
“Alan …” Albra datang menghampiri Alan sambil memberikan botol minum yang sudah ia bawa.
Qyen yang sedang mengobrol dengan Alan, dan mendengar suara Albra, ia pun langsung berdiri dari duduknya dan membungkukkan sedikit badannya untuk memberikan salam hormat kepada Albra. Karena bagaimana pun setelah tahu kejadian kemarin, Albra adalah orang terpandang dimatanya.
“Qyen, kenapa kamu membungkuk?” tanya Alan dengan wajah lugunya.
Qyen yang canggung ia pun tersenyum kecil kepada Alan. “Aa—tidak, hanya memberi salam saja,” jawabnya.
Albra mengangguk yang berarti menerima salam dari Qyen. Keadaan disini menjadi canggung sebelum akhirnya Alan berbicara dan kembali menghilangkan kecanggungan mereka.
“Qyen, ice creammu menjadi cair, kenapa kamu diamkan?”
“Oh? Aku lupa, kamu mau ice cream juga?” tawar Qyen yang saat ini kembali memakan ice cream cone-nya.
“Hmm … aku ingin makan ice cream, tapi ….”
“Lebih baik kamu minta izin terlebih dahulu,” ucap Qyen yang menjawab kebingungan Alan.
Alan mengangguk. “Pa, boleh?”
“Tentu, silahkan,” jawab Albra yang kini duduk dikursi panjang, tepat disebelah Qyen yang masih berdiri.
“Yeay … Papa baik banget hari ini. Ayo Qyen! Ajak aku beli ice cream.”
“Hahaha … kamu lucu banget, ayo kita beli aku traktir hari ini.”
Alan dengan semangat yang tinggi menggandeng tangan Qyen, dan mereka pun berjalan menuju truck makanan yang menjual berbagai ice cream disana.
“Aku harus beli rasa apa ya?” tanya Alan yang kini berdiri didepan papan menu.
“Emm … sepertinya kamu pasti suka rasa coklat yang dicampur dengan cookies. Kamu mau coba?” tawar Qyen.
“Wow, sepertinya enak. Aku mau yang itu.”
Qyen mengangguk dan memesan ice cream yang diinginkan oleh Alan. “Kamu sedang apa disini?”
“Aku sedang bermain saja, Alan. Taman ini dekat dengan rumah aku. Kenapa kamu baru pulang sekolah dijam segini?”
“Iya, karena Papa telat menjemputku. Qyen aku belum selesai bertanya,” kesal Alan karena Qyen terus menambahkan pertanyaan dijawabannya.
Qyen tertawa melihat Alan yang kesal. “Iya, kamu mau tanya apa lagi?” ucap Qyen sambil memberikan ice cream yang sudah jadi kepada Alan.
“Kamu sendiri main disini?”
Qyen menggelengkan kepalanya. “Enggak, aku punya tetangga baru namanya Lova, dia ngajak aku main kesini, itu orangnya,” jawab Qyen sambil menunjuk Lova yang tengah berlari dengan riang menuju kearahnya.
“Sepertinya kamu punya teman baru,” ucap Alan sambil mengeluh.
“Iya, aku punya teman baru, semakin banyak semakin seru. Kita bisa bermain bersama, Alan. Sudah jangan sedih, kamu cobain deh ice creamnya.”
Mendengar saran dari Qyen, Alan mencoba memakan ice cream yang sudah menggugah seleranya. “Emm … ini enak banget Qyen ….”
“Kamu suka?” tanya Qyen.
Alan mengangguk dengan senang. “Besok kalau pulang sekolah aku pasti mau makan ice cream disini lagi,” ucapnya.
Tak lama dari itu, Lova datang. Qyen yang merasa jika Alan cepat akrab dengan orang lain ia pun mencoba untuk mengenalkan Lova dan Alan, walaupun umur mereka terpaut cukup jauh, Lova yang sudah kelas 7 SMP dan Alan yang masih bersekolah ditaman kanak-kanak, tapi hal itu tidak menghalangi keseruan bermain mereka.
“Kak, aku boleh ajak Alan bermain balon tiup ini?” tanya Lova.
Qyen mengangguk. “Tentu, tapi jangan terlalu jauh.”
Setelah persetujuan itu, Alan dan Lova kembali ketengah taman dan memainkan balon tiup tersebut dan tertawa bersama.
Qyen yang masih berada didepan truck ice cream pun merasa senang melihat keduanya. Ia tidak menyangka hari ini akan kembali bertemu dengan Alan setelah beberapa waktu tidak berjumpa. Qyen kira ia tidak akan kembali bertemu dengan Alan.
“Mas, saya pesan lagi satu. Seperti tadi,” ucap Qyen kepada penjual ice cream.
Qyen membawa dua ice cream ditangannya, satu miliknya yang masih belum habis, dan satu lagi ice cream baru yang akan ia berikan kepada Albra.
Sesampainya dibangku taman tempat Albra yang tengah memperhatikan anaknya dari jauh, Qyen pun memberikan ice cream tersebut. Mata mereka secara sengaja bertemu, sebelum akhirnya, Albra menerima ice cream pemberian dari Qyen.
Qyen duduk dibangku yang sama dengan Albra, namun ia memberikan jarak cukup jauh dari tempat dimana Albra duduk.
“Apa kabar?”
Suara Albra kembali terdengar ditelinga Qyen setelah sekian lamanya. Qyen sadar, mengapa suasana disini menjadi sangat indah dan romantis. Langit senja di Bali sangat indah, apalagi ditambah dengan semilir angin yang membawa suasana sejuk menenangkan hati.
Albra tidak menjawab, ia hanya mengangguk saja, mengatakan jika dirinya baik-baik saja.
“Tidak ada yang mengganggu kamu semenjak hari itu?”
Qyen sedikit terkejut disaat Albra berbicara dan bertanya tentang hal lampau yang bahkan Qyen tidak ingin ulangi.
“Tidak, semuanya baik-baik saja.”
‘Terkecuali, ada rasa sedikit hampa didalam sini.’ Guamam Qyen didalam hatinya.
Keadaan disana menjadi hening setelah membahas hal yang cukup menyinggung bagi Qyen. Cepat-cepat ia menghabiskan ice creamnya agar bisa menghampiri dua anak kecil yang sedang bermain itu, agar ia tidak terjebak bersama Albra disini.
“Siapa anak perempuan itu?”
Qyen yang sedang terburu-buru memakan ice creamnya tersedak ketika mendengar suara Albra yang tiba-tiba.
‘Uhuk! Uhuk! Uhuk!’
Albra yang merasa kasihan, ia pun memberikan botol kemasan yang ada disampingnya kepada Qyen.
“Jangan makan dengan terburu-buru,” ucap Albra kepada Qyen.
“Ha? Bapak ngomong apa tadi?” tanya Qyen karena tidak mendengar.
“Jangan makan terburu-buru.”
“Bukan, sebelumnya.”
“Ck! Siapa anak perempuan itu,” ucap Albra sambil melihat kearah Lova.
“Ahhh … dia, namanya Lova. Tetangga baru aku.”
Albra mengangguk dan kini mencicipi ice cream yang sudah dibawakan oleh Qyen.
‘Hua … Hua … Qyen ….’
Suara tangis Alan yang sangat kencang terdengar diantara mereka. Qyen dan Albra yang mendengar itu langsung berlari kearah sumber suara. Mereka bisa melihat jika Alan terjatuh karena tersandung batu, dan alhasil lututnya mengeluarkan darah yang sangat banyak.
“Papa sudah bilang ja—“
“Syut … sudah jangan dimarahi. Ayo,” ucap Qyen sambil menggendong Alan dan membawanya ketempat duduk tadi.
Albra yang merasa panik pun mengikuti kemana perginya Qyen dan masih memegang ice cream pemberian Qyen walaupun sudah sedikit mencair.
Alan duduk diatas bangku, Qyen pun berjongkok dihadapan Alan. “Tidak apa-apa, kamukan bilang laki-laki harus kuat,” ucap Qyen yang menenangkan Alan sambil memberikan minum.
“Hiks … sakit ….”
“Kita ke rumah sakit sekarang,” ucap Albra kepada Alan.
“Shhh … Pak, please gak perlu lebay. Luka dikaki anak kecil itu udah biasa, apalagi Alan anak laki-laki harusnya kamu tau.” Qyen berani berbicara seperti itu karena ia melihat jika Albra terlalu berlebihan dalam mengurus anak, padahal diumur Alan seperti ini, anak terjatuh karena bermain itu hal yang biasa.
“Ta—tapi …”
“Ada yang sakit selain lutut?” tanya Qyen kepada Alan dan mengabaikan ucapan Albra.
Tangis Alan mereda dan menggelengkan kepalanya tanda tidak ada yang sakit selain lututnya yang berdarah.
“Kenapa kamu bisa terjatuh?” tanya Qyen sambil membersihkan luka Alan menggunakan tissue basah yang ia bawa didalam tasnya.
“Aku mengejar balon,” jawabnya dengan jujur.
“Aku bilang hati-hati ada batu, tapi dia terus lari,” tambah Lova yang kini ikut panik.
Setelah Qyen membersihkan luka tersebut, ia pun menempelkan plester yang juga selalu ia bawa didalam tas, akhirnya hal itu berguna disaat kejadian seperti ini.
“Sudah, tidak apa-apa. kamu bisa kembali bermain sekarang.”
Mendengar perkataan lembut Qyen, secara tiba-tiba Alan memeluk Qyen sangat-sangat erat sampai Albra yang melihat aksi anaknya itupun terkejut.
“Terimakasih, Qyen. Kamu selalu menyelamatkan aku. Bisakah kamu pergi kesekolah denganku? Aku selalu diledek teman-teman karena aku tidak punya ibu ….”
Mereka terkejut mendengar ungkapan yang disampaikan oleh Alan, terlebih Albra. Saat ini jantungnya berdetak sangat hebat karena mendengar suara pilu dari anaknya yang mengungkapkan sesuatu kepada orang lain, yang bahkan belum pernah ia dengar.
“Kalau kamu ikut, aku ingin berbicara kepada teman-temanku. Aku punya ibu, dan aku tidak selalu sendiri.”