ALBRA

ALBRA
46. Hampir menyrah?



Qyen duduk dengan lemas di dalam penthouse Albra, mengusap perutnya yang lagi-lagi terasa kram. Meta yang ditugaskan untuk menjaga Qyen saat ini, ia pun membawakan minum dan botol obat pereda nyeri, agar perut Qyen tidak terasa sakit.


“Nona, diminum terlebih dahulu. Tuan menyuruh saya untuk menjaga anda.” Meta memberikan botol obat dan segelas air mineral.


Qyen tidak menolak, ia pun menerima dan tak lupa mengucapkan terimakasih. “Terimakasih, Meta ….”


Meta mengangguk lalu mundur dan berdiam di depan sofa, memperhatikan Qyen yang sedang meminum obatnya.


“Meta, duduk saja. Kamu juga pasti lelah.”


“Tidak, Nona ….”


“Meta, aku ngerasa gak enak kalau mau berdiri disana. Duduk saja temani aku,” ucap Qyen, dan Meta pun akhirnya duduk di sofa sebrang Qyen.


“Aku akan membereskan pakaian. Bisa kamu antarkan aku menuju rumahku?”


Qyen memiliki permintaan tersebut karena ia ingin pergi dari hadapan Albra agar hidupnya tenang. Walaupun pilihannya memiliki resiko yang sangat besar, tapi Qyen rela melakukan itu untuk menjaga kandungannya, apalagi setelah ia mendapat ancaman dari Frans.


Qyen bisa saja pulang sendiri tanpa Meta ke rumahnya yang sudah ia tinggali berbulan-bulan, namun sepertinya tidak semudah itu. Maka dari itu ia berkata jujur kepada Meta agar bisa mengantarkan dirinya.


“Tapi, Nona … saya hanya diperintahkan oleh Tuan untuk membawa anda kemari. Saya tidak bisa membawa anda keluar dari sini.”


Jalan Qyen tertahan mendengar ucapan Meta yang sudah berdiri dibelakangnya. “Meta, aku rasa kamu tidak mengerti tentang posisi aku di sini. Aku mau pulang, aku takut mendengar semua ancaman dari Taun besar.” Qyen memohon iba kepada Meta agar Meta mengasihaninya.


Meta masih dalam pendiriannya, ia menggelengkan kepalanya. “Tidak, Nona.”


Mendengar jawaban dari Meta tidak menggugurkan niat Qyen untuk pergi dari sini. Ia pun masuk kedalam kamar Albra yang kini sudah menjadi miliknya. Ia berjalan menuju walk in closed, mengambil tas besar yang ada di sana, dan memasukan semua pakaian yang ia punya. Air mata Qyen sudah terjatuh, ia tidak memperdulikan isakan tangisnya yang sudah terdengar oleh Meta, bahkan kini tujuannya adalah ketenangan.


Ia sudah menghiraukan semua janji Albra yang ia dengar di kantornya tadi. Apa? Albra akan menikahi Qyen esok hari? Bahkan Albra tidak pernah membicarakan pernikahan dengan dirinya, sempat membicarakan namun hanya selewat saja. Hal itu yang membuat Qyen kecewa, ia tidak memiliki hubungan spesial dengan Albra.


Benarkan? Mengungkapkan rasa cinta saja tidak cukup kalau tidak memiliki hubungan yang pasti. Hubungan itu adalah sebuah jaminan atas rasa cinta.


“Nona, anda tidak bisa pergi dari sini.” Meta datang menghampiri Qyen yang sudah memasukan hampir semua pakaiannya kedalam tas besar.


“Gak bisa, Meta. Aku harus pergi dari sini.”


“Nona, saya mohon.” Meta mencoba merebut tas besar dari tangan Qyen, namun tidak terlalu kencang ia takut jika melukai kandungan Qyen.


“Meta! Aku hanya ingin pergi dari sini … aku muak ada di sini … hiks … aku capek … hiks aku mau pergi ….”


Tubuh Qyen melemah, tas besarnya terjatuh, ia pun terduduk sambil menangis. Suara tangis Qyen terdengar pilu di telinga Meta. Meta menghampiri Qyen, wanita dingin itu bahkan tidak tahu cara menenangkan orang menangis. “Nona, saya tidak tahu harus bagaimana. Saya akan memberikan anda waktu.” Meta membereskan kembali tas Qyen dan pergi meninggalkan Qyen sendiri.


Meta yang hendak keluar terkejut oleh kedatangan Alan yang berlari kearahnya. “Meta! Dimana Qyen?” tanyanya, Alan sepertinya terburu-buru, bahkan anak kecil itu belum mengganti seragam sekolahnya.


“Nona ada didalam, Tuan muda ….”


Alan mengangguk lalu mencari keberadaan Qyen didalam kamar ayahnya. “Qyen …” Alan memanggil Qyen dengan lembut, sampai ia masuk ke dalam walk in closed dan melihat Qyen yang sedang terduduk sambil menangis.


“Qyen! Are you okay? Why are you crying? You sick? Qyen?”


Alan menanyakan pertanyaan beruntun untuk bisa mendapatkan jawaban dari Qyen. Bahkan saat ini ia sudah terduduk dan memeluk Qyen dengan sangat erat.


“Hiks … hiks … Alan ….”


“Ya, aku di sini … kamu tidak boleh menangis,” ucap anak kecil itu, mencoba menenangkan Qyen.


“Qyen? Perutmu sakit?” Alan lagi-lagi mencoba mencari jawaban atas Qyen yang sedang menangs kali ini.


Alan mengangkat wajah Qyen dengan kedua tangan mungilnya, kini Alan merasa memiliki tanggung jawab untuk menjaga Qyen, karena papanya bilang tadi, jika Alan harus pulang dan menjaga Qyen. “It’s okay. Aku di sini, Qyen …” dengan suara lucunya, Alan mencoba untuk menenangkan Qyen.


Melihat wajah Alan yang juga khawatir, Qyen mencoba untuk menyudahi tangisannya, ia pun tersenyum dan mengusap air matanya. Tangan Alan yang masih setia memegang wajah Qyen, ia pun ikut mengusap air mata Qyen.


Cup


Cup


“I love you, Qyen ….”


Alan mencium kedua pipi Qyen, dan mengucapkan kalimat manis di sana, ia melakukan itu sama seperti yang papanya selalu lakukan ketika Alan tengah menangis.


Qyen mengangguk, ia merentangkan tangannya, menyuruh Alan untuk datang kepelukannya. “Terimakasih …” ucap Qyen.


Qyen sedikit merasa lega atas kehadiran Alan di sini. Ia pun merasa jika kini sumber kekuatannya adalah Alan.


Alan mengajak Qyen untuk berbaring diatas kasur, ia pun ikut berbaring disana mengistirahatkan dirinya karena lelah belajar di sekolah.


“Kamu senang sekolah hari ini?”


Alan menggelengkan kepalanya. “Aku senang memakan bekal dari kamu. Temanku juga suka dengan masakanmu. Tapi aku tidak senang karena Papa dan kamu ingkar janji.”


Qyen pun baru teringat jika ia sudah membuat janji akan menjemput Alan nanti di sekolah. namuan karena ada kejadian yang tak terduga, Qyen pun tidak bisa memenuhi janjinya.


“Iya, aku tahu. Grapa masuk rumah sakit,” kata Alan yang membuat Qyen terkejut.


Ia tidak tahu jika Frans masuk ke rumah sakit, setaunya beberapa jam lalu Frans sedang berdebat dengan Albra.



Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba saja Qyen berada di dalam ruang rawat inap Frans setelah mendapat telpon dari Albra untuk menyuruhnya membawakan makanan dan juga pakaian. Qyen tidak bisa menolak akan hal itu, ia menuruti kemauan Albra dan mencoba menutupi kesedihannya. Setelah kejadian siang tadi, Albra dan Qyen belum memiliki waktu untuk berbicara berdua.


Di dalam ruang inap Frans, kali ini hanya ada dirinya dan Alan yang sedang duduk di sofa. Qyen duduk dengan resah karena Albra yang katanya izin pergi keruangan dokter tapi tak kunjung kembali setelah 10 menit yang lalu. Frans sudah sadarkan diri beberapa jam yang lalu, dan saat ini Frans sepertinya tengah tertidur karena pengaruh obat.


“Alan, kamu tahu dimana papamu?” tanya Qyen sambil mengusap rambut Alan dengan lembut. Alan yang tengah memainkan gamenya pun menoleh dan menggelengkan kepalanya.


“Papa kamu lama sekali. Lebih baik aku pulang duluan ya.”


Alan mematikan gamenya. “Papa akan marah kalau kamu pulang duluan, Qyen. Lagipun Papa menyuruh kita untuk menjaga Grapa.”


Mendengar itu Qyen semakin gusar. Bagaimana bisa ia menjaga Frans, bahkan Frans sendiri membenci dirinya. Ia takut jika Frans bangun dari tidurnya dan melihat dirinya, Frans akan menyakiti Qyen. Menyakiti dirinya tidak apa-apa, namun saat ini ia juga harus menjaga kandungannya.


“Sayang?” Albra datang sambil tersenyum kearah Qyen. Qyen bangun dari duduknya, Albra belum sempat berinteraksi dengan Qyen, ia pun memegang pinggang kecil Qyen, membawa kedalam pelukannya, mencium kening Qyen cukup lama. Ia sangat menyayangi wanita ini, dan tidak ingin melepaskannya, bahkan Albra merasa khawtair ketika Meta mengatakan jika Qyen nekat pergi dari penthouse beberapa waktu yang lalu.


“I’m sorry …” Albra membisikan kata maafnya ditelinga Qyen. Ia merasa sangat bersalah hari ini.


Tidak ingin membuat anaknya cemburu, Albra pun mengusap kepala Alan dan mencium anaknya juga. “Aish … Papa cium-cium terus deh,” kesalnya yang membuat Albra sedikit tertawa.


“Alan udah gak mau saya cium. Tapi gak apa-apa, karena ada kamu yang bisa saya cium sepuasnya,” ucap Albra dengan mata genitnya.


‘Bisa-bisanya masih berpikiran kotor disaat keadaan gini.’ Geram Qyen.


Mereka pun duduk, Albra membiarkan Qyen bersandar di dadanya, ia sangat rindu dengan Qyen. Albra tidak peduli dengan beberapa pasang mata yang melihat kearahnya, karena di dalam ruangan ini juga sudah ada Brian dan Kender.


“Kenapa kamu mencoba pergi dari saya, Qyen?” tanya Albra sambil memainkan rambut Qyen yang sangat lembut dan wangi.


“Hm?” Qyen sedikit terkejut.


“Saya tahu. Kamu sekarang baik-baik saja?”


Untuk menjawab itu, Qyen pun memilih untuk menganggukan kepalanya.


Albra membenarkan posisi Qyen untuk menghadap kearahnya. “Tidak akan ada yang berubah.  Saya sudah menyiapkan pernikahan kita. Pernikahan kita akan dilaksanakan lusa. Kamu siap?”


Qyen sangat terkejut.


“Saya tahu alasan kamu selalu mencoba kabur dari sisi saya. Saya akan memperjelas hubungan kita, sayang …” Senyum Albra sedari tadi merekah, ia pun tidak sabar ingin mengucapkan janji sucinya berdua dengan Qyen.


“Ta—tapi …” Qyen yang ragu berbicara, ia pun kini malah melihat kearah brankar rumah sakit yang terdapat Frans di sana.


Albra yang tahu tatapan Qyen itu pun mencoba menenangkan Qyen. “Kita hanya perlu menenangkan hati Papa. Kamu bisa bantu saya untuk memenangkan hati Papa?”


Dengan sedikit ragu, Qyen pun mengangguk sambil tersenyum.


Albra membawa Qyen kedalam pelukannya. Jujur Albra sangat bahagia karena sudah mengetahui jika sebentar lagi mereka akan menikah.


Ditengah pelukannya, Albra pun membisikan sesuatu ditelinga Qyen. “Kamu cantik dan seksi malam ini. Siapa yang menyuruh kamu datang kerumah sakit menggunakan dress merah? Saya jadi tegang.”


Qyen terkejut dengan ucapan Albra. “Kak! Mesum terus deh!” kesal Qyen yang mengundang tawa Albra.


Padahal Qyen memilih dress nya kali ini penuh dengan perjuangan. Ia ingin terlihat sederhana, tidak berlebihan, dan menutup perutnya yang sudah sedikit terlihat, dan pilihannya itu berakhir kepada dress yang ia pakai. Lagipun salah Albra sendiri, karena membelikannya baju seperti ini.


Kegiatan mereka yang berlangsung lama, ternyata sudah diawasi oleh Frans dalam keadaan mata yang tertutup. Frans sudah bangun beberapa puluh menit lalu, ketika kehadiran Qyen datang. Entah mengapa, ia hanya ingin melihat reaksi dan kegiatan yang dilakukan oleh anak dan cucunya terhadap wanita itu. Ternyata selama mengamati mereka, Frans merasakan hatinya hangat dan tak sadar ia pun sedikit tersenyum dalam tidurnya. Namun teringat kembali dengan sesuatu, Frans menetralkan ekspresinya, dan mencoba untuk bangun dari tidurnya.


“Ekhem ….”


Suara Frans terdengra, dan Albra yang memeluk Qyen pun mencoba melepaskan Qyen dengan lembut. “Sebentar, sayang. Papa bangun,” ucapnya dan langsung berdiri. Begitu juga dengan Qyen yang ikut berdiri untuk menghormati Frans. Qyen hanya bisa menunduk, ia tidak bisa memperhatikan wajah Frans yang menatap tajam kearahnya.


“Papa, sudah baikan? Maafkan saya,” ucap Albra yang kini berdiam di sisi Frans.


Frans tidak mengatakan satu patah katapun, tubuhnya terasa sakit karena penyakit jantung yang ia derita. Frans mencoba untuk mengambil minumnya, namun karena Albra yang tidak peka dan tidak tahu, Qyen yang melihat itu segera berlari, membantu Frans mengambil minumnya diatas meja.


“Maaf, Tuan. Saya akan membantu,” ucap Qyen memberanikan diri sambil memegang gelas milik Frans.


Frans tidak menjawab, ia menepis tangan Qyen dan mengambil minumnya.


Melihat reaksi Frans yang menolak bantuannya, Qyen pun memundurkan langkahnya untuk kembali ketempatnya. Albra yang melihat kejadian itu, ia tersenyum kearah Qyen karena sudah membantu ayahnya.


...


Like vote komennya. Terimakasih sudah membaca!