ALBRA

ALBRA
7. Perdebatan Albra



Sore hari kembali menyapa, Albra merasakan jika hari ini waktu berjalan begitu lambat. Tidak seperti biasanya di saat jam seperti ini ia masih berada di kantor berkutik dengan dokumen-dokumen yang menantinya untuk di baca, namun sekarang berbeda, ia harus siap siaga menunggu anaknya yang tengah di rawat di rumah sakit seorang diri. Beginilah yang Albra lakukan setiap anaknya sakit, hanya dia yang bisa menunggu Alan, tanpa ada sosok wanita disampingnya, baik itu ibu dari Alan, ataupun seorang pengasuh.


Tidak ada hal lain yang membuat dirinya percaya untuk memberikan anaknya kepada wanita, siapapun itu. Sebab sejak dulu, Albra sudah diajarkan seperti ini oleh Papa-nya. Namun berbeda kali ini,  ada hal yang sedikit janggal, tentang dua hari hidupnya kemarin dan hari ini. Ya, tanpa Albra sadari ternyata hidupnya berurusan dengan seorang wanita, siapa lagi kalau bukan Qyen. Wanita yang menolong anaknya dan baru saja beberapa jam ia bertemu dengan Qyen, Albra merasakan ada hal aneh yang dirasakan oleh hatinya, sedikit rasa hangat yang ia rasakan dihatinya.


Berkecamuk dengan pikirannya yang sangat aneh, kini lamunan Albra terhenti karena ada tangan kecil yang menggenggam tangan kanannya.


“Pa …” panggil Alan dengan mata setengah terbuka.


Albra tersenyum kecil melihat Alan yang sudah terbangun dari tidurnya. “Iya, ada yang bisa Papa bantu?” tanya Albra dengan senyum ramah yang selalu ia keluarkan dihadapan anaknya.


Alan menggelengkan kepalanya, kini ia bisa membuka matanya dengan lebar, walaupun ada rasa sedikit pusing dikepalanya. “No, Pa … aku ingin bertanya,” kata Alan yang mengalihkan pembicaraan mereka.


Albra mengangguk. “Sure, mau tanya apa?”


“Qyen baik-baik sajakan?” tanyanya secara tiba-tiba.


Albra terdiam sebentar karena terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba dari Alan. Dengan sedikit ragu, Albra pun mengangguk untuk menjawab pertanyaan dari anaknya itu. “Ya, pasti baik-baik saja.”


“Pak polisi tidak memarahinya-kan?” tanyanya lagi.


“Tidak, Alan …” jawab Albra sambil mengusap kepala anaknya dengan lembut.


Albra bisa melihat jika Alan mengeluarkan napasnya dengan sangat lega. “Baiklah … aku tidak mau dia dipenjara, karena dia baik. Walaupun sedikit, banyak berbicara,” kata Alan yang berbicara mengecil diakhir kalimatnya.


Mendengar hal itu, Albra sedikit penasaran, ia ingin mengetahui lebih jauh bagaimana perlakuan Qyen menolong anaknya. Entah mengapa, Albra merasa penasaran saat ini.


“Banyak berbicara?” tanya Albra.


Alan mengangguk. “Ya, dia banyak sekali berbicara. Selalu bertanya seperti Ian. Kupingku malas mendengarnya.”


Albra sedikit tertawa, melihat anaknya yang lemas ia pun membantu Alan untuk meminum air putih, untuk kembali mengisi energinya yang hilang.


“Tapi dia tidak jahatkan?” tanya Albra yang masih ingin mendengar cerita Qyen dari mulut anaknya.


“Tidak, dia sangat baik. Dia memberiku makanan kesukaanku … memberiku makanan walaupun hanya dengan telur?”


Albra mengangguk. “Ya, kamu suka sekali dengan telur,” kata Albra membantu Alan berbicara.


“Lalu … dia tidak marah ketika aku pipis dikasurnya, dan ….”


“Sebentar … kamu pipis dikasurnya?” tanya Albra satu kali lagi untuk memastikan.


Dengan wajah lugunya, Alan pun mengangguk. “Iya, Pa. Aku tidak sengaja, dan aku tidak merasakan juga. Tiba-tiba celanaku basah dan kasur Qyen pun basah,” ucap anak kecil itu dengan sangat lancar.


Albra menghembuskan napasnya. “Yasudah tidak apa-apa. Lalu apa lagi?”


“Hem … banyak, aku kasihan waktu melihat dia takut ketika badanku panas.”


“Takut? Mungkin khawatir?”


Alan mengangguk. “Ya, mungkin dia khawatir.”


Mereka kembali mengobrol untuk waktu yang cukup lama. Topik yang mereka bahas hanyalah tentang Qyen. Walaupun Alan tidak tinggal lama di dalam rumah Qyen, bahkan tidak sampai 24 jam, namun banyak sekali hal yang Alan ceritakan kepada ayahnya, Albra. Sampai-sampai, mereka tak sadar semua perbincangan mereka didengar oleh Frans dan ia pun kini menjadi tahu siapa sosok wanita yang tengah diceritakan dengan bangga oleh cucu sematawayangnya itu.


“Grapa?” tanya Alan ketika melihat Frans yang datang bersama Ian di depan pintu. Grapa, panggilan Alan kepada kakeknya, Frans.


“Kamu baik-baik saja? Grapa bawa apa untuk kamu,” kata Frans kini menetralkan ekspresinya untuk berhadapan dengan cucunya, berbeda dengan Albra yang sangat terkejut melihat ayahnya yang tiba-tiba saja datang.


Alan kini asyik sendiri dengan mainan dinosaurus yang dibawakan oleh kakeknya, kini giliran Albra yang menghadap Frans untuk berbicara mengenai anaknya. Frans mengajak Albra untuk berbicara empat mata di balkon kamar rawat inap Alan, dan Ian ditugaskan untuk menemani Alan.


“Papa sudah tau tentang kejadian Alan kemarin,” kata Frans yang memulai obrolannya.


Albra mengangguk, ia memasukkan satu tangannya kedalam saku celana dan menatap malas kearah papanya. “Ya, lalu ada hal lain yang perlu dijelaskan?” tanya Albra mencoba untuk memenuhi tugasnya sebagai anak untuk hormat kepada orang tuanya.


“Alan diselamatkan oleh seorang wanita muda?”


“Tidak ada yang tahu Alan diselamakan oleh siapa. Papa tidak perlu membesar-besarkan hal seperti ini.”


“Kamu yang seharusnya tidak perlu membesar-besarkan hal seperti ini. Untuk apa kamu mengantarkan wanita itu pulang pergi ke kantor polisi, dan siapa yang membiarkan cucuku digendong oleh wanita lain?”


Albra menghembuskan napasnya dengan lelah. Frans selalu saja mengungkit hal seperti ini. Frans sangat overprotektif dengan anak atau cucunya mengenai hal apapun, apalagi dengan wanita. Hal ini yang menjadikan Albra sulit membuka hatinya kepada siapapun, karena Frans-lah dibalik dalang semua ini.


“Tidak, tidak boleh. Siapa yang membiarkan kamu ataupun cucuku hidup dengan seorang wanita? Langkahi dulu mayatku,” kata Frans yang kini langsung pergi dari sana.


Albra yang merasa kesal, ia pun menendang kursi yang ada dihadapannya. Lagi dan lagi, Frans selalu seperti ini. .


“Grapa marah, Ian?” tanya Alan kepada Ian yang mengajak dirinya bermain.


Ian mengangkat bahunya. “Mungkin. Kamu jangan meniru ya … kamu mau makan? Mau minum?”


“Syut … kamu tidak perlu banyak bicara. Qyen cocok, kamu tidak,” jawabnya yang membuat Ian terdiam dengan ucapan tajam anak kecil itu.


“Ya, aku diam,” kata Ian.


Frans datang menghampiri Alan, ia mengusap lembut rambut cucunya. “Grapa pergi dulu ya. Hari ini kamu pulang kerumah, tidak perlu pergi ke apartemen Papamu, oke?”


Alan terdiam. “Tidak tau Grapa. Aku tidak berselera pergi kemana-mana karena sepi,” katanya pelan.


“Lalu kamu mau pergi kemana?” tanya Frans dengan tenang.


Alan berpikir sebentar sambil memegang kepalanya. “Emm … sebenarnya aku tidak ingin pergi kemana-mana, tapi … boleh tidak aku membawa teman kerumah agar aku tidak kesepian?”


Frans menatap curiga kepada Alan, pasalnya ini baru pertama kali Alan meminta mengajak temannya kerumah. “Siapa temanmu? Diego? Cucunya teman Grapa?” tanya Frans.


Alan menggeleng. “Aku punya teman baru. Namanya Qyen, walaupun dia jauh lebih tua dari aku dan sangat banyak berbicara, tapi dia baik dan aku suka bermain dengan Qyen. Boleh?”


Ian melipat bibirnya setelah mendengar permintaan Alan, kini ia tidak berani menatap wajah ayahnya yang hampir meledak saat ini.


“Siapa Qyen?” tanya Frans mencoba untuk santai dihadapan Alan.


“Temanku, yang menolongku kemarin.”


“Ka—“


“Tidak usah dihiraukan. Alan sedang sakit, Papa pulang saja,” kata Albra yang sudah mendengar semunaya karena sejak tadi ia memperhatikan obrolan antara Frans dengan anaknya, Alan.


Frans menghembuskan napasnya, ia mengusap keringat dibalik kacamatanya dengan cepat. Ini hal yang ia tidak inginkan, berhubungan dengan wanita itu sangatlah merepotkan.


“Tidak perlu bermain dengan orang yang bernama Qyen itu. Kamu pulang saja, Grapa tunggu dirumah.” Setelah itu, tanpa mengatakan apapun lagi, Frans pergi dari sana di susul dengan Ian untuk mengantarkan Papa-nya menuju mobil.


Alan menatap sendu pintu kamar inapnya dimana kakeknya keluar denga wajah yang cukup marah. Ia masih bertanya-tanya mengapa kakeknya itu terlihat seperti marah setelah dirinya mengajukan permintaan.


“Aku salah berbicara?” tanya Alan kepada Albra.


Albra mengusap tangan Alan. “Tidak. Jangan pikirkan Grapa, mungkin dia sedang banyak perkerjaan. Mau makan?” tanya Albra mulai menyiapkan makanan Alan yang sudah dibawakan oleh chef-nya yang ada di rumah.


Alan menggelengkan kepalanya. Ia masih menatap sendu kearah pintu masuk, bahkan mainan dinosaurusnya itu, kini terlepas dari genggaman tangannya. “Aku tidak minta hal yang aneh kok, aku hanya meminta untuk main dengan temanku, Qyen. Tapi mengapa Grapa terlihat sangat marah? Padahal … Qyen baik,” katanya.


Albra yang merasa tidak tega ia menenangkan anaknya. Bahkan kini Albra sudah merayu Alan untuk makan makanan kesukaannya, namun tetap saja Alan tidak mau makan, dan memilih untuk kembali tidur, juga menutup seluruh tubuhnya menggunakan selimut berwarna biru.


Kini tidak ada lagi hal yang bisa Albra lakukan ketika anaknya merajuk seperti ini. Suster yang datang untuk mengecek Alan pun Albra tahan agar tidak mengganggu suasana hati Alan yang sedang butuh ketenangan.


“Papa di luar. Tenangkan terlebih dahulu diri kamu. Kalau sudah tenang panggil Papa dan nanti kita makan. Oke, Alan?”


Setelah mengatakan itu, Albra tidak mendapatkan respon yang baik dari Alan, ia pun kembali berbicara. “Semarah apapun kamu dengan orang lain, tidak baik hukumnya mengabaikan pertanyaan orang lain, dengar Alan?”


“Ya, Pa …” jawabnya dengan suara yang bergetar.


Melihat anaknya yang murung, Albra merasa dirinya gagal menjadi ayah, bahkan ia merasakan hatinya sedikit tersayat melihat anaknya yang harus selalu bisa hidup dengan mandiri. Tak ingin terus-terusan berlarut ke dalam suasana, ia pun keluar dari ruangan Alan, ia harus menenangkan sejenak pikirannya dengan menghirup udara segar.


Albra berjalan santai untuk bisa sampai mobilnya, ia pergi menuju mobilnya agar bisa menutup matanya sejenak agar pikiran-pikiran yang mengganggu otaknya hilang dengan cepat, namun ternyata tidak bisa, Ian datang dan memberikannya soft drink untuk menemani obrolan mereka.


“Tidak perlu diperbesar. Papa memang seperti itu,” kata Ian membuka suaranya.


Albra meneguk habis minumannya, ia pun mengangguk. “Cari tahu dimana alamat rumah Qyen, kirimkan kasur baru,” kata Albra tiba-tiba.


“Kasur baru? Untuk apa? Bukannya kemaarin Lo nganterin dia” tanya Ian yang bingung.


“Alan cerita, dia tidak sengaja pipis diatas kasurnya Qyen. Cari saja alamatnya dan kirimkan,” jawab Albra singkat.


Ian mengangguk dan sedikit tersenyum. Ia mengira jika Albra tertarik dengan Qyen, walaupun waktu bertemu mereka sebentar, Ian bisa percaya jika Qyen adalah wanita baik. Bahkan ia baru melihat Albra sepeduli ini dengan wanita yang baru ditemuinya beberapa jam lalu.