
Albra merasa jika ia tidak bisa diam saja di sini, pikirannya saat ini penuh dengan Alan yang menangis ketika dibawa oleh ayahnya tadi. Namun jika sekarang ia pergi pulang ke rumahnya, ia tidak bisa menjamin jika ia akan diperbolehkan melihat Alan karena keributan yang cukup besar tadi.
Albra yang merasa kesal ia pun berteriak dan melempar dokumen yang sedang ia pegang ditangannya. “Sialan!”
Mendengar teriakan yang berasal dari bosnya, sekertaris Albra yang sedang berdiam di luar pun menghampiri bosnya yang sudah berpenampilan sangat kacau. Kancing atas kameja putihnya sudah terlepas bergitu saja, bahkan rambutnya sudah tidak beraturan lagi.
“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanya seorang sekertaris perempuannya yang menghampiri Albra.
Tanpa melirik kea rah sekertarisnya itu, ia pun berbicara. “Cari informasi Alan di rumah utama sekarang. Kalau bisa bawa Alan kehadapan saya,” kata Albra dengan cepat.
Sebagai informasi, Albra memiliki 2 sekertaris, satu laki-laki dan satu perempuan, mereka berjaga secara bergantian untuk menghandel semua kesibukan Albra yang tiada habisnya disetiap harinya. Albra tidak asal memilih sekertaris perempuannya itu, bahkan untuk dapat bekerja dengan Albra karyawannya harus melewati beberapa hal yang cukup ketat.
“Baik, Pak. Saya akan mengirim seseorang untuk pergi ke rumah utama.”
Albra mengangguk ia berjalan ke ujung ruangannya dan mengambil gelas wine yang sudah terisi di sana. “Cari tahu kegiatan apa saja yang terjadi di sana,” ucap Albra kembali.
Setelah pamit mengundurkan diri, sekertaris itu pun langsung melakukan perintah apa yang sudah diberikan kepadanya.
Di dalam ruangan, Albra memutar gelas winenya dengan sangat pelan, sambil memperhatikan cairan pekat itu dengan intens. Pikirannya kembali membayangkan kejadian malam lalu disaat Qyen kesulitan membopong, membawanya menuju kamar di apartemennya. Ia sudah ingat, dan Albra sedikit sadar pada saat itu. Namun akibat kendali alkohol, rasa lelah, rasa kantuk, dan pikirannya yang sedang tidak baik-baik saja, kekacauan malam itupun terjadi.
Mengingat kejadian itu, dan Albra masih bisa merasakan sentuhan Qyen di tangannya, tak sadar sudut bibir kanannya pun tertarik dan membentuk sedikit senyuman.
“Qyen, lihatlah semua kekacauan yang sudah kamu lakukan di sini,” katanya dengan sangat pelan.
Albra bahkan baru tersadar hidupnya kini menjadi lebih sulit karena ada seorang wanita yang tiba-tiba hadir di dalam hidupnya dan Alan, anaknya. Sepertinya Albra tidak bisa diam saja, ia harus membantu Alan untuk bisa melupakan Qyen, dan tidak membahas wanita muda itu di depan dirinya atau kakeknya nanti. Jika Alan bertemu dengannya, ia akan menjelaskan semuanya agar masalah yang terjadi cukup sampai di sini.
Albra sepertinya sudah tidak bisa lagi melanjutkan pekerjaannya, karena pikirannya sangat kacau dan berkecamuk. Tak sempat merapihkan rambutnya, ia hanya sempat menyimpan gelas winenya, mengambil jas dan berjalan keluar untuk pergi ke suatu tempat yang sudah ada di dalam pikirannya saat ini, yaitu pergi ke rumah Qyen agar ia bisa memberikan penjelasan untuk memberikan jarak yang sangat jauh kepada dirinya ataupun Alan.
Mobil Albra sudah siap, dan satu orang supir sudah menunggunya, namun ia tidak butuh supir kali ini, ia hanya akan pergi ke rumah Qyen sediri agar tidak ada yang ikut campur di dalam urusannya.
“Saya pergi sendiri,” ucapnya yang langsung masuk ke dalam kursi kemudi.
“Tapi, Tuan. Anda sedang di dalam kendali Alkohol ….”
Albra tidak menghiraukan ucapan supirnya itu, Albra langsung pergi dengan mobil keluaran terbarunya untuk menuju rumah Qyen yang cukup jauh dari perusahaannya.
Di tempat lain, Qyen yang tengah beristirahat karena sibuk melayani banyak sekali qustomer hari ini, ia pun hanya bisa terduduk di sebuah sofa usang di dalam tokonya. Sambil mengipas-ngipas kepalanya yang cukup panas dan berkeringat dengan selembar kertas yang sedang ia pegang.
“Hari ini pendapatan cukup banyak. Mungkin … karena festival di pantai sebelah kali ya? Makanya orang banyak datang beli buah ke sini,” ucapnya sambil juga menghitung pendapatan hari ini di saku celemeknya.
Senyum lebarnya pun terhenti di saat Fin tiba-tiba datang masuk ke dalam tokonya. Qyen kembali menggulung uangnya dan memasukkan uang itu ke dalam celemeknya. “Hai, Kak Fin tumben jam segini mampir ke toko,” ucap Qyen yang kini menghampiri Fin.
“Hai, Qyen. Bisa bantu saya sebentar? Saya sedang kesulitan di kantor,” kata Fin dengan nada lesu sambil mencoba untuk merangkul Qyen.
Qyen yang melihat wajah tidak biasa dari Fin, ia pun mencoba untuk menjauh. Menghindari tangan Fin yang sedang mencoba untuk meraih bahunya.
“Ada apa, Kak? Kamu sedang butuh bantuan apa?”
“Bisa saya pergi ke kamar kamu sebentar? saya ingin istirahat karena pekerjaan yang sangat melelahkan hari ini.”
“Qyen?” tanya Fin karena melihat Qyen hanya terdiam.
“Kenapa kamu tidak pulang kerumah, Kak? Kamu sedang mabuk?”
“Saya tidak mabuk.”
“Maaf … sepertinya … aku tidak bisa meminjamkan kamarku ….”
Belum sempat Qyen selesai berbicara, Fin terlebih dahulu meraih pinggang Qyen dengan cepat, sehingga tubuh mereka pun bersentuhan. Fin yang memiliki postur badan lebih tinggi dari Qyen, Qyen pun harus menenggakkan wajahnya agar bisa melihat kearah wajah Fin yang sudah menatapnya dengan tatapan sayu.
“Kak … kamu ….”
“Saya tidak butuh ucapan kamu. Saya hanya butuh kamu,” jawabnya dengan cepat.
Qyen berusaha untuk bisa melepaskan dirinya dari Fin, namun tangan Fin lebih kuat memegang pinggang Qyen yang sangat kecil itu. Alhasil, Qyen tidak bisa apa-apa saat ini.
“Kak, lepas!” kata Qyen mencoba untuk mencari celah agar ia bisa pergi dari pelukan Fin yang sangat erat ini.
“Kamu gila ya, Kak!” teriak Qyen kembali.
Mata sayu Fin kini hanya bisa melihat kearah wajah Qyen, perlahan tapi pasti, ia mendekatkan wajahnya kearah wajah Qyen, namun Qyen masih mencoba untuk mencari cara agar ia bisa pergi dari sini. Nafas Fin memburu, dan Qyen bisa merasakan wajahnya menghangat karena napas dari Fin yang menerpa wajahnya.
Qyen yang sudah kehilangan cara pun berteriak dengan sangat kencang, sampai ada seorang laki-laki datang dan menendang bagian kanan tubuh Fin dan menarik tangan kirinya sampai tubuh mereka bertabrakan. Qyen kenal wangi ini, bahkan wangi khas ini pun sudah bercampur dengan bau alkohol.
“Brengsek!” teriak Albra ketika melihat Fin mencoba bangkit dari jatuhnya.
Ya, Qyen kenal wangi itu, itu adalah wangi khas dari Albra yang sudah ia kenal. Bahkan ia bisa memastikan itu ketika melihat wajah dingin itu kini sudah ada di dekatnya. Jantung Qyen berdebar karena ini pertama kalinya dirinya menghadapi situasi seperti ini.
Fin sudah berdiri dengan benar, ia kini menatap Albra dan Qyen secara bergantian. Senyum jahat pun keluar dari mulut Fin ketika melihat Qyen yang bersembunyi dibalik kekarnya tubuh Albra. Ia berjalan menghampiri Qyen, dan membisikan sesuatu di dekat telinga Qyen. “Maaf, saya akan meminta maaf nanti,” ucapnya dan pergi dari sana dengan berjalan sempoyongan.
Albra mendengar apa yang Fin bisikkan kepada Qyen. Qyen menatap kepergian Fin dengan tatapan yang sangat takut, ketika sudah memastikan Fin pergi dengan mobilnya, ia pun membuang napasnya dengan lega dan kini ia hanya bisa duduk terkulai dengan lemas di lantai yang berdebu itu.
Dengan refleks cepat, Albra menahan tubuh Qyen agar tidak terjatuh dengan keras ke lantai. “Kamu baik-baik saja?” tanyanya.
Qyen mengangguk sambil melamun.
“Kenapa kamu ke sini?” tanya Qyen yang kini sudah berani menatap wajah Albra yang juga menatap kerahnya.
“Ada yang ingin saya sampaikan.”
Qyen mencoba untuk menguatkan dirinya dan bangun dari duduknya. “Sepertinya sudah tidak ada lagi yang perlu disampaikan, Pak. Aku butuh waktu untuk sendiri.”
Qyen pun pergi keluar dari tokonya, dan tak lama 2 mobil datang dan semua orang yang memakai baju serba hitam turun dari mobil tersebut dan mengelilingi Qyen. Qyen yang panik tidak sadar memegang tangan Albra yang ternyata sudah ada di sisinya.
Semua orang yang memakai baju hitam itu pun tunduk hormat kepada Albra dengan sopan.
“Tuan, saya diperintahkan untuk membawa wanita muda ini pergi kehadapan Tuan besar.”