
Jam sudah menunjukan pukul 9 malam, Albra, Qyen dan Alan masih setia menemani Frans yang kini tengah beristirahat. Qyen sesekali mencuri pandang kearah Frans, ia tidak tega melihat posisi tidur Frans yang sepertinya tidak nyaman.
“Kak, Tuan sepertinya tidur dengan keadaan tidak nyaman. Coba kamu tanya beliau mau apa,” ucap Qyen sambil melihat kearah Albra yang tengah sibuk dengan tabletnya. Berbeda dengan Alan yang saat ini tertidur dipangkuannya.
Albra pun melihat kearah brankar yang ditiduri oleh Frans, Albra tidak tahu jika Frans tidur dengan keadaan nyaman atau tidak, karena ia tidak tahu dimana letak perbedaannya.
“Papa baik-baik aja sepertinya.” Albra berbicara sambil menatap Qyen yang juga menatap kearahnya.
Ia tersenyum, membenarkan rambut Qyen yang menjuntai, Qyen semakin cantik dimatanya. “Papa baik-baik aja, kamu tidur saja atau mau pulang? Biar Kender yang antar kamu pulang.”
Qyen menggelengkan kepalanya, ia masih merasa kasihan dengan Frans yang tidur dalam keadaan tidak nyaman. Matanya bergerak gelisah, dahinya mengeluarkan keringat bahkan posisi kepalanya pun tidak benar. Ingin sekali rasanya Qyen membantu Frans, namun apalah daya ia tidak berani untuk membantu langsung dengan kedua tangannya.
“Kak … lebih baik kasih kompres air hangat untuk Papamu.” Lagi-lagi Qyen berbicara. Walaupun ia memiliki rasa takut terhadap Frans, namun Qyen tidak memiliki rasa benci sedikitpun kepada Frans. Ia menghargai sifat keras Frans yang mungkin memiliki maksud tersendiri.
“Kamu gak liat mata Tuan terlihat gak nyaman ditidurnya, dahinya juga terus berkerut, bahkan berkeringat. Tuan sepertinya sedang bermimpi ditambah badannya demam. Jika obat tidak membantu, kita harus bantu Tuan dengan cara mengompres dahinya. Kasian, Kak …” Qyen mencoba menjelaskan hal itu.
Albra tersenyum, menyimpan tabletnya. Ia pun membantu Qyen untuk memindahkan Alan yang masih setia tertidur di paha Qyen.
“Ayo bantu saya, saya tidak tahu bagaimana caranya.”
Qyen mengangguk, ia mengeluarkan sapu tangan berukuran sedang berwarna pink yang selalu ia bawa di tasnya. Sapu tangan itu masih bersih, bahkan Qyen menyimpan di dalam pouchnya. Qyen mengambil tempat kecil yang tersedia di bawah brankar rumah sakit, ia mengisi wajah kecil itu dengan air panas dicampur air dingin, setelah mendapatkan suhu air yang pas, Qyen pun memberikan wadah tersebut kepada Albra.
“Kamu peras dan simpan di dahi Tuan,” ucap Qyen sambil berbisik karena tidak ingin mengganggu.
Albra yang tidak pernah memeras baju pun kesusahan bagaimana caranya memeras kain kecil. Qyen yang tidak sabar dan greget melihat Albra, ia pun mengambil alih. “Kamu kerjakan saja, ada saya di sini.”
Dengan ragu dan sedikit rasa takut, Qyen pun memeras kain kecil tersebut. Ia mengelap wajah Frans yang sudah banjir keringat. Sebelum akhirnya mengompres dahi Frans dengan sangat hati-hati. melihat Qyen yang sangat telaten membuat Albra kagum dan tersenyum penuh bahagia, ia tidak pernah salah dalam memilih, Qyen memang perempuan baik.
Frans yang merasakan suatu benda menempel dikepalanya, ia pun perlahan membuka matanya, ia merasa nyaman dengan kain yang pertama kali menempel di kepalanya ini. Namun ketika Frans membuka matanya dengan penuh, ia terkejut melihat Qyen yang sudah ada dihadapannya. Bahkan wajah mereka sangatlah dekat.
Qyen tersadar jika Frans membuka matanya, ia pun menunduk dan mengundurkan langkahnya, namun ternyata tangan Albra memegang tangannya.
Frans mencoba mengambil kain yang kini membuat kepalanya sedikit nyaman, namun ia merasa gangsi dan ingin marah karena Qyen sudah berani menyentuhnya. Namun disaat hendak mengambil kain tersebut suara Qyen pun terdengar. “Maaf, Tuan. Biarkan kain itu berada di sana, itu untuk mengurangi suhu badan anda yang tinggi. Saya melihat tidur Tuan yang gelisah, makanya saya mengompres anda. Maaf jika saya lancang,” ucap Qyen dengan terburu-buru.
Melihat Qyen yang bersembunyi dibalik tubuh anaknya dan menunduk ketakutan, membuat hati Frans perlahan luluh, bahkan saat ini ia tidak meladeni ucapan Qyen dan membiarkan kain berwarna pink itu menempel didahinya.
“Papa sudah baikan? Perlu kita besok berangkat ke Amerika?” ucap Albra yang masih setia memegang tangan Qyen.
Frans melihat sekilas kearah Albra. “Tidak perlu, saya sudah baikan,” jawabnya dingin.
Albra mengangguk. Kini ia dan Qyen hanya memperhatikan Frans yang terus mengusap tangan kanannya yang terinfus, Frans seperti merasakan gatal yang luar biasa di sana.
Qyen yang melihat itupun berbisik. “Kak … bilang jangan di garuk, nanti kulitnya mengelupas, mending pakai air hangat saja.” Qyen merasa khawatir melihat itu. Ia tahu tentang semua perawatan pertolongan pertama karena selama hidupnya Qyen tinggal dipanti asuhan, dan juga mengasuh adik-adik kecil yang tinggal di sana. Untuk menghadapi hal seperti ini, Qyen sudah tahu.
“Papa, merasa tidak nyaman?” tanya Albra.
Frans hanya berdehem sebentar.
“Qyen ingin membantu Papa. Brian sudah pulang karena anaknya sakit, Papa bisa mengurus diri sendiri? Kalau saya tidak bisa membantu Papa.” Albra memang tergolong kedalam anak yang tidak tahu diri. Albra jujur saja, ia memang tidak tahu bagaimana cara merawat ayahnya ketika sedang sakit, karena jika hal itu terjadi ia akan memberikan sepenuh tugasnya kepada Brian sang tangan kanan papanya.
“Tidak perlu.”
“Papa … Qyen niat membantu Papa di sini, jangan terus menggaruk tangan itu.”
Albra kini bertindak dan mencekal tangan Frans. Segalak apapun Frans, dimatanya Frans hanyalah seorang kakek tua yang juga butuh perhatian. Frans memiliki segalanya, namun Frans tidak memiliki hati nurani dan perasaan, dan hal itu yang ingin Albra benahi dari sikap papanya.
Albra memberikan kode kepada Qyen untuk menangani tangan kanan papanya yang sepertinya iritasi.
Qyen berpindah dengan ragu, ia berpindah ke sisi kanan Frans, sedangkan Albra berada di sisi kirinya. “Maaf, Tuan.”
Qyen memegang tangan Frans dengan lembut, jantung Qyen berdetak dua kali lipat ketika memegang tangan Frans. Bukan, Qyen bukan jatuh cinta, hanya saja ia gugup, takut dan kahwatir Frans akan menamparnya. Tapi ternyata tidak, Frans diam saja, membiarkan Qyen membuat sesuatu di tubuhnya.
Dengan telaten, Qyen membersihkan tangan kanan Frans menggunakan tissue steril yang berada di meja. Wajahnya teliti, usapannya yang lembut, membuat Frans terpengarah melihat perlakuan Qyen yang sangat baik dihadapannya. Frans menggelengkan kepalanya, ia tidak ingin luluh begitu saja melihat Qyen yang bersikap seperti ini, karena ia masih memiliki banyak rencana jahat untuk menjauhkan Qyen dan Albra.
“Tuan, besok pagi jika anda kuat, anda bisa berendam di air hangat. Tangan anda sepertinya terkena infeksi dan alergi terhadap jarum suntik. Jika dokter datang nanti, saya akan memberitahunya.” Qyen berbicara dengan lembut, kegiatan membersihkan tangan kanan Frans sudah selesai. Ia pun mengganti kompres yang dipakai oleh Frans.
Albra memperhatikan Qyen sambil tersenyum, ia pun sesekali memperhatikan ayahnya yang masih menunjukan wajah dinginnya. Tidak hanya Albra yang memperhatikan kegiatan mereka, ternyata Ian dan Kender pun sudah berdiri di depan pintu memperhatikan peristiwa langka yang terjadi.
“Papa …” Panggil Ian dan berjalan menuju Frans.
Ia tersenyum kearah Qyen. “Qyen, Lo baik banget. Makasih ya udah jaga Papa Gue,” ucapnya sambil tersenyum.
Frans yang mendengar itupun tak suka, dan menegur Ian. “Ian, kamu tidak perlu berlebihan.”
‘Sial, anak ini selalu pintar dalam berbicara.’ Hati Fras menggerutu.
“Saya ingin mengambil …” ucapan Frans terhenti ketika tanpa sengaja ia memegang perut Qyen yang sudah berdiri disamping anaknya, Albra.
Tangan kirinya yang memegang perut Qyen, terasa aneh. Frans belum pernah memegang perut perempuan yang sedang hamil. Bahkan memegang perut hamil dari mama Albra dan Ian pun tidak pernah, tapi mengapa ia tidak sengaja memegang perut Qyen di sini. Frans yang hendak mengambil sesuatupun ia urungkan niatnya, ia merasakan gelenyar aneh didalam dirinya. Perasaan ingin kembali memegang perut itu, dan mengusapnya, karena bagaimana pun kandungan yang ada di dalam perut Qyen adalah cucunya.
Semua orang yang ada di sana tahu jika Frans tak sengaja memegang perut Qyen. Qyen yang paling merasakan sentuhan itupun merasa terkejut karena Frans memegang perutnya secara tiba-tiba, walaupun tanpa sengaja.
Albra dan Ian saling bertatapan, mereka pun tersenyum penuh arti. “Papa ingin sesuatu?” tanya Ian mencoba berpura-pura tidak tahu. Padahal ia tahu, Frans menggantung ucapannya ketika tangannya tak sengaja memegang perut besar Qyen yang tertutupi oleh dressnya.
Frans menggeleng dan wajahnya kini berubah menjadi kesal. “Tidak. Kalian pulang saja, tinggalkan saya sendiri,” ucapnya.
Albra lebih mendekat kearah Frans. Sebelum mengajak Qyen pergi, ia pun berbicara sesuatu kepada Frans. “Papa belum pernahkan merasakan sentuhan selembut tangan Qyen? Papa sekarang tahu apa arti cinta?” Albra menjeda ucapannya ketika melihat Frans tak merespon uapannya. “Saya pulang, Ian akan berjaga di sini bersama Kender.”
Albra menggendong Alan yang sudah tertidur, lalu menggenggam lengan Qyen, dan pergi dari ruang rawat Frans.
Frans yang melihat kepergian Albra, ia pun menghembuskan napasnya lelah.
“Mereka bahagia, Pa,” ucap Ian yang mengerti tatapan Frans.
…
Butuh waktu 10 menit untuk akhirnya mereka sampai diapartemen. Albra memilih mengajak Qyen pulang keapartemennya karena lebih mudah di jangkau.
“Alan sudah di tempat tidurnya?” tanya Qyen yang memberikan Albra segelas air hangat.
“Sudah, sayang.” Albra meminum air hangat itu sambil memegang pinggang Qyen.
Albra mengajak Qyen untuk pergi ke dalam kamarnya, lebih tepatnya kedalam walk in closed. Albra ingin mengganti pakaiannya, begitu juga dengan Qyen.
“Maaf untuk hari ini, dan juga terimakasih,” ucap Albra yang kini tiba-tiba memojokan Qyen ke sudut lemari pakaian. Tidak ingin punggung Qyen terbentur secara langsung, ia pun menahan menggunakan tangan kirinya.
“Kak apaan sih, lepasin, aku gak bisa nafas.”
Albra menggeleng. “Kamu hebat banget hari ini. Kamu lelah?”
Qyen mengangguk, ia tidak berbohong jika dirinya benar-benar lelah.
“Saya ingin memberi hadiah untuk kamu,” bisik Albra ditelinga Qyen yang membuat bulu disekujur tubuh Qyen meremang. Jujur saja, ketika sedang hamil, Qyen selalu tergoda jika didekat Albra, ia tidak tahu mengapa, mungkin karena hormonnya.
“Hadiah apa?” tanya Qyen memberanikan diri menatap manik mata Albra yang penuh dengan gairah.
Albra lebih mendekatkan wajahnya kepada Qyen, bibirnya sudah tak sabar ingin bermain dengan bibir Qyen yang terlihat ranum dimatanya.
Cup
Albra mencium sekilas bibir Qyen, dan melepaskannya. Albra yang tidak puas dengan kecupan itu, ia pun kembali mencium bibir Qyen dengan lebih dalam. ******* bibir Qyen yang manis, dan mengabsen seluruh isi mulut Qyen dengan lidahnya. Qyen yang terbuai akan ciuman dalam yang diberikan oleh Albra, ia pun mulai menggantungkan tangannya di leher Albra, membalas sapaan Albra dibibirnya dengan perlahan dan pastinya keduanya menikmatinya.
Qyen mulai terbiasa dengan cara main Albra yang santai namun menuntut. Albra selalu menjaga Qyen agar ia tidak menyakitinya. Tahu jika Qyen kehabisan napas, Albra pun melepaskan pagutan mereka. Bibir Albra beralih keleher jenjang Qyen yang sangat putih dan mulus, ia menciumi leher Qyen dan memberikan tanda di sana.
Sampai suara-suara kenikmatan dari Qyen dan dirinya terdengar di dalam ruangan ini. Albra tidak ingin bermain jauh, niatnya hanya ingin mencium bibir Qyen, ia malah terlalu berlebihan, ia tidak ingin membuat Qyen takut. Albra memeluk Qyen dan menyudahi permainan kecil mereka.
“Ganti pakaian kamu, saya tunggu di dalam.”
Qyen mengangguk, ia pun mengganti pakaiannya dengan piayama. Qyen menghampiri Albra yang terududuk di pinggir kasur. Albra menyuruh Qyen untuk duduk di sampingnya, Qyen pun menurut.
“Ada apa? Sudah malam, ayo kita tidur.”
“Tutu mata.” Alih-alih menjawab, Albra menyuruh Qyen untuk menutup matanya saat ini.
Qyen mengangguk, sambil tersenyum ia pun menutup matanya. Tak lama, Qyen merasakan sesuatu benda dingin yang menyentuh lehernya.
“Buka. Ini cantik kamu pakai.”
Qyen menghadap dirinya kearah cermin besar, ternyata Albra memberinya sebuah kalung yang sangat cantik, dan terdapat liontin berlian yang sangat mengkilap.
“Wow, bagus banget. Terimakasih, Kak ….”
Albra mengangguk memeluk Qyen. “Lusa kita akan menikah. Kamu harus siap, karena saya akan membahagiakan kamu.”