ALBRA

ALBRA
79. Kelurga Qyen



Hari-hari berjalan dengan semestinya. Antusias keluarga Max untuk menyambut kedatangan keluarga baru sangat terlihat ketika mereka selalu menjaga keberadaan Qyen dan juga kebutuhan calon ibu muda itu.


Tak hanya itu saja, setiap harinya mereka juga selalu menjalani hari yang indah dan damai tentunya. Tidak ada lagi ‘kekerasan’ yang mengusik kehidupan mereka. Apalagi dengan sikap istimewa Frans yang ia sembunyikan selama ini, kini sudah dia tunjukan dihadapan keluarga besarnya.


Hari ini adalah hari jumat, Qyen dan Albra kedatangan dokter Alsa ke kediaman mereka untuk memeriksa keadaan bayi yang ada di dalam perut Qyen.


Dokter Alsa diperintahkan khusus oleh Frans untuk menjaga Qyen dan juga bayinya. Dokter yang terbilang cukup muda itu, tentu saja merasa terhormat karena bisa melayani keluarga yang sangat terpandang di kotanya.


“Dokter, apa nanti aku harus tinggal di dekat rumah sakit?” tanya Qyen yang kini sedang mengobrol dengan dokter Alsa sambil meminum teh.


Dokter Alsa mengangguk. “Tentu saja, Nyonya. Kami juga sudah menyiapkan alat bantu persalinan di rumah ini. Jika nanti anda tidak kuat untuk pergi ke rumah sakit, kami siap datang.”


Jangan tanya bagaimana perasaan Qyen kali ini, tentu saja ia merasa gugup, khawatir sekaligus bahagia.


“Kak …” bisik Qyen untuk meminta persetujuan kepada Albra yang duduk disebelahnya. Hari persalinannya tinggal mengitung hari, ia harus siap siaga dengan keadaannya.


“Iya, saya sudah menyiapkan apartemen di dekat rumah sakit. Lusa kita bisa pindah sementara di sana.”


“Nyonya, anda benar ingin bersalin secara normal? Saya memberi usulan untuk di operasi Caesar saja karena kondisi anda yang cukup rentan dan jalan lahir bayi yang cukup sempit.”


Qyen juga mengkhawatirkan tentang hal ini. Sebenarnya ia sudah mengetahui masalah kehamilannya satu bulan yang lalu. Namun karena tekadnya yang besar untuk melahirkan secara normal, ia pun melakukan segala cara untuk bisa melahirkan secara normal.


“Saya sudah meminta Qyen untuk mengambil tindak operasi saja, namun Qyen tetap mau melakukan persalinan normal.”


Dorkter Alsa tersenyum, tentu saja ia mengerti mengapa Qyen memilih melahirkan secara normal. “Baiklah, saya akan membantu anda, Nyonya dan Tuan. Jangan lupa untuk terus berolahraga ringan dan meminum vitamin yang sudah saya beri. Saya akan kembali bertemu dengan anda lusa di rumah sakit.”


Setelah dokter berpamitan, Qyen dan Albra kini sedang duduk di ruang tamu dan menikmati buah-buahan segar yang sudah di siapkan oleh Qyen.


“Sayang.” Albra tersenyum membenarkan anak rambut Qyen yang berjatuhan. Ia bisa melihat wajah lelah Qyen yang masih menampakan senyum manis di sana.


Seperti biasa, jika Albra berada di rumah, Qyen selalu ingin bersandar di dada Albra, karena itu ia bisa mengurangi rasa pegal di punggungnya.


“Kenapa, Kak?”


“Wajah kamu pucat, kamu beneran akan melahirkan secara normal? Saya tidak ingin membuat kamu kesakitan. Dokter sudah memberi peringatan kepada kita.”


Qyen terdiam sebentar. Albra sudah membahas hal ini sejak lama, namun tekadnya masih sama, Qyen hanya ingin melahirkan secara normal.


“Aku tidak apa-apa, Kak. Wajahku pucat mungkin karena tidak memakai riasan.” Qyen tidak lupa terkekeh untuk menunjukan jika dirinya baik-baik saja.


Albra mengusap perut Qyen dengan lembut, hidupnya yang berjalan sangat cepat sampai ia tidak menyangka jika ia dan Qyen akan menjalani kehidupan sebagai keluarga kecil yang bahagia seperti ini.


“Terimakasih sudah membiarkan dia tumbuh dengan sehat didalam nyawa kamu,” ucap Albra sambil tersenyum tulus.


“Terimakasih, sayang. Sudah memilih untuk mempertahankannya. Padahal saya tahu posisi kamu kemarin pasti sangat menyulitkan untuk kamu.”


Qyen memegang lembut wajah Albra dengan tangan kanannya.”Ini pilihan hidup aku, Kak. Aku mempertahankannya karena aku percaya akan hidup bahagia. Bahkan jika kemarin aku tidak akan lagi bertemu dengan kamu pun, aku masih akan tetap mempertahankannya.”


“Mengapa saya baru bertemu dengan kamu sekarang? Mengapa tidak sejak dulu saya bertemu dengan kamu?”


Qyen terkekeh kecil. Ia masih belum terbiasa dengan sikap manis Albra yang membuat geli perutnya.


Cup


Sebuah kecupan mendarat di bibir Albra dengan lembut. Qyen yang hendak melepaskannya, tapi ditahan oleh Albra. Ciuman panas diantara mereka pun terjadi, bahkan suara kecupan yang saling menyahut itu terdengar di ruang keluarga yang sepi.


“Ampun dah. Gue cuma lewat doang ambil ayam goreng, kenapa harus liat adegan dewasa gini,” kesal Ian yang kembali berjalan menuju kamarnya.


“Heh,” Ian kembali membalikan tubuhnya menghadap kearah Albra dan Qyen yang sedang terdiam. “Kamar banyak, Lo ngapain eni-eni di sini sih. Ternodai sudah mata dan telinga Gue. Mana suaranya kenceng banget lagi!” kesalnya lagi dan kini benar-benar pergi.


Albra melemparkan bantal sofa dan tepat mengenai belakang kepala Ian, namun untung saja Ian tidak membalas perbuatan itu.


“Sayang, kamu kenapa?” tanya Albra yang kini melihat Qyen menundukan wajahnya dan wajah yang tadinya pucat kini berubah menjadi merah seperti kepiting rebut.


“Aku malu …” cicit Qyen sambil menenggelamkan wajahnya di bahu lebar Albra.


Mendengar itu, tentu saja Albra tergelak kecang. Dirasa sepertinya Albra akan awet muda dan berumur panjang karena menikah dengan anak kecil seperti Qyen yang membuat dirinya terus tertawa karena kelucuan dan kepolosannya.



“Tuan, panggilan video call Tuan besar sudah menunggu di bawah.” Kender datang ke dalam ruangan kerja Albra. Mulai hari ini ia akan bekerja di rumah dengan Albra, dan Meta yang menjaga kantornya.


“Alihkan saja ke sini.”


Kender mengangguk dan mulai memberikan laptopnya kehadapan Albra. Albra menerima panggilan Frans, dan sudah ada wajah Frans yang menunggunya di sana.


“Papa,” sapa Albra sambil tersenyum kecil.


Ia sudah menunggu panggilan Frans yang sedang ada di Barcelona untuk menghadiri acara lelang kalung yang sama seperti cincin yang dipakai Qyen. Semoga saja kali ini ia benar-benar bisa menemukan informasi mengenai keluarga Qyen.


“Papa baik-baik saja?”


Frans mengangguk. Albra bisa melihat jika Frans kini memakai kacamatanya dan mengambil ponselnya. Di sana pun ada Brian dan beberapa penjaga yang tengah duduk di sebuah sofa.


“Bagaimana dengan kamu dan keadaan rumah? Apakah baik-baik saja?”


“Tentu saja. Bagaimana, Pa? Bukannya di sana dini hari? Papa bisa mengabari saya esok hari.”


“Ada informasi yang harus kamu tahu secepatnya. Papa akan pulang setelah urusan di sini selesai. Seperti yang kamu tahu, Papa tidak bisa membeli kalung itu karena penawaran yang ditawarkan jauh berbeda dengan uang yang disiapkan.”


Albra mengetahui jika ia tidak bisa membeli kalung itu karena Frans tidak mengizinkannya. Bukan ia tidak mampu, hanya saja ini adalah taktik yang Frans mainkan.


“Lalu bagaimana, Pa?”


“Kalung itu dibeli oleh perusahaan yang sama, yang membeli cincin istrimu itu.”


“Jadi, orang yang sama yang membelinya?”


Frans mengangguk. “Dan perusahaan itu ternyata milik ….”


Albra terdiam mendengar dengan penasaran siapa yang membeli set cincin dan kalung dengan harga fantastis itu? Tapi mengapa Frans terdiam dan menggantung ucapannya?


“Milik siapa, Pa?”


“Milik Fany.”


“Fa—fany?” Dahi Albra mengerut mencoba mencari kamus nama yang ada di otaknya, siapa Fany yang Frans maksud.