ALBRA

ALBRA
64. Ingatan kecil Albra



Berhari-hari menikmati keindahan kota Osaka, berjalan-jalan mengelilingi kota, mengunjungi berbagai tempat wisata, mencoba berbagai makanan khas, berbelanja, bermain ski, dan masih banyak lagi kegiatan yang sudah Qyen, Albra, Alan, dan Ian lakukan di sini dalam 4 hari kemarin.


Qyen sudah terbiasa menyesuaikan tubuhnya dengan suhu kota ini. Perutnya tidak lagi bereaksi berlebihan seperti kemarin, bahkan ia menikmati liburan kali ini karena membuat stressnya menghilang.


Waktu menunjukan pukul 5 sore, namun langit sudah terlihat sangat-sangat gelap, sudah seperti malam hari. Saat ini kegiatan yang akan mereka lakukan adalah praktik membuat sushi. Kegiatan inilah yang sudah lama dinanti oleh Alan, tentunya Qyen juga.


Albra sengaja mendatangkan dua orang ahli dalam membuat sushi yang bisa berbahasa Indonesia di sini. Karena Qyen masih belum banyak mengerti tentang bahasa asing.


Qyen, dan Alan sudah duduk di sebuah kursi dengan meja besar dihadapan mereka. Ian berkata jika ia ingin ikut dalam praktik itu, dan mereka harus menunggu Ian yang sedang pergi keluar, sedangkan Albra hanya bisa memperhatikan saja dan mendokumentasi kegiatan yang sedang istri dan anaknya itu lakukan.


“Ian lama sekali, kesal aku menunggunya.” Alan sudah bermenit-menit duduk di kursinya untuk menunggu Ian yang katanya sedang pergi ke mini market untuk membeli sesuatu.


Berbarengan dengan itu tak lama Ian pun datang dengan senyum tak berdosa, lalu duduk di sebelah Alan.


“Maaf, silahkan dimulai.”


Kedua chef yang ahli itu pun memperkenalkan diri. “Sebelumnya perkenalkan nama saya Dami, dan ini teman saya yang bernama Koma. Kita akan mengajarkan Tuan-tuan dan Nyonya untuk membuat sushi.”


“Dami, apakah kalian tinggal di sini?” tanya Alan sudah seperti orang dewasa.


Dami mengangguk tersenyum menampilkan lesung pipi-nya. Gadis muda itu membalas pertanyaan Alan. “Iya, benar. Saya tinggal di sini, namun asal saya dari Indonesia.”


“Koma juga sama?”


Koma menggeleng. “Saya berasal dari Jepang, dan bisa sedikit berbahasa Indonesia.”


Melihat Alan yang sangat cakap berbicara dengan orang lain, Ian pun menyenggol bahu Alan dan berbisik di telinga kanan anak itu. “Kamu mau deketin dia? Koma lebih cantik.”


Mendengar bisikan itu, Alan memukul kaki atas Ian. “Diam. Jangan berbicara.” Ingatnya dan hal itu membuat orang yang ada di sana terkikik geli.


Dami dan Koma memperkenalkan alat dan bahan untuk membuat sushi. Alat yang harus mereka persiapkan adalah Makisu atau bisa dikenal juga dengan alat yang terbuat dari bambu untuk menggulung sushi roll, selain itu juga ada sendok nasi, dan pisau khusus untuk memotong sushi ataupun ikan nanti.


Juga, ada beberapa bahan untuk membuat sushi, diantaranya ada nasi khusus, gula, cuka khusus, garam, nori atau rumput laut, dan sudah tersedia juga berbagai macam toping lainnya ada ikan salmon yang sudah diiris, udang mentah, telur, belut dan masih banyak lagi.


“Kak, aku boleh tanya?” Qyen mengangkat tangannya untuk bertanya tentang sesuatu yang membingugkan dirinya.


“Iya, silahkan.”


“Perbedaan membuat sushi dan kimbab itu apa ya?”


“Menurut saya perbedaan yang paling mencolok itu ada dari bumbu yang dipakai di dalam nasinya, antara sushi dan kimbab berbeda. Juga isian topingnya pun berbeda.”


Qyen mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. Sedangkan Ian hanya diam saja menunggu praktik itu di mulai.


Semuanya sudah mengolah nasi dengan bumbu mereka masing-masing. Qyen yang telaten, Alan yang terus bertanya, dan Ian yang tidak berpikir panjang, namun dengan sabar Dami dan Koma mengajarkan mereka.


“Kamu sekolah di sini?” Ian membuka suaranya bertanya kepada Dami.


Dami mengangguk tersenyum. “Iya, Tuan. Saya tinggal di sini sejak SMA, dan bersekolah chef di sini.”


“Hebat ya, kamu tinggal di daerah mana di Jepang?”


“Di Osaka, Tuan.”


“Boleh dong saya berkunjung?” Mendengar hal itu Dami hanya tersenyum kecil.


“Inget yang di Amerika.” Suara Albra terdengar diantara mereka, dan Ian pun tersenyum cengengesan.


Praktik membuat sushi terus berlanjut sampai semua bahan habis dan sushi buatan mereka pun jadi ke dalam 7 piring banyaknya.


“Aku ingin memberikan ini untuk bu guru,” ucap Alan memberikan dua potong sushi untuk Dami dan Koma, mereka pun menerima dengan senang.


“Oishi?” tanya Alan.


Mereka mengangguk. “Sangat-sangat enak.” Empat jempol pun teracung untuk Alan.


“Modal bisa ngomong oishi udah mau mulai rayu cewek,” gumam Ian yang masih bisa didengar Alan.


“Sirik aja kamu.”



Selesai dengan kegiatan membuat sushi yang cukup melelahkan, kali ini Qyen dan Albra tengah berjalan-jalan di sekitar vila.


Albra sedari tadi menggenggam tangan Qyen seolah-olah tidak ingin melepaskan istrinya barang sejenak saja. “Kamu happy di sini?” tanya Albra sesekali membawa Qyen kedalam pelukannya karena cuaca malam yang sangat-sangat dingin.


Qyen mengangguk, walaupun hidungnya memerah karena dingin, tapi ia tetap senang diajak berjalan-jalan oleh Albra. “Kamu udah pake baju berlapis-lapis, udah pake padding, earmuff, kamu masih kedinginan?” tanya Albra merasa gemas dengan wajah Qyen yang kini memerah.


“Ish, dingin tau. Badan kamukan udah biasa di suhu kaya gini, Kak. Sedangkan aku baru pertama kali.”


Albra terkekeh mendengarnya, ia mengajak Qyen untuk duduk di sebuah kursi yang menghadap kearah danau yang sangat tenang dengan pemandangan indah lampu kota.


“Kak lihat deh, bintangnya indah banget,” ucap Qyen yang melihat banyaknya bintang bertaburan diatas langit.


Tentu saja Qyen suka, bahkan favorit spotnya di penthouse adalah ruang kolam renang yang memiliki jendela besar menghadap langsung ke langit. “Tentu dong aku suka, Kak.”


“Kalau kamu suka, nanti ketika musim panas, saya ajak kamu ke New Zealand.”


Qyen tersenyum, ia memeluk Albra dan menenggelamkan wajahnya kearah dada suaminya. Meraka terdiam sambil menikmati pemandangan yang ada.


“Kak, kamu dulu pernah jalan-jalan dengan mantan pacar kamu?” Tiba-tiba saja Qyen kepikiran untuk bertanya tentang hal itu.


“Em ... Sudah belum ya?” pikir Albra dengan wajah menyebalkannya.


Qyen yang melihat wajah itupun merasa kesal. Ia melepaskan pelukannya, dan sedikit menjauh dari Albra. Qyen tentu saja tahu jawabannya, Albra pasti pernah jalan-jalan keluar negri dengan pacarnya dulu, apalagi Albra adalah anak konglomerat.


“Loh, sayang kok marah? Kamu sendiri loh yang tanya saya.”


“Jawaban kamu itu nyebelin,” kesal Qyen.


Albra terkekeh, ia pun kembali merangkul Qyen dengan tangan kanannya. “Saya tidak pernah mengajak mantan pacar saya dulu jalan-jalan. Bagaimana saya bisa jalan-jalan, jika Papa saya tidak membolehkan saya dekat dengan perempuan?”


Mendengar itu, Qyen menjauh untuk menanyakan sesuatu yang sepontan datang dikepalanya. “Ta—tapi dulu kamu normalkan? Kamu gak makan sesamakan?” tanya Qyen dengan mata memicing.


Albra dengan wajah menggodanya menatap kearah Qyen. “Kurang cukup pembuktian saya yang sudah menjadikan kamu seperti itu?” tunjuknya kepada perut Qyen.


Qyen terkekeh pelan. “Mau saya buktikan malam ini lagi? Lagipun udah lama tidak menjenguk dedek di—“


Albra belum selesai berbicara, tapi Qyen sudah terlebih dahulu menutup mulut Albra dengan tangannya. “Syuttt … Kamu gak kasian sama aku? Perut aku udah besar giniloh, Kak. Otak kamu masih aja ….”


Albra terlihat kesal, sebenarnya ada sedikit penyesalan dihatinya setelah menghamili Qyen karena ia tidak bisa berpacaran dengan Qyen yang terhalang oleh perut besarnya.


“Sayakan normal, sayang. Boleh dong saya minta?”


Qyen menggelengkan kepalanya, wajahnya sudah semakin memerah saat ini. “Tidak, aku tidak mau.”


Cup


Qyen terdiam di saat bibir Albra sudah menempel di bibirnya. “Kamu bikin saya tegang,” bisik Albra di telinga Qyen.


“Aish, Kak …”


Rengekan yang belum sempat terjadi, kini mulutnya sudah kembali di bungkam oleh bibir Albra. Kecupan itu berubah menjadi ******* lembut yang Albra berikan di bibir bawah Qyen. Merasakan jika Qyen juga membalas ciumannya, Albra mulai memperdalam ciuman mereka. Lidahnya bermain di sana, memberikan rasa kenikmatan mereka walaupun hanya dari mulut saja.


Tangan Qyen mulai memeluk pinggang Albra, dan Albra yang memegang tengkuk Qyen agar semakin memperdalam ciuman mereka. Kegiatan itu terhenti ketika Albra merasakan jika Qyen kehabisan napas.


“Napas, sayang,” bisik Albra di telinga Qyen.


Merasakan bisikan Albra yang sensual, membuat semua rambut yang ada di tubuh Qyen meremang.


Albra tahu jika Qyen saat ini malu dengannya, ia pun membawa Qyen ke dalam pelukannya. “Masih aja malu ….”


“Ini tempat umum tau, Kak. Gimana kalau ada orang liat?”


“Mereka gak akan peduli, sayang.”


Setelah menghabiskan waktu yang lama, saat ini mereka kembali berjalan menuju vila, di tengah perjalanan Albra melihat ada seorang anak remaja laki-laki yang tengah bercengkrama dengan ibunya, dan anak itu terlihat sangat-sangat bahagia.


Albra berdecih ketika melihat dirinya. Ia kembali mengingat tentang kejadian bertahun-tahun lamanya, bagaimana cara Frans memberitahu tentang ibu kandungnya. Ia terlahir sama seperti Alan, terlahir tanpa seorang ibu dan hanya diurusi oleh ayahnya.


“Kak? Kamu kenapa?” Qyen bertanya ketika langkah Albra terhenti dan pandanganya melihat kearah dua orang yang kini juga menjadi pusat perhatiannya.


Albra tersadar lalu menggelengkan kepalanya. “Kamu ingin tahu suatu cerita yang sangat menyedihkan?” tanya Albra dan kembali melanjutkan perjalanan pulang mereka.


“Tentu, Kak. Aku mau dengar semua cerita kamu.”


“Saya terlahir sama seperti Alan. Saya tidak tahu siapa ibu saya dulu, sayang.”


Qyen menatap wajah suaminya yang sedang tersenyum getir. Ia bisa melihat tatapan mata itu penuh dengan kebencian. Qyen mengusap punggung suaminya dengan tangan kecil yang ia punya.


“Kamu sanggup buat cerita?”


Albra mengangguk. “Tentu saja, saya yang memutuskan untuk membagi ini dengan kamu.”


Hening cukup lama diantara mereka sebelum akhirnya Albra membuka suara. “Papa saya tidak memberitahu siapa ibu saya sampai saya berumur lima belas tahun.”


“Papa selalu menghindari pertanyaan ketika saya bertanya ‘dimana mama?’ ‘aku mau ketemu mama’ Papa selalu pergi setelah saya bertanya seperti itu.”


“Lalu, suatu ketika, ada seorang wanita yang lebih muda dari Papa saya, datang di waktu kelulusan sekolah menengah pertama. Dia datang bawa bunga mawar putih. Tanpa berbicara apapun, dia memberikan itu kepada saya lalu pergi.”


Qyen setia mendengarkan cerita Albra yang terdengar sangat pilu di telinganya. Apalagi tersirat di dalam mata tentang kepedihan itu.


“Lalu setelah pulang dan membawa bunga itu pulang ke rumah, saya dimarahi habis-habisan oleh Papa. Papa bilang bahwa wanita yang memberi saya bunga itu adalah ibu saya.”