
“Selamat pagi, Tuan.”
“Selamat pagi, Tuan. “
“Selamat pagi, Tuan muda.”
Di sepanjang jalan menuju ruangan ayahnya, Alan hanya bisa mengangguk-anggukan kepalanya disaat hampir semua karyawan menyapanya. Alan tidak terbiasa menjawab sapaan mereka, seperti biasa ia hanya bisa mengangguk, atau melewati mereka begitu saja. Hal itu ia tiru dari kebiasaan Albra. Seperti kemarin-kemarin, Alan masih harus tetap ikut bekerja bersama Albra di dalam kantor. Albra tidak bisa meninggalkan Alan sendirian di apartemen ataupun rumah Frans. Ia masih trauma dengan kejadian penculikan kemarin.
Sesampainya di dalam ruangan Albra, Alan berjalan dengan cepat dengan ekspresi yang sangat murung, ia merasa kesal karena bosan harus terus ikut bekerja dengan ayahnya.
“Kamu marah dengan Papa?” tanya Albra sambil membuka jasnya dan menggantungkannya di sebelah meja kerjanya.
Alan masih melipat tangannya, ia duduk di atas sofa dengan wajah yang ditekuk. “No.”
“Lalu? Kenapa wajah kamu terlihat sedang marah?” tanya Albra yang masih bertanya dengan lembut.
“Tidak, aku tidak marah,” jawabnya.
“Kamu ingin pulang ke rumah Grapa?” tanya Albra untuk memastikan apa yang menjadi keinginan Alan.
“Tidak. Dari pada aku pulang ke rumah Grapa, lebih baik aku diam di sini selama seratus hari,” katanya sambil memalingkan wajahnya.
“Lalu kamu mau apa? Jangan sampai buat Papa marah, Papa tidak tahu apa kemauan kamu kalau kamu tidak bilang.” Albra berbicara dengan nada yang cukup tinggi. Pagi-pagi seperti ini, ia merasakan tenaga emosinya terkuras habis dengan sikap Alan yang harus ia mengerti.
Alan terdiam sambil melipat bibirnya, jantungnya berdetak sangat kencang, tidak biasanya papanya mengeluarkan nada bicara tinggi kepada Alan. “Sorry, Pa,” gumamnya pelan dan mengeluarkan mainannya dari dalam tas kecil yang ia bawa.
Alan sudah terbiasa bermain sendiri, di dalam pikirannya kini bekerja, jika ia terus menganggu papanya, mungkin papanya akan sangat marah kepada dirinya. Lebih baik Alan main saja dengan mainan yang sudah ia bawa.
Albra yang melihat Alan bermain mobil tanpa gairah yang ada, ia pun mengusap rambutnya dengan cepat. Ia merasa stress dan tertekan jika harus terus mengasuh anaknya seperti ini. Lagi-lagi Albra merasa gagal karena tidak bisa mengontol emosinya di depan Alan.
Ia membuang napasnya dengan pelan. Alan tidak bersalah, seharusnya ia tidak bersikap seperti ini kepada Alan.
Tanpa mengeluarkan satu patah kata pun, Albra menyalakan komputernya, hendak duduk di atas kursinya, pikirannya masih merasa belum nyaman dengan ucapannya tadi kepada Alan.
“Lalu harus bagaimana?” gumam Albra kepada dirinya sendiri.
Ia pun kembali berdiri dengan tegak. Tidak seharusnya di pagi hari seperti ini ia mengeluarkan suara tinggi kepada anaknya. Albra berjalan dengan pelan menuju sofa dimana Alan berada, ia pun duduk dihadapan anaknya itu.
“Alan?” panggil Albra dengan kelembutan yang tersisa dihatinya.
Alan yang tidak berani melihat kearah wajah papanya, ia pun hanya menunduk saja. “Ya, Pa.”
“Sorry, Papa tidak bermaksud untuk membentak kamu,” ucap Albra kepada anaknya.
Alan mengangguk. “Tidak apa-apa.”
“Jika ingin sesuatu, kamu hanya perlu bilang kepada Papa. Papa tidak bisa jika harus menebak isi pikiran kamu,” ucap Albra sambil memegang bahu anaknya yang sekarang menurun.
“Kamu apakan cucuku?”
Alan yang mendengar suara itu langsung melihat kearah sumber suara, berbeda dengan Albra yang ekspresi wajahnya sudah tidak bisa dikendalikan.
“Kenapa wajahmu murung, Alan? Grapa bilang kamu harus pulang ke rumah beberapa hari yang lalu, tapi kamu tidak pulang. Kamu sudah lupa dengan Grapa?” tanya Frans yang datang bersama Ian dibelakangnya.
Albra kini berdiri disamping Alan, dan memegang dengan erat tangan anaknya itu.
Frans yang melihat Albra sedikit berbeda, ia pun mengangkat alisnya dan tersenyum dengan misterius. Ian yang merasakan atmosfer disekitarnya berubah, ia pun mencari cara untuk mencairkan kondisi yang ada.
“Pah. Kita ada meeting sebentar lagi, ada Alan juga. Suasana di sini sangat tegang,” kata Ian dengan sedikit ketakutan di dalam hatinya.
“Setelah tidak pualng ke rumah beberapa hari, ternyata sudah berani bermain wanita di belakang saya,” ucap Frans dengan senyuman misteriusnya.
“Tidak. Papa tidak bermain wanita, seperti yang Grapa katakan tadi. Bagaimana Grapa bisa tahu? Tidak baik menguntit orang lain,” ucap Alan yang kini menjadi juru bicara Albra.
Ian yang merasa suasana di sini semakin tidak baik, ia pun memberi kode kepada Alan untuk menutup mulutnya dan cukup diam saja.
“Benar seperti itu, Alan?” tanya Frans untuk memastikan.
Lagi dan lagi, Frans hanya bisa mengeluarkan senyum misteriusnya, sambil mengulurkan tangannya kearah Ian, untuk meminta sesuatu dari anak keduanya itu. Dengan berat hati, Ian pun memberikan sebuah tab kepada Frans, ayahnya.
Frans memperlihatkan layar tab itu kepada Albra dan Alan. “Siapa wanita ini? Wanita yang sama, yang selalu kamu temui akhir-akhir ini. Bukannya ini wanita yang menyelamatkan Alan? Atau jangan-jangan wanita ini yang memang menculik Alan, dan mencoba untuk memanfaatkan kekayaan kita?”
“Stop, Pa! Semua yang dikatakan Papa itu tidak benar,” ucap Albra yang merasa muak melihat Frans terus saja membesar-besarkan masalah yang ada.
“Dia temanku, Grapa. Dia baik, dia tidak jahat.” Alan ikut menjawab disaat melihat foto yang ditunjukkan oleh kakeknya itu.
“Alan, syut …” ucap Ian yang kembali memberi kode kepada Alan untuk bisa menutup mulutnya.
“Grapa sedang berbicara dengan Papamu. Bisa kamu diam terlebih dahulu?” kata Frans dengan wajah datranya.
Albra yang merasakan situasi di sini semakin panas, ia pun melepaskan tangan Alan dan memberikan Alan kepada Ian, agar Ian bisa membawa anaknya itu keluar dari sini. Menurutnya, tidak baik jika anak kecil seperti Alan melihat pertengkaran orang dewasa. Albra rasa ini akan menjadi sebuah pertengkaran hebat.
“Papa bisa menahan emosi jika ada Alan? Umurnya masih kecil Pa, dia gak pantes buat liat hal-hal dewasa seperti ini,” ucap Albra yang sudah memastikan jika Alan keluar dari ruangannya.
“Papa tidak peduli. Dia hanya perlu belajar bagaimana menjadi dewasa.”
“Ya, Papa tidak perlu peduli. Tapi kami, Pa. Saya dan Ian, tidak meminta dilahirkan dari darah Papa dan hidup seperti ini!” ucapnya penuh dengan penekanan.
“Kurang ajar kamu!” teriak Frans sambil melemparkan tablet yang sedang ia pegang ke arah tembok yang ada di samping Albra.
“Tidak biasanya kamu seperti ini! Semenjak akhir-akhir ini, ketika kejadian Alan yang hilang, kamu menjadi orang pembangkang, Albra!”
“Saya sudah dewasa. Saya sudah berumur, saya bukan anak-anak lagi. Saya berhak menentukan hidup dan mati saya.”
“Gara-gara wanita itu? Kamu berani bersikap seperti ini kepada saya!”
Frans merasa geram dan hampir saja menampar wajah Albra, namun Ian datang dan menahan tangan papanya yang hampir menampar wajah kaka tirinya itu.
“Stop, Pa! Albra gak tau apa-apa, dan dia gak salah apa-apa. Harusnya Papa buka mata dan tahu keadaan apa sebenarnya yang terjadi,” ucap Ian dengan napas yang memburu juga.
‘PAK!’
Satu tamparan sangat keras mendapat di wajah Ian, sampai badannya terhuyung kesamping.
“Papa!” teriak Albra dan membantu Ian untuk berdiri.
“Tau apa kamu anak kecil?” tanya Frans sambil memegang kerah baju Ian. “Hidup di dunia ini, kamu hanya perlu belajar dan menaklukan semuanya. Kamu hanya perlu menjadi tinggi. Mengerti!”
Tidak habis pikir dengan kelakuan papanya yang sudah diluar batas, Albra pun mencoba untuk menjauhkan papanya dari Ian.
“Stop, Pa! Stop! Tampar saya! Bukan Ian yang salah tapi saya!”
Albra berteriak sangat kencang dihadapan papanya yang sudah diam tanpa ekspresi.
“Jika kamu bersikap seperti ini, hanya ada dua pilihan, saya yang menghancurkan wanita itu, atau kamu sendiri yang menghancurkannya.”
Setelah selelai berbicara seperti itu, Frans keluar dari ruangan Albra dengan berjalan cepat. Dari kejauhan, Albra bisa melihat jika Alan menangis di dalam gendongan bodyguard papanya.
“Pa!” teriak Albra untuk bisa berlari mengejar anaknya, tidak peduli banyak sekali karyawan yang sedang memperhatikan mereka dengan ekspresi takutnya maisng-masing. Kini Albra hanya ingin anaknya kembali kedalam pelukannya.
“Papa … Papa …” tangis Alan terdengar di telinga Albra sebelum pintu lift tertutup dan membawa Alan pergi dari sini.
Albra yang tidak memiliki pilihan lain selain berlari melalui tangga darurat, tak disnagka ada dua bodyguard yang menahan dirinya.
“Lepas! Lepas!” teriak Albra.
“Alan sebagai jaminannya, kalau bukan kamu sendiri yang menghancurkan wanita itu.”
Suara Frans terdengar di balik pintu lift yang ada disebelahnya.
Mendengar itu, pikiran Albra sudah kalap, yang ingin ia lakukan hanyalah menghabisi ayahnya itu. Belum sampai ia pergi masuk ke dalam lift di mana papanya berada, pintu lift itu sudah tertutup dan Albra yang kesal pun menonjok lift itu dengan sangat kencang berkali-kali sambil berteriak.
Semua karyawan yang melihat itu pura-pura tidak tahu dan melakukan kegiatan mereka masing-masing. Menurut mereka terlalu seram melihat amarah Albra yang sangat luar biasa itu.