
Albra berjalan menuju kamar sang ayah dengan wajah penuh amarah. “Kemana Papa?” tanya Albra kepada Brian yang mengikutinya di belakang.
“Tuan ada di ruangannya, Tuan,” jawab Brian yang masih harus menjaga kesopannannya di hadapan Albra.
Albra kini berbalik dan berjalan menuju lantai satu dimana ruangan Frans berada. Tidak ingin membuang waktu, ia pun lari dan tak lama sampailah ia di dalam ruangan Frans.
“Apa yang sudah Papa rencanakan untuk mencelakai Qyen?” tanya Albra langsung kepada Frans.
Frans yang sedang bertelpon dengan seseorang itupun mematikan telponnya dan memberikan senyum misterius kepada anaknya. “Apapun, agar dia bisa menjauh dari Alan dan kamu,” jawabnya dengan santai.
Albra yang sudah muak dengan tingkah ayahnya, ia pun hanya bisa diam sambil mengusap wajahnya dengan cepat. “Apa wanita itu merugikan untuk Papa?” tanya Albra sambil menahan amarahnya.
“Ya, dia sangat merugikan. Lihat saja sikap kamu dan Alan saat ini, apa istimewanya wanita itu sampai kalian berpaling dari Papa?” jawab Frans yang tidak ingin mengakhiri perdebatan yang ada.
“Papa tidak perlu mencelakai Qyen, biar saya dan Alan yang menjauhi dia,” ucap Albra penuh dengan penekanan.
Frans sedikit tertawa. “Papa harus percaya dengan ucapan kamu?”
“Papa tidak perlu percaya dengaan saya. Tapi … jika saya melihat Papa mencelakai Qyen, saya tidak akan segan-segan pergi dari rumah ini dan menjauh dari kehidupan Papa!”
“Albra! Berani sekali kamu!”
Albra mendengar kalimat itu sambil berjalan pergi dari ruangan ayahnya. Ia tidak peduli dengan konsekuensi yang akan ia dapatkan nanti, dan untuk saat ini pikiran dan hatinya hanyalah tertuju untuk bisa menyelamatkan Qyen.
Albra kembali masuk ke dalam kamar Alan, ia bisa melihat jika Qyen sedang telaten membantu anaknya itu makan buah disaat tangan kirinya sedang terluka parah.
“Alan, kamu bisa makan sendiri?” tanya Albra ditengah keheningan mereka.
Alan yang terkejut karena ayahnya tiba-tiba datang itu, ia pun langsung mengangguk. “BIsa, Papa.”
“Bagus. Qyen harus pergi dari sini, kamu paham maksud Papa?”
Qyen yang melihat Albra terburu-buru seperti itu membuat dirinya sedikit panik, apalagi mendengar percakapan antara Albra dan Alan dihadapannya.
“Iya, aku tahu Grapa akan marah jika Qyen terus ada di sini,” ucapnya dengan nada lesu.
Albra mengangguk dan mengusap kepala anaknya. “Kamu bisa main dengan Qyen di lain waktu, dan sekarang Papa harus antar Qyen kamu bisa mengurus diri kamu sendiri, Alan?”
Alan tersenyum kecil dan mengangguk. “Bisa, Pa. Qyen, terimakasih ya, kamu sudah menolongku. Kalau tangan kamu sakit, kamu harus pergi ke rumah sakit.”
Mendengar suara lucu itu memperhatikan dirinya, Qyen pun tersenyum. “Iya, Alan. Semoga kamu juga lekas sembuh ya. Sampai jumpa di lain waktu,” ucap Qyen sambil meletakan piring yang berisi buah-buahan di atas meja.
Albra memberi kode melalui anggukan kepalanya kepada Qyen. Qyen berdiri dan mengikuti langkah lebar Albra yang sudah berjalan terlebih dahulu.
Ketika Albra melangkah semua orang yang ada di sana memberi hormat dan salam kepada Albra, tak lupa 2 orang sekertarisnya mengikuti langkah kemana Albra pergi. Qyen merasa dirinya adalah makhluk yang sangat kecil jika berjalan diantara mereka. Bahkan jika dipikir kembali, Qyen hanya merasa jika dirinya adalah satu-satunya wanita yang ada di rumah ini, oh iya tak lupa juga dengan satu sekertaris Albra yang juga wanita, namun berpakaian layaknya seperti seorang laki-laki pada umumnya.
Ketika sudah sampai di halaman depan, Qyen bisa melihat orang-orang yang memakai kacamata hitam tengah sibuk mempersiapkan mobil milik Albra. Bahkan sebagian orang-orang yang memakai kacamata hitam itu sudah masuk ke dalam mobilnya masing-masing.
Qyen saat ini harus sedikit berlari untuk mengikuti langkah besar Albra.
“Biar saya yang membawa mobil sendiri. Qyen, masuk,” ucap Albra dengan cepat.
Akhir-akhir ini hujan badai memang selalu turun di Bali, bahkan hampir setiap harinya, karena bulan ini sudah memasuki musim penghujan. Qyen merasa ada satu hal yang mengganjal di sekitar dirinya ketika ia duduk di dalam mobil seperti ini.
Tas!
“Astaga! Tasku!” ucap Qyen dengan panik.
Albra yang tahu kepanikan Qyen, ia pun langsung berbicara. “Apa isi tasmu?” tanya Albra tanpa melihat kearah Qyen, saat ini matanya hanya sibuk mengendarai mobil di tengah badai, bahkan jarak pandang yang bisa mereka lihat ke depan hanyalah sekitar 7 meter saja.
“Hanya ponsel dan dompet.”
“Kamu simpan dimana?” tanya Albra lagi.
“Ta-tadi sebelum masuk rumah aku disuruh untuk menyimpan barang-barang di kotak, dan sekarang aku lupa.”
Lama Albra tidak melihat Qyen, akhirnya ia pun melirik kearah Qyen dengan sekilas, bahkan kini terdengar suara helaan napas Albra yang lelah.
“Dompetmu akan saya antar besok. Seharusnya kamu tidak membiarkan barangmu di simpan di tempat lain,” ucap Albra.
Qyen hanya diam sambil memajukan bibirnya, bagaimana bisa Albra berbicara seperti itu saat ini? apakah Albra tidak tahu kepanikan dirinya saat masuk ke rumah besar itu? Apakah Albra tidak tahu ketakutan yang Qyen alami di sana. Wajar saja Qyen menyimpan barangnya di tempat lain, karena Qyen rasa mungkin itu adalah memang aturan dari tempat tersebut.
“Tidak perlu merajuk, jika hilang akan saya ganti.”
Qyen melirik sekilas kepada Albra. “Ya, terserah Bapak saja,” jawab Qyen.
“Saya tidak suka kamu merespon ucapan saya seperti itu.”
Qyen yang tidak mengerti, ia pun mengerutkan keningnya, respon? Respon apa yang dimaksud oleh tuan besar itu?
“Maksud Bapak? Respon apa?”
“Bisa kamu respon baik-baik ucapan saya?”
“Iya, maaf. Aku cuma panik, dan tidak mau memperkeruh suasana. Juga, aku gak tau apa yang sebenenarnya terjadi pada rumah Pak Albra. Apalagi dengan ucapan aneh Tuan besar, aku beneran gak ngerti,” ucap Qyen yang merasa hari ini berjalan begitu sangat lama.
“Papa tidak suka jika saya dan Alan bertemu atau berinteraksi dengan wanita,” ucap Albra yang ingin memberitahu semua rahasianya kepada Qyen, seseorang yang baru ia temui bahkan belum satu minggu lamanya.
Albra pun tidak tahu bagaimana bisa dirinya sangat jujur seperti ini kepada orang yang baru ia temui. Namun ia berbicara seperti ini karena mengikuti kata hatinya, Albra merasakan hatinya selalu menghangat jika di dekat Qyen, ia pun merasa terlindungi. Albra tidak ingin terburu-buru untuk mengungkapkan rasa dihatinya, namun inilah yang ia rasakan saat ini.
“Ma—maksud kamu, Pak?”
“Papa saya tidak percaya dengan seorang wanita karena itu sudah menjadi ajaran dirinya dari orang tuanya juga, dan saat ini dia mengajarkan hal yang sama kepada saya.”
Qyen melipat bibirnya, bagaimana bisa Albra menceritakan sebuah rahasia besar seperti ini kepada dirinya. Apalagi Albra adalah orang yang sangat penting dan juga orang besar, Qyen takut jika ia menerima informasi penting seperti ini dan menerima konsekuensi yang besar nantinya.
“Kamu enggak apa-apa menceritakan ini …” ucap Qyen menggantung kalimatnya sambil menunjuk dirinya sendiri.
Albra mengangguk. “Saya percaya kamu, dan sepertinya kamu tidak akan membocorkan rahasia ini kepada orang lain.”