasudah, saya kasih waktu mereka satu minggu untuk membawa pacarnya kehadapan saya. Setelah saya berbicara itu, mereka sama sekali tidak berbicara satu patah katapun kepada saya.”
Qyen kali ini tidak bisa menahan tawanya, ia pun tertawa sangat kencang. Melihat ekspresi Albra yang kesal, polos, lucu membuat Qyen sangat-sangat gemas. Lagipun Qyen berpikir jika Albra memang salah, bagaimana bisa menjodohkan orang disaat mereka tidak mau dijodohkan.
“Lagian kamu kenapa harus menjodohkan mereka sih, Kak? Mereka masih muda-muda loh ….”
“Karena mereka sudah hampir tua. Bahkan banyak sekali rekan bisnis saya yang ingin menjodohkan anaknya dengan Meta dan Kender. Apalagi dengan Kender.” Albra mengeluarkan semua unek-unek kekesalannya kepada Qyen. Ternyata banyak berbicara dan bercerita itu membuat semua isi kepalanya plong, Albra baru menyadari akan hal itu, dan untungnya lagi ia dipertemukan dengan Qyen yang selalu setia mendengarkan semua ceritanya.
“Iya sih, Kak. kender itu ganteng, pinter, baik, sopan. Meta juga, kalau dia berdandan rapi seperti perempuan, dia cantik banget.”
“Benarkan? Saya pusing banget sekarang.”
“Hahaha … Baru kali ini aku liat kamu pusing mikirin tentang hal aneh, Kak.”
“Saya gak aneh, sayang. Saya kasihan melihat mereka.”
Qyen hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia tahu Albra sangat frustasi saat ini, apalagi ini baru pertama kalinya permintaan Albra di tolak mentah-mentah oleh orang kepercayaannya. “Sudah, Kak. Jodoh gak akan kemana. Lagipun kamu kaya kakek-kakek yang bingung jodohin cucunya tau gak. Aneh banget.”
Menanggapi hal itu, Albra tersenyum kecil, ia pun merasa jika dirinya sedikit konyol hari ini.