
“Milik siapa, Pa?”
“Milik Fany.”
“Fa—fany?” Dahi Albra mengerut mencoba mencari kamus nama yang ada diotaknya, siapa Fany yang Frans maksud.
“Fany mempunyai perusahaan batu bara, minyak, apartemen dan masih banyak lagi. Dulu dia sempat mengajak Papa untuk bekerja sama, tapi Papa menolaknya. Dan hari ini Papa tahu nama perusahaan yang membeli kalung itu, ternyata dia adalah Faway Group.”
Tiba-tiba saja Albra mematung dan terdiam. Ia kini tahu siapa Fany yang dimaksud oleh Frans. Fany adalah cinta pertama papanya yang belum sempat terjalin dulu, ia tahu semua cerita ini dari kakeknya yang sudah 8 tahun lebih meninggal dunia. Kini pikiran Albra tidak karuan, apakah dunia sesempit ini? Lalu, apa hubungannya Fany dan Qyen?
“Maksud Papa, Tante Fany?” Albra kembali bertanya untuk memastikan hal itu, sebab Frans belum pernah kembali bercerita tentang sahabat lamanya itu kepada Albra. Albra teringat jika Frans pernah bercerita tentang sahabatnya yang bernama Fany, sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar, dan ingatan itu masih melekat sampai saat ini.
Frans mengangguk, wajahnya terlihat datar dan sepertinya Frans menutupi rasa yang bercampur dihatinya. “Baiklah, terimakasih sudah membantu saya. Cukup sampai di sini saja, Pa. Sisanya biar saya yang urus. Sudah malam, lebih baik Papa istirahat.” Albra langsung mematikan panggilan video call itu secara sepihak.
Di dalam ruangan kerjanya ternyata sudah ada Ian yang menunggu bersama Kender, bahkan keduanya mendengar percakapan Albra sejak awal sampai akhir.
Albra belum tersadar dengan kedatangan Ian dan juga Kender, ia diam melamun menatap komputernya yang masih menyala. Apakah ia masih harus mengulik dan mencari tahu tentang keluarga Qyen, atau ia harus berhenti sampai di sini? Pasalnya, Albra masih terkejut mendengar siapa orang yang membali kalung itu. Fany bukan orang biasa, kekayaan Fany bahkan bisa mempengaruhi perekonomian dunia.
“Kayaknya ada masalah besar, Ken,” bisik Ian ditelinga kanan Kender.
“Ini tentang masalah keluarga nyonya Qyen,” balas Kender yang diangguki oleh Ian. Diam-diam, ternyata Ian sudah mengetahui semuanya.
“Ngapain di sini?” suara Albra kini terdengar di telinga Ian dan Kender.
“Tuan, saya masih harus melapor tentang pekerjaan,” jawab Kender.
Berbeda dengan Ian yang kini berjalan menghampiri Albra dengan tangan yang dilipat didada. “Kenapa muka Lo asem banget? Gak jadi dapet jatah Lo malam ini?” tanya Ian untuk memancing agar Albra mengobrol dengan dirinya.
“Ck! Ganggu aja.” Albra meminum gelas kecilnya yang berisi minuman beralkohol. Ia tidak niat untuk mabuk saat ini, hanya saja obrolannya dengan Frans tadi membuat pikirannya kacau.
“Urusan cincin Qyen masih belum selesai?” Ian kini bertanya dan ikut meminum alkohol bersama Albra, lalu duduk di sofa yang ditempati oleh Kender. Albra yang juga butuh ketenangan dan kenyamanan untuk mengobrol, ia pun kini ikut duduk di sofa.
“Saya masih harus cari tahu tentang keluarga Qyen atau tidak perlu?”
Kender dan Ian saling pandang, jujur saja merekapun tidak tahu harus menjawab apa saat ini, karena menurut mereka pun sulit. Jika saat ini mereka masih mencari tahu tentang keluarga Qyen yang sepertinya memiliki hubungan dengan Fany, tentu saja masalah ini akan terus bekepanjangan. Apalagi Qyen tidak tahu menahu tentang hal ini. Juga, jika mereka tidak meneruskan untuk mencari tahu dimana keluarga Qyen, dan hanya mengetahui fakta jika cincin itu dibeli oleh Fany, sepertinya hal ini pun sangat-sangat mengganjal dipikiran.
“Gue tahu siapa Fany, Albra.”
Albra menatap kearah Ian, ia sedikit terkejut mendengar hal itu. “Walaupun Gue belum tau cerita lengkapnya. Tapi, Papa pernah memberi satu buku, dan buku itu berisi tentang Faway Group. Papa bilang perusahaan itu di rintis sama teman masa kecilnya dulu, dan Gue tahu pemilik perusahaan itu bernama Fany.”
Cerita itu mengalir begitu saja dari mulut Ian. Walaupun ia tidak tahu cerita lengkapnya, namun ia ketika Frans memberitahu jika Fany teman masa kecilnya, rasa penasaran Ian pun bergejolak dan mencari tahu siapa Fany.
“Faway Group yang juga beli kalung dari hasil lelangan kemarin?” tanya Ian yang ingin tahu cerita lengkapnya.
Albra mengangguk membenarkan hal itu. “Jika memang benar Qyen adalah bagian dari keluarga Faway Group, kenapa dia harus hidup dengan sengsara di panti asuhan?”
“Sepertinya anda masih harus mencari tahu tentang keluarga nyonya, Tuan. Saya tahu jika anda tidak akan bisa diam saja jika sudah mengetahui hal ini.”
“Benar. Kita udah mencari tahu sampai di sini. “
“Baiklah, saya akan mencari tahu keluarga Qyen sampai akhir. Namun bagaimana dengan Qyen, apa dia sanggup menerima jika dia mengetahui siapa keluarganya?”
Ian menuangkan minuman beralkohol ke dalam gelas Albra yang sudah kosong. “Untuk urusan Qyen, Lo bisa menenangkan dia nanti. Rasa kecewa pasti ada, tapi setidaknya Lo berusaha buat mencari tahu siapa keluarga istri Lo.”
…
Dua hari telah berlalu, saat ini Qyen tengah bersiap untuk berpindah sementara menuju apartemen yang sudah disiapkan oleh Albra. Apartemen yang dekat dengan rumah sakit tempat Qyen akan bersalin nanti. Bahkan pagi ini Qyen sudah merasakan kontraksi-kontraksi kecil diperutnya.
“Sayang, ayo dong makan dulu. Aku sudah buatkan ayam goreng dan telur mata sapi kesukaan kamu.” Qyen masih belum berhasil membujuk Alan untuk memakan makan siangnya saat ini.
Alan berada di rumah sebab hari ini sekolahnya diliburkan. Sejak tadi pagi, pekerjaan Alan hanya bermain game bersama dengan Ian dan Parell di dalam kamarnya. Ian, laki-laki itu bahkan memilih absen dari kantor hanya karena malas mandi dan pergi berangkat bekerja.
“Tuan, lebih baik anda makan terlebih dahulu. Kasihan Nyonya Qyen,”bisik Parell ditelinga Alan.
“Simpan saja di situ, Qyen. Aku sedang bermain game,” jawabnya untuk kesekian kali.
“Jawaban kamu terus sama sejak dua jam yang lalu.”
“Argh! Ian! Aku kalahkan!” kesalnya dan berjalan dengan kesal kearah Qyen yang sudah menunggunya di dekat pintu.
Sedangkan Ian dan Parell hanya tertawa karena sikap lucu Alan. Kamar anak kecil ini memang sudah benar-benar berubah menjadi kamar seorang bujang.
“Qyen … Akukan sudah bilang aku akan makan nanti jika lapar.” Alan terus menolak pemberian makan dari Qyen sejak pagi. Bahkan pagi ini Alan hanya memakan satu bungkus roti saja, sisanya ia memakan camilan di dalam kamarnya.
Alan terus menolak pemberiannya, dan hati Qyen merasa sedikit tercubit di sini. Wajah Qyen berubah menjadi sendu. Ia kembali menyimpan piring makan yang sudah ia siapkan, keatas nampan. Lalu pergi dari kamar Alan tanpa mengatakan satu patah kata pun. Bahkan untuk pergi ke kamar Alan, Qyen harus melewati rintangan tangga, tapi mengapa akhir-akhir ini Alan sangat cuek dengan dirinya.
“Alan!”
“Tuan kecil!”
Panggil Ian dan Kender secara bersamaan. Tentu saja mereka sedikit memperhatikan interaksi antara Qyen dan Alan, karena Alan yang berbicara dengan suara yang cukup lantang.
“Kok Lo gitu sih. Dia Qyen loh, ibu Lo. Lo mau buat dia sedih?” Ian berbicara sambil melihat kearah Alan. Ia tidak peduli jika sedang berbicara dengan anak 6 tahun, yang pasti Ian tidak suka dengan cara bersikap Alan kali ini.
Parell yang mengetahui ada yang tidak beres, ia pun menghampiri Alan. “Sebaiknya kamu meminta maaf kepada nyonya. Kamu sedikit tidak sopan tadi.”
Alan merasa sedikit bersalah, ia pun membuka pintu kamarnya dan melihat Qyen yang tengah menangis sambil mencoba menuruni tangga.