ALBRA

ALBRA
16. Sayap Pelindung Qyen



Albra memperhatikan satu-satu anak buah ayahnya yang sudah berjajar mengelilingi dirinya dan juga Qyen. Bahkan saat ini, Albra bisa merasakan lengannya digenggam sangat kuat oleh Qyen yang sepertinya sangat ketakutan. Albra tidak habis pikir ayahnya bertindak sejauh ini.


Albra menatap datar kearah Brian yang sudah memberikan layar ponselnya kepada Albra, di mana sekilas ia bisa melihat jika di ponsel itu terlihat wajah ayahnya yang sedang tersenyum lebar. Ya, Brian melaporkan semua kejadian yang ada di sini melalui video call kepada Frans. Tak lama, Brian mematikan ponselnya dan kembali berbicara kepada Albra.


“Sepertinya Tuan pun harus ikut bersama kami dengan wanita muda ini,” katanya dengan tatapan tajam yang melihat kearah Qyen. Albra yang tidak ingin Qyen merasa semakin ketakutan, ia pun menarik lengan Qyen agar berdiam dibalik belakang tubuhnya.


“Saya akan pergi ke rumah Papa sekarang. Tapi, tidak dengan wanita ini,” jawabnya dengan pasti.


Brian memerintahkan sesuatu kepada bawahannya, dan sekitar 5 orang anak buah itu mendekat maju ke arah Qyen. Albra yang sudah tahu situasi seperti ini akan terjadi, ia pun bertindak dengan cara menendang kaki setiap orang yang datang mendekat kearahnya dan juga Qyen.


Qyen yang melihat situasi yang sepertinya semakin kacau ini, tak sadar ia pun menangis karena ketakutan. Suara tangisnya cukup kencang sehingga menyadarkan semua orang yang ada di sana.


“Brian!” teriak Albra cukup keras. Ini bukan pertama kalinya Albra berteriak kepada Brian, tangan kanan ayahnya itu. Albra selalu saja memiliki masalah yang cukup serius dengan Brian karena ia selalu menentang semua hal yang ingin ayahnya lakukan kepada dirinya.


“Saya sudah katakan jika saya akan menghadapi Papa!” tengasnya sekali lagi. Ia berbicara diantara suara tangisan Qyen yang sangat pilu.


“Kamu tidak lihat orang ini ketakutan?” Albra melirik sekilas kearah Qyen yang ada di belakangnya.


Brian tersenyum kecil kearah Albra, bagaimanapun Albra  masih menjadi tuannya. Ia memerintahkan sesuatu kepada bawahannya melalui kode ditangannya, dan semua pun mundur kembali ketempat asalnya.


“Saya hanya perlu membawa wanita muda ini kehadapan Tuan besar, dan semua urusan akan selesai. Tapi anda, Tuan … selalu menghalangi jalan saya,” jawab Brian dengan santai.


Albra menghela napasnya dengan pasrah. Jika ia kabur dari sini, ia tidak yakin apakah masalahnya akan selesai, apalagi ditambah Brian membawa anak buahnya yang cukup banyak. Namun jika membiarkan Qyen menghadap ayahnya saat ini, ia pun tidak bisa menjamin jika Qyen akan baik-baik saja.


“Sa—saya tidak tahu kenapa ini terjadi … hiks … saya … merasa tidak memiliki masalah dengan siapapun … hiks ….”


Qyen memberanikan berbicara ditengah tangisannya yang cukup kencang itu. Hati Albra sedikit bergetar melihat tangisan Qyen yang terdengar sangar pilu, ia pun akhirnya menyerah, dan hanya ada satu cara yang bisa ia lakukan saat ini.


“Kembali ketempat, biar saya yang bawa wanita ini pergi kehadapan Papa,” kata Albra dengan suara tegasnya.


“Tidak bisa, tugas kami yang membawa wanita ini, Tuan. Juga anda bisa ikut dengan kami.”


Albra menatap tajam kearah Brian dan hampir ingin melayangkan tinjunya kewajah laki-laki yang sudah berumur itu. Semua anak buah Brian sudah berjaga, namun Brian memberi kode untuk tidak mencampuri urusannya. Albra yang hendak melayangkan tinjunya pun tidak jadi, ia hanya mencengkram kuat baju kameja Brian, dengan napas yang memburu.


“Saya tidak akan mengucapkan perintah saya untuk kedua kalinya,” kata Albra yang sudah tidak peduli dengan ancaman Brian.


Brian menunduk patuh kepada Albra, memberikan hormat dan pergi begitu saja dari sana, bersama dengan anak buahnya.


Memastikan Brian pergi dari hadapan mereka, Albra kini memperhatikan Qyen yang masih berlarut dalam tangisnya. Albra yang tidak tahu harus berbuat apa, ia pun mengusap wajahnya dengan cepat. Ini adalah situasi yang sangat membingungkan di dalam hidupnya, ia tidak tahu bagaimana caranya menenangkan seorang perempuan ketika sedang menangis.


“Are you okay?” hanya kalimat itu yang mampu keluar dari mulut Albra saat ini.


Qyen menggelengkan kepalanya. Tentu saja ia tidak baik-baik saja saat ini. Di saat hatinya belum pulih karena terkejut dengan perbuatan Fin tadi, dan saat ini tiba-tiba saja ada orang yang hendak membawanya pergi tanpa kejelasan. Sungguh, ini adalah hari yang sangat Qyen takuti sepanjang hidupnya.


“Hiks … hiks … aku harus gimana … Pak Albra … hiks ….”


Albra menatap datar kearah Qyen, mungkin ini baru pertama kalinya Albra mendengar Qyen memanggil namanya.


“Tenangkan dulu diri kamu. Jika sudah tenang kita pergi,” ucap Albra dengan hati-hati.


Qyen terdiam, dengan mata sembabnya, ia pun menatap Albra. “Pergi? Pergi kemana?”


“Hua … hiks … hiks ….”


Suara tangisnya semakin kencang saat ini. Pikiran Qyen sudah kalap, ia tidak tahu harus bagaimana, dan berbuat apa jika situasi sedang seperti ini.


“Loh … why are you crying?”


Albra yang merasa jika situasi ini tidak akan benar, ia pun lebih baik mengajak Qyen masuk ke dalam rumahnya, dengan cara menyuruh Qyen masuk dengan isyarat ucapannya.


“Masuk,” kata Albra yang berjalan terlebih dahulu.


Sambil menangis tersedu-sedu, Qyen pun masuk ke dalam tokonya, dan berjalan turun menuju lantai bawah dimana kamarnya berada, Albra pun kini mengikuti kemana perginya Qyen. Setelah sampai di ruangan yang cukup luas, akhirnya Albra tahu di mana tempat tinggal Qyen, dan di mana Alan berteduh di saat badai kemarin.


Sebuah ruangan yang sedikit lebih kecil dari kamarnya, ruangan yang juga di dalamnya terdapat toilet, dapur dan sebuah kamar tidur yang di tata dengan sangat rapi, cantik, dan hangat.


Untuk menenangkan dirinya Qyen mengambil air mineral sendiri di dalam 2 gelas tinggi dan memberikannya satu kepada Albra dengan suara tangisannya yang belum hilang. Albra dengan ragu menerima gelas tersebut, dan tanpa berbicara satu patah katapun, Qyen duduk di sebuah sofa yang menghadap ke kamarnya, lalu meminum air yang sudah ia siapkan sendiri.


Albra yang tidak tahu harus berbuat apa, ia pun hanya bisa berdiri sambil memperhatikan Qyen yang sedang minum air mineralnya.


Qyen yang merasa diperhatikan, ia pun melihat kearah Albra yang kini berpura-pura meminum air mineralnya juga.


“Duduk sini, Pak. Aku gak nawarin ke dua kalinya,” kata Qyen yang mengikuti ucapan Albra tadi.


Albra mengangguk, lalu duduk di sebelah Qyen sambil membuka jasnya, karena ia merasa sesak. Selain membuka jasnya, ia pun membuka dua kancing kameja bagian atasnya, entah mengapa tiba-tiba saja suasana di sini berubah menjadi sangat panas.


“Hih, kamu ngapain, Pak?” tanya Qyen dengan was-was.


“Saya kepanasan,” jawabnya singkat.


Setelah itu, suasana di antara mereka pun menjadi hening dan cukup canggung. Qyen sudah tidak menangis lagi, dan kini hanya bisa melamun, sedangkan Albra ia pun ikut diam dan sesekali melirik kearah Qyen dengan tatapan yang cukup datar.


“Kenapa kamu gak pulang?” tanya Qyen tiba-tiba.


“Urusan saya belum selesai,” jawab Albra dengan santai.


Qyen mengerutkan keningnya, lalu melihat kearah wajah Albra, mata mereka bertemu dan wajah mereka sangat dekat saat ini, karena sofa yang mereka duduki cukup kecil untuk dipakai berdua. Suasana canggung pun semakin menyelimuti kedua orang tersebut.


“Saya harus membawa kamu, baru urusan akan selesai,” ucap Albra untuk menjawab pertanyaan dari Qyen.


“Membawa? Bawa aku kemana, Pak? Perasaan aku tidak membuat kesalahan apapun, dan bagaimana ayah kamu bisa tahu tentang aku? Apakah ada yang salah tentang Alan kemarin?” tanya Qyen dengan menggebu-gebu.


Albra menggeleng, ia pun merasa kasihan kepada Qyen karena tidak tahu apa-apa di sini. “Kamu akan tahu nanti.”


Qyen menghela napasnya, mata sembabnya masih ada, bahkan ia saat ini tersadar belum melepas celemeknya, juga rambutnya yang tidak beraturan. Ketika sadar, ia pun langusung berdiri, dan merapihkan rambutnya dengan cepat.


“Sebentar,” katanya dan masuk ke dalam kamar, lalu menutup pintu dengan kencang.


Albra yang merasa jika tingkah Qyen itu sangat lucu, ia pun tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya. Bagaimana bisa hari-harinya belakangan ini harus berurusan dengan seorang wanita seperti Qyen.