ALBRA

ALBRA
68. Gagal jadi makcomblang



Hidupnya seorang manusia memiliki alasan tersendiri untuk hadir di muka bumi ini. Banyak peran yang mereka lakukan sehingga menjalin hubungan bagi insan satu sama lain. Lika-liku kehidupan tentunya tidak luput dari perjalanan seseorang, dan hidup seseorang bertahan karena adanya suatu keyakinan dan kepastian.


Seperti hubungan Albra dan Qyen, walaupun kehidupan mereka penuh dengan lika-liku yang sangat hebat, namun hal itu tidak membuat mereka goyah karena pertahanan mereka tentang cinta yang mereka yakini.


Perjalanan liburan ke Jepang beberapa hari lalu membuat sejarah dikehidupan mereka, bahwa kehidupan tidak selalu berjalan bahagia, dan juga sebaliknya, jika kehidupan tidak selalu berjalan dengan buruk.


Setelah kejadian pada malam hari itu, keluarga kecil Albra kembali ke Indonesia dan melanjutkan kembali kehidupan mereka. Walaupun masalah Albra dan keluarga Ghazi belum selesai, tapi ia akan menutupi masalah itu di depan anak dan istrinya, karena ia tidak mau membuat istri dan anaknya merasa tertekan.


Qyen kali ini sedang berada di kantor Albra karena Albra yang meminta untuk ditemani. Pekerjaan hari ini tidak terlalu sibuk, jadi agar tidak bosan ia tentunya mengajak Qyen.


“Sayang, sini,” panggil Albra yang sedang duduk di kursi kebesarannya.


“Kenapa, Kak?” Qyen sedang sibuk dengan games masak-masaknya, mau tak mau ia pun menghampiri Albra yang hari ini terlihat berbeda, karena suaminya itu sengaja memelihara jambang dan kumisnya.


“Kenapa muka kamu menyerit? Ada yang aneh?” Ketika sudah dekat, Albra meraih pinggang Qyen dan menyuruhnya duduk di atas pangkuannya.


“Kak, aku berat tau.” Qyen tidak percaya diri jika Albra selalu menyurhnya untuk duduk diatas pangkuannya, karena ia merasa badannya sudah membesar.


“Tidak, kamu seringan tissue,” bisik Albra di telinga Qyen.


“Iya, tissue lima kardus!” kesalnya.


Albra pun tergelak. “Tidak apa-apa, sayang. Kamu berat karena adek ini …” Albra mengusap perut Qyen dengan gemas.


Moodnya sudah kembali karena Qyen selalu menemaninya berbicara dan mengobrol. Padahal, beberapa hari yang lalu, Albra tidak banyak berbicara, setelah kejadian yang menimpa mereka di Jepang.


Qyen mengusap tangan Albra yang sedang mengelus perutnya. “Kak, kamu masih mau sama akukan kalau aku udah lahiran?”


Mata Albra berkedip, bagaimana bisa Qyen yang sudah mau menjadi seorang ibu, masih sangat menggemaskan dimatanya. “Sayang, sepertinya kamu tidak cocok menjadi seorang ibu.”


“Loh, kok gitu?”


“Mukamu seperti anak SMP,” kata Albra yang dihadiahi cubitan kecil oleh Qyen.


“Iya, awalnya waktu aku USG sendiri ke rumah sakit, aku dikira hamil di luar nikah, karena aku sama seperti anak SMP katanya.” Qyen masih ingat tentang hari itu. Karena dalam sebulan kemarin, dokter yang menangani kehamilannya sedang berada di luar negri, jadilah Qyen sendiri pergi ke rumah sakit.


“Kender bilang, dia dengar gosip karyawan dan membicarakan saya kalau saya pacaran dengan anak kecil.”


Qyen memajukan bibirnya, ia memang mengaku jika umurnya masih sangat muda, bahkan tingginya sebahu Albra pun tidak. Apalagi tubuhnya yang kurus menjadikan Qyen benar-benar masih seperti anak kecil.


“Iya bener banget, apalagi suami aku modelannya macam kaya gini,” ucap Qyen sambil memegang wajah Albra dengan kedua tangannya.


“Gini kenapa?”


“Udahlah … Ide siapa sih yang nyuruh kamu pelihara jambang dan kumis ini, semakin kaya om-om tau gak ….”


Albra tersenyum manis, dan mengecup pelan bibir Qyen yang ada di hadapannya. “Yang penting saya masih tampan.”


“Iya sih … Tapi kamu terlihat semakin tua.”


Albra mengedikan bahunya. “Iya-iya sepulang dari sini saya cukuran.”


Mereka sibuk mengobrol ringan, Qyen suka memainkan rambut Albra yang sangat halus, dan Albra yang suka memeluk tubuh Qyen yang sangat wangi.


“Kalau kamu gak ada kerjaan kenapa gak pulang, Kak?” Padahal jam saat ini menunjukan pukul 3 sore.


Tentang Alan, ia sudah memiliki bodyguard yang berperan sebagai pengasuhnya sendiri, tugasnya mengantar dan menjemput Alan ke sekolah, juga menemaninya bermain. Bodyguard Alan memiliki umur yang masih muda, dan hal pertama yang mengusulkan ide ini adalah Ian. Tentunya atas dasar persetujuan Frans. Alan juga senang dengan bodyguardnya, karena ia tampan, baik, cerdas dan penyabar, tidak seperti Ian yang berbeda jauh.


“Kender dan Meta sudah berjanji akan membawa pasangannya ke hadapan saya, jadi saya harus menunggu.”


Qyen membelalakan matanya. Apakah Albra masih melanjutkan misinya untuk menjadi makcomblang?


“Kamu serius? Kenapa harus jodohin mereka sih, Kak … Kasian loh mereka.”


“Sayang, mereka itu gak punya siapa-siapa. Kedua orang tua Meta dan Kender sudah meninggal. Meta tinggal dengan adik laki-lakinya yang masih SMA, dan Kender tinggal sendiri. Harta mereka sudah banyak, umur mereka sudah pas, jadi hal yang belum mereka lakukan adalah menikah.”


“Ta—tapi … Ah sudahlah …” Qyen hanya bisa menghela napasnya, lagipun ia tidak habis pikir bagaimana bisa pola pikir Albra sangat kolot? Qyen kira pikiran Albra akan terbuka seperti anak muda-anak muda lainnya, walaupun umurnya tidak terbilang muda sih.


Ketukan di pintu terdengar, Qyen yang hendak berdiri ditahan oleh Albra. “Tidak apa-apa, sayang.”


Qyen tidak memiliki kesempatan kabur karena Kender dan Meta sudah berjalan kehadapan Albra. Mata Albra masih melihat kearah pintu mengharapkan seseorang lainnya datang. Namun tidak ada.


“Tuan,” sapa Kender dan Meta bersamaan.


Wajah mereka menatap lurus dengan datar. “Iya, dimana janji kalian?” tanya Albra sambil kembali melihat kearah pintu yang tertutup.


Qyen merasa kasihan melihat wajah tertekan Kender dan Meta. Mungkin menurut mereka mengemban tugas perusahaan adalah hal yang mudah, tapi tidak dengan mencari jodoh.


“Maaf, Tuan. Saya tidak bisa memenuhi janji itu,” ucap Meta masih dengan wajah tegasnya.


“Sama, Tuan.” Kini Kender berbicara.


Albra memijat pelipisnya. Qyen bangun dari pangkuan Albra, dan mencoba sebisa mungkin menahan tawanya melihat situasi aneh yang terjadi dihadapannya. Mengapa situasi ini menjadi serius?


“Lalu, kalian ngapain aja selama satu minggu ini?”


“Berada di kantor, Tuan.” Keduanya kembali menjawab sama-sama.


Suara napas panjang terdengar, Qyen mengusap bahu Albra agar tidak terlalu keras menghadapi keduanya. “Kender, kamu punya mantan berapa?”


“Satu, Tuan.”


“Saya kira kamu playboy,” pikir Albra yang mengundang tawa Meta hampir membuncah, namun ia tahan sebisa mungkin.


Kender sedikit kesal dengan Meta, ia pun menyenggol temannya itu dengan bahunya, sampai Meta sedikit terhuyung. Keduanya bersikap seperti anak SMA yang sedang menghadap kepada guru di mata Albra. Meta dan Kender sudah menemani karir Albra sangat-sangat lama, hal itu yang membuat Albra peduli kepada mereka.


Qyen terkekeh dan tidak bisa menahan tawanya. Omongan ceplas ceplos Albra sanggat menggelitik perutnya.


“Seperti janji saya yang lalu, jika kalian tidak ingin di jodohkan maka kalian harus membawa pacar. Tapi, kalian tidak membawa siapa-siapa saat ini.”


“Tuan, bukan maksud saya menolak tugas yang anda berikan. Namun, saya memang tidak ingin pergi berkencan.” Kender memberanikan diri. Menurutnya mengerjakan tugas perusahaan saja sudah sulit, dan kesulitannya itu tidak mau diperparah dengan rumitnya cinta.


“Kak, biarlah mereka hidup dengan apa yang mereka mau. Mereka orang-orang baik, Kak.” Qyen membantu berbicara kepada Albra karena merasa kasihan melihat wajah tertekan sekertaris suaminya.


“Ayolah Kender, Revila grup sudah merayu saya untuk menjodohkan anaknya dengan kamu. Setidaknya jika kamu berjodoh dengan dia, kamu bisa mengambil alih perusahannya.”


Kender menggeleng. “Saya bisa membuat perusahaan sendiri.” Jawabnya tegas.


Lagi-lagi Qyen terkekeh melihat ekspresi Albra yang berharap penuh, dan ekspresi Kender yang sangat datar tak tertarik.


“Kak, kalau mereka gak betah, mereka bisa keluar loh dari perusahaan kamu. Memangnya kamu mau ganti sekertaris selain mereka?”


Sepertinya Kender dan Meta akan bersujud berterimakasih kepada nyonya baiknya karena sudah membantu mereka.


Albra menggeleng. Ia sudah nyaman berkerja dengan Kender dan Meta, dan ia tidak mau mengganti posisi itu. “Iya maka dari itu, biarlah mereka bebas, sepertinya mereka memang ingin hidup dengan tenang.” Walaupun umurnya masih menginjak 20 tahun, tapi tidak terpungkiri jika Qyen memiliki pikiran terbuka lebar.


“Benar apa yang disampaikan oleh nyonya.” Meta dan Kender mengangguk bersamaan.


“Aish, tidak usah panggil nyonya aku bilang. Panggil nama saja atau yang lain.” Qyen tidak suka dengan panggilan itu karena jika dipanggil nyonya, ia merasa seperti nyonya-nyonya bertubuh besar dan memakai konde.


Albra kini menyerah, sepertinya menjodohkan orang lain bukan kealihannya. Walaupun dengan niat baik, tapi jika itu memaksa orang lain sepertinya bukan hal yang baik juga.


“Yasudah, kalian sedang butuh apa? Sudah lama saya tidak memberi sesuatu kepada kalian?” Albra kini bangun dari duduknya, dan menyuruh Qyen untuk duduk di kursinya, tanpa bantahan.


“Tidak perlu, Tuan. Saya sedang tidak butuh apa-apa,” Meta mengeluarkan suaranya.


“Saya juga tidak butuh, Tuan.”


Albra membuka tabletnya untuk melihat sebuah potret brosur sekolah terkenal yang ia dapatkan di meja sekertarisnya. “Meta, adik kamu ingin berkuliah seni?”


“Da—dari mana Tuan tau?” Suara Meta sedikit bergetar karena ini hanya ia yang tahu.


“Daftarkan saja adikmu di sana secepat mungkin, karena kuotanya terbatas, pakai saja nama saya. Dan, Kamu sedang berfoya-foya dengan uang kamu, Kender?”


“Tidak, Tuan.”


“Lalu, kamu baru saja memesan satu mobil dari Korea untuk apa?”


Kender melipat bibirnya sangat ragu menjawab pertanyaan bosnya itu. “Untuk ganti mobil baru, Tuan.”


Albra mengangguk. “Banyak juga uangmu. Yasudah, jika sudah di beli.”


Tidak seperti yang diharapkan Kender, Albra berbicara seperti ini. Sedangkan Meta yang ada di sebelahnya sudah bahagia karena ia akan memberikan kabar baik kepada adiknya. Tapi, mengapa Kender tidak menerima hadiah dari Albra, sedikit gondok.


“Terimakasih, Tuan, Nona Qyen. Saya akan menyampaikan pesan ini kepada adik saya.”


Qyen mengangguk tersenyum, dan Albra pun memegang bahu Meta. “Kamu sudah bekerja keras sejauh ini.”


“Kamu.” Albra kembali berbicara kepada Kender.


“Iya, Tuan.”


“Tidak butuh apa-apakan?”


Kender hanya menjawab dengan anggukan.


“Baiklah, jika sudah tidak ada, silahkan kerjakan pekerjaan kalian.”


Meta dengan semangat mengangguk dan membungkuk hormat lalu pergi bersorak keluar dari kantor Albra. Sedangkan Kender berjalan gontai, lagi-lagi dirinya terkena buli oleh Albra, Meta sangat bahagia, sedangkan dirinya merasa gondok.


Ketika keluar kantor, denting ponselnya pun berbunyi, ketika membuka layarnya, betapa terkejutnya ia melihat notifikasi saldo bank masuk yang berasal dari rekening pribadi Albra. Bahkan jumlah digitnya sama seperti jumlah ia membeli mobil barunya itu.


Betapa bahagianya Kender, ia pun kembali masuk ke dalam kantor Albra, dan melihat Tuannya sedang duduk santai. “Tuan!” panggilnya.


Albra hanya mengangkat satu alisnya. “Terimakasih, terimakasih banyak,” ucapnya sambil membungkuk, lalu keluar dengan berlari sambil melayangkan tinju di udara.


Qyen dan Albra melihat bersama-sama, dan mereka pun tertawa. “Kamu ternyata sweet juga ya,” ucap Qyen sambil memeluk Albra.


“Hal segitu saja gak cukup untuk bayar jasa mereka.”


Qyen membenarkan hal itu, perjuangan seseorang tidak bisa diukur oleh materi dan apapun itu. Karena sebuah perjuangan tentunya mengandung kasih, cinta dan ketulusan di dalamnya.


“Mereka bahagia banget, Kak.”


Albra mengangguk setuju.