
Melihat kepergian Albra yang sepertinya sangat bahagia bersama Alan dan Qyen disisinya, membuat hati Frans yang beku perlahan sedikit mencair. Beberapa kali, Ian mendengar jika ayahnya itu selalu menghela napasnya. Ian adalah laki-laki terpeka yang ada di bumi ini, ia pun kini tahu hal apa yang sedang dipikirkan oleh ayahnya, karena Frans bersikap seperti itu semenjak Albra pergi meninggalkan ruangan ini.
“Tolong ganti,” ucap Frans kepada Ian.
Ian yang tidak mengerti apa dari kata ‘ganti’ ia pun kebingungan. “Hah? Ganti apanya, Pa?”
“Ck! Kain yang ada di kepalaku,” jawabnya.
“Ahhh … bilang dong.” Ian mengambil kain yang sudah berubah menjadi dingin dan kering karena menyerap suhu tubuh Frans yang panas.
Ia mencelupkan kain tersebut kedalam wadah kecil, dan sedikit memerasnya, lalu menyimpan kembali ke dahi papanya. Namun hal itu ternyata mengundang amarah Frans. “Ian! Kaya gini aja gak becus kamu. Gimana ini muka Papa jadi basah semua.” Frans mengeluh karena air yang tidak diperas dengan benar, kini membasahi wajahnya.
“Sorry, Pa. Lagian aku gak tau gimana caranya.” Ian membela dirinya sambil mengeringkan wajah Frans menggunakan tissue.
“Ck! Sudahlah. Tidak berguna.” Frans kini memilih untuk tidak mengompres kepalanya lagi, karena Ian tidak becus melakukannya. Berbeda dengan kompresan yang dipakaikan oleh Qyen beberapa saat yang lalu, kain itu terasa hangat, dan pas.
“Lagian … aku gak tau, Papa …” keluh Ian yang tidak ingin disalahkan.
Namun di balik itu, Ian tersenyum senang karena secara tidak langsung papanya mengakui manfaat wanita di dalam hidupnya.
“Siapa yang membuatkan bubur dengan berbagai macam topping yang saya makan tadi?” Alih-alih bertanya kepada anaknya, Ian, kini Frans berbicara kepada Kender yang mengawasinya, karena Brian tidak bisa menjaga Frans.
Kender menghampiri Frans. “Bubur itu dibuat oleh Nona Qyen, Tuan besar.” Kender menjawab sambil menundukan wajahnya, ia takut jika Frans akan marah.
Ian dan Kender sama-sama menunggu reaksi Frans, bahkan kini mereka sudah bersiap memegang telinga masing-masing jika Frans akan berteriak. Namun ternyata … Frans hanya diam dan berdehem kecil. “Hangatkan lagi buburnya, saya lapar. Besok suruh dia untuk membuatnya lagi.” Setelah mengatakan itu, Frans kembali merebahkan tubuhnya, ia tidak ingin Ian dan Kender menatap aneh kearahnya.
Mendengar hal itu, Ian dan Kender saling menatap satu sama lain. Ian sudah mengeluarkan senyumnya, berbeda dengan Kender yang menuruti perintah Frans untuk menghangatkan bubur yang sudah dibuatkan oleh Qyen.
“Papa mulai suka dengan Qyen? Qyen itu baik, Pa. Dia tidak seperti wanita lain yang dekat dengan Albra.” Ian membuka suaranya untuk mengajak ayahnya berbicara.
“Hm … saya tidak mengakui wanita itu.”
‘Ah Papa … belum tau aja rasanya berdebar karena perempuan.’
…
Pagi hari menyapa, di hari selasa yang sangat cerah ini, Qyen sudah berada di dapur sambil memasak sarapan pagi. Senyumnya tidak lepas sedari tadi karena ia mendapatkan satu buah pesan dari Ian.
Ian
Qyen, Papa suka bubur buatan Lo. Besok Lo bisakan buatin lagi? Papa mau bubur yang sama.
Betapa terkejut dan senangnya Qyen mendapat pesan itu secara langsung dari Ian, bahkan Ian mengirimkan gambar Frans yang sedang memakan buburnya dengan lahap.
“Kalau Tuan suka … berarti … semoga saja hatinya sudah luluh dan bisa menerima aku.”
Selain kesenangannya tentang pagi ini, ia pun merasa gugup karena esok hari Albra dan dirinya akan melangsungkan pernikahan. Pernikahan mendadak yang akan dilaksanakan dengan sederhana di pinggir pantai, bahkan pernikahan itu hanya dilaksanakan beberapa jam saja, dan mengundang keluarga dan kolega bisnis terdekat Albra saja. Untuk keluarga Qyen? Entahlah … hari ini Qyen berencana untuk mengunjungi panti asuhannya dulu, dan mencoba mengundang suster dan gurunya yang sudah merawatnya dulu.
“Selamat pagi, sayang … mukanya happy banget, gak sabar ya buat besok?” Albra datang sambil merangkul pinggang Qyen, menciumi semua wajah Qyen sampai terakhir tak lupa mencium perut Qyen yang sudah membesar.
“Pagi, Kak. Aish … sana dulu dong mandi … katanya kita mau pergi hari ini.”
Bukannya mendengarkan ucapan Qyen, Albra malah asik meletakan kepalanya di leher Qyen. Ia mencoba menghirup wangi tubuh Qyen yang sudah menjadi penyemangat pagi untuknya.
“Kamu buat bubur untuk siapa lagi?” tanya Albra masih dengan suara seraknya, ia pun baru sadar jika Qyen kembali membuat bubur. Apalagi mereka saat ini sedang berada di apartemen bukan penthousenya.
“Aku dapat pesan dari Ian, kalau Tuan mau bubur buatan aku lagi pagi ini. Jadi aku buat deh …” ucapnya dengan senang dan hal itu mengundang perhatian Albra.
“Really? Papa mau bubur buatan kamu lagi?”
Qyen mengangguk dengan senyum lebarnya, Albra pun merasa senang dan kembali memeluk Qyen dengan erat. “Kamu memang wanita hebat.”
Qyen tersenyum mendengar hal itu, namun ia tidak merasa bangga karena Qyen merasa jika dirinya masih banyak memiliki kekurangan.
“Aku gugup banget waktu dapat pesan itu. Aku gak nyangka Tuan mau makan bubur buatan aku.”
Cup
Albra mencium bibir Qyen sekilas. “Panggil Papa, bukan Tuan. Papa suka karena kamu yang buat.”
Qyen mengangkat bahunya, dan keduanya pun tertawa. Albra memutuskan untuk mengambil cuti selama 4 hari dimulai hari ini, Ian, Meta dan Kender akan mengambil alih semua pekerjaannya. Tidak ada rapat besar beberapa hari kedepan, hanya rapat kecil dan Ian bisa menggantikan dirinya.
Hari ini jadwal mereka adalah pergi kepanti asuhan untuk memberikan undangan pernikahan mereka, melihat venue persiapan pernikahan, dan terakhir mencoba baju pengantin yang akan mereka pakai esok hari.
….
“Alan? Kamu tidak mau makan? Mau aku buatkan apa?” Qyen kini merendahkan tubuhnya untuk bisa berbicara dengan Alan yang terus menangis karena badannya panas.
Alan menggeleng, wajahnya pucat dan bibirnya terlihat sangat kering. Alan memutuskan untuk tidak sekolah hari ini. “Kak, Alan panas. Dia gak mau makan. Persediaan obat Alan ada di penthouse. Kamu mending panggil dokter saja,” usul Qyen disaat Albra datang dari arah kamarnya.
Albra duduk disebelah Alan yang sekarang sedang bersandar di sofa. Ia pun membawa anak laki-lakinya kedalam pangkuannya. “Jagoan Papa sakit? Kamu masih bisa makan?”
“Gigiku sakit, Pa ….”
Qyen baru tersadar mungkin Alan sakit karena gigi susunya akan lepas, gigi itu mungkin cepat lepas karena Alan yang selalu makan banyak sekali coklat.
“Bisa aku lihat?” tanya Qyen. Alan mengangguk dan membuka sedikit mulutnya, Qyen bisa melihat gusi Alan dibagian bawahnya terlihat memerah dan bengkak, serta banyaknya sariawan di dalam mulut Alan.
“Kak, lebih baik kita bawa dulu Alan ke dokter gigi. Giginya sebentar lagi copot, dan takut sariawannya semakin banyak jika tidak diobati.”
“Lalu bagaimana dengan rencana kita?” tanya Albra meminta pendapat Qyen.
“Hari masih pagi, Alan lebih penting,” jawab Qyen.
Albra mengangguk mereka pun bersiap untuk pergi ke dokter gigi anak bahkan Albra sudah menelpon dokter gigi untuk menunggunya.
Qyen sudah bersiap menggunakan terusan berwarna cream yang sangat cocok dikulit putihnya, rambutnya ia urai dan bando kecil berwarna hitam terhias di rambutnya yang juga berwarna hitam, tak lupa ia memakai sandal yang nyaman, karena saat ini kakinya sedikit bengkak mungkin efek kehamilannya.
Alan kini sudah berpindah alih duduk di pangkuan Qyen, Qyen memberikan perekat pereda panas di dahi Alan agar panas suhu tubuh Alan cepat turun.
“Kak, kamu sudah mengirimkan bubur itukan?” tanya Qyen karena ia menyuruh Albra untuk mengantarkannya tadi.
“Sudah, saya menelpon anak buah Brian tadi.”
Qyen mengangguk, ia berharap Frans akan suka dengan masakannya.
Tak butuh waktu lama, mereka sampai ke dokter gigi, namun keduanya mendengar suara tangis Alan yang sangat kencang.
“Alan? Kenapa menangis sayang?” tanya Qyen. Posisi mereka saat ini tengah menaiki lift dan Alan sedang dipangku oleh Albra.
“Hiks … aku takut ke dokter gigi, hiks ….”
Albra dan Qyen saling pandang, wajah Albra sudah tegang namun Qyen mencoba untuk menahan tawanya. Ia tahu Alan adalah anak kecil yang pantang menangis, tapi kali ini Alan yang menangis membuat Qyen sedih sekaligus lucu.
“Qyen, tidak apa-apakan?” tanya Albra yang juga merasa panik, karena hal ini sangat baru untuknya.
“Enggak apa-apa, sakit gigi yang dirasakan oleh anak kecil itu wajar, Kak. Apalagi Alan pecinta coklat.”
Mereka berjalan kesebuah ruangan yang terdapat tulisan ‘Poli gigi anak’ sudah ada satu suster perempuan yang tersenyum kearah mereka, lalu menyuruh mereka untuk masuk kedalam.
Alan masih menangis namun tak sekencang tadi.
“Silahkan Tuan, Nyonya, anda bisa duduk di sini.” Qyen dan Albra duduk bersebelahan.
Mereka pun menjelaskan keluhan yang diderita oleh Alan, kepada dokter laki-laki yang masih terlihat sangat-sangat muda.
Albra membaringkan Alan disebuah kursi untuk pemeriksaan gigi. “Nama kamu Alan? Sebentar lagi kamu akan memiliki adikkan?” tanya dokter gigi tersebut karena melihat perut besar Qyen disana.
“Dokter tau?” tanya Alan disela tangisannya.
“Tahu dong. Anak jagoan seperti kamu, pasti memiliki adik yang hebat. Kamu sudah siap mengajak main adik kamu?”
Tergiur dengan obrolan sang dokter, Alan pun mulai lupa dengan alat-alat yang sedang masuk ke mulutnya, bahkan kini dua giginya yang tercabut sudah tidak ia rasakan.
“Oke selesai. Kamu hebat, nanti tentang hari ini kamu bisa ceritakan kepada adik kamu, kalau kakaknya hebat pergi ke doketr gigi, okay?” dokter itu memberikan tangan kanannya untuk mengajak Alan high five. Alan pun menerima dan tersenyum dengan lebar.
Qyen dan Albra yang melihat Alan tersenyum dengan gigi bawah yang ompong membuat mereka tertawa kecil. “Alan sudah besar, Kak. Giginya sudah ompong,” ucap Qyen yang diangkui oleh Albra.
Selesai dengan drama sakit gigi Alan, saat ini suhu tubuhnya pun sudah menurun. Sariawan yang ada dimulutnya sudah ditangani oleh obat, bahkan saat ini Alan sudah mau untuk memakan roti dan meminum susunya.
“Kita mau kemana, Pa, Qyen?” tanya Alan yang saat ini duduk di carseat-nya.
“Ketempat yang sepertinya kamu akan suka,” ucap Qyen dan hal itu sukses membuat Alan penasaran.
“Aish … gak asik banget, Papa main rahasiaan terus sama Qyen,” kesal Alan.
Albra tersenyum melihat anaknya merajuk. “Kita akan ketempat Qyen waktu kecil dulu, Alan. Sebentar lagi sampai.” Albra berbicara sambil melihat maps yang tersedia di mobilnya.
Melalui jalanan yang berbatu, pepohonan yang rimbun, akhirnya mereka sampai disebuah tanah lapang, dengan bangunan rumah yang sudah tua namun besar, mereka pun turun dari mobil yang mereka tumpangi.
Qyen menghirup udara sebanyak-banyaknya yang ada di sini. Ia sangat rindu dengan udara yang saat ini ia hirup, ia tidak menyangka akan kembali ketempat ini bersama dengan Albra yang akan menjadi suaminya.
Seorang wanita paruh baya menghampiri kedatangan Qyen, ia sudah tahu siapa yang akan datang karena Qyen menghubungi pemilik panti yang dulu menjadi ibu asuhnya.
“Ibu … Qyen rindu …” ucap Qyen sambil memeluk wanita yang sudah berumur itu. Wanita itu pun membalas pelukan Qyen sambil menangis.
“Ternyata kamu sudah besar, Nak. Kamu benar sedang hamil?” wanita itu bertanya sambil memegang perut Qyen yang sudah membesar.
Qyen mengangguk dan tersenyum. Wanita itupun tersenyum dan kini pengelihatannya beralih kepada Albra. “Saya Desi pemilik panti ini.”
“Saya Albra, calon suami, Qyen,” ucapnya dan membuat Desi tersenyum senang.
Desi mengajak Qyen, Albra dan Alan masuk ke dalam panti. Qyen yang tadinya khawatir terhadap respon Desi tentangnya, kini ia pun lega karena Desi masih menganggap dirinya ada. Banyak sekali hal yang mereka obrolkan, bahkan kini Alan mendapat banyak teman. Obrolan mereka berlanjut sampai Albra yang membahas akan memberikan saluran dana untuk panti ini setiap bulannya. Qyen tentunya menyetujui niat Albra yang sangat baik. Mereka menghabiskan waktu di panti selama 3 jam sebelum akhirnya melakukan rencana yang sudah mereka susun hari ini.