ALBRA

ALBRA
50. Pernikahan



Hari pernikahan mereka telah tiba, jam menunjukan pukul 15:00 dan acara janji suci akan dilaksanakan sekitar satu jam lagi. Qyen sedang berada di ruang make up ditemani dengan Ian dan Alan, sedangkan Albra berada di ruangan lain untuk mempersiapkan dirinya juga.


Wajah Qyen dirias namun masih terlihat natural. Rambutnya yang panjang dipakaikan mahkota dan pernak-pernik lainnya, hal itu yang membuat Qyen sangat manis dan cantik hari ini. Sedangkan Ian dan Alan sudah tampan dibalut dengan tuxedo masing-masing.


“Ian, lihat deh Qyen sangat cantik sekali. Tapi papa bilang, Qyen sudah tidak bisa untuk menjadi pacarku,” ucapnya dengan suara yang melemah diakhir.


Ian sedikit menahan tawanya. “Lagian siapa juga yang mau punya pacar kaya Lo. Udah kaku, ngomongnya terlalu formal, gak asik, sok serius, udahlah … gak ada cewek yang mau sama Lo.” Alan mengerti dengan apa yang Ian katakan, ia pun membesarkan pupil matanya.


“Banyak tau yang suka sama aku. Kamu aja yang gak tau, dasar Ian!”


Ian kini menanggapi ucapan Alan dengan kekehan saja. Ia menghampiri Qyen dan memberikan ucapan selamat. “Qyen, selamat ya, akhirnya Lo udah official jadi keluarga Gue. Gue bakal bantuin kalian terus kok buat rebutin hati Papa. Lo harus kuat, Gue selalu dukung,” ucap Ian yang tiba-tiba datang kearah meja rias Qyen dan berbicara seperti itu.


Qyen yang merasa terharupun kini hanya bisa menganggukan kepalanya. “Terimakasih, Ian. Terimakasih sudah selalu menerima dan mendukung aku. Aku enggak tahu gimana caranya agar bisa balas kebaikan kamu. Semoga kamu dipertemukan dengan wanita yang sangat-sangat baik sepertimu.” Qyen mengusap bahu Ian yang sangat kokoh dan terlihat tampan.


Ian tersenyum dan mengiayakan ucapan Qyen, ia pun membisikan sesuatu di telinga Qyen. “Gue bakal kenalin cewek yang Lo bilang tadi sekarang juga, tunggu sebentar ya …” setelah itu, Ian mengedipkan sebelah matanya dan pergi dari ruangan Qyen.


Qyen ternganga, ia tidak percaya jika Ian memang sudah memiliki pujaan hati. Tak lama, Ian datang sambil menarik seorang wanita cantik disebelahnya, Qyen bisa melihat jika wanita itu terlihat ragu-ragu untuk masuk ke dalam ruangannya.


“Qyen!” panggil Ian sambil memperlihatkan seorang wanita yang ia genggam tangannya.


Qyen tersenyum lebar, ia pun berdiri dan menyambut kehadiran wanita itu. Qyen bisa melihat jika wanita yang Ian pilih sangat-sangat cantik dan sederhana. Dengan balutan gaun yang sesuai dengan warna yang dipakai Ian, wanita itu pun tersenyum dan mengulurkan tangannya kepada Qyen.


“Hai, saya Savana, teman Ian.”


“Hai, selamat datang. Aku Qyen.”


“Anda cantik sekali dengan dengan gaun itu,” pujinya sambil memperhatikan Qyen dari atas hingga bawah.


“Ah … terimakasih.”


“Btw … Savana yang jadi desainer buat baju Lo, Albra dan Alan, Qyen ….”


Qyen membulatkan matanya dengan ekspresi terkejut. “Ya ampun, aku beruntung banget bisa pakai gaun seindah ini, ternyata buatan kamu. Pantas saja gaun ini cantik sama seperti orang yang membuatnya.” Mereka saling memuji dan mereka pun sama-sama tertawa.


Waktu terus berjalan, pernikahan Qyen dan Albra sebentar lagi akan digelar. Berbeda dengan Qyen dan Albra yang sedang menghilangkan rasa gugupnya, di sisi lain, Frans yang sudah datang menuju venue pernikahan niatnya terhenti ketika ia masih berada di dalam mobil.


Mobilnya berhenti begitu saja di pinggir jalan, ia hanya bisa melihat keramaian dari kejauhan. “Berapa tamu undangan yang hadir di sana,” ucap Frans yang kini sudah keluar dari rumah sakit.


“Sekitar dua ratus orang, Tuan. Pernikahan dilaksanakan hanya beberapa jam saja.”


Frans terdiam dan mematung. Tenaganya terasa habis jika terus memikirkan cara menghancurkan Qyen untuk pergi dari kehidupan anaknya. Dua hari belakangan ini, Frans terus memikirkan Qyen, tentang lembutnya tangan Qyen yang mengurusnya ketika di rumah sakit, dan tentang perut besar Qyen yang tak sengaja ia pegang. Frans merasakan gelenyar aneh didalam tubuhnya ketika memikirkan itu, rasa tentang ingin menerima dan penasaran?


“Tuan, anda ingin pulang ke rumah atau menghadiri pesta Tuan Albra?” Brian yang berada di samping kemudi bertanya tentang keinginan Frans. Brian melihat perubahan sifat Frans pun merasa aneh, biasanya Frans akan menyuruhnya untuk mengusik kehidupan Albra dan Qyen, tapi ketika mendengar acara pernikahan Albra, Frans hanya mampu berdiam saja.


“Sebentar, saya ingin di sini terlebih dahulu,” ucapnya sambil memperhatikan kearah venue pernikahan.


….


Para tamu undangan yang hadir sudah berdiri, menyaksikan kedua pengantin berjalan di altar pernikahan mereka. Albra dan Qyen berdiri dengan sangat serasi, dan Alan yang berjalan di hadapan mereka, anak kecil itu terlihat bahagia dengan hari ini, bahkan tanpa latihan berjalan pun Alan tahu apa yang harus ia lakukan.


“Kamu sangat cantik, sayang. Kalau kamu merasa tidak nyaman, kamu bilang bilang,” ucap Albra dengan berbisik.


Qyen tersenyum. “Kamu juga sangat-sangat tampan. Terimakasih, Kak ….”


Sampailah mereka di waktu untuk mengucapkan janji suci mereka, dari sini Qyen bisa melihat  hampir semua para tamu undangan yang hadir Qyen tidak mengenalinya. Namun Qyen bisa melihat kehadiran Bu Desi, dan keluarga Vita yang ia undang. Selebihnya orang yang hadir di acara pernikahan mereka adalah rekan bisnis Albra.


Janji suci sudah terucapkan, janji yang akan mereka pegang sampai akhir kehidupan mereka. Qyen sudah menyerahkan hidupnya untuk Albra, begitupun dengan sebaliknya, Albra sudah menyerahkan hidupnya untuk Qyen. Mereka pun berjanji akan saling hidup dengan berbahagia.


Cup


“Saya akan selalu menjaga kamu, tetap di sisi saya, saya tidak tahu jika kamu tidak ada di hidup saya,” ucap Albra yang terus saja membisikan sesuatu di telinga Qyen.


Qyen menganggukan kepalanya. “Terimakasih sudah memilih aku untuk menjadi bagian hidup kamu, Kak.” Qyen benar-benar menyayangi Albra, ia menerima semua masa lalu Albra di dalam hidupnya walaupun Albra belum pernah menceritakan tentang masalalunya kepada Qyen. Qyen akan menerima itu.


Semua para tamu undangan menikmati hidangan yang tersaji, tak sedikit karyawan Albra yang juga turut memeriahi pernikahan bosnya. Senja yang sangat cantik mengisi keindangan harmonis kehidupan mereka. Kender dan Meta pun tak lupa untuk memberikan selamat kepada Tuannya.


“Kak, Ian bawa perempuannya tau, kamu sudah liat?” tanya Qyen disela-sela menyapa para tamu.


Albra mengangguk. “Pacarnya sekolah di NYC dan dia yang bikin gaun kamu.”


Qyen mengangguk. “Iya, aku udah tau. Pacarnya baik, cantik dan pintar. Semoga mereka berjodoh.”


Albra mengusap rambut Qyen dan mengangguk untuk mengamini ucapan Qyen.



Malam sudah datang sangat cepat. Pesta pernikahan sederhana mereka sudah selesai dilaksanakan satu jam yang lalu. Saat ini Qyen dan Albra tengah beristirahat di salah satu kamar hotel yang sudah mereka boking. Kamar hotel itu bahkan sudah dihias untuk pasangan seorang pengantin, padahal Qyen dan Albra tidak perlu merasakan rasanya malam pertama, karena mereka sudah melakukannya terlebih dahulu.


Tentang Alan, anak kecil yang kelelahan itu sudah terlelap dan Ian yang mengurusnya. Ian mengambil alih Alan karena ia mendukung penuh untuk kegiatan malam pertama sang kakak. Sungguh baik memang hati Ian.


Qyen menyingkirkan kelopak bunga mawar yang menghiasi kasurnya, ia pun duduk dan bersandar di sandaran kasur. Rasanya berdiri selama 3 jam itu melelahkan, ditambah ia harus memakai gaun yang cukup berat dan sepatu yang memiliki hak, apalagi ia sedang berbadan dua.


“Aduh … kenapa kakiku jadi bengkak segala,” ucapnya yang kini prihatin melihat kakinya yang bengkak. Mungkin karena ia terlalu berdiri lama.


Albra keluar dari dalam kamar mandi, ia keluar dengan keadaan hanya melilitkan handuk di pinggangnya saja, air yang berasal dari rambutnya menetes begitu saja ke perut kotak-kotaknya, dan Qyen yang melihat itu menelan ludahnya kasar. Mengapa Albra sangat terlihat seksi kali ini.


‘Sadar Qyen, kamu adalah ibu hamil,’ ucapnya dalam hati.


Albra yang tahu Qyen salah tingkah di sana, ia pun menghampiri Qyen tanpa berniat untuk memakai bajunya terlebih dahulu.


Qyen memberikan jarak, ia sudah memasang alarm waspada di dalam dirinya. “Kak … ngapain? Pakai dulu bajunya sana.”


Albra berdiri dihadapan Qyen dan memperhatikan Qyen yang sedang salah tingkah.


“Ekhem … ekhem … Aish … apaan sih, sana Kak …” rengek Qyen yang tidak ingin Albra melihat wajahnya yang memerah.


“Kita sudah sah, gak mau malam pertama, sayang?” Semenjak hidup dengan Qyen selama 4 bulan, kini Albra perlahan bisa menyelipkan bahasa tidak formal kedalam percakapan sehari-harinya, atau bisa dibilang jika Albra tidak terlalu kaku.


Qyen menelan ludahnya kasar. Ia pun menutup wajah Albra dengan bantal yang berhasil ia ambil. “Malam pertama nih, makan …” Qyen pun mencoba bangkit dari duduknya, namun Albra menarik tangan Qyen sampai Qyen terjatuh dengan lembut di atas kasur.


Albra masih ingin menggoda Qyen, karena Qyen mala mini sangat-sangat menggemaskan di matanya. “K—kak … apaan sih ….”


Albra menaiki tubuh Qyen, ia tidak menindih badan Qyen karena takut menyakiti perutnya. Albra mengelus wajah Qyen dengan lembut dan sensual, dan hal itu berhasil membuat tubuh Qyen menginginkan lebih.


“I want you …” bisik Albra.


Niatnya Qyen ingin mengistirahatkan diri, kini malah dijebak oleh Albra.


“kak …” lirih Qyen lemah.


Tidak memperdulikan ucapan Qyen, Albra mulai mencium bibir Qyen dengan penuh kelembutan. Qyen yang sudah paham betul cara main Albra, ia pun tak bisa menolak, ia membalas ciuman Albra yang sangat menggelora kali ini. Kedua tangannya ia gantungkan keleher Albra agar mereka bisa memperdalam ciuman mereka.


Ciuman itu berlangsung lama dan mulai saling menuntut. Tangan Albra tidak bisa diam saja, ia pun mulai memainkan dada Qyen dengan sebelah tangannya. “Ah …” suara Qyen yang sampai ditelinganya membuat Albra semakin semangat untuk melakukan hal yang lebih lagi.


Qyen ingin mengakhiri kegiatannya bersama Albra, namun ia sudah bisa merasakan junior Albra mengeras di bawah sana. Ia kasihan dengan laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu, dan malam ini Qyen hanya pasrah ketika tubuhnya dibawa menuju surge kenikmatan oleh Albra.


Malam yang sangat panjang itupun terjadi, keduanya sama-sama saling memberikan rasa kasih sayang dan menunjukan rasa saling mengasihi satu sama lain. Albra melakukannya dengan sangat lembut agar Qyen tidak tersakiti, begitupun dengan Qyen yang menerimanya dengan senang hati, karena Albra selalu menghargainya.