
“Ka—kamu semalam sadar?”
Qyen menggelengkan kepalanya. “Aku baru ingat tadi pagi. Maaf jika aku tidak sopan, untuk emm … untuk masalah aku, biar aku—“
“Biar jadi tanggung jawab kita.”
Setelah penjelasan singkat dari Albra, kini keduanya terdiam, keadaan diantara mereka menjadi hening. Ekspresi wajah Qyen sangat sulit diartikan, wajahnya terlihat murung, ketakutan, aneh, dan matanya terlihat kosong. Sedangkan Albra kini hanya bisa memperhatikan wajah Qyen itu dengan tatapan datarnya, tatapan datar yang kini memiliki arti.
‘Qyen punya daya tarik tersendiri, benar kata Alan, dia lembut dan cantik.’ Kalimat itu yang terus saja memutar didalam otak Albra saat ini.
“Hem … kenapa kamu terus ngeliatin aku?” Suara lelah Qyen kini terdengar ditelinga Albra, setelah mereka terdiam cukup lama. Posisi mereka masih sama, duduk bersebelahan disebuah sofa mewah yang ada di penthouse Albra.
Albra menggelengkan kepalanya. “Tidak … ada yang ingin kamu tanyakan lagi?”
“Tentang kejadian semalam … bagaimana … kalau … aku hamil?” ucap Qyen pelan dan melemah diakhir kalimat.
Qyen tak bisa tutup mata tentang hal itu, dirinya yang menyaksikan sendiri jika darah perawanya sudah dikoyahkan oleh Albra. Ya, Qyen bisa melihat bekas darahnya sekilas diatas kasur tadi. Bahkan rasa sakit didaerah kewanitaannya masih terasa, hal itu tentunya membuktikan jika Albra dan dirinya bersatu semalam, walaupun bayangan Qyen samar-samar tentang kejadian semalam.
“Dan kamu harus ingat, ayah kamu tidak suka dengan seorang wanita, Pak. Sepertinya aku tidak bisa lama-lama disini, aku harus pergi, aku ingin menyelesaikan semua masalahnya.” Qyen bangun dari duduknya, ekspresi ketakutannya kini terlihat dengan air mata yang perlahan berjatuhan. Albra mengerti perasaan Qyen, ia pun menahan tangan Qyen dan memaksa agar Qyen kembali bisa duduk ditempatnya.
“Pakaian kamu belum sampai, rambutmu masih belum kering, mau kabur dengan keadaan seperti itu?”
Qyen tidak menjawab, lagi-lagi Qyen menangis merasa dunianya runtuh hari ini. Qyen hilang arah, tidak tahu harus bagaimana jika ia memang benar-benar hamil nanti.
“Dengarkan saya … bisa berhenti menangis?”
“A—aku gak tau harus bagaimana. Jadi stop buat nyuruh aku berhenti nangis.”
“Saya akan bertanggung jawab. Untuk urusan papa saya, kamu tidak perlu khawatir. Saya yang akan menjelaskan semuanya.”
Qyen menggelengkan kepalanya. “Aku hanya perlu pergi, biar aku yang mengurus semuanya. Ini semua memang salah aku.”
“Qyen stop! Stop menyalahkan diri sendiri,” ucap Albra kini dengan nada yang cukup tinggi.
Tangis pilu kini terdengar ditelinga Albra, tangis tanpa suara yang Qyen tahan didepan Albra. Pertahanan Albra runtuh begitu saja ketika melihat tangis Qyen yang sangat pilu. Hatinya hancur, dan berantakan melihat Qyen yang tersiksa seperti ini. Apakah ini hanya sebuah kepedulian? Atau ucapan Ian yang menjadi kenyataan? Tentang cinta pandangan pertama?
Tentang hal apapun itu, yang pasti kini Albra ingin melindungi Qyen dan sepertinya ia mulai jatuh hati dengan wanita, setelah hatinya mati selama 10 tahun yang lalu.
Tangis Qyen yang tak kunjung henti, bahkan Albra kini harus pergi ke kantor, ia pun kebingungan bagaimana cara menenangkan hati perempuan jika sedang menangis seperti ini. Tanpa berpikir panjang, Albra membawa tubuh kecil Qyen kedalam pelukannya yang hangat.
“Kamu hanya perlu percaya saya, Qyen. Saya akan selalu menjaga kamu, seperti kamu selalu menjaga Alan dari kejauhan. Kamu tidak perlu lari atau kabur dari dunia ini, saya yang akan menemani kamu.”
Ucapan hangat dengan suara lembut Albra terdengar jelas ditelinga Qyen, dan sudah tersampaikan kepada otaknya. Entah itu sihir atau bukan, yang pasti kini tangis Qyen reda, dan ia mencoba melepaskan pelukan Albra, mengusap air matanya dan menatap mata coklat Albra dengan lekat, seolah mencari kebohongan disana. Namun tidak ada, mata Albra sangat-sangat tulus ketika melihatnya.
“I can’t believe love. But, if you, I wanna try.”
Jelas-jelas Qyen mengerti tentang apa yang Albra ucapkan kepada dirinya. Sebuah kata manis, seperti pengakuan cinta. Benarkan? Qyen tidak salah? Ya … setidaknya ia bisa berbahasa asing karena beberapa pelanggan buahnya adalah orang asing.
Jantungnya kini berdebar, berdetak tak karuan, apalagi disaat bibir tebal Albra mengecup dengan cepat bibir kecilnya yang masih basah karena air mata. Darah Qyen berdesir hebat disaat hal itu terjadi secepat kilat.
“Ka—kamu belum tau aku, Pak Albra. Aku bukan orang dari kalangan elite, aku bukan orang kaya, aku tidak memiliki keluarga bahkan aku tidak punya orang tua sejak kecil. Aku tidak ya—“
“Syut … saya tahu, saya tahu kekurangan kamu semua, biar seiringnya waktu kita saling mengenal. Kamu percaya saya?”
Qyen pun mengangguk. Hatinya tidak bisa dibohongi jika memang ia pun benar-benar sayang kepada Albra, atau bahkan kini dirinya sudah jatuh hati? Biarlah umur mereka terpaut 12 tahun, yang pasti Qyen ingin mengandalkan dirinya kepada Albra.
“Saya harus pergi sekarang, ada beberapa hal yang harus saya urus dikantor. Seharusnya saya sudah pergi dua jam yang lalu …” Albra menghentikan ucapannya sambil melihat jam tangan mahalnya.
“Hmm … ada kamu yang harus saya tenangkan terlebih dahulu,” jawabnya dengan santai sambil memakai jasnya.
Qyen yang mendengar itu, ia pun terbawa perasaan dan tak sadar dirinya sedikit tersenyum dengan ucapan manis Albra.
“Kenapa senyum-senyum? Aneh,” komentar Albra menjatuhkan kesenangan Qyen.
“Aish … dasar om-om kaku,” kesal Qyen yang masih bisa Albra dengar.
“Hm? kamu bicara apa tadi?” Albra kini kembali duduk dan memojokan Qyen kesudut sofa, untuk meminta penjelasan bagaimana bisa Qyen berbicara seperti itu.
“A—Aku gak bil ….”
Satu kecupan mendarat di bibir Qyen dengan sangat lembut dan lama, Albra menjauhkan wajahnya dan kembali membiarkan Qyen berbicara.
“Iya-iya tadi aku bil ….”
Kecupan kedua kini mendarat kembali di bibir Qyen. Tapi lama kelamaan, sebuah kecupan itu menjadi ******* lembut yang bisa Qyen terima bahkan kini ia pun ikut didalam permainan Albra. Cukup lama keduanya terpaut sampai, Qyen kehabisan napas dan Albra menghentikannya, namun dahi mereka masih menyatu. “Mau kita lanjutkan saja? Saya sudah kepalang telat masuk kantor ….”
Merespon hal itu, Qyen menggelengkan kepalanya, ia pun memegang dahi Albra dengan tangannya, agar Albra bisa jauh dari wajahnya.
“Pak, please …” melas Qyen.
Albra tertawa melihat wajah Qyen yang semakin gemas.
“Kamu pergi aja kekantor, aku pulang ya.”
“Tidak, Qyen. Kamu harus disini, bahkan sepertinya kamu harus tinggal disini. Jangan pulang atau ….”
“Oke-oke aku enggak akan pulang. Lagipun gimana caranya aku pulang kalau leher aku merah-merah kaya gini,” ucap Qyen sambil menunjukan lehernya yang jenjang kepada Albra. Albra bisa melihat hasil karyanya semalam yang banyak sekali disana.
Anehnya Albra kini malah tersenyum senang, ia yang gemas kini mengacak rambut Qyen yang masih setengah kering. “Meta akan kesini mengantarkan pakaian kamu. Jika kamu butuh sesuatu kamu bisa bicara pada Meta atau ….”
Albra mengambil ponsel Qyen yang ada diatas meja, ia pun memasukan nomernya dan menelpon ke ponselnya. “Kamu bisa telpon saya.”
Qyen mengangguk, seperti layaknya seorang suami istri, Qyen mengantarkan Albra sampai kedepan pintu penthouse. Namun ada satu pikiran yang tiba-tiba terlintas dipikiran Qyen, dan ia butuh jawaban saat ini juga.
“Tapi sebentar, Pak ….”
“Kenapa? Kamu butuh sesuatu?”
“Hm … aku penasaran tentang apa yang terjadi semalam. Gimana keadaan Kak Fin?” Bagaimana pun Qyen melihat Albra menghajar habis Fin semalam.
Ekspresi wajah Albra berubah menjadi muram ketika Qyen bertanya dan menyebutkan nama Fin. “Kamu masih mikirin dia setelah semua ini terjadi?” Albra yang hendak pergi langkahnya tertahan, dan menyempatkan diri untuk berbicara dulu dengan Qyen.
Qyen melipat bibirnya, ia merasa bersalah karena membuat mood Albra turun. Tapi, disisi lain ia pun penasaran apa yang sedang terjadi dengan Fin. Jika ditanya dirinya marah atau tidak tentang kejadian semalam, tentu saja Qyen marah sangat-sangat marah.
“Aku sedikit penasaran, dan aku butuh penjelasan dari Kak Fin tentang semalam,” ucap Qyen hati-hati.
“Stop sebut namanya, Qyen. Semuanya biar saya yang urus.”
Qyen menggelengkan kepalanya. Semua masalah berawal antara dirinya dan Fin, di sini seharusnya Albra tidak berhak ikut campur, dan ia ingin menyelesaikan semuanya dengan penjelasan dari tersangka. “Aku hanya butuh penjelasan dia, Pak. Aku gak butuh apa-apa saat ini, aku cuma mau tau apa maksud dia udah lecehkan aku semalam.”
Albra menghirup udara sebanyak-banyaknya, dadanya terasa sesak mendengar Qyen berbicara seperti itu. Albra melangkah maju mendekati Qyen, dipegangnya kedua bahu yang saat ini sedang rapuh. “Jika kamu ingin berbicara dengan dia tunggu sebentar. Saya akan mencari waktu untuk kamu bisa mendengarkan penjelasan dia. Saya pergi dulu, jangan kemana-mana, ingat, Qyen ….”
Terakhir, sebelum Albra benar-benar pergi dari balik pintu penthouse, ia pun menyempatkan diri untuk mengecup dahi Qyen dengan lembut. Sepertinya, kebiasaan mencium Qyen kini sudah menjadi kesukaannya sejak semalam, dan Qyen merasa sangat-sangat senang sekali dengan hal itu.