
Sudah 2 minggu sejak pernikahannya berlangsung, Qyen mulai membiasakan dirinya menjadi istri Albra, seorang pengusaha yang tentunya sibuk setiap harinya. Akhir-akhir ini, setelah masa cutinya habis Albra selalu pulang larut malam dan pergi ketika pagi buta, mau tak mau Qyen pun harus siaga melayani suaminya.
Albra tentunya sudah melarang agar Qyen tidak terlalu lelah dalam mengurusnya dan Alan, namun karena Qyen yang keras kepala dan tidak bisa diam, ia selalu mengerjakan semuanya dengan seorang diri.
Seperti pagi kali ini, ia selalu disibukan dengan kegiatan dapur dan kerepotan Albra sebelum pergi ke kantor.
Di dapur, Qyen sedang menyiapkan bekal Alan dan sarapan pagi untuk mereka, sedangkan Albra terus saja merecokinya dengan hal-hal yang sepele.
“Sayang? Kamu lihat dimana kotak pulpen saya? Kemarin Kender sempat membelikan yang baru, tapi saya lupa di mana letaknya.” Albra terus mencari-cari kotak pulpen itu kepenjuru ruangan.
Qyen yang melihat itu hanya menghela napasnya. Perasaan, sebelum Qyen menikah dengan Albra, Albra selalu mengerjakan semuanya sendiri, ia laki-laki mandiri dan disiplin. Tapi mengapa beberapa hari belakangan ini, Albra menjadi sosok yang teledor, tidak disiplin dan manja. Qyen merasa mengurus 2 orang bayi di dalam rumahnya.
“Aku lihat, kamu sudah memasukannya ke dalam tas, Kak,” ucap Qyen dengan santai.
Mendengar ucapan itu dari istrinya, Albra pun mengambil tas kerjanya dan mencari keberadaan kotak pulpen tersebut. “Ah, bener ternyata.” Ia pun terkekeh geli dengan tingkahnya.
“Kema … Kema …” Alan memanggilnya dari arah kamar.
Lagi dan lagi Qyen menghela napasnya, ia pun meletakan sebuah sendok yang ia pegang. “Kenapa, Alan?” tanya Qyen yang menongol di pintu.
“Kamu mau antarkan aku ke sekolahkan? Hari ini ada perlombaan, kamu janji buat antar aku. Oh iya, aku sudah boleh memakan coklat?”
Qyen hanya bisa mengangguk dan tersenyum. “Sarapan terlebih dahulu, lalu kita pergi ke sekolah, dan makan coklatnya nanti. Okay Alan?”
Alan mengangguk. Setelah mendapat persetujuan dari Alan yang sudah rapi dengan seragamnya, kini Qyen kembali ke dapur, namun Albra sedang berjalan kebingungan di sana. “Ada apalagi, Kak …” tanya Qyen selembut mungkin.
Qyen bisa melihat jika Albra sibuk bertelpon dengan dasi yang belum terpasang dan rambut yang masih berantakan, sedangkan janjinya akan berangkat 5 menit lagi.
“Kak, please … selesaikan dulu pekerjaan kamu satu-satu,” tegur Qyen namun tidak dihiraukan oleh Albra.
Untung saja kegiatan memasak Qyen sudah selesai, ia pun mencoba membantu Albra untuk memasangkan dasinya. Melihat istrinya yang kesusahan memasangkan dasi untuknya, Albra pun sedikit merendahkan tubuhnya agar Qyen tidak kesusahan.
“Makin ke sini makin manja,” kesal Qyen yang selalu saja disibukan dengan hal seperti ini dipagi hari, padahal kemarin-kemarin ia tidak pernah seribet ini.
Albra mematikan telponnya, ia tersenyum dan mengecup dahi Qyen. “Kamu marah, sayang? Kan sudah saya bilang mending pakai ART.”
“Syut, kamu ini ya, Kak. Akukan sudah bilang, kalau pakai pakaian itu di selesaikan dulu di dalam kamar, tas kerja kamu itu siapkan di malam hari, dan kaus kaki kamu sudah aku siapkan di sana. Kenapa ini jadi ada beberapa warna gini kaus kaki kamu? Lagian juga kenapa rambutnya gak sekalian kamu rapihin di dalam kamar? Aku pusing deh liat kamu tiap pagi selalu kaya gini.”
Mendengar tuturan Qyen yang sangat panjang, membuat Albra hanya bisa mengedipkan matanya beberapa kali. Ia pun tersenyum. “Udah marahnya, sayang?”
“Aku gak marah, kamu itu loh … gak biasanya ka—“
Ucapannya terhenti ketika bibir Albra menempel dibibirnya. Tidak lama, namun bisa membuat jantung Qyen berdebar hebat. “Iya-iya, maaf. Besok enggak gini lagi,” ucapnya yang kini duduk rapi di kursi makan.
Qyen hanya bisa mendengus kesal. Tak lama Alan datang dan mereka pun menikmati sarapan pagi mereka setelah kesibukan pagi yang cukup membuat kepala Qyen hampir pecah.
Jam sudah menunjukan pukul 8 pagi, Albra sudah pergi ke kantor, dan saat ini Qyen sedang berada di sekolah Alan. Menghadiri perlombaan yang diadakan oleh sekolah Alan, Qyen bisa melihat anak kecil itu kini bergabung dengan kelasnya, ciri khas kelas Alan bisa ia lihat dari tangan kirinya yang menggunakan pita berwarna pink.
Qyen tertawa geli dari kejauhan ketika melihat Alan yang risih dipakaikan pita berwarna pink di lengannya. Ia tak lupa mengabadikan moment itu dan mengirimnya kepada Albra.
Pak Albra
Video
Kak lihat, Alan risih memakai pita pink ditangannya. Mukanya mirip kamu kalau lagi kesal.
Selesai mengirimkan video tersebut, Qyen pun memundurkan langkahnya agar tidak terkena panas. Banyak sekali para ibu yang berkumpul saling membentuk perkubuan, namun berbeda dengan Qyen yang hanya bisa melihat anak tirinya dari jauh, dan menjauh dari kerumunan tersebut. Qyen memilih menyendiri karena ia tidak ingin membuat masalah apapun.
Perlombaan di mulai, ketika Qyen sedang fokus memberikan dukungan kepada Alan yang tengah berlomba memindahkan tepung, ada seseorang yang tak sengaja menyenggol bahunya, alhasil ponselnya jatuh dan Qyen melihat kearah seseorang tersebut.
“Aduh,” ucap Qyen sambil mengambil kembali ponselnya.
Sedangkan seorang wanita yang sepertinya tidak menghiraukan dirinya pun hanya menatap tak suka kearah Qyen. Qyen tersenyum ramah untuk menghargai wanita itu, siapa tahu dia adalah ibu dari teman Alan.
Qyen bisa melihat jika wanita itu lebih tinggi darinya, dan terlihat seperti model, tak lupa dengan tas branded yang ia pegang, lalu kacamata hitamnya.
“Mamanya Alan?” Qyen bisa mendengar jika suara itu berasal dari sebelahnya.
Qyen sedikit menengok dan mengangguk, ia pun memasukan ponselnya ke dalam tas, dan semua kegiatan Qyen itu diawasi oleh wanita tersebut dibalik kacamatanya.
‘Tas branded yang Gue incer dari lama, tapi kenapa dia udah pakai duluan.’ Geramnya di dalam hati, wanita itu pun terus memperhatikan kearah perut Qyen yang sudah terlihat jelas jika ia sedang hamil.
“Iya, Bu. Saya Mamanya Alan. Anak ibu yang mana?” tanya Qyen yang berbicara seramah mungkin.
Namun bukannya alih-alih menjawab, wanita itu hanya tersenyum kecut. “Saya hanya liat keponakan saya saja,” ucapnya dan mulai meninggalkan Qyen.
Qyen yang melihat reaksi wanita itu, ia pun hanya menggelengkan kepalanya dan kembali fokus menonton Alan.
2 jam berlalu, perlombaan pun sudah selesai, kini tersisa anak-anak kelas lainnya yang sedang melanjutkan perlombaan olahraga mereka. Alan membawa pulang 3 medali karena menang dalam lomba berlari, menganyam dan membuat juice. Alan sangat membanggakan dirinya kepada orang-orang dan Qyen sangat suka itu.
“Kema … aku ingin makan, makananku dimana? Diego dan Petra pun ingin makan bersama aku.”
“Sudah boleh makan? Yasudah, aku bawakan makanannya ke sini ya, kamu tunggu di kursi bawah pohon sana, aku bawa makananya dulu dari dalam mobil, oke Alan, Diego, Petra?” ketiga anak laki-laki itu mengangguk dan pergi untuk menuju kursi yang berada dibawah pohon.
Qyen berjalan menuju parkiran untuk membawakan kotak bekal yang sudah ia siapkan. “Untung aja aku bawa banyak, Alan makan dengan teman-temannya.”
Setelah mengambil bekal di dalam bagasi, Qyen kembali berjalan untuk pergi ke sebuah taman yang terdapat banyak kursi di sana, namun langkahnya terhenti ketika ia melihat wanita yang sempat ia temui tadi, kini sedang berjongkok dihadapan ketiga anak laki-laki itu. Namun ketika Qyen mulai menghampiri, ternyata wanita itu hanya berbicara dan mengobrol dengan Alan saja, sampai wanita itu mengusap pipi Alan dan Alan yang menghindar.
Qyen yang takut jika Alan dalam bahaya, ia pun mulai menghampiri Alan. “Sayang!” panggil Qyen tak lupa dengan senyum lebarnya.
Wanita yang tengah berjongkok itupun berdiri, dan memundurkan langkahnya. “Ada yang bisa saya bantu, Bu?” tanya Qyen seramah mungkin. Ia tidak ingin mengklaim sembarangan jika wanita itu adalah penculik.
Wanita itu hanya diam, ia hanya memperhatikan Alan yang tengah menunduk. “Oh, ibu tantenya Diego atau Petra?”
Ia tak acuh, dan tiba-tiba saja pergi dari hadapan Qyen dan ketiga anak kecil tersebut. Qyen membawa Alan kedalam pelukannya, ia pun sambil memperhatian wanita itu yang masuk ke dalam sebuah mobil mewah berwarna hitam, mobil itupun melaju meninggalkan sekolah Alan.
“Sayang? Siapa wanita tadi?” tanya Qyen pelan kepada Alan.
Alan hanya diam dan menggelengkan kepalanya. “Tante, tadi tante itu ngajak Alan buat pergi ke rumahnya, terus aku bisikin Alan buat gak ikut. Karena Mamaku bilang kalau ada orang yang berbicara seperti itu berarti dia penculik,” ucap Diego panjang lebar.
Jantung Qyen berdetak hebat, ia sangat takut jika Alan benar-benar di culik. “Ya ampun, terimakasih, Diego, kamu sudah menyelamatkan Alan.”
“Kamu baik-baik saja?” tanya Qyen kepada Alan.
“Aku baik-baik saja, Kemaa … aku ingin segera makan.”
Qyen mengangguk, dan mulai menyiapkan makan untuk Alan, dan kedua temannya. Qyen masih memikirkan hal apa yang baru saja terjadi. “Gak mungkin dia seorang penculik, tas, sepatu, kacamata, bajunya, semua bermerk, bahkan dia masuk ke dalam mobil sport. Siapa dia? Atau jangan-jangan ….”
..
Disebuah mobil sport hitam milik Fin, ia baru saja melaksanakan keinginan sang adik yang baru kembali bertemu setelah berpisah kurang lebih 4 tahun lamanya. Fin tentu saja sangat rindu dengan adiknya yang dulu selalu manja kepada dirinya, tapi sekarang ketika ia melihat Mey, ia bisa melihat jika Mey adalah seorang wanita tangguh, dingin, datar dan tak tersentuh. Bahkan ketika pertama kali mereka bertemu, Fin tidak sadar jika itu adiknya.
“Sudah bertemu dengan anakmu?” tanya Fin memecahkan keheningan diantara mereka.
Mey hanya bisa mengangguk pasrah. “Wajahnya sangat mirip dengan papanya, aku sampai tidak sadar jika aku yang melahirkan dia kedunia ini.”
Fin menatap sekilas wajah adiknya. “Ya, anak kecil itu memang mirip sekali dengan Albra.”
“Aku jadi semakin tertarik dengan wanita itu. Apakah dia bahagia hidup dengan Albra?” Mey tertawa sumbang dan Fin bisa mendengar suara kebencian di sana.
“Aku gak habis pikir jika Mr Frans membiarkan anaknya menikah dengan gadis tidak berpendidikan seperti dia. Aku pikir dia istimewa tapi … ternyata tidak.” Mey menjeda ucapannya. “Kamu suka dengan wanita seperti itu, Kak?”
Fin menatap sekilas kearah Mey, mau tak mau ia pun mengangguk, ia tidak munafik jika ia masih menginginkan Qyen. “Dia sempurna di mataku.”
“Udah gila memang kalian.”
Suasana diantara mereka pun kembali hening. Pikiran Fin bercampur aduk kali ini, sebagian hartanya sudah jatuh ketangan Albra akibat kejadian lalu, apalagi ditambah dengan kabar pernikahan Albra dan Qyen dan hal itu mulai menghancurkan dirinya.
“Rebut kembali saja wanita itu. Aku ingin Albra, dan kamu ambil saja wanita hamil itu.”