
Mengingat perkataan Albra yang menyuruhnya untuk membawakan kudapan, kini Qyen berjalan menuruni tangga sambil membawa cookies buatannya yang ia bawa dari penthouse. Tak lupa beserta dua gelas teh jasmine kesukaan Albra.
Sebelum memasuki ruangan kerja Frans, berkali-kali Qyen menghirup udara yang ada di sekitarnya agar rasa gugupnya sedikit menghilang. Di tengah kegiatannya itu, Brian datang menghampiri Qyen.
“Ada yang bisa saya bantu?”
“A? Em … Ini Pak Albra minta dibawakan kudapan.” Qyen menyerahkan nampan itu kepada Brian, namun Brian malah membukakan pintu ruangan Frans untuknya.
“Masuk saja.”
Qyen mengangguk dan berjalan pelan untuk memasuki ruangan itu. Ia bisa melihat posisi Frans dan Albra yang mengobrol duduk di sofa dengan posisi membelakangi pintu utama.
Qyen sudah menyiapkan senyum terbaiknya, namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara Albra di telinganya.
“Papa pasti bisa mencari tahu siapa yang membeli cincin itu.”
“Saya tidak memiliki niat untuk membantunya.”
“Pa, Papa pasti bisa mencari tahu siapa orang yang membeli cincin itu. Saya hanya butuh informasi saja.”
“Mencari tahu tentang hal itu bukan masalah besar bagi saya. Apa niat kamu ingin tahu keberadaan keluarga perempuan itu? Cukup dengan harga diri saya yang kamu injak ketika menikah dengan dia, untuk hal seperti ini kamu urusi saja sendiri.”
Rahang Albra mengeras, bisa-bisanya Frans berbicara seperti itu, padahal ia sudah bersusah payah menurunkan gengsinya untuk meminta bantuan kepada Frans. Merasa sedang diperhatikan, Albra pun melihat kearah sekitar, sudah ada Qyen yang berdiri mematung di sisi tiang besar.
“Sayang …” Panggil Albra.
Qyen tersadar, ia tersenyum lebar, Qyen mendekat kearah meja. “Selamat siang, Tuan.” Qyen menyapa, dan menata 2 cangkir teh dan satu piring cookies ke atas meja.
Setelah itu, ia pamit tanpa berbicara satu patah katapun. Begitu juga dengan Frans, yang hanya bisa menatap datar kearah Qyen.
“Pa, sampai kapan Papa akan terus seperti ini?”
Frans melepas kacamatanya, ia mengusap wajahnya dengan pelan. “Saya akan terus seperti ini. Kamu lihat saja kejadian di Jepang kemarin, apakah perempuan itu bertanggung jawab atas hilangnya cucu saya? Semua masalah berawal dari dia?”
“Papa! Qyen tidak tahu menahu tentang kejadian itu. Bahkan dia shok berat. Harusnya wanita yang sudah kamu bayar itu, yang kamu salahkan. Karena dia semua ini terjadi!”
Albra bangun dari duduknya. Ia berjalan pergi keluar dari ruangan kerja Frans. “Dan satu lagi …” Albra kembali menghadap kearah Frans. “Jika Papa memang tidak mau membantu saya. Papa tidak perlu menghina Qyen.”
Albra berjalan cepat untuk bisa keluar dari ruangan terkutuk itu, namun ketika ia hendak membuka pintu, suara Frans terdengar sangat lantang di telinganya. “Papa akan bantu. Tapi dengan satu syarat.”
Tangannya yang hendak membuka pintu menggantung, Albra pun berbalik melihat ayahnya yang kini sudah berdiri tak jauh dari hadapannya. “Tidak perlu, jika memang memiliki syarat.”
“Tidak sulit. Kamu sanggup apa tidak?”
Hati Albra gusar mendengar penawaran yang diberikan oleh Frans. Jika ia menolak, ia tidak bisa memiliki akses untuk mencari tahu di mana keluarga Qyen, dan jika ia menerima ia takut jika Frans memiliki syarat yang tidak bisa ia tepati.
“Apa syaratnya?”
Frans datang menghampiri Albra. Albra bisa melihat wajah Frans kini terlihat melunak, dan mata yang biasanya ia lihat dingin dan tak tersentuh, kini mata itu terlihat layu. Apakah Frans memiliki masalah?
“Tinggallah di sini seperti dulu, dengan anakmu. Kamu punya rumah, mengapa harus pergi jauh?”
Bibir Albra ragu untuk berbicara, tidak biasanya Frans berbicara selemah ini. “Saya sudah punya istri. Papa tidak suka dengan istri saya, dan saya tidak bisa tinggal di sini.”
“Tinggallah di sini juga dengan perempuan itu.”
Bagaikan menerima satu peti harta karun, mata Albra kini berbinar, senyumnya melebar. Ia tidak tahu ada hal apa yang terjadi dengan Frans, yang pasti mendengar kalimat ini keluar dari mulut Frans membuatnya bahagia.
Albra yang sangat-sangat bahagia itu, tak sadar memeluk Frans dengan erat, sambil mengucapkan terimakasih. Sama seperti Alan yang melakukan hal itu kepadanya. “Terimakasih, Pa.” Setelah mengucapkan itu, Albra menundukan kepalanya dan keluar dari ruangan Frans.
Frans membeku di tempatnya, sebuah pelukan yang diberikan oleh Albra terasa seperti sudah mencairkan semua balok-balok es yang mengelilingi dinding hatinya. Frans pun baru tersadar, apakah ini sebuah pelukan yang pertama kali Albra kasih kepadanya?
“Anak itu sudah besar,” gumam Frans sambil melihat kearah pintu yang masih bergoyang karena di tutup sedikit kencang oleh Albra.
“Tuan? Tuan besar? Anda baik-baik saja?” Brian datang sambil melambaikan tangannya di hadapan Frans.
“Brian, anak kecil yang kemarin menangis mencari ibunya sekarang dia sudah besar. Pelukannya sangat hangat,” gumam Frans yang masih dapat Brian dengar.
Brian tersenyum tulus, ia melihat semua kejadian yang terjadi di dalam ruang kerja Frans. Ia pun melihat bagaimana cara Albra yang memeluk Frans dengan senang, seperti seorang anak kecil yang bahagia karena dibelikan ponsel terbaru dari Papanya.
“Mengapa saya tidak menyadarinya sejak dulu? Mengapa saya baru bisa mendapatkan pelukan hangatnya setelah dia dewasa?”
Rasa penyesalan Frans mengerogoti hatinya, apakah semua ini karena keegoisan dirinya?
Brian menuntun Frans untuk duduk kembali di sofa. Akhir-akhir ini kesehatan Frans menurun karena penyakit jantungnya.
“Tuan, yang perlu anda lakukan saat ini adalah lebih dekat dengan Albra dan Ian tentunya.”
Frans mengangguk. Ia rasa, pilhan menyuruh Albra untuk tinggal bersama istrinya di rumah ini bukanlah pilihan yang buruk, sepertinya pilihan ini adalah pilihan tepat.
“Anda membutuhkan saya, apa yang harus saya lakukan saat ini, Tuan?”
Frans kembali tersadar dan memberikan sebuah gambar yang sama seperti diperlihatkan Albra kepadanya. “Cari informasi siapa yang membeli cincin itu. Sampai ketemu. Gunakan kode data saya, jika tidak bisa, bayar orang untuk mencari tahu.”
Frans mengangguk. “Albra yang ingin tahu informasi mengenai cincin tersebut.”
“Cincin nona Qyen? Apakah Qyen memang benar dari orang yang tidak berada? Jika ia memakai cincin ini, maka dia bukan orang sembarangan.”
“Saya juga perlu tahu tentang informasi tersebut.”
…
“Sayang … Sayang …” Albra berlari dengan senyum bahagia mencari Qye, ia harus menyampaikan berita bahagia ini kepada istrinya.
Albra membuka pintu kamar Alan, namun hanya ada Alan dan Parell yang masih bermain catur di sana. “Papa mencari Qyen? Qyen tidak ke sini, Pa.”
Albra mengangguk. “Baiklah, sebentar.”
Ia kembali menutup pintu itu, dan berlari mencari di mana istrinya. Sungguh, Albra merasa tidak sia-sia memberitahu hal ini kepada Frans.
“Sayang?” Ketika memasuki kamar, Albra bisa melihat jika Qyen tengah berada di balkon dan sedang menikmati suasana luar dengan danau buatan yang cantik di matanya.
Qyen bisa merasakan tangan Albra melingkar diperut besarnya. Sedangkan Albra menghirup sedalam-dalamnya wangi rambut Qyen. “Sayang, saya panggil kamu dari tadi. Sedang apa kamu di sini?”
“Hiks … Hiks ….”
Dengan perasaan terkejut, Albra membalikan tubuh Qyen, ternyata Qyen tengah menangis tersedu-sedu. “Kenapa? Ada hal yang mengganggu kamu?”
Qyen mengangguk. Ia sepertinya tidak bisa berbohong jika dirinya terusik dengan ucapan Frans yang ia dengar tadi. Qyen pun menceritakan kepada Albra tentang sesuatu yang seharusnya tak ia dengar.
Sakit hati itu masih belum hilang, namun kali ini terus bertambah karena Frans ternyata masih menghinanya.
“Tidak seperti itu, sayang. Saya sudah berbicara dengan Papa. Maaf jika perkataan Papa membuat kamu sakit hati.”
Albra memegang kedua tangan Qyen, dan mengusap air matanya Qyen yang membekas di pipinya. “Lihat aku.”
Manik mata Qyen yang ketakutan, kini bertemu dengan manik mata Albra yang sangat menyejukan dan damai untuk ia lihat. “Papa akan membantu saya untuk mencari tahu tentang siapa yang membeli cincin ini.” Albra mengusap cincin yang dipakai oleh Qyen dengan jempolnya.
“Dan … Papa menyuruh kita untuk tinggal di sini. Jangan takut, sepertinya Papa sudah mulai menerima kamu.”
Merasa tidak percaya dengan ucapan Albra, Qyen menggelengkan kepalanya. Ia masih ingat jelas ketika Frans masih belum menganggapnya ada. Ia takut jika tinggal di sini, akan membuatnya semakin sakit hati dan dijadikan budak oleh Frans.
“Kamu tidak percaya dengan saya?’
“Bukan, bukan aku tidak percaya. Aku hanya takut Tuan kembali berbuat hal yang tak terduga.”
“Hal itu tidak akan terjadi. Saya akan selalu berada di sisi kamu. Mulai hari ini kita akan tinggal di sini. Kamu siap sayang? Selalu tunjukan senyum termanis kamu dihadapan Papa, dan hal itu pastinya akan membuat Papa merasa nyaman didekat kamu.”
“Kamu bisa?”
“Boleh aku kembali mencobanya?” Qyen masih sangat-sangat ragu untuk bisa memenangkan hati Frans.
Albra mengangguk dengan mantap meyakinkan Qyen jika semuanya akan baik-baik saja. “Tentu, istriku perempuan hebat. Kamu pasti bisa.”
Albra membawa Qyen ke dalam pelukannya. “Kender dan Meta akan membawa barang-barang kebutuhan kamu yang ada di penthouse.”
“Jangan lupa dengan sandal buluku, dan selimutku,” ucap Qyen disela tangisnya.
Albra terkekeh pelan, ia tidak bisa mengelak jika menikah dengan wanita berusia 20 tahun. “Iya, sayang.”
Di sisi lain, Alan yang ingin mengajak Qyen untuk bermain catur, kini terdiam di depan pintu balkon menatap Albra dan Qyen yang tengah berpelukan sangat mesra.
“Tuan, sepertinya kita harus pergi dari sini,” bisik Parell kepada Alan.
Papan catur kecil itu sudah tergenggam ditangannya, karena Alan ingin menunjukan kehebatan dalam bermain catur setelah diajarkan berjam-jam oleh Parell. Namun ketika ia bermain Albra dan Qyen malah sibuk sendiri.
“Biarlah kita lihat saja pemandangan ini,” ucap Alan dengan suara lantang dan berhasil mengejutkan kedua insan yang tengah berpelukan mesra itu.
“Alan, ganggu aja,” bisik Albra yang melepaskan peluan Qyen.
Qyen terkekeh, ia mengusap air mata yang membanjiri wajahnya. Dan kini melihat kearah Alan yang sedang menatapnya dengan bibir mengerucut.
“Kenapa, sayang?”
“Aku mau adu catur dengan Papa. Kalau Papa kalah belikan aku motor seperti Diego.”
Albra melipat tangannya di dada. Memberikan Alan bodyguard sekaligus pengasuh seperti Parell, sepertinya Alan sudah bisa membawa mobil sendiri dan pergi ke sekolah.
Lihat saja, beberapa hari bermain bersama Parell, Alan sudah jago berolahraga, hidupnya semakin disiplin, dan kini anak itu juga jago bermain catur. Sepertinya Albra harus hati-hati mengasah kepintaran anaknya.
“Baiklah, jika kamu kalah, kamu harus memijit pundak Papa selama satu minggu.”
“Hahaha … Sangat gampang.”
Alan dan Albra mulai duduk di kursi yang tersedia di balkon, Parell dan Qyen yang menjadi tim sorak, duduk diantara mereka. Permainan pun di mulai, dan masing-masing dari mereka tidak mau mendapat predikat kekalahan.