
3 bulan kemudian ….
Keseharian Qyen berubah drastis ketika sudah merasakan kehidupan di dalam perutnya. Kini perutnya sudah sedikit terlihat jika sedang ia hamil. Badannya yang kecil dan perutnya yang membesar membuat semua orang tahu jika Qyen sedang hamil. Umur kandungannya saat ini sudah memasuki bulan ke 4.
Banyak sekali rintangan yang Qyen alami selama 3 bulan belakangan ini, tentang kehamilan pertamanya di trismester pertama yang cukup menyulitkan, tentang sikap Frans yang sempat kembali bertemu beberapa kali, dan juga ancaman Fin yang selalu ia terima melalui pesan teks. Tentunya, Qyen selalu menyembunyikan hal itu kepada Albra. Ia tidak ingin Albra mengetahui sesuatu dan bertindak terlalu berlebihan. Qyen hanya ingin fokus menjaga kandungannya agar tetap sehat.
Selama 3 bulan itu juga, Frans selalu mencari cara untuk bisa menggugurkan kandungan Qyen. Namun, semua usahanya sia-sia karena Albra selalu tahu tentang rencananya. Berbeda dengan Alan yang sangat senang disaat mengetahui Qyen hamil, hampir setiap harinya ia selalu berada di sisi Qyen dan menemani Qyen.
Seperti saat ini, Qyen masih tinggal di penthouse Albra, Alan yang sedang liburan sekolah selalu menempel di dekat Qyen setiap harinya. Memperhatikan perut Qyen yang membesar, dan selalu memegang perut besar itu setiap jamnya.
“Qyen … berapa lama lagi aku harus menunggu adik ini keluar?” Saat ini hanya Alan dan Qyen berdua di dalam penthouse, karena sejak pagi Albra pergi ke kantor dan janjinya akan pulang satu jam lagi.
Qyen terkekeh mendengar pertanyaan Alan. Melihat antusias Alan tentang kehamilannya, Qyen merasa sangat senang. “Masih lama Alan, mungkin sekitar lima bulan lagi?” ucap Qyen sambil memperlihatkan kelima jarinya.
“Hm … masih sangat lama. Aku tidak sabar.”
Mengusap rambut coklat tua Alan, dengan lembut. “Oh iya, bukannya bu guru bilang kamu punya tugas membuat sesuatu selama liburan?”
Alan mengangguk. “Iya … aku baru ingat, Qyen. Tapi, Papa selalu gak ada waktu untuk membuat videonya. Ian pun enggak mau diajak membuat video bersama aku …” keluhnya.
“Em … karena Papa gak bisa, Ian gak mau. Gimana … kalau kamu buat videonya bareng aku? Kamu mau?”
“Yeay! Aku lebih suka membuat video sama kamu!” sorak Alan dengan senang.
Qyen tersenyum dan membalas pelukan Alan. “Aduh … aku jadi gak bisa peluk kamu seperti dulu. Adek bayi selalu menghalangi,” kesalnya dan keduanya pun tertawa.
Qyen belum tahu pasti tentang hubunganya bersama Albra. Mereka belum pacaran, menikah ataupun bertunangan. Dan bisa dibilang jika hubungan mereka itu menggantung, Albra selalu mengucapkan jika dirinya sangat sayang kepada Qyen, namun tidak ada hubungan yang pasti diantara mereka. Kadang, hanya untuk memikirkannya saja membuat Qyen sedih.
Namun begitu, ia mencoba untuk bisa merasakan bahagia karena Albra selalu menerima kekurangannya dan selalu mencoba untuk membahagiakan dirinya.
“Qyen, kita membuat apa ya? Temen-temenku berlibur keluar negri bersama keluarganya. Seperti Diego yang pergi ke Jepang dan dia membuat video sushi disana bersama mama-nya. Aku harus membuat apa ya?”
Sebelum menjawab pertanyaan Alan, ia memiliki sesuatu ide dikepalanya. Bagaimana jika ia mengajarkan Alan untuk menganyam, menjahit, dan memasak, atau membuat kue? Qyen hanya memiliki 4 pilihan tersebut.
“Kamu pernah membuat kue?”
Alan terdiam, lalu menggelengkan kepalanya. Ah! Qyen baru ingat jika Alan tumbuh tanpa sentuhan seorang ibu di dalam hidupnya. Tidak ingin membuat Alan pusing untuk menentukan pilihannya, Qyen pun memilih untuk membuat kue dan cookies, untuk memenuhi tugas sekolah Alan. Qyen pun memiliki tujuan untuk mengenalkan bahan-bahan dapur kepada Alan, walaupun dia laki-laki tapi Alan harus tetap tahu keseruan membuat kue bersama seorang ibu.
“Kita membuat kue dan cookies? Kamu mau?”
Mendengar hal baru ditelinganya, membuat Alan menyetujui usulan Qyen. Mereka mulai pergi kearah dapur. Qyen pun menyiapkan meja kecil yang menjadi pijakan Alan agar tubuhnya lebih tinggi dan mempermudah Alan untuk melakukan pekerjaannya. Tak lupa, Qyen pun menyiapkan kamera kecil milik Alan yang sudah ia bawa dari apartemennya, dengan menggunakan tripod. Qyen hanya mensetting kamera untuk merekam Alan saja.
“Aku baru pertama kali membuat makanan seperti ini, Qyen,” ucapnya sambil memperhatikan Qyen yang sedang mengeluarkan bahan-bahan dalam membuat kue dan cookies.
Untung saja, pembuatan kue dan cookies kali ini sudah tersedia dalam kemasan instan, dan mereka hanya tinggal mengolah dan menghias saja. Mereka tidak perlu membeli kebutuhan bahan-bahan lainnya, karena Albra selalu menyiapkan bahan dapur yang komplit, sebab Qyen suka sekali hal tentang memasak.
Pembuatan video pun dimulai, Qyen mulai memberi arahan kepada Alan tentang hal yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan di dalam dapur. “Kalau aku ingin mengambil gunting lalu gunting itu jatuh gimana, Qyen?”
“Kalau kamu ingin mengambil benda seperti gunting, kamu harus minta bantuan sama orang dewasa, paham? Dan jika menggunting seperti ini, perhatikan jari-jari kamu, jangan sampai tergunting, okay?” Qyen membantu Alan yang kini sedang menggunting plastik yang berisi bahan kering untuk membuat kue.
“Silahkan masukan kedalam mangkuk besar itu.” Qyen membiarkan Alan untuk bekerja dengan hasil tangannya, karena ia bisa melihat kemandirian Alan dan juga besarnya rasa ingin tahu Alan. Walaupun tepung itu berceceran dan mengotori lantai, namun Qyen memaklumi hal itu.
“Qyen, sepertinya aku mengacaukan semuanya,” keluh Alan ketika melihat tepung yang ia tuang kini malah berceceran.
“It’s okay, itu namanya mencoba hal baru. Sebentar kamu lanjutkan lagi, aku membenarkan kamera terlebih dahulu.”
Alan mengangguk, dengan kegigihannya, ia pun kini mulai bisa memasukan semua tepung kering kedalam mangkuk besar yang sudah Qyen sediakan. “Setelah ini aku harus memasukan apa, Qyen?”
“Kamu bisa memasukan telur yang sudah aku pecahkan, dan lelehan margarin itu.”
“Semua? Nanti kalau kue kita gagal bagaimana?”
Qyen tertawa. “Sudah sesuai resep, kamu hanya perlu memasukan ke dalam mangkuk itu.”
Alan pun mengikuti perintah yang diberikan oleh Qyen. Sedari tadi, senyumnya tidak lepas karena ia suka ketika mencoba hal baru. “Sudah masuk kedalam mangkuk semua, Qyen.”
“Okay, sekarang aku ambil alih ya ….”
Qyen kini mencampurkan semua adonan tersebut dengan tangannya sampai tercampur merata. “Biar aku saja, kamu kelelahan sepertinya.”
Anak genius memang beda, ia selalu ingin menonjol dalam hal apapun. Qyen tidak bisa melarang, ia pun memberikan mangkuk itu kepada Alan. “Aku hanya perlu mix?”
“Ya, pelan-pelan saja agar tidak berjatuhan.”
Alan mengurusi adonan kue, dan kini Qyen membuat adonan cookies agar pekerjaan mereka cepat selesai. Mereka disibukan dengan kegiatan mereka, sampai waktu sudah berlalu selama 1 jam. Kegiatan mereka pun tidak lupa diisi oleh candaan keduanya, ini yang Alan sukai jika bersama dengan Qyen, ia memiliki rasa nyaman dan terlindungi jika didekat Qyen.
“Wah … aku baru tahu jika banyak sekali bentuk-bentuk seperti ini.” Alan semakin antusias disaat melihat bentuk-bentuk dari cetakan cookies yang Qyen miliki.
“Aku pun baru menemui ini dalam sana, sepertinya Meta yang membeli kemarin. Kamu tidak merasa lelah, Alan?” tanya Qyen sambil tersenyum.
Alan menggeleng. “Enggak, ini hal baru yang aku suka. Nanti ajak aku membuat kue lagi ya.”
Qyen mengacungkan kedua jempol tangannya. Saat ini, Qyen mengajarkan Alan tentang bagaimana mencetak berbagai macam cookies dengan sebuah cetakan bergambar hewan. “Aku gak sabar buat makan ini.”
“Hanya perlu mencetak, memanggang, dan menghias, lalu kita selesai membuatnya.”
Jam sudah menunjukan pukul 6 sore, dan mereka masih disibukan dengan kegiatan dapur mereka. Waktu untuk menghiaspun datang, ini adalah momen yang paling Alan tunggu. Qyen sudah menyiapkan Butter cream, berbagai macam topping kue yang warna-warni, juga hiasan kue yang beraneka warna.
“Kamu bisa hias sesuka hati kamu.” Qyen memberitahu Alan disaat anak kecil itu diam kebingungan dengan hal apa yang akan ia lakukan.
“Really? Aku bisa membuat apa aja?”
Dengan semangat penuh api, Alan pun mulai menghias kue yang kini dikuasai olehnya. Kue yang sudah dilapisi oleh butter cream itu pun Alan hias dengan berbagai macam topping aneh yang membuat Qyen tertawa.
Keduanya asyik tertawa dengan kelucuan yang ada, tak sadar jika Albra sudah hadir dibelakang mereka sejak 5 menit yang lalu dan memperhatikan kedekatan antara Qyen dan Alan. Albra yang tidak bisa menahan kerinduannya pun, ia berjalan dan langsung memeluk Qyen dari belakang, tak lupa satu tangan lainnya ia gunakan untuk mengusap rambut Alan.
“Kak ….”
“Papa ….”
“Lagi buat apa? Sampai gak sadar ada orang lain di sini.”
“Alan lagi buat video, kamu jangan peluk-peluk kaya gini, ada kamera tau,” protes Qyen disaat Albra terus saja memeluk tubuhnya dan mengusap perut besarnya.
“Biarkan saja, hasil video bisa diedit,” jawab Albra yang tak ingin kalah.
Akhirnya Qyen membiarkan Albra untuk memeluknya, karena ia pun merasa nyaman.
“Qyen, kamu istirahat saja, aku masih ingin menyelesaikan semuanya.”
“Tidak apa-apa, aku belum capek. Kamu bisa selesaikan hiasan kamu.”
“Papa, aku membuat ini berdua dengan Qyen. Ternyata seru belajar memasak seperti ini,” ucapnya kepada sang ayah.
“Are you happy?” tanya Albra sambil memperhatikan anaknya yang sudah tumbuh semakin besar.
“Sure. I’m so happy.”
“Say thank you.”
“Ah! Thank you, Qyen. I love you ….”
Qyen selalu tersenyum bahagia ketika mendengar ucapan-ucapan manis yang dilontarkan oleh Albra maupun Alan.
Membutuhkan waktu 20 menit, untuk mereka bisa menyelesaikan semuanya. Kegiatan mereka membuat video tugas Alan pun selesai. Saat ini mereka tengah menikmati kue dan cookies buatan Alan juga Qyen untuk menggantikan makan malam mereka.
“Walaupun tampilannya tidak bagus, tapi ini enak banget,” ucap Alan yang merasa puas dengan hasilnya.
Qyen dan Albra tertawa melihat Alan yang sangat lahap memakan kue buatannya. Qyen pun menyiapkan smooties untuk menemani kudapan malam mereka. Obrolan mereka pun berlanjut, sampai pukul 9 malam.
“Alan sudah masuk kekamarnya?” tanya Albra yang kini sedang disibukan oleh laptopnya.
“Iya, kamu masih ada pekerjaan? Selesaikan secepatnya, ini sudah malam, gak baik buat kesehatan mata.” Qyen memberitahu Albra sambil berjalan menuju dapur karena ia belum membereskannya.
“Qyen, juga harus istirahat.” Entah dari mana asalnya, Qyen yang baru saja memilah sampah, kini Albra sudah merangkul pinggangnya.
“Aku harus membereskan ini dulu, sebelum tidur.”
Albra menggeleng. “Kalau kamu terus bersikeras buat membereskannya, saya akan menyewa asisten rumah tang—“
“Oke-oke, aku istirahat sekarang,” ucap Qyen dengan cepat. Ia tidak ingin Albra menyewakan asisten rumah tangga, karena ia masih sanggup untuk mengurusi semuanya.
“Bagus. Ayo, sayang ….”
“Loh, bukannya kamu lagi selesain sesuatu?” tanya Qyen ketika Albra mengajaknya ke dalam kamar.
“Hm, saya mau peluk kamu saja malam ini.”
Qyen terkekeh kecil, ia sudah terbiasa dengan sikap Albra yang selalu manja kepadanya.
“Kamu tau? Berat badanku naik sampai lima kilo gram, huhuhu pantas saja badanku terasa berat,” ucap Qyen sambil mengelus perutnya yang sudah semakin besar.
“Pantas saja,” jawab Albra yang membuat Qyen kesal, ia pun melihat wajah Albra yang sedang memeluknya.
“Aish … kok pantas saja?”
“Pantas saja kamu semakin seksi,” katanya dengan wajah yang menahan senyum.
“Dasar mesum!”
Albra pun tergelak dengan ucapan Qyen. Sebelum tidur, mengobrol sudah menjadi rutinitas mereka seperti biasa, dan tidak biasanya topik pembahasan kali ini lebih serius.
“Kak, kamu ingat tentang pesta ulang tahun Alan tiga minggu yang lalu?” tanya Qyen yang memulai pembicaraannya.
“Iya, kenapa? Ada hal yang aneh?” Albra berbicara dengan wajah yang disembunyikan di leher Qyen.
“Em … karena aku gak bisa hadir dan hanya mantau di layar tv kamar hotel, aku bisa liat kalau ekspresi Alan tertekan. Apa terjadi sesuatu di sana waktu itu?” Qyen baru memiliki kesempatan membicarakan hal ini kepada Albra.
“Sebelumnya kamu pasti tahu kalau Alan ingin merayakan ulang tahunnya bersama kamu, tapi karena saya bilang kalau kamu tidak bisa. Saya rasa karena hal itu.”
“Tadi pagi Alan sempet bilang, dia memamerkan aku sebagai ibunya ke teman-teman dia. Aku merasa tidak enak hati dengar ini dari Alan.”
Albra membenarkan posisi tidurnya. Ia mengusap rambut Qyen. “Tidak perlu merasa tidak enak hati. Jika seperti itu, Alan memang mau menjadikan kamu seorang ibu untuk dia. Terimakasih sudah membuat Alan nyaman bersama kamu, Qyen.”
Qyen tersenyum. ‘Dengan senang hati aku membuat kalian bahagia, walaupun tanpa hubungan yang pasti.’
...
Like, vote, komennya jangan lupa ...
luvluvvv