ALBRA

ALBRA
59. Dan terjadi lagi ....



Setelah acara makan malam yang sedikit memiliki drama di dalamnya. Kini Qyen, Albra dan Alan tengah bersantai di balkon kamar Alan yang memiliki fasilitas yang cukup mewah hanya untuk bersantai. Balkon itu memiliki fasilitas langsung untuk melihat bintang, memiliki kursi santai, sofa, meja, bahkan berbagai jenis camilan di dalam lemari es. Semua fasilitas itu tentunya disediakan oleh Frans.


Alan tengah sibuk membaca buku ceritanya ditemani oleh Qyen, dan Albra yang tengah bersantai sambil menikmati udara hutan yang masuk melalui jendela yang terbuka. Mungkin ini waktu tersantai Albra setelah beberapa hari belakangan ini selalu di sibukan dengan pekerjannya.


“Qyen, kenapa kalau orang berbohong itu tidak bisa dipercaya oleh orang lagi?” Alan membuka suaranya karena kebingungan tentang alur cerita yang sedang ia baca.


“Emm singkatnya seperti ini. Papa itu orang yang percaya dengan Alan, dan Alan yang mencoba buat berbohong kepada Papa. Lalu, ketika Papa tahu kalau Alan itu berbohong, pasti Papa gak akan percaya lagi. Seperti itu sederhananya.”


“Tuh denger, Papa. Aku udah gak mau percaya sama Papa lagi karena bohong,” ucapnya yang kini malah menyudutkan Papanya.


Albra yang merasa jika dirinya menjadi bahan pembicaraan anak dan istrinya, Albra pun menghampiri Alan, dan duduk disebelah anaknya. “Papa berbohong apa dengan  kamu?” tanya Albra dengan wajah pura-pura tidak tahu.


“Hm … Lupakan saja, aku juga bingung,” jawabnya dan kembali fokus melihat buku 3D-nya.


Qyen tahu, jika Alan masih bingung tentang hal yang terjadi kemarin, ia pun membisikan sesuatu kepada Albra. “Alan butuh penjelasan yang kemarin, lagipun tadi kamu janji buat memberikan sesuatu kepada Alan.”


Albra terdiam sebentar ia tidak tahu harus mulai dari mana untuk menjelaskan kejadian kemarin. “Alan, kamu tahu seorang tante yang menghampiri kamu kemarin?” Albra membuka suaranya.


“Kok tante?” bisik Qyen disebelah Albra.


“Saya gak tau harus manggil apa,” balasnya sambil berbisik juga.


“Panggil ibu saja,” balas Qyen kembali.


“Aduh … kalian kenapa bisik-bisik sih. Aku juga dengar kali.” Qyen dan Albra pun terdiam dan saling tatap. “Kamu sih …” ucap Qyen yang memilih untuk tidak ikut campur.


“Aku gak tau siapa dia,” kini suara Alan kembali meleraikan mereka.


Albra kembali fokus berbicara, dan Qyen hanya diam menyimak. “Maaf Papa baru memberitahu kamu hal ini. Kamu sudah besar dan mengerti, seharusnya Papa sudah memberitahu kamu sejak lama. Tante itu, memang benar ibu kandung kamu, Alan.”


Albra dan Qyen harap-harap cemas menunggu reaksi Alan. Apakah Alan akan menangis dan ingin bertemu dengan ibunya? Atau Alan akan marah kembali kepada Alan dan Qyen? Atau Alan akan mengamuk karena hal ini?


“Siapa? Tante yang datangin aku waktu di sekolah dan kemarin berantem dengan Papa?”


Melihat perubahan ekspresi wajah Alan yang murung, Qyen pun memegang lengan Albra dengan lembut. Pastinya hal itu sulit untuk diterima oleh Alan, apalagi pikirannya belum terbuka lebar.


“Iya, tante yang mengaku kepada kamu sebagai ibu kamu.”


Berbeda dengan reaksi yang mereka sudah pikirkan, Alan hanya menganggukan kepalanya. “Iya, aku tidak tertarik,” jawabnya dan hal itu membuat Albra dan Qyen saling tatap satu sama lain.


“Alan tidak rindu dengan ibu Alan?”


“Aku sudah punya Mama, dan itu kamu. Kalau tante kemarin, aku belum pernah melihatnya,” jawab Alan yang kini sudah bersandar di sofa.


Albra menghela napasnya. Ia tidak paham dengan anak kecil seperti Alan yang terlalu santai, bahkan jika ia seorang anak kecil seperti dia dan tahu akan kenyataan itu, mungkin ia sudah menangis. Sama seperti hal yang ia lakukan dulu ketika tahu siapa ibunya.


“Alan …” Qyen merasa terharu dan memeluk anak kecil itu. Namun dihatinya memiliki rasa sedih juga, karena bagaimana pun Qyen tidak ingin membuat Alan untuk melupakan ibu yang sudah melahirkannya. Ia ingin menghargai akan hal itu, apalagi posisi Qyen yang juga sedang mencari ibunya.


“Lalu, jika kamu tidak tertarik dengan ibu kamu kemarin, kenapa hari ini kamu menangis sejak pagi?” tanya Albra yang penasaran. Jika reaksi Alan akan seperti ini, ia tidak akan menjelaskan semua hal yang sedang terjadi.


“Aku takut diam sendiri di sini, dan aku tidak ingin bertemu dengan Papa karena Papa jahat sudah meninggalkan aku kemarin. Juga aku takut Qyen kembali pergi, makanya aku nangis.” Alan melipat tangannya dengan wajah yang kesal.


Albra terkekeh pelan. “Papa minta maaf. Kamu mau maafkan Papa atau tidak?”


“Hm, mana hadiah yang Papa janjikan?”


Mendengar tagihan dari anaknya, Albra membuka ponselnya dan memberikan kepada Alan. “Hah? Kita liburan ke Jepang?” tanyanya dengan mata membulat.


Albra mengangguk sambil mengangkat jempolnya. “Yeayyyy! Terimakasih Papa …” Alan menghambur kepelukan Albra dengan sangat senang. Jepang adalah negara yang ingin sekali Alan kunjungi, bahkan Albra tidak tahu apa alasan Alan ingin mengunjungi negara itu.


Qyen yang melihat itupun ia merasa senang. “Kita kapan berangkat Pa?”


“Emm lima hari lagi, karena Qyen harus mengurus dokumennya.”


Alan mengangguk dan dengan senang ia pun melepaskan pelukannya, mencium pipi Albra dan Qyen bergantian. “Terimakasih, Papa, terimakasih Qyen, aku tidur duluan ya. Selamat malam.” Setelah membungkukan badannya hormat, Alan pun berlari menuju kamarnya. Qyen bisa melihat jika Alan sendiri mematikan lampu kamarnya dan menyalakan ASMR untuk menghantar tidurnya.


“Alan pintar, baik, tapi terlalu dingin dan cuek kaya kamu,” ucap Qyen yang dapat dibenarkan oleh Albra.


Qyen tertawa di sana. “Ish, geer banget kamu jadi orang.”


“Kalau saya gak tampan, orang-orang tidak akan tertarik dengan saya.”


Qyen mengangguk membenarkan itu. Tentu saja Albra sangat tampan, bahkan ia pun merasa masih belum percaya jika ia memiliki suami yang sangat tampan.


“Kita ke kamar sekarang, sudah malam.” Albra berdiri dan mengulurkan tangannya untuk membantu Qyen bangun dari duduknya. Ia bisa melihat jika setiap harinya Qyen semakin kesusahan untuk berdiri dan melakukan sesuatu karena perutnya yang semakin membesar.


Mereka berjalan melalui pintu yang langsung terhubung dengan kamar Albra. Qyen yang baru pertama kali masuk ke dalam kamar Albra di rumah aslinya pun terkagum-kagum. Karena kamar ini lebih mewah dan lebih besar 2 kali lipat dari kamar mereka yang ada di penthousenya.


“Ya ampun, Kak. Kamar kamu sebesar ini enggak ada yang isi?” tanya Qyen yang masih takjub dengan kamar Albra.


Kamar yang didominasi oleh warna hitam, abu, putih dan emas menjadi ruangan yang terlihat sangat-sangat mewah.


Albra memeluk Qyen dari belakang, dan menciumi leher Qyen dengan lembut. “Saya bosen tinggal di sini, tapi kalau ada kamu sepertinya tidak.”


“Dasar kamu!”


Albra tertawa pelan, ia pun membawa istrinya menuju walk in closed yang tak kalah mewah dari kamar Albra. Koleksi jam, ikat pinggang, dasi, jas, kameja dan sepatu mahal terpampang jelas di wajah Qyen saat ini. Bagaimana bisa ketiga tempat yang Albra tinggali juga memiliki ruangan mewah seperti ini, bahkan isinya pun barang yang sama.


“Aku mau nangis deh rasanya liat tempat ini,” ucap Qyen yang masih tidak pecaya melihat banyak seklai koleksi Albra.


“Kok nangis, sayang?”


“Kamu yakin pakai ini semua?”


Albra pun menggelengkan kepalanya. “Ini bukan punya saya, Papa yang siapkan semua. Saya hanya pakai saja,” ucapnya dengan santai.


Qyen hanya bisa menghembuskan napasnya, orang kaya mungkin selalu bingung dengan uangnya yang akan berubah menjadi apa.


Albra membuka sebuah lemari yang berisi pakaian perempuan. “Loh, kamu?”


“Sepertinya ini baru Papa siapkan. Lihatkan? Papa sudah mulai luluh dengan kamu.”


Qyen yang tidak mau terlalu percaya diri ia pun hanya membalas ucapan itu dengan tersenyum. Qyen dan Albra mengganti pakaian mereka dengan pakaian santai untuk tidur. Sampai keduanya sudah selesai dan Qyen kini tengah memainkan ponselnya menonton tayangan yang menjadi hiburannya saat ini.


“Sayang?” Albra menghempiri Qyen yang tengah duduk di sofa dengan kaki yang diluruskan.


“Iya? Kamu butuh sesuatu?”


Albra menggelengkan kepalanya, ia pun duduk di sebelah Qyen. “Bagaimana hasil pemeriksaan kemarin? Bayinya sehat?”


Qyen mengangguk, menjelaskan semua hal tentang pemeriksaan rutin yang sudah ia jalani kemarin. Topik pembahasan mereka sampai kepada hari yang kemarin terjadi.


“Kamu tidak ingin berbicara juju dengan saya tentang kemarin?” Tiba-tiba saja Albra membuka suaranya dan hal itu membuat Qyen terkejut. ‘Jujur tentang hari kemarin?’ tentu saja hari dimana waktu dia pergi bersama Fin. Ada banyak sekali kegundahan di dalam hati Qyen untuk menceritakan semua itu.


“Sebelum saya yang mulai membahasnya?” tatapan Albra kini perlahan berubah. Qyen yang tidak mau terjadi keributan, akhirnya ia pun menceritakan semua hal yang terjadi ketika ia pergi bersama Fin ke sebuah hutan buatan dan melihat air terjun kemarin.


Semua cerita sudah ia sampaikan sedetail mungkin, tidak ia kurangi ataupun tidak ia lebih-lebihkan. “Ka—kamu marah, Kak?”


Albra terdiam, ia hanya menatap lurus kearah Qyen dengan tatapan dingin andalannya. Qyen sangat gugup kali ini.”Maaf, aku gak tau harus mulai dari mana cerita ke kamu. Dan … Aku tidak melakukan apapun sama dia, Kak. Aku minta maaf.”


“Perbuatan kamu sudah fatal, Qyen.”


“Iya, aku minta maaf. Aku juga bingung tentang posisiku kemarin.”


“Tidak ada pengulangan untuk kedua kalinya. Saya tidak suka kamu berdekatan dengan dia, bahkan yang lain. Untuk masalah kemarin, saya tidak perlu menjelaskan lagi kepada kamu, sepertinya kamu sudah paham.”


Qyen terdiam, hatinya bergetar ia merasa takut jika Albra akan berbuat sesuatu kepada dirinya, bahkan kini matanya sudah panas dan air matanya sudah siap kapan saja untuk turun.


“Kamu sudah memiliki suami, tidak sepantasnya kamu seperti itu.”


“Aku tahu, dan aku kebingungan kemarin. Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk pulang.”


Albra menggenggam tangan Qyen, mengajaknya untuk tidur di atas kasur tanpa mengucapkan satu patah katapun. Lampu utama pun mati, dan digantikan oleh lampu tidur yang sedikit menerangi mereka. Air mata Qyen luruh begitu saja ketika ia mengetahui jika Albra marah kepadanya. Lagipun ini memang salahnya mengapa harus menyetujui mengikuti Fin kemarin.