
Setelah kejadian sore itu berlalu, tentang Alan yang mengutarakan isi hatinya kepada Qyen. Pada malam hari ini, Qyen diminta untuk mengantarkannya pulang menuju apartemen karena Alan tidak ingin pisah dari Qyen seperti biasanya.
Saat ini jam menunjukan pukul 8 malam, Qyen sudah menemani Alan dan tentunya Albra makan malam dan tugas terakhirnya adalah menemani Alan agar bisa tertidur dengan nyaman didalam kamarnya.
“Qyen, Papa bilang sebentar lagi aku ulang tahun, kamu mau datangkan ke acaraku?” tanya Alan sambil melihat kearah Qyen yang tengah duduk dikursi dekat kasurnya sambil membacakan dongeng.
Qyen berhenti membaca dan menjawab pertanyaan Alan. “Kamu bentar lagi ulang tahun? Tentunya aku harus datang dong ….”
“Yeay … semoga temen-temenku tau kalau aku punya temen baik kaya kamu. Andai kamu jadi ibuku,” gumam Alan diakhir kalimatnya, namun Qyen masih tetap bisa mendengar itu.
Dirasa ucapan Alan semakin melantur, dan Qyen tidak ingin Alan terus-terusan berbicara seperti itu, ia pun menutup buku cerita dan meletakan ketempatnya. Qyen menyelimuti Alan dengan benar, sebelum akhirnya ia berbicara. “Akan aku usahakan untuk datang ke acara kamu. Kamu bisa telpon aku melalui Papa. Sekarang waktunya tidur, kamu tidur ya?”
Alan mengangguk dengan tenang. “Selamat malam, Alan. Mimpi yang indah ….”
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Qyen pergi dari kamar Alan dan mematikan lampu utama kamar mewah ini. “Qyen, jangan pergi ya, aku butuh teman disini.”
Qyen dapat mendengar suara itu dengan jelas, ia hanya bisa tersenyum dan menutup pintu kamar Alan seperti terakhir kali yang ia lakukan.
‘Aku tidak bisa terus berada disisi kamu, Alan … posisi kita tidak sama ….’
Qyen berjalan menuju sofa mengambil tasnya, semua urusan tentang Alan selesai, saat ini ia hanya perlu pulang ke rumah dan beristirahat.
“Alan sudah tidur?” tanya Albra yang tiba-tiba datang dari arah kamarnya.
Qyen memakai tasnya sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Albra. “Iya, Pak. Aku pamit pulang.”
“Saya antar ….”
“Tidak usah. Ini masih siang, aku naik angkutan umum saja.”
“Qyen ….”
“Tidak apa-apa, aku takut kalau berurusan kembali dengan keluarga Bapak,” ucap Qyen bersamaan dengan dirinya membungkuk untuk memberikan salam kepada Albra, sebelum akhirnya ia membuka pintu dan keluar dari apartemen Albra.
Berjalan sendiri dikoridor cukup panjang membuat Qyen bernapas lega. Ia tidak menyangka jika harinya menjadi lebih panjang seperti ini.
Qyen menunggu angkutan umum agar bisa sampai kerumahnya. Cukup lama sebelum akhirnya ada mobil berhenti didepan Qyen yang tengah duduk dipinggir jalan. Lampu mobil itu menyorot kearah mata Qyen, sebelum akhirnya pengemudi itupun turun dan menghampiri Qyen.
Qyen sangat terkejut ketika tahu siapa yang turun menghampirinya, dia Fin, Fin Ghazi. Seseorang yang sudah cukup lama menghilang karena kejadian yang tak disangka, kini tiba-tiba datang dan bertemu dipinggir jalan seperti ini.
Qyen berdiri dari duduknya sebelum akhirnya suasana disana menjadi canggung.
“K—kak Fin …” sapa Qyen yang masih tidak percaya.
“Qyen ….”
“A—sedang apa kamu disini, kamu kok bisa tahu aku ada disini,” kata Qyen basa basi.
Fin mengangguk. “Saya tidak sengaja melihat kamu, dan merasa tidak sopan jika kita sudah lama tidak saling menyapa.”
Qyen melipat bibirnya karena tidak tahu harus menjawab apa. Berdiam tegak dihadapan Fin membuat dirinya tidak senyaman dahulu. Jika dulu ia bisa berbicara dan bercerita kepada Fin dengan bebas, saat ini setelah kejadian itu mereka menjadi canggung.
“I—iya, sudah lama kita tidak berjumpa. Kakak apa kabar?”
“Kabar baik. Maaf saya jarang mengunjungi kamu akhir-akhir ini. Kamu habis dari mana?”
“Kamu mau pulang? Atau mau bermain sebentar dengan saya?” tanya Fin dengan nada bicara yang tidak seperti biasanya.
Setelah tidak bertemu sangat lama dengan Fin, dan ia merasa tidak sopan jika menolak ajakan dari Fin, mau tidak mau Qyen mengangguki ajakan Fin dan kini mereka sudah masuk kedalam mobil Fin.
Tapi … ada satu kejanggalan aneh yang Qyen lihat, mobil yang harusnya berjalan lurus kedepan menuju rumahnya, kini malah memutar balik kearah yang berlawanan. Ah, mungkin Fin akan mengajak dirinya bermain terlebih dahulu karena ajakan Fin tadi.
“Kamu sudah makan malam?”
Qyen mengangguk, tanda jika ia sudah makan malam.
“Kamu masih berhubungan dengan laki-laki itu?” tanya Fin tiba-tiba yang membuat Qyen mengerutkan dahinya untuk berpikir lebih lama. Laki-laki? Laki-laki siapa maksud dari Fin?
“Si—siapa maksud kamu, Kak?” tanya Qyen berbalik bertanya kepada Fin yang berada dikursi kemudi.
“Albra?” ucap Fin yang ternyata tahu siapa Albra.
“Kamu kenal?” tanya Qyen dengan sedikit terkejut.
Fin tertawa kecil. “Siapa yang tidak tahu bos besar itu, Qyen? Bukannya dia seorang pecinta sesama?” tanya Fin sambil memberikan kutip memakai jarinya.
“A—aku tidak tahu, dan aku tidak berurusan dengan dia,” jawab Qyen seadanya. Jantungnya kini berdetak hebat disaat Fin membicarakan Albra begitu saja.
Jalanan yang mereka lewati semakin asing dimata Qyen, bahkan ia tidak tahu ia akan dibawa pergi kemana oleh Fin, karena lingkungan ini terlihat cukup sepi. Memangnya ada tempat bermain didaerah sini?
“Kamu tidak tahu tentang gosip dia? Saya sudah pernah bilang jangan pernah berurusan dengan orang seperti Albra atau kamu akan terus berurusan dengan dia.”
Qyen merasa jika Fin kini berbeda dengan Fin yang ia kenal dulu. Cara bicaranya terlalu ketus dan tidak pantas untuk didengar.
“Maaf, Kak. Aku disini bukan untuk membicarakan orang lain, jadi stop membicarakan tentang orang lain disini.”
Mobil Fin berhenti, Qyen bisa melihat jika mereka tengah berada disebuah kawasan hiburan malam, atau tempat dimana dari ujung jalan sampai ujung jalan sana terdapat beberapa klub mewah yang berjajar.
“Okay, saya tidak akan membahas lagi. Ayo turun, saya akan mengajak kamu makan malam disini,” ucap Fin yang menyuruh Qyen untuk turun.
Saat ini Qyen sangat ragu untuk turun karena ia tidak tahu akan dibawa kemana, dan ini kali pertama untuknya mengunjungi tempat hiburan malam seperti ini.
“Aku enggak mau turun, aku mau pulang,” ucap Qyen yang kini hendak menangis.
“Kenapa? Kamu takut? Ada saya disini, saya hanya akan mengajak kamu makan malam dan mengenalkan bisnis saya. Butuh waktu lama saya memperkenalkan bisnis ini kepada kamu,” jawab Fin dengan cerdasnya.
Lagi dan lagi Qyen yang merasa tidak enak, akhirnya ia pun turun dan dengan langkah pelannya ia mengikuti kemana perginya Fin.
Semua orang menunduk kearah Fin ketika mereka hendak masuk, dari sini saja, Qyen sudah bisa mendengar suara music yang sangat-sangat kencang. Qyen malu, dan Qyen ingin pulang, bahkan melihat pakaiannya saat ini sangat tidak cocok untuk dipakai pergi ketempat seperti ini.
‘Hal apa lagi yang terjadi hari ini, tuhan ….’
Disisi lain, seorang laki-laki dewasa yang baru saja turun dari mobilnya mengikuti kemana dua orang itu pergi, ada perasaan yang sangat tidak enak ketika melihat wanita yang ingin ia lindungi kini dibawa oleh pria lain.
Laki-laki itu hendak masuk, namun beberapa penjaga menahannya, karena ia tidak memiliki kartu akses untuk masuk kedalam klub tersebut.
“Akan saya bayar mahal, biarkan saya masuk,” ucapnya sambil melihat dua orang yang dalam awasannya kini sudah masuk kedalam dan menghilang ditengah kegelapan.
“Shit!” kesalnya dan langsung menelpon seseorang yang bisa ia andalkan saat ini.