
Keesokan harinya, hari ini adalah hari minggu. Pagi-paginsekali Qyen sudah membuka matanya dan tujuannya hari ini adalah berolahraga, berjalan santai di pinggir pantai yang terdapat di depan penthousenya. Ia hanya perlu berjalan selama 5 menit untuk bisa sampai ke pinggir pantai dan berolahraga sambil menikmati semilir angin pantai.
Qyen pun sudah memiliki janji dengan Albra dan Alan untuk berolahraga bersama. Namun Alan akan berangkat dari rumah utama Frans dan menyusulnya ke pantai.
“Kak, ayo dong. Mataharinya keburu naik, nanti kita gak bisa liat sunrise.” Sudah berkali-kali Qyen membangunkan Albra namun suaminya itu memilki alasan untuk bisa menambah waktunya.
“Yasudah, kalau kamu gak mau ikut, aku aja sendiri. Sekalian mau cari bule!”
Saat itu juga dengan ajaibnya Albra bangun dan berlari ke toilet, sambil berlari ia pun berbicara. “Bule-bule, gak cukup sama muka saya.” Pintu toilet tertutup dan Qyen pun senyum penuh dengan kemenangan.
Setelah menunggu Albra selama 5 menit, akhirnya saat ini mereka sudah menaiki lift untuk turun ke lantai dasar. Mereka juga sudah siap dengan pakaian olahraga maisng-masing. Qyen memakai legging yang ramah terhadap ibu hamil, dan kaus kebesaran berwarna ungu muda, tak lupa topi putih yang menghiasi wajah cantiknya. Dan Albra memakai kaus santai berwarna hitam, dan celana olahraga sebatas lutut. Sepatu yang mereka gunakan kali ini adalah barang couple yang mereka punya. Walaupun ada unsur warna pink di sana, tapi Albra dengan senang hati memakainya.
“Wah, untungnya hari ini gak terlalu ramai,” gumam Qyen yang melihat pemandangan pantai dari arah kaca lift.
“Sayang, kenapa kamu pakai celana seperti itu?”
Qyen berkaca dan memperhatikan tubuhnya. Ini adalah pakaian yang pas untuknya, selain nyaman, ia pun merasa aman terhadap perutnya. “Kenapa, Kak? Aku kaya gembel ya?”
Bukan seperti itu maksud Albra, hanya saja Qyen semakin terlihat seperti anak SMP kali ini, dan jika ia bersanding dengan Albra mungkin mereka akan mengira jika Qyen dan Albra adalah ayah dan anak. “Saya seperti ayah kamu jatuhnya,” rajuk Albra.
Qyen terkekeh geli. “Aku kira kenapa. Enggak kok, kamu ganteng banget hari ini.” Bisik Qyen di telinga Albra.
Setelah keluar dari gedung, mereka pun mulai berjalan menuju pantai, hanya dengan menyebrangi jalan besar, akhirnya mereka pun sampai.
Albra dan Qyen mulai pemanasan ringan, Albra yang akan memimpin olahraga kali ini. Albra mulai berlari, dan Qyen hanya berjalan santai menikmati sejuknya pagi hari dan matahari yang baru saja terbit.
Qyen membiarkan Albra berolahraga di depannya, ia pun bisa memperhatikan banyak sekali gadis-gadis secara terang-terangan memperhatikan dan mengagumi suaminya.
“Tebar pesona aja terus. Gak sadar istrinya kesusahan buat lari.” Kesal Qyen.
Rasa kesalnya hilang ketika sebuah mobil yang ia kenal terparkir dihadapannya, ada Alan yang keluar dari sana sudah memakai pakaian olahraganya, tak lama bodyguard Alan pun keluar dari dalam mobilnya.
“Tuan kecil, sebentar.”
Qyen terkekeh melihat gaya canggung bodyguard Alan, sepertinya ia masih kesulitan menjaga anak kecil, apalagi anak kecil itu adalah Alan.
“Qyen …” panggil Alan sambil berlari kearah Qyen dan memeluk Qyen sangat erat.
“Aku kangen …” Qyen membalas pelukan Alan dan mencium kening anak itu.
“Aku juga kangen kamu, sayang. Bagaimana perjalanannya jauh, kamu tidak tidur di mobil? Padahal kamu tidak perlu menyusul.”
“Nyonya,” sapa bodyguard Alan yang ia ketahui bernama Parell.
“Panggil saja Qyen, tidak perlu nyonya.”
“Tentu saja saya tidak bisa memanggil anda seperti itu.”
Qyen mengangguk, ia tersenyum lebar, sebenarnya ia sedang menahan tawanya melihat kelucuan Parell. Dengan postur tubuh yang sangat-sangat gagah, dada bidang tercetak jelas di kaus ketatnya, tubuh tinggi, kulit putih dan wajah tampan, tapi sayangnya Parell membawa tas boneka Alan yang ia sampirkan di bahu kanannya.
“Sudah datang?” Melihat anaknya, Albra kembali berlari dan menghampiri Alan.
“Tuan,” sapa Parell.
“Papa …” Alan bergantian memeluk Albra. Ia masih memiliki rasa bersalah dihatinya karena kejadian di Jepang saat itu.
Ian dan Albra yang memberikan Alan bodyguard karena takut jika hal yang terjadi di Jepang terulang lagi.
Selesai menyapa, mereka melanjutkan kegiatan olahraga pagi yang tertunda. Tak sedikit pasang mata yang memperhatikan mereka. Mungkin saat ini yang menjadi perhatian adalah Parell yang berjaga di belakang mereka, sambil membawa tas boneka berwarna biru. Tas itu selalu siap siaga berada di bahu Parell karena kebutuhan utama Alan, seperti minum, dan lainnya.
Sampai matahari sudah meninggi, Qyen sudah tidak sanggup untuk berjalan, Albra dan Alan sudah dibanjiri oleh keringat, akhirnya mereka menepi untuk menikmati air kelapa muda dipagi hari.
“Duduk sini, Om,” panggil Alan kepada Parrel dan mendapat anggukan dari Albra. Parrel pun duduk di sebelah Alan.
Sedikit-sedikit, Alan membiasakan dirinya menyebut nama orang lain menggunakan kata panggilan yang pantas, seperti memanggil orang yang lebih dewasa dengan sebutan Kak, Om, Pak, Bu, dan Qyen yang mengajarkan itu semua. Melihat perubahan itu, Qyen pun merasa sangat bangga.
“Kamu kok tidak terlihat lelah, sayang?” tanya Qyen kepada Alan. Baju Alan sudah basah dengan keringat, namun wajahnya tidak menunjukan jika ia lelah.
Ia sedang meminum air kelapanya, tangannya menggantung untuk mengisyaratkan jika ia minum terlebih dahulu. Qyen mengangguk mempersilahkan Alan untuk minum terlebih dahulu. “Aku tidak merasa lelah. Aku suka ikut Om Parell berolahraga di rumah,” ucapnya dengan gaya seperti sedang mengangkat barbell.
“Oh ya?” tanya Albra yang merasa ini adalah perubahan baik untuk anaknya. Bahkan ia pun mengakui jika badan Parell lebih berotot darinya, mungkin karena memang Parell yang memiliki pelatihan khusus tentang hal itu.
“He’em, Pa. Sudah em …” Alan mengitung hari dengan jarinya. “Sudah lima hari aku ikut berolahraga.” Sambil menunjukan ke lima jarinya.
Qyen dan Albra terkekeh, mengiyakan jika Alan kini memang suka berolahraga.
“Pa, bolehkah aku bermain pasir dengan Qyen?”
“Kita bicara sebentar, Parell. Kita sepertinya belum sempat mengobrol setelah kamu menjadi bodyguard anak saya.”
Parell mengangguk, lalu duduk dihadapan Albra. “Kamu sudah berteman lama dengan Ian?”
“Iya, Tuan. Saya satu sekolah SMP dengan Ian dulu. Lalu kembali bertemu satu tahun lalu.”
“Kamu sudah memiliki istri?”
Parell menggeleng. “Belum, Tuan.”
“Umur kamu sama dengan Ian. Saya lupa.”
Albra melakukan sedikit wawancara kepada Parell, setidaknya ia mempercayai bodyguard yang sudah direkomendasikan oleh Ian untuk Alan.
“Bagaimana dengan Alan, apa kamu merasa tidak dihormati?”
“Tidak, Tuan. Tuan kecil sangat baik, bisa diatur, dan tidak membuat repot.”
Sebagai seorang ayah, Albra memang setuju dengan hal itu. Alan anak baik, teratur dan mandiri, namun semenjak umurnya bertambah Alan semakin banyak sekali memiliki tingkah aneh, mungkin ia berpikir banyak sekali hal yang harus ia eksplorasi di dalam umurnya yang semakin bertambah.
“Terimakasih sudah mau menjadi penjaga Alan, jika kamu butuh sesuatu kabari saja saya.”
“Suatu kehormatan untuk saya bisa diberi kepercayaan.”
Albra bisa melihat Parell adalah tipe-tipe manusia seperti Kender, sama-sama datar dan dingin, juga tidak banyak bicara. Namun begitu Albra tidak selalu mempersalahkan hal itu, lihat saja nanti Parell pasti banyak berbicara jika sudah mengenal Alan lebih lama.
…
Siang kembali menyambut mereka, saat ini keluarga kecil Albra sudah berada di rumah utama keluarga Max. Qyen dan Albra pergi ke sini, karena keinginan Alan, dan Albra yang memiliki sedikit urusan kepada ayahnya.
Alan sedang bermain catur di dalam kamarnya bersama Parell yang tentunya mengajar bagaimana cara bermain catur. Anak itu tak hentinya berbicara dan bertanya, yang membuat siapa saja yang mendengarnya pasti akan pusing. Tapi lihat saja, dengan keren dan pengetahuan yang luas, Parell bisa menjawab semua pertanyaan Alan dengan mudah.
Qyen mengawasi kegiatan mereka dari jauh, sebelum akhirnya ia kembali ke dalam kamar Albra. Ia rasa tidak etis untuk diam bertiga di dalam kamar Alan tanpa suaminya.
“Sayang, kamu mau kemana?” tanya Qyen kepada Albra yang sudah membuka knop pintunya.
“Hai, saya mau keruang kerja Papa sebentar. Kamu mau ikut?”
Qyen menggelengkan kepalanya. “Aku tunggu di sini saja. Kamu butuh sesuatu untuk menemani kerja kalian?”
Tentu saja Albra tidak menolak. “Boleh, sayang. Bawakan saja.”
Setelah mendapat anggukan dari Qyen, Albra menuruni tangga untuk bisa sampai di ruangan kerja Frans. Ia memasuki ruangan itu dan melihat Frans yang tengah menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
“Bagaimana kabar Papa?” sapa Albra dan berdiri di hadapan Frans. Walaupun dirinya dan Frans selalu memiliki pemikiran yang berbeda, tapi Albra tidak bisa menutup mata jika ia terlahir dari darah Frans.
“Baik. Ada apa kamu menemuiku. Masih membutuhkanku?” Suaranya terdengar ketus namun tak mematahkan Albra untuk meminta pertolongan kepada Frans. Hal ini mengenai cincin yang di pakai Qyen.
“Saya butuh pertolongan Papa,” ucap Albra dan kini memilih untuk duduk di sofa.
Frans sedikit kesal melihat Albra yang selalu seenaknya berbuat sesuatu, dan hal itu persis seperti dirinya. Mau tak mau ia pun menghampiri Albra dan duduk di hadapannya.
“Ada apa? Sepertinya sangat penting sampai kamu menemuiku terlebih dahulu.”
Albra membuka layar tabletnya, dan memberikan gambar tangan Qyen yang terdapat cincin berlian di sana. Dahi Frans mengerut melihat gambar tangan yang tentunya ia kenal tangan siapa itu.
“Ada apa dengan tangannya?”
“Cincin.”
“Itukan cincin pernikahan kalian?” tanya Frans yang hanya fokus melihat jari manis Qyen.
Albra memperbesar gambar itu sampai memperlihatkan cincin berlian yang dipakai Qyen. “Saya butuh informasi tentang siapa yang membeli cincin ini.”
“Bukan kamu yang membelikan untuknya?” Frans mengambil tablet Albra dan mencoba mengamati cincin cantik dan sangat mahal itu.
“Seperti yang Papa tahu jika Qyen tidak memiliki keluarga. Kemarin kita sempat pergi ke panti asuhan tempatnya ia dulu tinggal, dan ibu penjaga Qyen memberikan cincin itu kepada Qyen.”
“Katanya cincin itu di kirim tiga tahun lalu tanpa nama. Namun di dalam paket itu tertulis nama Qyen.”
“Cincin itu bukan cincin sembarangan, Albra.”
Albra mengangguk, jika Frans yang berbicara seperti itu pastinya barang itu adalah barang langka. “Papa pasti bisa mencari tahu siapa yang membeli cincin itu.”
Frans tersenyum jahat, di dalam hatinya tidak ada niatan sama sekali untuk membantu Qyen mencarikan di mana keluarganya. “Saya tidak memiliki niat untuk membantunya.”