ALBRA

ALBRA
38. Pertarungan sengit



Hari sudah berganti, beberapa hari belakangan ini, setelah tahu fakta bahwa Qyen sedang mengandung anaknya, Albra tidak lepas dari ekspresi wajah bahagianya. Seperti hari ini, pagi hari ia berjalan di lobby kantor dan membalas semua sapaan para karyawannya. Kender dan Meta pun merasa tidak biasa dengan sikap sang Tuan, karena ini baru pertama kali mereka lihat.


“Tidak biasanya Pak Albra seperti ini, sepertinya ada sesuatu yang membuat dia bahagia,” ucap seorang karyawan wanita yang terdengar oleh Kender.


“Tapi, wajah tampannya semakin bersinar.”


“Sepertinya memang akan ada kabar baik disini.”


Para karyawan bergosip setelah mendapat balasan sapaan dari Albra, terlebih para kaum hawa yang selalu tersipu bahkan ketika Albra hanya melewati mereka saja.


Ketika memasuki lift, Meta kini bertugas menyampaikan jadwal Albra dipagi hari ini. “Tuan, pukul sebelas nanti akan ada rapat oleh para pemegang saham perusahaan Fin Ghazi. Tuan akan hadir atau hanya Tuan Ian?”


Albra tersenyum kecil. “Tentu saya akan hadir.”


“Tapi, Tuan … Fin akan turut menghadiri acara rapat tersebut.”


“Ya, itu memang tujuan saya.”


Meta masih bingung dengan jalan pikir tuannya. Kemarin secara tiba-tiba ia diperintahkan untuk membebaskan Fin dikantor polisi, dan saat ini Albra dengan senang hati akan bertemu dengan Fin. Meta dan Kender selalu bersiap siaga untuk menghadapi hari ini.


Sesampainya didalam kantor, Albra melepas jasnya dan lebih memilih hanya memakai kamejanya tanpa dasi. Duduk disingasananya, dan mulai mengecek laporan-laporan yang sudah menumpuk dimejanya.


“Kender, kamu sudah memeriksa CCTV yang saya suruh kemarin?” tanya Albra yang sangat penasaran tentang hal apa yang dilakukan Qyen beberapa hari yang lalu ketika ia pergi dan pulang dengan keadaan pipi memerah.


“Tuan …” Kender berjalan menghampiri Albra. “Saya sudah mengecek CCTV kafe baru tersebut dan tidak ada nona disana, bahkan saya mengecek itu selama seharian penuh.”


Albra semakin menaruh curiga yang sangat besar kepada Qyen saat ini. Bahkan ia masih ingat ekspresi takut Qyen pada hari itu.


“Tapi Tuan, saya tidak sengaja mengecek CCTV di depan kafe \tersebut dan nona keluar dari mobil hitam yang saya kenali mobil itu adalah mobil pengawal Tuan besar.”


Tiba-tiba saja jantung Albra berdetak kencang, pulpen yang ia gunakan untuk tanda tangan, kini menggantung diatas kertas. Bagaimana bisa Qyen turun dari mobil pengawal papanya?  Apa Frans kini sudah tahu tentang kediaman rahasianya, dan pada saat hari itu Qyen dibawa dan diancam oleh Frans? Pikirannya kini campur aduk, disaat ia melihat rekaman CCTV yang ternyata benar Qyen diturunkan oleh sebuah mobil hitam didepan kafe tersebut.


“Sepertinya Tuan besar tahu sesuatu tentang nona. Saya harus bagaimana, Tuan?”


Tak lama pintu kantor Albra terbuka, Ian datang dengan wajah lusuhnya karena tubuhnya terasa lelah setelah mengasuh Alan lebih dari 2 minggu dengan tangannya sendiri.


“Al, Gue capek banget. Bisa gak Alan punya pembantu aja? Gue sebenernya pengasuh apa pekerja kantoran sih …” Ian datang sambil protes dan merebahkan tubuhnya diatas sofa mahal di ruangan Albra.


Albra melihat Ian dan menghembuskan napasnya lelah. Ian selalu saja sepetri itu, mengadu dan so menjadi pahlawan dirinya. Padahal kemarin, Ian sendiri yang mengajukan diri untuk menjaga Alan, tapi mengapa baru kali ini mengajukan protes?


“Alan dimana?” tanya Albra.


“Alan sama Papa. Gue habis dari kantor Papa karena ngurusin sesuatu.”


“Alan pulang cepat hari ini?”


“Hm … jadwal anaknya sendiri aja gak tau … Albra!” Ian tiba-tiba bangun dan menghampiri Albra. Ia ingin berbicara serius karena beberapa hari belakangan ini ia tidak sempat bertemu dengan Albra.


“Kenapa?”


Kender mundur, dan memberikan privasi untuk Albra dan Ian. “Lo harus jawab jujur … Qyen hamil?” tanya Ian tiba-tiba dan diangguki oleh Albra.


‘Brak!’


Ian menggebrak meja kerja Albra. Melihat kelakukan adik tirinya itu, ingin sekali Albra mencekiknya, namun ia urungkan kembali niatnya itu. “Kenapa? Tau dari mana?”


“Kenapa Lo baru ngasih tau Gue sekarang? Oh, bukan … kenapa Gue harus tau kabar ini dari Papa!”


“Ma—maksud kamu?”


“Ck! Papa udah tau kalau Qyen hamil. Dia ngasih tau Gue tentang kehamilan Qyen tiga hari yang lalu. Dan selama itu juga Gue sama Lo gak ketemu. Apasi yang ada dipikiran Lo sampai Papa tau kalau Qyen hamil? Urusannya gak sampai disini aja, Albra ….”


Ian merasa frustasi. Ia pun tidak tahu mengapa dirinya sefrustasi ini, padahal yang memiliki masalah disini adalah Albra, bahkan yang membuat bayinya pun Qyen dan Albra.


Kender pastinya mendengar semua keributan yang ada, bahkan ia pun baru tahu kabar tentang kehamilan Qyen saat ini, setelah 3 hari yang lalu dirinya dan Meta mengantarkan tespack ke penthouse tuannya.


“Biar saya yang urus.”


“Urus? Urus Lo bilang? Kapan Lo urus? Bahkan tempat persembunyian Lo saat ini, Papa itu udah tau. Gue udah bingung gimana cara buat ngadepin Papa lagi.”


Ian terdiam, pasalnya memang 3 hari yang lalu dirinya berada dikediaman Frans, dan juga bertemu dengan Frans, namun ia tidak bertemu dengan Qyen pada hari itu.


“Tiga hari yang lalu Gue memang ada di rumah sama Alan, bahkan dari pagi. Tapi Gue gak ketemu Qyen atau enggak melihat Papa bertemu dengan Qyen.”


Albra mengusap wajahnya gusar. Urusan dengan Papanya masih saja belum selesai, dan Albra masih belum menemukan solusi untuk memenangkan hati papanya itu.


“Ada apa? Jangan-jangan … Papa tau kalau Qyen hamil itu dari Qyen-nya langsung?”


“Sepertinya Qyen diancam oleh Papa. Qyen sempat menghilang beberapa jam dari penthouse tiga hari yang lalu, dan dia pulang dengan keadaan pipi memerah. Qyen mengaku jika dirinya hanya diam di kafe, namun pada saat Kender memeriksa, pada hari itu Qyen ketahuan turun dari mobil Brian.” Albra menceritakan semuanya kepada Ian, karena kini sekutunya hanyalah Ian. Ia tidak memiliki orang kepercayaan lainnya selain Ian, dan 2 sekertarisnya itu.


Ian menghembuskan napasnya. Melihat kasus yang menimpa Albra dan Qyen, membuat dirinya ragu untuk menjalin hubungan yang lebih serius dengan wanitanya.


“Albra … Gue mau jujur sama Lo,” ucap Ian dengan wajah seriusnya, kedua tangannya kini diletakan diatas meja Albra dan matanya menatap wajah Albra dengan serius.


Albra yang melihat sikap Ian yang aneh ia pun bergidik ngeri. Bagaimana bisa Ian yang berbicara serius, namun caranya seperti seorang pria yang akan mengungkapkan cintanya. “Apa? Gak usah gitu, saya geli.”


“Pftt …” runtuh sudah karisma Ian yang tadinya akan serius namun tergoda oleh wajah Albra yang ketakutan dengan ekspresinya.


“Oke … oke … Gue serius sekarang.” Tangannya kini terlipat didada. Ian pun mulai berbicara dengan serius. “Papa nyuruh Gue buat gugurin kandungan Qyen.”


“Gila kamu!”


“Bukan Gue yang gila! Papa Lo yang gila.”


“Dia Papamu juga!”


Melihat pertengkaran antara Albra dan Ian, membuat Kender menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ini baru pertama kali dirinya melihat Albra dan Ian yang mengobrol panjang bahkan dengan sebuah candaan, terlihat aneh namun ia sedikit merasa lega.


“Papa nyuruh Gue buat gugurin kandungan Qyen! Makanya Gue bilang ini sama Lo. Gak ada yang bisa jagain Qyen selain Lo, Albra. Gue gak akan berbuat aneh-aneh sama Qyen, biar Gue yang jadi tumbal Papa.”


“Ian ….”


“Gue juga mau mertahanin cewek yang Gue suka. Kita harus sama-sama yakinin Papa kalau kita itu berhak memilih perempuan yang kita pilih.”



Pikiran Albra kini sedang kalang kabut setelah obrolannya dengan Ian berakhir. Bagaimana tidak? Ia saat ini mengetahui fakta bahwa papanya akan menggugurkan kandungan Qyen secara gamblang. Kini Albra kebingungan untuk mencari cara bagaimana melindungi Qyen agar tetap selamat disisinya.


Rapat pembahasan saham perusahaan Fin Ghazi saat ini digelar. Banyak sekali orang yang menghormati Albra saat ini, karena hampir 70 % saham perusahaan Fin ada ditangannya. Walaupun saham itu atas nama Ian, namun Albra tetap hadir karena separuh 50% saham atas nama Ian itu adalah miliknya. Ia tidak sendiri, Ian, Meta dan Kender pun turut hadir didalam rapat tersebut.


Para eksekutif berdatangan dan rapat pun dimulai. Mereka membahas tentang pergantian pemimpin perusahaan tersebut karena saham yang dimiliki bukan lagi milik keluarga Ghazi melainkan keluarga Max, yaitu Albra. Perdebatan para eksekutif mulai bermunculan tentang hal itu.


Albra yang duduk di hadapan Fin hanya diam saja, membiarkan orang-orang yang ada dipihaknya berbicara, sedari tadi tatapan matanya tidak lepas dari wajah Fin yang hanya bisa tertunduk lesu dihadapannya. Sesekali disaat Fin memperhatikannya, Albra memberikan senyum miring atas kemenangannya.


“Tuan, anda harus berjaga jarak dengan Fin,” ucap Meta yang membisikan sesuatu ditelinga Albra. Ia sudah menyaksikan perciakan-percikan amarah yang dihadapi oleh tuannya dan Fin.


Seperti yang sudah Albra duga, jabatan Fin sebagai pemimpin perusahaan dicopot dan akan digantikan oleh eksekutif yang ada dipihak Albra. Semua betepuk tangan, karena para karyawan yang kini berkerja dibawah naungan Albra akan mendapat banyak sekali keuntungan.


“You win, Bro,” ucap Ian sambil memberikan tangannya untuk ber-high five dengan Albra, namun Albra menghiraukannya. Sedari tadi matanya tidak lepas dari Fin dan ketika melihat Fin keluar Albra ikut berlari dan mencegat jalan Fin disana.


Meta, Kender dan Ian pun turut ikut berlari mengejar Albra agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Para pengawal Fin sudah menjaga mereka, dan Albra kini menghampiri Fin dengan senyum miringnya.


“Bagaimana jeruji besi? Sangat nyaman ditinggali bukan?” tanya Albra dengan santai.


‘Astaga Albra … capek banget Gue ngadepin manusia satu ini. Gak biasanya dia menyerahkan diri buat memperumit situasi. Cinta memang buat orang jadi gila.’ Batin Ian terus berbunyi disaat ia sendiri menyaksikan obrolan antara Fin dan Albra.


“Haha … bagaimana juga dengan rasa perempuan yang sudah menjadi bekas saya? Masih enak?”


Mendengar itu, Albra yang tersulut emosi, memegang dasi Fin dan mencoba mencekik leher musuhnya itu, namun dengan sigap Ian melerai keduanya.


Albra tidak membalas ucapan Fin, ia hanya menunjukan satu foto yang ada diponselnya. Fin yang melihat itu langsung terdiam, kedua tangannya terkepal, bahkan kini rahangnya mengeras. Melihat Fin yang kesal, hal itu membuat hati Albra bersorak kegirangan, ini ekspresi yang ia ingin dapatlan dari musuhnya.


“Qyen tidak akan pernah menjadi bekas anda. Bahkan saat ini Qyen sudah menjadi milik saya …” Setelah membisikan sesuatu di telinga Fin, Albra pun menepuk bahu laki-laki itu. “Selamat berjuang.”


Albra pergi dari hadapan Fin dengan wajah penuh kemenangan. Berbeda dengan Fin yang saat ini kalah telak oleh Albra.


“Jangan dulu senang, Albra … kartu AS masih ada didalam tangan saya,” gumamnya dengan kesal.