
Waktu berlalu begitu sangat cepat, banyak sekali hal yang Qyen lakukan selama tinggal di rumah utama keluarga Max ini. Terhitung sudah 3 bulan lamanya ia tinggal, dan kini sudah terbiasa untuk hidup dan menjadi nyonya di rumah ini.
Usia kandungannya sudah menginjak 8 bulan, dan untuk bulan depan Albra dan Qyen sudah siap menyambut buah hati mereka.
Tentang Frans, semua berjalan baik-baik saja. Penyakit jantungnya perlahan membaik, dan juga ia mulai bisa menerima Qyen. Bahkan setiap harinya mereka sarapan bersama di ruang makan. Sesekali Frans pun berbicara basa-basi untuk bisa mengobrol dengan Qyen. Entahlah, mungkin Frans ingin membuka hatinya untuk menerima Qyen, atau … ia sudah lelah bergelut dengan batinnya.
Berbicara tentang Qyen satu-satunya perempuan yang ada di rumah itu, ia pun harus bisa membiasakan diri ketika dirinya dipanggil ‘nyonya’ oleh para pelayan atau penjaga. Mereka wajib memanggil Qyen dengan panggilan nyonya karena itu adalah perintah diam-diam dari Frans. Qyen mengetahui hal itu, karena Albra yang meceritakannya.
Kegiatan rutinitas pagi mereka sudah selesai. Hari ini adalah hari minggu, waktu untuk keluarga. Ruang keluarga yang dulu sepi hanya diisi oleh barang-barang mewah yang tidak bisa berbicara, kini ruang keluarga itu diisi oleh candaan Ian dan Alan. Mereka semua tengah berkumpul di ruang keluarga, termasuk Qyen, Albra, dan bodyguard Alan, Parell tentunya.
“Papa, Ian selalu meremehkan aku. Dia bilang aku tidak punya otot, padahal ototku besar seperti ini.” Alan yang sedang memakai baju singlet menunjukan otot dikedua tangannya, ia percaya diri karena selalu berolahraga dengan Parell.
“Otot apaan kaya gitu, kalau otot tuh kaya gini nih.” Ian tentunya tidak mau kalah dengan anak ingusan seperti Alan. Ia pun menunjukan otot kedua tangannya dan perut kotak-kotaknya. “Ini baru lakik,” ucapnya lagi.
Alan semakin kesal dibuatnya, hasil olahraganya selama 3 bulan belakangan ini, selalu diledek oleh Ian.
Albra hanya bisa tersenyum kecil menanggapi ocehan Alan yang tak pernah ingin kalah. Ia enggan merubah posisinya karena kini dadanya sedang dijadikan sandaran oleh Qyen yang terus mengeluh merasakan pinggang dan punggungnya terasa pegal dan sakit, mungkin karena kehamilannya semakin besar, dan bayi yang ada di kandungannya bertambah berat.
“Papa juga ngediemin, Lo. Itu tandanya otot Gue lebih besar dibanding Lo.” Ian masih memanasi anak itu.
“Biarin, yang penting aku sekarang udah punya pacar. Dari pada kamu selalu jomblo. Wleeee …” Alan menjulurkan lidahnya dan berlari keaarah Parell untuk meminta digendong, karena menghindar dari kejaran Ian.
“Siapa yang udah pacaran? Albra, Qyen Lo dengerkan? Anak Lo itu tuh otaknya pacaran terus.” Adu Ian yang kini sudah berdiri dan berkacak pinggang.
Tentu saja, Ian merasa kalah karena ketika pacaran dengan wanita, selalu saja ada halangannya. Apalagi ia masih belum bisa move on dengan Savana, pacar terakhirnya. Savana pergi meninggalkan Ian, mungkin karen kecewa, padahal usaha Albra pun turut hadir di dalam hubungan mereka.
“Parell, Alan bener pacaran?” tanya Albra kepada penjaga anaknya itu. Alan kini semakin dekat dengan Parell, dan Alan pun bilang jika Parell adalah sahabat terbaiknya setelah Qyen.
“Om, kamu sudah janjikan tidak akan membocorkan hal ini?” bisik Alan kepada telinga Parell.
Mendengar hal itu, Parell tentu saja mengerutkan dahinya. Bukannya tadi Alan yang bilang sendiri jika dirinya berpacaran?
“Bukannya Tuan kecil yang bilang kalau kamu pacaran?” tanya Parell pelan.
“Aish, iya juga ya. Bagaimana dong, aku gak mau Ely marah kepadaku.”
Ian mendengar semua percakapan itu. “Siapa? Ely? Ely nama pacar Lo?” Ian menahan tawanya karena melihat wajah Alan yang sudah sangat kesal.
Qyen yang tertarik mendengar pembicaraan ia pun bangun dan memilih untuk duduk bersandar di soa. “Alan, sini aku mau bicara.”
Sudahlah, dirinya sudah tertangkap basah karena berpacaran. Lagipun salahkan mulutnya yang tidak pernah bisa berhenti berbicara ini. “Om, bagaimana ini?” Alan takut melihat wajah Albra dan Qyen berubah menjadi serius.
Parell dengan wajah tanpa dosanya, menyerahkan Alan untuk duduk di sebelah Qyen. “Parell, benar Alan pacaran?”
Parell menganggukan kepalanya. “Iya, Nyonya. Tuan kecil bilang jika ia berpacaran dengan Ely teman barunya di kelas.”
Suara tawa besar Ian terdengar di sana, sedangkan Alan sudah sangat kesal karena merasa dipermalukan seperti ini. “Lo baru masuk kelas tinggi di TK-kan? Baru juga satu bulan udah nemu cewek aja.” Ian tidak berhenti tertawa karena kelucuan ini.
Alan hanya bisa memajukan bibirnya karena kesal, tangan Albra pun terasa di bahunya. “Ely cantik?” tanya Albra sambil berbisik.
Alan menganggukan kepalanya dengan antusias. “Iya. Ely cantik banget seperti Qyen. Dia jago berenang, dan kita suka berbagi bekal.”
“Baiklah tidak apa-apa jika kamu suka dengan perempuan, itu hal yang wajar. Ian sudah, tidak perlu meledek Alan. Kalau dia nangis kamu tau sendiri bagaimana susahnya cara menenangkan dia.”
“Gila, ada aja hal yang bikin perut Gue sakit gara-gara ketawa,” ucap Ian lalu pergi menuju kamarnya.
“Maaf, Qyen. Aku takut kamu marah,” cicitnya pelan.
Qyen membawa Alan ke dalam pelukannya. “Aku juga tahu kalau kamu lelah karena dedek bayi ini.” Alan masih terus berbicara.
Qyen mengakui memang akhir-akhir ini waktunya kurang dengan Alan, ia tidak bisa mengantar Alan pergi ke sekolah karena larangan dari Albra.
“Maafkan aku kalau waktu kita akhir-akhir ini tidak seperti dulu.” Qyen ingin menangis rasanya, namun usapan tangan Albra dipunggungnya terasa.
“Tidak apa-apa, Qyen. Ada Om Parell yang menemani aku.”
Larut dalam suasana yang sedikit sedih, haripun sudah semakin siang. Siang itu, Albra sudah memiliki rencana untuk bermain golf dengan Ian dan Parell, di lapangan belakang rumah mereka. Tentu saja lapangan golf besar sudah tersedia di sana.
Qyen tidak ikut serta menonton permainan itu, karena panasnya terik matahari membuat dirinya lebih baik melihat permainan itu dari balkon kamarnya saja. Walaupun tidak terlihat dengan jelas.
Asik melihat permainan suaminya, tak lama ketukan dipintu kamarpun terdengar.
“Iya, sebentar,” sahut Qyen lalu membuka pintu kamarnya.
“Tuan besar.” Betapa terkejutnya Qyen ketika melihat Frans, Brian dan seorang wanita yang Qyen tidak ketahui siapa dia, karena ini baru pertama kalinya bertemu.
“Bisa kita bicara sebentar?” tanya Frans dengan nada bicara santainya.
Qyen mengangguk sambil tersenyum. “Tentu saja, Tuan.”
“Nyonya, perkenalkan ini Nesi, orang yang akan membuat interior kamar calon bayi anda,” ucap Brian yang memperkenalkan wanita itu kepada Qyen.
Dahi Qyen berkerut, tentu saja ia tidak tahu menahu tentang hal ini karena Albra tidak memberitahu sebelumnya. “Hai, saya Qyen.” Namun begitu Qyen mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan wanita tersebut.
“Tapi, Tuan. Tuan Albra tidak membicarakan hal apapun kepada saya. Jadi mungkin saya harus berbicara dulu dengan Tuan Albra. Saat ini Tuan Albra sedang bermain go—“
“Ini titah saya. Kamu bisa pakai kamar itu untuk menjadi kamar bayi.” Jawabnya sambil menunjuk sebuah pintu besar yang berdekatan dengan kamar Alan.
“Tapi, Tuan. Bukannya itu perpustakaan?”
Frans mengangguk. “Akan dipindahkan ke lantai satu. Kamu mengobrol saja dengan Nesi. Saya masih ada urusan.” Frans berlalu menruruni tangga sendiri.
Sedangkan Qyen, Brian dan Nesi memasuki ruangan yang kini masih menjadi perpustakaan. Qyen yang tidak tahu menahu tentang desain sebuah kamar bayi ia pun bingung ketika Nesi menjelaskannya.
“Emm … Maaf, aku masih bingung,” ucap Qyen sambil tersenyum kecil.
“Saya punya beberapa referensi gambarnya, Nyonya. Anda bisa lihat di sini.”
Nesi memberikan beberapa gambar, dan video tentang referensi kamar calon bayi Qyen nanti. Sebenarnya Qyen masih terkejut dengan perlakuan Frans yang sangat perhatian namun terlihat masih sedikit gengsi.
Tapi tak apa, usahanya selama ini tidak sia-sia untuk meluluhkan hati batu Frans.
“Jika saya boleh tau calon bayi anda berjenis kelamin apa, Nyonya? Agar saya bisa menyesuaikan warna dengan ruangan ini.”
Qyen tersenyum mendengar pertanyaan itu. “Saya masih belum tau jenis kelaminnya, karena saya meminta dokter untuk tidak menyebutkannya.”
“Baiklah, Nyonya. Sepertinya paduan warna biru cocok untuk ruangan besar ini. Silahkan Nyonya pilih saja, mulai besok saya dan tim akan langsung mengeksekusi ruangan ini. Karena Tuan besar ingin cepat selesai.”