
Albra terus memperhatikan orang-orang yang berada di dancefloor. Pandangannya terdistraksi dengan lampu-lampu yang terus menyala dan berganti di setiap detiknya, juga kondisi klub yang minim akan penerangan.
“Aish … Qyen …” gumamanya yang merasa tidak tenang.
Jika kalian bertanya bagaimana Albra bisa mengikuti Qyen, jawabannya adalah Albra melihat Qyen masuk kedalam mobil Fin dengan wajah terpaksa. Melihat hal itu, hati Albra terusik, dan ia tidak bisa diam saja. Niatnya tadi memang ingin mengantarkan Qyen pulang walaupun Qyen menolaknya, namun hal lain terjadi. Sampailah ia disini karena membututi Qyen.
Ian menepuk bahu Albra. “Dibawah gak ada tanda-tanda Qyen disana. Biasanya para VIP diam diruangan ini,” ucap Ian yang kini berjalan terlebih dahulu dibanding Albra.
Dilantai 2 terdapat 4 koridor, ia pun memasuki salah satu koridor disana dan mengecek satu-satu pintu kamar yang ada disana. Tidak ingin membuang waktu, Albra pun melakukan hal yang sama.
“Qyen … ah, sorry saya salah tempat.”
“Ha … maaf saya salah tempat.”
Ian terus mengucapkan kalimat yang sama ketika membuka pintu yang berjajar itu satu persatu.
“Qyen gak ada disini,” ucap Ian yang kembali menghampiri Albra.
Mereka terdiam dan mencoba memikirkan strategi yang tepat agar bisa menemukan Qyen dengan cepat.
“Kamu sering ketempat ini?” tanya Albra dengan tatapan dinginnya. Tak sempat Albra berganti baju tadi, dan saat ini ia masih menggunakan pakaian kerja yang tadi ia gunakan. Ternyata hanya Qyen yang bisa membuat dirinya kalang kabut seperti ini.
“Iya, Gue sering kesini.”
“Dimana ruang pengolahan tempat ini?”
“Office?”
“Ck! Iya cepat, Ian.”
Ian yang lebih tahu tempat ini dibanding Albra, ia pun berlari kearah koridor yang berbeda dari sebelumnya. Koridor yang diisi dengan nuansa hitam yang mewah tak lupa tema kegelapan yang menghiasi tempat ini. Sampai Ian berhenti disalah satu ruangan disana dan menunjuk ruangan tersebut.
“Tempat ini diolah sama temen Gue ja—“
Tidak ingin mendengar Ian yang terlalu banyak bicara. Dengan cepat Albra pun mendobrak pintu tersebut dengan cara menendangnya.
“Bastard!” teriak Albra ketika melihat Fin yang sedang mencoba melecehkan Qyen.
Albra langsung menendang bagian sisi tubuh Fin yang sedang memeluk tubuh bagian belakang Qyen.
“Qyen!” Ian berlari meraih tubuh Qyen yang terkulai lemas, terduduk diatas lantai yang dingin.
“Sudah!”
‘Bugh!’
“Berapa kali!”
‘Bugh!’
“Saya bilang!”
‘Bugh!’
“Jangan pernah!”
‘Bugh!’
“Mengganggu apa yang sudah menjadi milik saya!”
‘Bugh!’
Albra terus menghujami Fin dengan tinju tangannya, ia dapat menguasai Fin dengan beberapa pukulan saja karena Fin sedang berada dibawah pengaruh alkohol.
“Bangun!” teriak Albra yang matanya sudah tertutup oleh amarahnya. Namun ia masih menyempatkan diri untuk bisa melihat Qyen yang terkulai lemas didalam sandaran Ian.
“Albra udah! Anak buahnya datang mampus Lo!” Ian berbicara untuk mengingatkan Albra. Ia tahu bagaimana amarah Albra jika sudah keluar, bahkan saat ini ia takut jika Fin bisa mati ditangan Albra.
Fin bangun dan tersenyum meledek kearah Albra. Kekesalan Albra bertambah disaat Fin meludahi sepatunya. “Bajingan gila!” ia kembali menendang Fin sampai terhuyung kebelakang.
Ian yang melihat situasi tidak akan pernah selesai, ia pun mengambil ponselnya dan menghubungi Meta sekertaris Albra.
“Iya, Qyen, Gue disini.”
“Hah … disini panas banget … hah tolong aku ….”
“****! Fin ngasih obat ke Qyen!” kesal Ian yang kini memilih menyandarkan Qyen ketembok dan menghampiri Albra.
“Sudah! Dia bisa mati!” Ian mencoba menarik bahu Albra, namun siapa sangka tenaga Albra yang jauh lebih kuat daripada Ian akhirnya Ian pun terhuyung kebelakang.
“A—anda gak akan bisa am—bil Qyen …” ucap Fin yang masih tersadar, ia mencoba melawan Albra dengan cara meninju rahang Albra, dan hal itu sukses membuat Albra mundur beberapa langkah.
“Sialan! Kenapa jadi kaya gini,” kesal Ian disaat beberapa anak buah Fin datang dan mengeroyok dirinya bersama Albra.
Untung saja, walaupun Ian memiliki perawakan yang lebih kurus dibanding Albra, namun ia memiliki sabuk hitam dibeberapa cabang olahraga.
“Awasi Qyen, Ian!” teriak Albra disaat ada seseorang yang mencoba membawa Qyen dari sana.
Namun untungnya tuhan masih ingin menyelamatkan Qyen dan Albra, Meta dan Kender datang berserta beberapa anak buahnya dan langsung mengambil alih perlawanan yang ada disana.
Albra yang masih belum puas melawan Fin, ia pun datang mendekati Fin. “Jangan panik kalau besok terjadi sesuatu,” ucap Albra dan melakukan hal yang sama seperti Fin lakukan kepadanya tadi, dengan cara meludahi sepatu Fin.
“Qyen!!!” Ia menghampiri Qyen yang kini sudah tidak sadarkan diri didalam pangkuan Ian.
“Biar saya yang ambil alih,” ucap Albra, ia pun kini membopong tubuh Qyen dan keluar dari klub ini disusul oleh Meta dibelakangnya.
Sampailah mereka didalam mobil, kini Ian yang mengambil alih mobil Albra, dan Albra yang menemani Qyen dibelakang. “Tuan, sebaiknya kita tidak membawa wanita ini—“
“Panggil Qyen, dia punya nama,” ucap Albra dengan nada dingin andalannya.
“Baik, maksud saya Qyen. Ya, sebaiknya anda tidak membawanya kerumah sakit,” ucap Meta yang duduk disebelah Ian.
“Lalu?”
“Qyen tidak terluka, tapi dia dikasih obat sama Fin. Gue gak tau obat apa yang dia kasih, tapi … Qyen terus bilang panas dari tadi ….”
Mereka semua tahu maksud Ian, mereka yang mendengar itu adalah orang dewasa dan hal seperti ini tidak lumrah terjadi didalam dunia malam.
“Maksud kamu Qyen dikasih obat perangsa—“
“Tuan, lebih baik kita bawa Qyen menuju rumahnya karena anda tidak memungkinkan untuk menemani dia, Tuan,” ucap Meta yang langsung memotong ucapan Albra.
“Tidak, bawa Qyen pergi ke penthouse saya.”
“Ck! Lo yakin bawa cewek yang u—“
“Tidak usah banyak bicara. Saya tahu harus bagaimana.”
Semua orang yang ada disana terdiam, dan Ian pun membawa mobil dengan kecepatan diatas rata-rata. Mereka yang ada didalam mobil bisa mendengar suara-suara Qyen yang sepertinya tidak merasa nyaman dialam bawah sadarnya.
“Shhh … P—pak Albra?” tanya Qyen yang kini sedikit sadar dengan orang yang ada disampingnya.
“Iya, saya disini.”
“To—tolong aku … aku kepanasan … hah … aku gak kuat ….”
Meta yang mendengar itu dengan sigap memberikan air mineral kepada Albra, meminta agar Albra memberikan air mineral itu kepada Qyen.
“Adakah obat penawar yang bisa diberikan.”
“Ck! Ngarang aja Lo. Obat kaya gini mana ada penawar. Kunciin aja dia didalam kamar, Lo jangan sampe masuk,” jawab Ian yang tidak ingin terjadi sesuatu antara Qyen dan kakaknya.
Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka sampai didalam penthouse milik Albra. Albra langsung membawa Qyen menuju kamarnya dan ia melarang Ian dan Meta untuk mengikuti dirinya. Bahkan tadi, ia menyuruh Ian untuk pergi keapartemennya dan menjaga Alan yang sudah tertidur.
Saat ini, Ian dan Meta hanya bisa menatap pintu kamar Albra yang tertutup sangat kencang.
“Yah … wajar aja lah ya … duda lima tahun gak kuat liat beginian,” ucap Ian yang merasa lelah dan memilih untuk duduk terlebih dahulu disofa.
Berbeda dengan Meta yang meras pusing sekaligus kebingungan tentang hal kedepannya yang harus ia handle jika terjadi sesuatu antara Albra dan Qyen.
“Udah gak perlu dipikirin, Meta … Tuan Lo emang sedikit gila. Paling dia mau buat dedek buat Alan,” ucap Ian sambil terbahak-bahak.