
Dengan cepat, hari berubah menjadi petang. Qyen saat ini ada dalam perjalanan pulang menuju rumah lamanya. Ya, ia memutuskan untuk menghindari Albra dan Alan terlebih dahulu dan memilih untuk kembali pulang ke rumah lamanya. Beberapa pesan dan panggilan telpon dari Albra tentu saja Qyen abaikan. Sebenarnya ia tidak ingin menambah masalah yang ada, tapi hati Qyen merasa jika ia pun butuh waktu dan ketengangan.
Lagipun, selama beberapa bulan terakhir Qyen tidak memiliki waktu luang untuk dirinya sendiri, dan mungkin ini waktunya untuk Qyen agar ia bisa menenangkan dirinya sendiri.
Sama seperti beberapa jam yang lalu, saat ini ia masih bersama dengan Fin. Sudah banyak sekali topik pembicaraan yang mereka obrolkan. Bahkan Qyen kini merasa jika Fin kembali seperti dulu, namun ia masih memilki rasa waspada.
“Bukannya kamu minta diantarkan ke pantai batu?” tanya Fin ketika tahu jika arah tujuan Qyen berbeda. Fin tentu saja tahu dimana arah rumah Qyen dulu, karena rumah itulah tempat yang wajib ia kunjungi setiap paginya.
“Em … aku ingin pulang dulu mengambil sesuatu.” Alibi Qyen untungnya masuk akal.
“Kamu mengabaikan semua pesan Albra? Jika kamu butuh teman, saya bisa membantu kamu, Qyen.”
Qyen menggelengkan kepalanya, ia masih tahu batasan untuk dekat dengan laki-laki, karena Qyen sadar jika ia memiliki suami. “Tidak perlu, Kak. Aku hanya sebentar dan setelah itu aku akan mengabari suamiku,” ucap Qyen.
Fin menelan ludahnya kasar ketika ia mendengar kata ‘suamiku’ disana. Sepertinya hubungan mereka memang bukan hubungan yang terpaksa.
“Kak Fin, boleh aku menanyakan sesuatu?” Qyen menggenggam tasnya dengan erat, momen ini adalah momen yang paling ia tunggu, bahkan Qyen memikirkan pertanyaan ini beribu-ribu kali didalam pikirannya.
“Iya, silahkan, apa yang ingin kamu ketahui?” Fin tersenyum memperlihatkan wajah tampan nan manisnya.
“Emm … maaf jika pertanyaan aku menyinggung dan tiba-tiba.” Qyen menjeda ucapannya untuk melihat terlebih dahulu reaksi Fin.
“Tentu, santai saja. Kamu sangat kaku,” jawab Fin yang mencoba untuk mencairkan suasana.
“Sebenarnya, apa kamu sudah tahu jika Alan itu keponakan kamu?” Qyen berbicara dengan sangat hati-hati di sana.
Fin merubah ekspresi wajahnya menjadi lebih datar. Tentu saja ia sudah tahu hal itu, namun ia hanya pura-pura tidak tahu jika adiknya sudah memiliki anak, dan ia tidak pernah mengaku bahwa jika dirinya sudah memiliki keponakan.
Fin mengangguk sekilas. “Baru-baru ini saya mengetahuinya. Ada apa?”
Melihat perubahan ekspresi wajah Fin dan respon dari jawabannya, Qyen memilih untuk menyudahi untuk membahas hal itu. “Tidak apa-apa, aku hanya terkejut saja ketika mengetahui hal itu.” Qyen berniat mengakhiri obrolannya tentang Alan, tapi ….
“Ya, seperti yang kamu tahu. Mungkin saya tidak perlu menjelaskan semuanya lagi. Adik saya melahirkan anak itu, dan saya pun awalnya tidak tahu tentang hal yang terjadi,” ucap Fin.
Qyen menggigit bibir bawahnya, sepertinya Fin memang tidak mengakui Alan sebagai keponakannya, bahkan mungkin Alan pun tidak tahu jika Fin adalah pamannya.
“Jadi, dulu, waktu pertama kali kamu melihat Alan, kamu belum tahu bahwa dia ….”
“Iya, saya belum tahu jika dia anak adik saya.”
Suasana diantara mereka pun hening, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Fin sangat menghindari tentang pertanyaan ini, dan ternyata Qyen akan membahasnya. Lalu Qyen, yang sibuk dengan pikirannya sendiri bagaimana bisa ia menghadapi Alan dan Albra setelah kejadian ini.
“Sudah sampai,” ucap Fin membuyarkan lamunan Qyen.
“A—ah … maaf aku tidak fokus.” Qyen membuka seat belt-nya, karena ia kesusahan, tangan Fin pun ikut membantu.
“Apa memangnya yang sedang kamu pikirkan?”
“Ha? Tidak, Kak … mungkin hanya kelelahan saja. Oh iya, terimakasih ya, hati-hati di jalan.”
Qyen hendak membuka pintu mobil, namun tangannya ditahan oleh Fin. Tubuh Qyen menengang, ia takut Fin akan berbuat sesuatu kepadanya.
“Ke—kenapa?”
“Sebentar, saya ingin memberi kamu sesuatu.” Fin masih menggenggam tangan Qyen, dan Qyen memperhatikan tangannya yang di genggam oleh Fin. “Ah, sorry.” Fin menjauhkan tangannya dari Qyen.
Ia mengambil sesuatu dari jok belakang, sebuah paper bag sedang berwarna hitam. “Saya melakukan perjalanan bisnis beberapa waktu lalu, dan tidak sengaja melihat benda itu, sepertinya itu warna kesukaan kamu. Semoga kamu suka.”
Tangan Qyen menggantung untuk menerima hadiah tersebut, ia merasa tidak enak hati jika menolak pemberian tersebut, namun jika ia menerima ia takut akan ketahuan oleh Albra.
Fin kembali mengambil tangan Qyen, ia pun menyuruh Qyen untuk mengambilnya. “Terima saja, kamu pasti suka.”
Qyen akhirnya mengambil hadiah tersebut. “Terimakasih.”
Fin turun dari mobil, dan membukakan pintu untuk Qyen. Ia pun mengantarkan Qyen sampai ke depan pintu rumahnya. “Maaf aku tidak bisa mengajak kamu untuk mampir.”
Fin tersenyum. “Tidak apa-apa, diberi kesempatan bisa mengobrol dengan kamu saja, saya sudah bersyukur. Saya pulang, Qyen.” Fin mengakhiri pertemuannya dengan mengusap kepala Qyen dengan lembut.
Deg-deg-deg
Bunyi detakan jantung Qyen yang hampir melompat dari tempatnya. Bukan, Qyen bukan merasakan jatuh cinta, hanya saja ia terbayang dengan wajah Albra saat ini, bagaimana reaksinya jika suaminya tahu tentang hal ini.
Qyen melamun sampai suara klakson mobil Fin berbunyi, dan Fin melambaikan tangannya di sana. Untuk membalas hal itu, dan menjaga kesopannannya, Qyen pun menanggapi itu dengan senyum kecilnya. Mobil Fin pun menjauh, dan Qyen bisa bernapas dengan lega.
Untung saja, kunci itu selalu Qyen bawa di dalam dompetnya. Pintu terbuka, betapa rindunya Qyen dengan rumah ini, rumah yang ia bangun dari hasil jeripayahnya.
Debu-debu halus menyambut kedatangan Qyen, rumah itu terisi debu halus karena sudah dtinggalkan berbulan-bulan lamanya.
“Hah … aku kangen banget rumah ini. Maaf ya sudah meninggalkan kamu,” ucap Qyen sambil menyalakan semua lampu yang ada di sana.
Ia mulai menuruni tangga untuk bisa sampai di kamarnya. “Akhirnya aku bisa datang ke kamarku lagi. Tapi, gak nyangka aku datang dalam keadaan hamil seperti ini,” gumam Qyen sambil terkekeh.
Qyen mengistirahatkan dirinya di sofa yang sebelumnya ia bersihkan terlebih dahulu. Tidak ada yang berubah dari rumahnya, hanya saja rumah ini sudah tidak ada makanan yang bisa ia makan, padahal perutnya sudah merasakan lapar.
“Udah malam, aku harus mandi dan tidur. Tahan sebentar ya, Nak … besok kita bisa makan.” Qyen mengusap perutnya sambil berjalan menuju toilet. Qyen kembali merasa beruntung karena aliran air dan listriknya tidak di padamkan.
Ketika hendak memasuki toilet, bak menemukan harta karun, ia bisa melihat ada beberapa makanan kemasan yang tersimpan di dalam raknya. Ada mie instan, beberapa snack dan beberapa botol minuman.
“Kalau makanan kaya gini gak akan kaldaluarsakan?” Qyen mengambil salah satu mie instan dan snack di sana. “Yeay … kita bisa makan ini malam ini, sayang ... sepertinya ini rezeki kamu.”
….
Di tempat lain, Albra sedang kebingungan mencari keberadaan Qyen. Kender dan Meta yang ditugaskan untuk mencari istrinya, belum juga memberikan kabar kepadanya dimana Qyen berada. Albra sudah memberikan banyak sekali pesan kepada Qyen, bahkan telpon tapi Qyen tidak membalasnya.
Bahkan sore tadi, Meta sudah mencari Qyen di rumah lamanya, tapi tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Dengan segelas vodka, Albra terdiam di ruangan kerjanya, bahkan sepertinya semenjak kejadian itu, Qyen tidak pulang ke penthouse atau apartemennya.
“Kemana kamu, Qyen …” gumam Albra yang sudah mulai merasakan sedikit mabuk.
Ia terdiam, mencoba mencerna semua kejadian yang terjadi hari ini. Padahal Albra sudah menjelaskan semuanya kepada Qyen tentang ibu Alan, tapi mengapa Qyen harus bersikap seperti ini kepadanya? Padahal ia mengharapkan pelukan ketika ia pulang, tapi yang ia dapatkan adalah kepergian Qyen yang entah kemana.
Tentang Alan, ia sudah di hibur oleh Ian di rumah kakeknya. Frans tentu saja tahu tentang kejadian itu, Frans akan menyelesaikan urusannya dengan Mey, oleh caranya sendiri.
Ponselnya bergetar, tanda seseorang menelpon kepadanya. “Ya …” gumam Albra santai.
“Oke, saya ke sana. Tetap tunggu dan awasi, jangan sampai dia pergi lagi.”
Itu adalah laporan Meta, jika ia sudah menemukan Qyen di rumahnya. Meta belum bertemu dengan Qyen, hanya saja melihat tanda-tanda kehidupan Qyen di rumah lamanya.
Dengan terburu-buru, Albra langsung menyambar kunci mobilnya. Walaupun merasa sedikit mabuk, ia harus tetap bertemu dengan Qyen saat ini, juga, ia tidak ingin membuat Qyen ketakutan dan sendiri, apalagi Qyen tengah mengandung. Bahkan hari ini Albra merasa bersalah karena tidak bisa mengantarkan Qyen check-up ke dokter.
“Jangan pernah tinggalkan saya, Qyen. Saya tidak akan pernah melepas kamu,” gumam Albra.
Dengan setengah kesadarannya, setelah 20 menit berlalu dengan mengendarai mobil, akhirnya Albra sampai di depan rumah lama Qyen. Sudah ada Meta seorang diri yang menunggunya di sana, karena Kender sedang menjalankan tugas lain.
“Tuan, apakah anda menyetir dengan keadaan mabuk?” tanya Meta yang kini menghampiri tuannya.
Albra mengangguk pelan, Meta pun bisa melihat jika mobil putih Albra memiliki bekas gesekan dan benturan, sepertinya Albra tidak benar-benar membawa mobil dengan baik.
“Saya belum bertemu dengan Nona, tapi saya melihat adanya tanda-tanda kehidupan di dalam sana. Saya baru datang ke sini satu jam yang lalu.”
Albra mengangguk, ia pun mencoba membuka pintu rumah Qyen, namun tidak bisa. “Sebentar, Tuan.”
Meta mengeluarkan sebuah alat dari sakunya, Albra tidak tahu alat apa yang sedang di gunakan oleh sekertarisnya, namun tiba-tiba saja pintu itu terbuka.
Albra yang hendak masuk pun terlebih dahulu berbicara sesuatu kepada Meta. “Kamu pulang saja, kirimkan saya dua bodyguard untuk berjaga di sini. Saya akan pulang besok,” ucap Albra lalu pergi masuk ke dalam rumah Qyen.
Kondisi rumah Qyen saat ini sedikit gelap, karena jam sudah menunjukan pukul 11 malam, hanya ada satu lampu yang nyala, yaitu lampu yang berasal dari kamar Qyen. Ketika Albra turun, ia melihat ada beberapa bekas cangkang snack, mie instan yang sepertinya baru saja di buka.
“Qyen …” Geram Albra yang mengetahui jika istrinya memakan hal seperti itu.
Sambil berjalan mengendap-ngendap, ia pun mengintip sedikit kamar Qyen, dan ternyata benar dengan menggunakan kaus yang kekecilan untuk badannya, dan celana pendek yang memperlihatkan paha mulusnya, Qyen sedang tertidur meringkuk menghadap tembok. Melihat hal itu, membuat Albra menelan salivanya dengan susah payah.
“Bagaimana jika ada sembarangan orang masuk dan melihat kamu seperti ini, Qyen …”
Albra melangkahkan kakinya dengan pelan, ia duduk di kasur Qyen dan menatap lekat wajah istrinya. Ada bekas air mata yang sudah mengering di sudut matanya, Albra tahu jika Qyen baru saja menangis.
“Maaf sudah membuat kamu khawatir …” gumam Albra sambil mengusap mata Qyen.
Qyen yang sudah nyaman dengan tidurnya harus terusik karena sesuatu yang ia rasakan. “Kak!” Qyen terkejut ketika melihat Albra yang sedang menatap datar kearahnya.
“Kak …” lirih Qyen disaat tiba-tiba saja Albra memeluk tubuhnya dengan erat.
“Jangan pernah coba pergi dari hidup saya, Qyen, karena saya tidak pernah mengizinkan hal itu.”