
Satu hari setelahnya, sebuah rumah mewah bak istana yang sunyi, kini diisi oleh kegaduhan suara tangis Alan yang sejak pagi terdengar. Ian yang bertugas menjadi baby sitter Alan pun kebingungan bagaimana cara menenangkan anak itu. Ia tidak tahu hal apa yang harus ia lakukan, meminta bantuan pun ia merasa bingung untuk meminta bantuan kepada siapa, karena semua pegawai yang ada di rumahnya adalah laki-laki.
Ian saat ini membutuhkan sentuhan perempuan untuk memberitahu hal apa yang harus ia lakukan ketika seorang anak menangis. Semua cara sudah ia lakukan, tapi Alan masih saja menangis dan mengurung dirinya di kamar.
“Ayolah, Alan … Gue bingung banget harus kaya gimana …” Ian mengacak rambutnya sambil duduk bersandar di tembok, memperhatikan Alan yang terus menangis di atas kasurnya.
Ia merasa kasihan melihat Alan, sekaligus jengkel karena tidak seperti biasanya Alan seperti ini. Bahkan Frans sudah datang membujuk Alan untuk diam, tapi usaha kakeknya itu sia-sia, dan akhirnya Frans menyerah.
“Oke, Gue bilangin Albra kalau Lo terus nangis kaya gini. Ayolah Alan, Gue sayang sama Lo, ayo sini …” Ian melemah dan merentangkan tangannya mencoba membujuk Alan.
“Hiks … Hua … jangan bilang Papa … Hiks … aku gak mau ketemu Papa … hiks ….”
Tangis Alan malah semakin kencang, dan hal itu membuat Ian semakin frustasi. Tak tahu harus bagaimana, ia pun kini mengambil ponselnya menghubungi Savana, wanita yang sudah ia kencani satu bulan lamanya. Siapa tahu Savana bisa memiliki ide untuk menenangkan Alan.
Panggilan video call-nya pun terangkat, wajah Savana dengan kacamata bacanya terlihat di sana. Wajah natural sederhana dan cantik, membuat Ian tidak bisa memalingkan hatinya.
“Hai, Ian … ada apa?” tanya Savana dengan senyum manisnya.
“Hai, babe … kamu lagi sibuk?”
Savana menggeleng, Ian bisa melihat jika Savana pun duduk di sofa apartemennya. “Aku tidak sibuk, aku baru saja menyelesaikan pekerjaanku. Hendak menelpon kamu, ternyata kamu sudah telpon aku terlebih dahulu.”
Savana sudah kembali ke negara tempat ia belajar yakni di Amerika, dan saat ini Ian tengah menjalani hubungan LDR dengan kekasihnya itu.
“Bagus deh kalau kamu sudah menyelesaikan tugasmu. Aku ingin bertanya sesuatu.” Ian berbicara dengan wajah kebingungan dan sedikit panik karena tangis Alan yang semakin kencang.
“Why? Siapa yang menangis sangat kencang seperti itu?”
“Nah itu, Alan nangis, sayang. Kemarin dia ada masalah sama Papa dan Mamanya, dan sejak pagi dia terus menangis bahkan gak mau makan apapun.”
Terlihat wajah terkejut Savana di sana, bagaimana bisa Alan tidak mengisi perutnya sejak pagi, padahal ia tahu waktu Indonesia saat ini sudah pukul 2 siang.
“Kamu sudah menghubungi Papanya?”
Ian mengangguk. “Sudah, tapi Albra bilang kalau Alan tidak akan lama menangis, tapi sejak pagi dia tidak berhenti menangis. Alan juga tidak ingin bertemu dengan Papanya.”
“Ya ampun … Kamu sudah bujuk dengan segala sesuatu?” tanya Savana kembali.
Ian mengangguk, ia pun kini menghadapkan kameranya kearah Alan yang sedang menangis. “Telpon Mamanya saja. Sepertinya aku lihat kemarin dia dekat dengan Mamanya.”
Ian mengerutkan dahinya, mama mana yang Savana maksud?
“Qyen maksud kamu?”
“Iya dong, Mamanya kan dia, sayang. Alan masih kecil, kamu tega liat dia terus nangis kaya gitu? Lebih baik hubungi saja Qyen.”
Ah … Ian tidak berpikiran ke sana, seharusnya ia sudah menemukan ide itu sejak pagi tadi. Ian ragu menghubungi Qyen karena ada beberapa hal yang harus ia pertimbangkan. Apalagi, saat ini keberadaan mereka sedang berada di rumah Frans, dan Alan tidak bisa keluar dari rumah tersebut tanpa seizin Frans, bahkan ia pun tidak pergi sekolah hari ini.
“Oke, sayang. Terimakasih atas sarannya. Aku tutup dulu telponnya, kamu makan ya jangan lupa. Bye-bye … I love you …”
“Bye, I love you too, Ian ….”
Setelah mendapatkan balasan sapaan cinta, tanpa berpikir panjang, Ian pun menelpon seseorang suruhannya untuk menjemput Qyen. Lalu, ia pun mengirimkan sebuah pesan singkat kepada Qyen, agar ia ikut dengan orang suruhannya tersebut, karena ini menyangkut Alan.
Pesan itu telah terkirim, saat ini tangis Alan sedikit mereda, namun ketika Ian jalan menghampirinya, tangis itu kembali terdengar dan semakin-semakin kencang.
“Ya ampun, Alan … Otak Gue puyeng banget dengerin Lo nangis dari pagi.”
“Kalau gini caranya, gak perlu Gue capek-capek sekolah bisnis, mending Gue sekolah jadi baby sitter aja!”
Hatinya semakin kesal, karena ia harus kembali menjadi seseorang yang tanggung jawab terhadap Alan.
“Jangan marah-marah terus, Ian! Hiks … Kamu sama-sama jahat!”
Ian menutup matanya, mencoba agar hatinya tetap tenang dan tidak terbawa emosi oleh teriakan Alan. “Lo pikir Gue gak marah sama Lo, Alan ganteng?” sebisa mungkin Ian berbicara seperti itu sambil tersenyum dengan nada lembutnya.
Alan kembali menangis, Ian yang sudah pasrah ia pun merengek, dan duduk di lantai sebelah Alan. “Lagian Gue gak tau penyebab Lo nangis kenapa. Bapak Lo juga sama, gak tanggung jawab!”
“Hiks … Ian nakal … Hiks ….”
Ian mengangguk-anggukan kepalanya. “Terserah Lo, kucing. Gue capek, heran juga Gue sama air mata Lo yang gak kering-kering. Air mata dari sungai amazon kali,” kesalnya dan kini bangkit untuk menenangkan pikirannya.
Ia pun mengambil sesuatu di dalam kantung celananya, dua buah coklat dan ia berikan kepada Alan. “Nih, kalau Lo gengsi makan di depan Gue. Makan ini.” Setelah memberikan coklat itu, ia pun pergi dari hadapan Alan. Tujuannya saat ini adalah merokok di depan kamar Alan, karena ia juga butuh ketenangan pikirannya.
Ketika ia duduk di sofa sambil merokok, tak lama Frans datang bersama dengan Brian di belakangnya. Frans pun menghampiri anak bungsunya yang sedang santai merokok, tanpa memperdulikan kehadirannya.
“Alan kenapa masih menangis? Kamu juga kenapa ada di sini?”
“Panggil Papanya kemari.”
“Papa gak tau Albra ada jadwal pertemuan besar hari ini? Bukannya Papa yang nyuruh dia buat gantiin Papa?”
Moodnya yang hancur karena Alan, kini semakin ancur karena Frans yang terlalu banyak berbicara kepadanya.
“Lalu Alan bagaimana? Saya gak mau Alan jatuh sakit karena menangis seharian.”
“Aku sudah panggil ibunya ke sini. Papa gak perlu kahwatir.” Ian berbicara dengan wajah datarnya.
Frans membelalakan matanya terkejut. Ibu? Ibu Alan yang mana maksudnya? Ia masih belum mengerti.
“Tidak. Jangan pertemukan kembali Alan dengan dia.”
“Qyen. Alan suka dengan Qyen, bukan dengan ibu kandungnya. Bahkan dia seperti ini karena ibu kandungnya.”
Frans terdiam mendengar penjelasan Ian. Hatinya merasa bimbang kali ini, ia pun merasa tidak mau mengizinkan Qyen untuk dekat dengan cucunya, tapi, ia lebih tidak mau jika Alan kembali bertemu dengan ibu kandungnya.
“Anak kecil seperti Alan butuh sentuhan seorang ibu, Pa. Papa gak perlu egois melawan anak kecil seperti Alan.” Setelah mengucapkan itu, Ian yang sudah malas berdebat dengan Papnya ia pun pergi dari sana, dan berjalan menuju kamarnya. Untuk saat ini ia hanya menunggu kehadiran Qyen untuk menenangkan Alan.
Frans menatap jengkel melihat punggung tegap Ian yang tiba-tiba pergi meninggalkan dirinya.
…
Di sisi lain, Qyen saat ini sedang panik karena dengar kabar Alan. Sudah hampir 24 jam ia tidak bertemu dengan Alan karena kejadian kemarin.
“Alan … bertahan, Nak …” gumam Qyen dengan wajah gugupnya.
Perjalanan menuju rumah utama keluarga Max terasa sangat panjang bagi Qyen saat ini. sudah 40 menit ia berada di dalam mobil tapi mereka belum juga sampai. Qyen yang terburu-buru pergi mendengar kabar dari Ian, bahkan tidak mempertimbangkan pakaian apa yang harus ia gunakan untuk pergi kerumah besar itu lagi.
“Huft … tidak apa-apa, setidaknya aku pakai pakaian yang sopan.”
Setelah penantian panjang, akhirnya mereka sampai di sebuah gerbang besar menuju rumah kediaman Max. Qyen di bawa oleh seorang penjaga laki-laki untuk masuk ke dalam rumah besar tersebut. Walaupun hatinya merasa gugup, takut dan khawatir, tapi Qyen mencoba untuk meyakini dirinya, jika ia kemari untuk menenangkan Alan.
Pintu rumah besar itupun terbuka, betapa terkejutnya Qyen langsung disambut oleh Frans, Ian, dan Brian di sana. Ian sudah tersenyum lebar melihat kehadirannya, berbeda dengan Frans yang selalu menatap datar kearahnya.
“Tuan besar …” sapa Qyen sambil menundukan kepalanya tanda ia hormat.
Frans menghiraukan sapaan itu, ia menatap jengah kearah Qyen, sebenarnya ia tidak suka dengan perempuan itu, bahkan lihat saja dengan penampilannya yang sangat tidak terjaga, apalagi ditambah dengan perut besarnya.
“Alan masih menangis di atas, ayo, Qyen.” Ian mengajak Qyen sambil memegang tangan Qyen.
Qyen yang mulai melangkahkan kakinya pun terhenti karena suara Frans yang terdengar di telinganya. “Tenangkan Alan, dan tidak perlu berlebihan dengan cucu saya,” ucapnya dan Frans pun berbalik menjauh dari sana.
Qyen yang mendengar itu, ia pun membalikan badannya, ia membungkuk dan menatap punggung Frans penuh dengan senyum manisnya. Jika Frans berbicara seperti itu, sedikit-sedikit Frans menerima kehadirannya.
Qyen pun di ajak oleh Ian menuju lantai dua. Tempat yang sudah tak asing untuk Qyen, karena ini kali kedua ia mengunjungi tempat ini. Pintu kamar Alan pun terbuka.
Betapa terkejutnya Qyen melihat wajah pucat Alan yang masih menangis sesenggukan. “Sayang …” panggil Qyen dan membawa Alan kedalam pelukannya.
“Maa …” rengek Alan di dalam pelukan Qyen.
“Tidak apa-apa, ada aku di sini. Maafkan, Aku, Alan ….”
“Hiks … Jangan pergi, Qyen ….”
Qyen menggelengkan. “Tidak, sayang. Aku tidak pergi, aku ada di sini memeluk kamu.”
Qyen memeluk Alan cukup lama, sampai tangis anak itu perlahan mereda. Ian yang melihat tangis Alan mulai mereda ia pun menghembuskan napasnya lega.
Berkali-kali Qyen menciumi pucuk kepala Alan, ia sangat menyayangi anak kecil ini lebih dari apapun. Alan, anak kecil yang selalu tangguh, pintar, mandiri, namun begitu setangguh dan sehebat apapun Alan, ia masih seorang anak kecil yang membutuhkan kasih sayang seorang ibu.
Ian memberikan segelas minum kepada Qyen. Qyen mengerti, ia memberikan minum itu kepada Alan yang wajahnya sudah sangat-sangat pucat. Dan akhirnya Alan pun bisa meminum air mineral itu.
“Akhirnya … Gue kasian sama Alan, Qyen. Dia tiba-tiba nangis, mungkin karena ingat tentang kejadian kemarin. Apalagi semalam tidurnya juga tidak nyenyak.”
Qyen tentunya paham akan hal itu. Ia sebagai orang dewasa pun terkejut dengan hal yang baru saja terjadi kemarin. Apalagi Alan yang tidak tahu apa-apa, tiba-tiba dihadapkan oleh seorang wanita yang mengaku sebagai ibunya. Pasti Alan sangat kebingungan.
Semua hal yang Qyen lakukan, terlihat oleh Frans dan Brian. Disaat Ian dan Qyen melangkahkan kakinya ke lantai 2, di saat itu juga Frans mengikuti mereka. Lagi dan lagi, gelenyar aneh di dalam hatinya kini terasa. Melihat Alan yang terdiam nyaman di dalam pelukan Qyen, membuat Frans merasa bersalah.
Setelah dirasa puas memperhatikan Alan dan Qyen, Frans pun pergi dari kamar Alan, dan tentunya diikuti oleh Brian.
“Siapkan semua kebutuhan wanita itu untuk merawat Alan.”