ALBRA

ALBRA
25. Waktu 20 Menit



‘Tuk … tuk … tuk’


Suara sepatu yang nyaring terdengar disekitar Alan yang kini sedang duduk dikursinya sambil memegang mainannya. Saat ini jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, Alan masih berada disekolahnya karena supir yang bertugas menjemput, belum juga menjemputnya sampai saat ini.


Alan, anak kecil berumur 4 tahun itu sedikit waspada ketika suara seseorang yang berlari semakin dekat kearahnya. Keadaan disekolah saat ini sangat sepi, hanya ada dirinya seorang, yang belum pulang kerumahnya sejak sekolahnya dibubarkan satu jam yang lalu.


“Suara apa itu? Ada yang berlari tapi tidak ada orang,” ucap anak kecil itu sambil melihat kesekitarnya.


“Papa selalu saja begini,” kesalnya lagi.


Melihat kelasnya yang sangat-sangat kosong dan tidak ada orang, juga Alan yang merasakan suasana disini sangat tidak mengenakan, ia pun memilih untuk pergi keluar dari kelasnya.


“Hiks … Papa ….”


Ketika ia berjalan dilorong kelasnya, tiba-tiba saja Alan menangis karena merasakan aura yang sangat-sangat berbeda disini, Alan pun berpikir kemana perginya guru-guru yang biasa mendampingi dirinya.


“Papa … Papa kemana ….”


Alan terus berlari sampai didepan gerbang, untung saja disana ada satu orang satpam wanita yang sedang berjaga.


“Hai, Alan kamu belum pulang? Bagaimana bisa kamu masih ada disini?” tanya satpam itu sambil menghampiri Alan.


“Hiks … hiks … ada suara aneh didalam kelas … sangat menakutkan ….”


Satpam yang merasa bersalah karena tidak mengecek seluruh kelas setengah jam yang lalu, ia pun menggandeng tangan Albra untuk duduk dikursi tunggu. “Kamu tunggu disini, biar Ibu yang telpon supir kamu ya?”


Alan mengusap air matanya, dan mengangguk. Ia tidak bisa berbicara apa-apa lagi karena rasa syoknya.


“Alan, kamu membawa ponsel?”


Alan menggelengkan kepalanya.


“Guru pendamping kamu siapa?”


“Miss Nila,” jawab Alan dengan suara serak sehabis nangis.


“Miss Nila? Hari ini tidak masuk karena cuti persalinan, pantas saja kamu seperti ini. Sebentar ya … kamu tenang ada Ibu disini.”


“Hiks … Papa …” Alan kembali menangis karena ia sangat ketakutan disini. Walaupun ketika berbicara Alan sangat dewasa, namun bagaimanapun Alan hanyalah seorang anak kecil yang umurnya masih dibawah lima tahun.


“Papa ….”


“Hey, Papa disini, tidak perlu menangis.”


Alan yang mendengar suara Papanya secara tiba-tiba, ia pun membuka matanya dan langsung menghambur kepelukan Albra saat itu juga.


“It’s okay … Don’t cry … I’m here, baby ….”


Albra terus mengucapkan kata-kata manisnya untuk menenangkan Alan yang sepertinya sangat ketakutan disini. Ia pun merasa bersalah karena tidak menjemput Alan diwaktu yang tepat.


“Tuan, maaf atas ketidaknyamanan anda disini. Saya tidak tahu jika Alan masih ada disekolah, guru pendamping Alan sedang cuti, atas nama sekolah saya mohon maaf.”


Albra mengangguk. “Untuk kedepannya tolong diperhatikan lagi.”


“Baik, Tuan ….”


Albra menggendong Alan dan membawanya masuk kedalam mobil. “Pa—papa, aku tidak ingin duduk dibelakang, hiks … aku ingin duduk disebelah Papa,” ucapnya masih dalam keadaan menangis.


Albra tersenyum. “Kamu ingin duduk didepan? Tapi harus pakai sabuk pengaman, okay?”


Alan mengangguk dengan lucunya.


Selesai, mobil pun melaju untuk membawa mereka pulang. Ditengah perjalanan, Albra yang masih belum tahu penyebab Alan menangis pun bertanya. “Kamu kenapa menangis? Ada hal yang menakutkan?” tanya Albra.


Albra tahu, Alan tidak akan menangis karena hal yang sepele. Alan akan menangis jika itu hal yang menakutkan, dan menyakitkan baginya.


“Kamu jatuh?” tanya Albra kembali.


“Bukan, Pa … aku mendengar suara-suara aneh disekolahku, tadi. Ada suara sepatu,” jawabnya.


Menggunakan tangan kirinya, Albra mengusap air matanya yang terus terjatuh dipipi gembul Alan. “It’s okay, Alan. Papa disini, sudah tidak perlu menangis lagi.”


“Ya, Papa ...” ucapnya sangat dewasa.


Alan menggelengkan kepalanya. “Hem … sepertinya, Pa ….”


“Lupakan semuanya, sekarang kamu mau Papa belikan apa?”


Alan langsung menghapus semua air matanya, Albra yang melihat itupun terkekeh pelan. “Pa, can I have some chocolate?”


“Chocolate? More?”


“Boleh lagi?”


Albra mengangguk sambil mengusap rambut Alan yang terpotong mengikuti bentuk wajahnya yang sedikit bulat. “Tentu saja, hanya coklat? Papa bisa membelikan kamu dengan kebunnya.”


“Tapi aku gak mau kebun coklat. Aku mau … hem Qyen?”


Albra yang terkejut sontak mengerem mobilnya dengan cepat. “Papa!” teriak Alan karena terkejut, untung saja dibelakang tidak ada kendaraan lain lagi.


“Sorry, Papa tidak fokus.”


“Pa, sepertinya itu Qyen!” Alan menghiraukan ucapan Albra dan kini matanya hanya terfokus kepada seorang wanita muda yang tengah duduk dikursi taman sambil bermain ponselnya.


“Kamu masih ingat dengan Qyen?” tanya Albra yang kembali melajukan mobilnya.


Alan masih melihat keberadaan Qyen sampai-sampai tak beralih dari kaca mobil. “Tentu saja, Pa. Pa, bolehkah aku bermain dengan Qyen sebentar?”


Albra mengerutkan dahinya, terhitung sudah satu bulan lebih dirinya tidak berurusan dengan Qyen. Satu bulan itu juga, Albra sedikit merasakan kekosongan dihatinya dan hidupnya terasa semakin hampa, entah itu perasaan apa, karena dia belum pernah merasakan perasaan ini sebelumnya.


“Papa please … hanya dua puluh menit saja, ya?”


“Kita pergi ke supermarket untuk membeli coklat?”


“No, aku sudah tidak ingin coklat, aku ingin bermain dengan Qyen.”


Albra yang tidak ingin anaknya semakin kecewa hari ini, mungkin tidak ada salahnya untuk Albra membiarkan Alan bermain dengan Qyen selama 20 menit kedepan.


“Oke, Papa izinkan tapi hanya sebentar, karena kita harus pulang kerumah.”


“Yeay! I love you, Papa.”


“I love you too, baby …” Albra tersenyum senang karena Alan tidak lagi menangis dan murung seperti tadi.


Albra memutar arah mobilnya, memutari taman yang cukup luas ini sebelum akhirnya ia menghentikan mobilnya diarea parkiran.


Setelah mobil berhenti, Alan yang tidak ingin menyia-nyiakan 20 menitnya itu, ia pun dengan cepat berlari kearah wanita muda yang memakai kaus pendek berwarna hijau dan celana hitam.


“Qyen!!!!” teriak Alan sambil berlari, suara Alan yang cukup nyaring itu mengundang beberapa pasang mata kearahnya.


Qyen yang tengah menikmati ice creamnya terkejut ketika mendengar suara Alan yang memanggil namanya. Ia pun langsung berdiri dan membiarkan Alan memeluk kakinya.


“Alan …” sapa Qyen yang tidak bisa berbicara apa-apa.


“Miss you, Qyen … katanya kamu akan bermain denganku, tapi kamu menghilang lama sekali,” kata Alan dengan nada murungnya.


Qyen mendengar ucapan Alan, namun ia melihat terlebih dahulu tempat yang ada disekitarnya, ia ingin memastikan jika ada seorang dewasa yang mengantar Alan sampai disini.


“Maaf aku tidak memenuhi janji aku. Kamu apa kabar?” ucap Qyen yang kini kembali menanyakan kabar Alan.


“Aku baik, dan aku sangat ingin bermain dengan kamu. Tapi aku sudah berjanji hanya akan bermain dengan kamu selama dua puluh menit,” ucapnya tampak lesu.


Qyen mengusap rambut Alan dengan gemas. “Bagaimana kamu tau aku ada disini? Kamu masih ingat dengan aku?”


“Pastinya aku ingat dengan wajah kamu yang berbeda dari orang lain, bahkan badanmu lebih pendek dari orang dewasa, bagaimana aku bisa lupa.”


Ya, Qyen percaya jika anak kecil ini adalah Alan. Kalimat pedas yang dikeluarkan Alan dengan mulut polosnya belum berubah semenjak satu bulan yang lalu.


“Aku tidak pendek, Alan, hanya saja memang aku seperti ini.”


“Hem … kamu tetap kecil dibanding kakak dari teman aku yang sudah lulus sekolah.”


Qyen hanya bisa tertawa menanggapi ucapan Alan yang sangat menggemaskan itu. Dari kejauhan, Albra yang menyusul Alan sambil membawa botol, langkahnya pun terhenti ketika melihat dan mendengar percakapan Alan dan Qyen yang sangat asyik itu. Bahkan saat ini Albra bisa merasakan, ruang hampa didalam hatinya perlahan kembali terisi.