ALBRA

ALBRA
6. Istri Bapak Dimana?



Setelah berbicara kepada Ian untuk bergantian menjaga Alan yang masih tertidur karena obat bius, kini Albra dan Qyen berjalan beriringan menuju mobil. Sesampainya di depan mobil, Qyen yang hendak membuka pintu belakang, kini Albra menahannya dengan mengatakan. “Memangnya saya supir kamu?” katanya yang membuat Qyen diam tak bersuara.


Setelah mendengarkan ucapan itu kini Qyen bisa merasakan jantungnya kembali berdetak dengan sangat kencang. Ini sepertinya bukan karena dirinya jatuh cinta, hanya saja ia gugup dan sedikit takut dengan Albra. Walaupun Albra tampan, namun ketampanan Albra ditutup oleh wajahnya yang tegas dan tatapan matanya yang tajam, juga sifatnya yang sangat dingin.


“Ja … jadi saya harus bagaimana, Pak?” tanya Qyen yang memberanikan dirinya.


Albra yang memang sedari tadi diam menunggu Qyen berbicara, ia pun kini kembali berjalan ke sisi sebelah kiri mobil dan membukakan pintu mobil untuk Qyen.


“Kita baru ….”


“Cepat, saya tidak punya waktu. Kamu memperlambat saja,” kata Albra yang kini memotong ucapan Qyen sambil melihat jam tangannya.


Qyen sedikit kesal, tidak Alan, tidak ayahnya, Albra. Sama-sama selalu memotong ucapannya. Setelah mendengar itu, ia tidak lagi berbicara dan masuk ke dalam mobil Albra.


Keduanya kini sudah berada di dalam mobil yang sama, sungguh Qyen bisa merasakan suasana canggung yang mendalam. Apalagi, ia selalu terdistrak dengan gerakan tangan Albra yang sedang mengendarai stir mobilnya.


Ah … tanpa Qyen melihat langsung dengan bola matanya, ia bisa melihat gerakan tangan Albra yang sangat macho itu di ujung matanya. Qyen tidak bisa membayangkan jika tangan besar dan kekar itu memegang tangannya yang sangat kecil.


Qyen yang merasa dirinya aneh memikirkan hal seperti itu, ia pun menggelengkan kepalanya untuk mencoba membuang pikiran kotor yang menepi diotaknya.


‘Sadar Qyen, sadar … kamu bukan siapa-siapa di sini ….’


Qyen menarik dan mengeluarkan napasnya begitu saja dan hal itu terdengar di telinga Albra.


“Kenapa? Ada sesuatu?” tanya Albra yang sedari tadi melihat gerak-gerik Qyen yang gelisah.


“Ha? Em … em … tidak apa-apa,” jawabnya cepat. Qyen merasa jika dirinya berbicara sangat kaku dan canggung  di hadapan Albra, mungkin ini adalah refleks dari dirinya karena bertemu dengan orang baru.


Albra mengangguk dan kembali fokus menyetir.


Tak tahu harus melakukan apa untuk menyembunyikan rasa gugupnya, Qyen pun memainkan kuku-kuku dijarinya. Dia tidak bisa berlama-lama diam dengan ayah dari Alan ini.


Ah benar juga! Ada satu hal lagi yang Qyen pikirkan saat ini, jika ia bersebelahan duduk bersama Albra di sini, ia takut jika istri Albra melabrak dirinya. Aish … Qyen sangat takut jika hal itu terjadi. Atau … di sudut pikirannya kembali memiliki pikiran negative tentang Albra, jangan-jangan Albra adalah laki-laki genit yang selalu seperti ini kepada setiap wanita?


Berkecamuk dengan pikirannya yang terus memperkirakan Albra, lagi-lagi Qyen menggelengkan kepalanya bahkan kini ia berbicara dengan sendirinya. “Aish … gak, gak mungkin …” katanya yang membuat Albra terkejut.


“Kamu kenapa? Ada yang tidak beres?” tanya Albra langsung kepada Qyen.


“Saya perhatikan gerak-gerik kamu sangat gelisah sejak tadi. Jika ada suatu hal yang ingin dikatakan tentang Alan katakan saja,” tambah Albra lagi.


“Emm … saya tidak tahu berbicara ini sopan atau tidak ta ….”


“Langsung saja keintinya,” ucap Albra yang memotong.


Untuk memperjelas keadaan, Qyen kini lebih baik bertanya sesuatu kepada Albra agar tidak ada salah sangka nantinya.


“Saya takut istri bapak melabrak saja jika berdua-duaan di sini,” kata Qyen sedikit takut.


“Memangnya … jika berdua-duaan seperti ini kenapa?” tanya Albra yang kini menghentikan mobilnya secara tiba-tiba.


Qyen yang terkejut ia pun melihat kearah belakang mobil, untung saja jalanan sedang sepi dan tidak ada kendaraan lainnya.


“Ha? Ti … tidak, maksud saya ….”


“Kenapa?” tanya Albra sambil mendekatkan tubuhnya kearah  Qyen tanpa sebab. Qyen yang merasa jika situasi di sini tidak beres, ia pun mencoba menutup matanya dan memegang bahu Albra yang kini sudah hampir mengenai bahunya juga.


“Pak …” lirih Qyen di saat ia benar-benar bisa mencium parfum yang berasal dari kameja yang dipakai oleh Albra. Bahkan hangatnya napas Albra bisa Qyen rasakan di telinga kanannya. Qyen yang tidak bisa menahan detak jantungnya yang sangat berdebar, tanpa sadar ia meremas bahu Albra begitu saja.


‘kilik’


Suara terdengar, berbarengan dengan Albra yang menjauh dari tubuh Qyen, namun Qyen masih dengan santainya meremas bahu Albra.


Setelah merasakan Albra yang menjauh, Qyen pun membuka sebelah matanya, satu hal yang kini Qyen lihat adalah Albra yang tengah menahan tawanya di sana.


Dengan perasaan gondok, malu dan takut ia pun meringis pelan dan melepaskan cengkraman tangannya dibahu Albra.


“Kamu pikir saya mau ngapain?” tanya Albra dengan santai dan kembali melajukan mobilnya.


“Maaf …” kata Qyen dengan pelan.


Albra yang tidak bisa menahan tawanya karena kejadian ini sangat lucu, ia pun tertawa pelan. Bahkan kini ia merasa suka karena melihat wajah Qyen yang kesal.


“Saya membenarkan seat belt kamu, yang tidak terpakai dengan sempurna.”


“Cengkraman tangan kamu kuat juga,” kata Albra setelah semuanya hening.


“Maaf saya tidak tahu, saya takut tadi,” kata Qyen dengan wajah salah tingkah.


Albra mengangguk-anggukkan kepalanya. “Saya ayah tunggal. Alan tidak punya Mama,” katanya santai, menjawab pertanyaan Qyen tadi.


Qyen langsung meminta maaf kepada Albra tentang ucapannya yang kurang mengenakan itu. Ada rasa takjub di dalam diri Qyen melihat kepintaran Alan, sedangkan Alan hanya diurus oleh ayahnya saja.


“Kerjaan kamu hanya minta maaf saja?” tanya Albra.


Qyen menggelengkan kepalanya. “Tidak, saya memiliki toko buah tempat kerja saya sendiri,” ucap Qyen dengan lugunya.


“Really?”


Qyen mengangguk. “Hanya sebuah toko kecil saja,” kata Qyen yang kini curhat kepada Albra.


Setelah sedikit mengobrol keadaan pun kembali hening, tak lama mereka pun sampai di kantor polisi. Sudah ada satu orang pengacara dari Albra yang menunggunya di depan kantor.


“Qyen, itu pengacara saya, kamu nanti didampingi untuk memberikan keterangan tentang ditemukannya Alan kemarin,” kata Albra.


Qyen kini mulai merasa jika Albra berbicara lembut kepadanya, tidak seperti awal betemu.


“Gimana bisa aku sendiri, aku baru pertama kali ke sini,” gumam Qyen yang kini berjalan terlebih dahulu dari pada Albra, yang sepertinya akan pergi dari sini.


Mendengar apa yang diucapkan oleh Qyen, di dalam hati kecil Albra ia tidak tega melihat Qyen pergi masuk ke kantor polisi sendiri walaupun sudah ada pengacaranya di sana.


“Ayo dengan saya,” kata Albra yang kini lebih memilih berjalan terlebih dahulu dibanding Qyen. Dengan gerak refleksnya, Qyen sedikit tersenyum dan berlari menyusul langkah Albra.


Albra melihat jam yang ada dipergelangan tangannya, jam 11 siang, harusnya ia sudah menghadiri meeting besar pagi ini. Tapi di sisi lain ia pun tidak merasa enak jika harus meninggalkan Qyen sendiri, karena Qyen sudah menolong anaknya.


Sesampainya di dalam kantor, Qyen merasa sangat gugup karena ia dibawa ke dalam suatu ruangan yang cukup sepi. Walaupun ada 2 orang polisi, dirinya, Albra dan juga satu pengacara, namun suasana di sini cukup menegangkan.


Sesi menjawab pertanyaan di mulai. Qyen pun mulai menceritakan dimana dirinya bertemu dengan Alan kemarin sore di saat hujan gerimis. Bahkan Qyen pun menceritakan obrolannya dengan Alan di malam hari sampai pagi harinya Alan yang tiba-tiba demam.


Mendengar cerita Qyen dengan wajah lugu dan sangat lembut, tak sadar Albra pun sedikit tersenyum. Ia pun tidak mengerti mengapa hatinya tiba-tiba saja menghangat.


Setelah Qyen memberikan keterangan selama satu jam lebih, kini ia pun dipersilahkan untuk pulang oleh pihak kepolisian dan kepolisian pun berjanji akan melindungi Qyen karena sudah menolong Alan, selaku salah satu korban. Sebab masih ada beberapa anak lagi yang belum ditemukan sampai saat ini setelah kejadian kemarin.


Sesampainya di luar kantor polisi, Qyen bisa merasakan matanya memanas dan tanpa disengaja air matanya pun turun begitu saja. Pengacara Albra yang sedang mengobrol dengan Albra, melihat hal itu ia pun langsung memberitahu kepada Albra jika Qyen menangis di sana.


Melihat Qyen yang menunduk sambil mengusap air matanya, ia pun menghampiri Qyen. “Kenapa? Kamu tidak akan di penjara,” kata Albra.


Qyen menggelengkan kepalanya. Bukan, bukan ini yang membuat dirinya sedih. “Aku bukan nangis karena itu,” jawab Qyen.


“Lalu?” tanya Albra sambil melihat kearah wajah Qyen yang terus saja menunduk.


“Aku kasihan dengan anak-anak yang belum ditemukan sampai saat ini,” kata Qyen dengan lancar sebelum air matanya kembali mengalir.


Albra menghela napasnya. Ia masih tidak habis pikir menapa Qyen harus menangis karena hal sepele seperti itu.


“Tidak apa-apa, polisi sedang mencari. Mereka pasti selamat,” kata Albra yang kini menenangkan Qyen.


Albra dengan berbaik hati untuk mengucapkan rasa terimakasihnya, ia pun mengantarkan Qyen sampai dirumahnya. Ternyata tempat Qyen tinggal tidak jauh dari kantor polisi, selama diperjalanan mereka diam membisu. Qyen yang masih asik dengan kesedihannya, dan Albra yang fokus dengan menyetirnya, namun sesekali ia juga melirik kearah Qyen untuk memastikan jika Qyen baik-baik saja.


Sesampainya di toko buah milik Qyen yang sekaligus rumah untuk Qyen, terlihat ada mobil hitam yang terparkir juga di sana. Qyen bisa menebak jika itu adalah Fin, mengapa Fin masih ada ditokonya? Pikir Qyen.


Qyen keluar dari mobil Albra, sebelum itu ia pun mengucapkan terimakasih kepada Albra.


“Terimakasih kembali karena sudah menjaga Alan,” kata Albra yang tidak tahu harus berbicara apa lagi karena ia tidak fokus dengan seorang laki-laki yang sudah ia lihat pagi hari ini sedang menatap tajam kearah Qyen.


Setelah saling mengucapkan terimakasih mereka, Albra pun pamit pergi dan melajukan mobilnya. Di dalam pikirannya ia tidak bisa melepas bayangan tentang laki-laki tadi yang terus menatap Qyen dengan tajam bahkan Qyen berjalan menunduk mendekati laki-laki itu. Aish … mengapa hal ini sangat mengganggu pikirannya.


Di sisi lain, kini Qyen sampai dirumahnya dan di sambut oleh Fin yang sedang berdiri di samping meja buah-buahan. Dengan melipat tangannya, Fin pun berkata. “Habis dari mana kamu? Kok kamu bisa sih pergi dengan orang yang baru kamu kenal? Bagaimana kalau terjadi sesuatu?” tanya Fin yang kini membuat Qyen terkejut.


Qyen tersenyum canggung untuk membuang rasa gugupnya. “Ah … itu Papanya Alan, sudah mengantarkan aku dari kantor polisi. Maaf ya Kak Fin tadi aku tiba-tiba pergi, soalnya Alan nangis dan sekarang dia di rawat di rumah sakit,” ucap Qyen mencoba untuk menjelaskan.


Namun berbeda dengan wajah Fin yang kini sangat murung dan terlihat tidak suka. “Baiklah, saya sudah selesai berjaga di sini. Saya pergi,” kata Fin yang langsung berjalan kearah mobilnya.


Belum sempat Qyen mengucapkan rasa terimakasihnya, namun Fin sudah terlebih dahulu pergi begitu saja.