ALBRA

ALBRA
55. Kesempatan untuk Fin



“Papa …” cicit Alan disaat ia ketakutan mendengar suara teriakan Albra dan wanita yang ia tak kenal saling bersahutan.


“Alan takut, sebaiknya kamu pergi dari sini.” Albra terus mengucapkan kata pergi kepada Mey Becca, namun ucapan itu tidak dihiraukan sedikit pun. Mey semakin tertantang untuk terus dekat dengan Alan.


Kender yang melihat jika Albra butuh bantuan, ia pun kini turun tangan. “Maaf, Nona. Tuan tidak bisa diganggu. Silahkan anda pergi dari sini.” Kender kini memasang badan dihadapan Albra dan Alan.


“Minggir, saya tidak punya urusan dengan kamu,” ucap Mey mencoba menyingkirkan Kender dari hadapannya.


“Anda tidak bisa seperti ini, Nona. Saya akan menghubungi Tuan Frans jika anda terus begini.” Final Kender dan membuat Mey memundurkan langkahnya sambil mengangkat tangannya, tanda ia menyerah.


Tentu saja ancaman itu membuat Mey takut karena ia sudah diancam oleh Frans untuk tidak mengganggu kehidupan cucu dan anaknya. Namun walaupun begitu, tekadnya untuk mengambil Alan dan Albra tidak akan pernah pudar.


“Oke. Aku akan pergi jika aku sudah mengobrol dengan anakku.”


Kender bergeser, ia memberikan Albra ruang untuk kembali berbicara.


“Kamu sudah membuat kekacauan di dalam hidup saya. Alan sudah memiliki ibu yang layak untuk dirinya.”


“Hiks … Papa … aku ingin pulang, hiks … Pa ….”


“Alan, aku Mama-mu. Kamu bisa datang kepadaku kapan saja. Mama akan selalu menunggu Alan.” Mey mengambil sebuah paperbag besar yang sedari tadi ia bawa di genggaman tangannya.


“Mama bawakan banyak mainan dan coklat untuk kamu. Semangat terus belajarnya, sayang.” Setelah mengucapkan itu, Mey menyimpan paperbag besar itu di atas meja, lalu pergi keluar dari kantor Albra.


Albra yang melihat itu mengeratkan rahangnya. Bagaimana bisa informasinya bocor sampai ketangan Mey. Ini kali kedua Albra berbicara dengan Mey secara langsung setelah beberapa tahun silam lamanya. Ada beberapa hal yang Albra sadari ketika kembali bertemu dengan Mey. Ialah bentuk wajah Alan dan Mey yang sama persis dan hidung mancungnya.


“Tenang, sayang. Ada Papa di sini …” Albra memeluk Alan dengan erat, ia kasihan melihat Alan yang sepertinya tidak tahu apa-apa di sini. Albra memang belum membicarakan dan menceritakan semuanya kepada Alan, karena Alan yang masih kecil. Namun karena ada kejadian seperti ini, Albra akan memberitahu Alan secepat mungkin.


“Qyen, kemana Qyen?” tanya Albra kepada Meta.


“Nona sudah pergi, Tuan.”


Albra menghela napasnya. Ia tidak bisa berpikir panjang tadi, ia menatap sendu tas makanan yang dibawa oleh Qyen. Pasti Qyen merasa sakit hati melihat interaksinya dengan orang masalalu yang ada di hidup Albra. “Cari keberadaan Qyen. Antarkan Alan pulang ke rumah kakeknya.”



Qyen menghiraukan teriakan Albra yang terus memanggil namanya, apalagi ia sudah mendengar suara Alan menangis. Qyen tidak bisa menahan air matanya, air matanya terus turun berbarengan disaat Qyen memasuki lift.


“Pak Nana …” gumam Qyen yang tidak menyadari hadirnya Pak Nana sang supir di depan lift.


“Ah biarlah … hiks aku ingin menenangkan diri.” Untuk menghindari tatapan aneh dari para karyawan suaminya, Qyen mengurai rambutnya dan menutup wajahnya menggunakan masker.


‘Semoga aja mereka gak sadar, dan semoga aku gak menimbulkan masalah baru.’


Lift berdenting, untungnya saja tidak ada seorangpun yang memasuki lift selain dirinya. Qyen bisa bernapas lega dan segera membuka maskernya.


“Aku harus kemana? Sepertinya aku salah lantai? Ini tempat parkiran, harusnya aku turun ke lantai dasar dan mencari taksi,” gumam Qyen yang memperhatikan hanya ada area parkir di sana. Bahkan ia pun tidak melihat ada tanda-tanda supirnya.


Sampai … sebuah mobil berwarna putih yang tak ia kenali berhenti dihadapannya. Qyen mundur, ia harus waspada jika ada sesuatu yang tiba-tiba mengusik dirinya.


Qyen berusaha sebisa mungkin untuk menahan tangisnya, karena ia harus sadar sepenuhnya saat ini. Pintu kaca mobil itu terbuka, telihat Fin di sana sambil melambaikan tangan kearahnya dan tersenyum lebar.


“Hai, long time no see, Qyen ….”


“Kak Fin …” gumam Qyen dengan nada bergetar.


Fin turun dari mobilnya, dan membukakan pintu mobil untuk Qyen. “Ayo masuk, saya tidak mungkin membiarkan ibu hamil sendiri di sini, dan sepertinya kamu butuh pergi ke tempat yang buat kamu nyaman.”


Qyen diam, ia menatap curiga kearah Fin yang sangat baik kepada dirinya. “Ma—maaf aku gak bisa.”


“Ayolah … saya juga ingin menyapa kamu. Saya tidak akan membuat macam-macam, saya hanya ingin kembali mengobrol bersama kamu.”


Hati Qyen sungguh bimbang kali ini karena ia merasa tidak enak membiarkan Fin yang dulu selalu baik kepadanya, dan kini ia harus menolak ajaran itu. Tapi dibalik itu semua ia pun merasa takut jika Fin akan membuat hal yang tidka-tidka kepada dirinya lagi.


“Saya tidak akan memberitahu kepada Albra. Saya akan mengajak kamu ketempat yang membuat kamu tenang, seperti dulu.”


Sedangkan di lantai 5, Mey kebingungan mencari mobil Fin yang tiba-tiba hilang di lahan parkiran. “Sialan! Tau aja dia waktu yang tepat!” kesalnya sambil menendang salah satu ban mobil di sana.


Di dalam mobil yang saat ini sedang dikemudikan oleh Fin, Qyen hanya bisa diam menutup matanya dan mencoba untuk menenangkan hatinya dari kejadian yang baru saja ia lihat. Ada rasa ketakutan yang Qyen dapat setelah melihat Mey menghampiri Albra dan mengaku sebagai ibu dari Alan. Qyen takut jika Alan sudah tidak ingin dengan dirinya, dan Qyen juga takut jika perasaan Albra akan berubah kepada dirinya, dan masih banyak ketakutan lain yang Qyen rasakan dari kejadian tersebut.


“Kamu baik-baik saja?” ditengah keheningan, Fin mencoba mencari topik pembicaran.


“Hmm .. aku baik-baik saja. Kak, bisa tolong antarkan aku ke kafe yang ada di kawasan pantai batu,” ucap Qyen yang menyebutkan alamat penthousenya.


“Baiklah, tapi sebelum itu saya ingin mengajak kamu ke suatu tempat.”


“Kemana? Aku tidak bisa.”


Tanpa sepertujuan dari Qyen, Fin pun melajukan mobilnya dengan cepat. Lagi dan lagi Qyen hanya bisa diam mencoba untuk memberikan kepercayaannya lagi kepada Fin. Tak butuh waktu lama, mereka pun sampai di sebuah taman hutan pinus yang sangat asri.


Fin membukakan pintu mobil untuk Qyen, dan membantu Qyen untuk turun. Fin tahu jika Qyen kesulitan dalam bergerak karena perutnya yang besar.


“Wow … aku baru tahu ada hutan seperti ini di Bali,” gumam Qyen sambil menikmati semilir angin sejuk yang menerpa tubuhnya.


Fin tersenyum penuh kemenangan, semoga saja ia masih diberi kesempatan untuk meraih hati Qyen kembali.


“Ayo, biar saya tunjukan kembali hal yang lebih indah yang harus kamu lihat.”


Qyen mengikuti kemana perginya Fin, untung saja saat ini ia menggunakan sepatu kets yang nyaman. Fin melipir ke sebuah kafe kecil untuk membeli sesuatu agar menamani obrolan mereka nanti, dua minuman coklat panas pun tersaji, dan Fin memberikan satu minuman itu kepada Qyen.


“Ini untuk kamu, sebagai tanda maaf saya atas kejadian yang sudah berlalu,” ucapnya sambil tersenyum.


Qyen menerima cup itu dengan sedikit senyumnya juga. Melihat Fin yang tersenyum lebar membuat hatinya merasa tak enak meninggalkan Albra dan Alan yang sepertinya sedang kesulitan. Tapi … Qyen tidak berbohong jika ia pun butuh waktu untuk pulih dari rasa takutnya.


Mereka berjalan diatas jembatan kayu sambil menikmati pemandangan pohon pinus yang begitu indah. Ada beberapa wisatawan juga di sini, namun tidak begitu ramai.


“Usia kandunganmu berapa bulan?” tanya Fin yang kembali membuka topik pembicaraan diantara mereka.


“Hari ini tepat lima bulan,” jawab Qyen sambil mengusap perutnya.


Fin mengangguk, dugaannya benar disaat ia mengetahui tentang kehamilan Qyen. Sepertinya kejadian itu memang membuat Qyen hamil.


“Selamat atas pernikahan kamu dengan Albra kemarin.”


Qyen terkejut ketika mendengar hal itu dari Fin. Apakah Fin sudah mengetahuinya saat itu?


“Kamu tidak perlu terkejut, saya sudah tahu. Dan maaf saya tidak bisa hadir kepernikahan kamu.”


Qyen hanya bisa mengangguk. “Iya, terimakasih.”


Mereka kembali berjalan mengikuti jalan yang ada dihadapan mereka, sampai akhirnya mereka tiba di sebuah air terjun yang sangat-sangat cantik dan jernih.


“Wah … cantik banget air terjunnya.” Lagi-lagi Qyen terpaku dengan pemandangan yang disuguhkan.


“Kamu bebas teriak di sini dan mencurahkan semua isi yang ada di hati kamu.”


Qyen tersenyum manis ketika mendengar ucapan dari Fin. Sepertinya ia tidak akan melakukan hal itu, datang dan hadir di tempat ini saja membuat stress yang ada di kepala Qyen menghilang.


“Ayo kita duduk, saya takut kamu kelelahan nanti.”


Mereka duduk di sebuah tempat yang sudah di sediakan. Qyen melihat ada sedikit perubahan dari fisik Fin setelah mereka lama tidak berjumpa. Kali ini Fin lebih memiliki badan yang berisi dan berotot, mungkin ia sudah rajin berolahraga, dan sepertinya Fin memelihara sedikit jambang dan kumisnya.


Suara air dan alam bersahutan mengisi keheningan mereka, pikiran Qyen saat ini sedang mencari cara bagaimana cara ia untuk mencari topik pembicaraan dengan Fin. “Terimakasih sudah membawa aku ketempat seperti ini. Dan aku tidak bisa lama-lama di sini, Kak.” Qyen masih ingat akna tugasnya.


Fin mengangguk. “Habiskan dulu minumannya, lalu saya akan antar kamu pulang. Kapanpun kamu butuh saya, saya akan selalu ada di samping kamu. Nomer telpon saya masih sama.”


Fin merasa kesal dengan dirinya sendiri, mengapa dulu ia mendekati Qyen dengan cara yang sedikit kasar? Jika ia bisa mendekati Qyen dengan cara lembut sepertini ini, seharusnya ia tidak menyakiti Qyen dulu, dan membuat Qyen hilang percaya kepada dirinya.


“Tidak apa-apa …” jawab Qyen seadanya.