ALBRA

ALBRA
74. Bergelut dengan pikiran



Memiliki sifat datar, dingin, tidak peduli itu memang benar Albra. Tapi, jika ia sudah berhadapan dengan orang yang sangat ia jaga, kasihi dan sayangi, sifat menyebalkan Albra bertambah menjadi possessive, dan terlalu banyak mengatur.


Seperti kejadian yang baru saja terjadi, Albra dan Qyen adu mulut karena Albra tidak suka jika istrinya berbicara dan tertawa dengan Ian. Padahal, Qyen pikir Ian adalah keluarganya juga, lagipun jika ia tidak mengobrol dengan siapa-siapa di sini, sudah dipastikan Qyen akan mengalami hari yang sangat suntuk.


Padahal Albra tahu jika hobi Qyen adalah banyak berbicara.


Namun setelah perdebatan singkat itu terjadi, kini keduanya damai dan mengambil jalan tengah. Qyen bisa tertawa dan mengobrol puas dengan lawan jenisnya, namun hal itu harus di lakukan dalam pengawasan Albra. Aneh bukan?


Qyen hanya menerima jalan tengah yang lebih merugikan dirinya dibanding Albra, tapi bagaimana pun Albra mengaturnya seperti itu karena untuk kebaikan mereka.


“Kenapa diam dari tadi?” tanya Albra.


Saat ini mereka tengah berada di dalam kamar Frans yang sudah mulai pulih.


“Tadi kamu bilang gak boleh ngomong, yauda aku diam,” jawab Qyen yang memilih diam sambil melihat ke depan.


Albra menghela napasnya, ia bisa melihat perubahan ekspresi Qyen yang terlihat bete. Tidak ingin istrinya merasa tak nyaman, Albra merangkul pinggang Qyen agar lebih dekat dengannya, mereka sedang melihat Ian tengah memberikan suapan-suapan kecil untuk Frans, dan Alan yang sigap dengan tugas memegang tissue untuk membersihkan sisa makanan yang ada di sekitar mulut Frans.


“Tidak usah kesal.”


‘Apa dia gak tau kalau ngobrol dengan orang itu bisa ngecharge energi kita? Kalau aku gak dibolehin ngomong sama siapapun, buat apa aku punya mulut?’ Hati Qyen masih menggerutu karena merasa sangat-sangat kesal akibat perdebatan kecil tadi.


“Kamu lelah mau istirahat?”


Qyen menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Albra. Moodnya sudah tidak baik hari ini, namun tiba-tiba saja ia memaksanakan senyumnya ketika Frans memperhatikan kearahnya.


“Tuan,” sapa Qyen sambil menundukan kepalanya.


Frans hanya berkedip lalu matanya melihat kearah lain. Melihat Qyen tersenyum menyapa dirinya, membuat hati Frans merasa bersalah, entah karena apa.


Sore tadi, ketika ia terjatuh, Frans sangat ingat sekali ketika Qyen menolongnya dengan tatapan rasa khawatir, dibalik Brian dan Alan yang juga khawatir, tapi mata Frans selalu memperhatikan Qyen yang telaten mengurusnya. Sampai pada saat ini, bahkan Qyen membuat makan malam untuknya.


Di samping kelakuan Frans terhadap Qyen dulu, Frans berpikir apakah Qyen tidak sakit hati dengan kelakuannya? Lalu mengapa Qyen tidak pergi saja menjauh? Mengapa Qyen masih menolongnya dan peduli kepada Frans?


Tangannya terangkat, tanda ia tidak ingin kembali makan. Ian menyimpan mangkuk tersebut kembali ke atas nampan, lalu memberikan Frans minum dengan hati-hati.


“Grapa sudah kenyang?” tanya Alan dan dihadiahi anggukan kecil.


“Apa yang sedang Papa pikirkan sampai terus terjadi seperti ini. Aku tahu Papa sedang tidak baik-baik saja, ceritakan apa yang terjadi.” Suara Ian terdengar, ia masih tidak mengerti mengapa akhir-akhir ini Frans sangat ceroboh dan terlihat lusuh.


“Tidak apa-apa.”


“Papa selalu saja menyembunyikan sesuatu dari aku. Aku sudah dewasa, Pa. Aku berhak tau semua urusan Papa dan semua masalah Papa. Papa pikir aku gak berhak buat tau semua urusan Papa, karena aku masih kecil?”


Ian ingin meluapkan emosinya, namun sedikit ia tahan karena tahu kondisi Frans yang baru saja stabil.


“Papa memang tidak apa-apa. Mengapa kamu peduli denganku? Urusi saja wanitamu itu.” Jawaban Frans membuat Ian terdiam seribu bahasa. Mendengar Frans membahas tentang wanitanya membuat hati Ian sangat-sangat geram, karena teringat beberapa kejadian yang ia hadapi beberapa hari lalu. Bahkan saat ini hubungannya sudah kandas dengan Savana, ulah siapa lagi kalua bukan Frans?


“Pa, Papa … Ah sudahlah!” Ian yang kesal langsung pergi dari sana dan membanting pintu kamar Frans. Semua penjaga yang ada di sana tunduk patuh ketika melihat Ian melewatinya.


Sedangkan Qyen, Albra dan Alan menatap kepergian Ian yang sepertinya sangat kecewa.


“Papa tidak seharusnya seperti itu.”


Kini suara Albra terdengar, ia pun merasa jika Frans memiliki sesuatu yang disembunyikan olehnya sendiri. “Apa yang sudah mengganggu pikiran Papa? Jika saya bisa bantu, akan saya bantu.”


Albra menggenggam tangan Qyen, lalu duduk di pinggir kasur Frans, dan Qyen yang masih berdiri. “Saya tidak sedang memikirkan apapun. Sudahlah, kalian pergi saja.”


“Kita pergi saja, Kak,” bisik Qyen ditelinga Albra.


“Baiklah, silahkan istirahat,” ucap Albra yang kini memilih meninggalkan Frans. Tak lupa ia pun menggendong Alan untuk pergi ke lantai dua karena hari sudah semakin larut.


Mata Frans bergetar melihat punggung Albra yang pergi meninggalkan dirinya sendiri. Baru saja kemarin ia menerima pelukan hangat Albra, dan kali ini Albra memilih pergi menggenggam tangan istrinya.


Kondisi Frans memburuk karena suasana hatinya yang tak baik. Banyak sekali pikiran-pikiran yang mengganjal di dalam otak dan juga hatinya. Batinnya terus berperang sampai ia tidak fokus, tidak meminum obat ataupun makan, bahkan sampai-sampai Frans ceroboh.


Masalah utamanya adalah Frans terlalu banyak berpikir jika dirinya kalah karena membiarkan Qyen hidup bersama anaknya, namun hatinya tidak mempermasalahkan itu. Bahkan kerumitan itu bertambah ketika ia mengetahui Ian yang juga memiliki hubungan dengan seorang gadis.


Hati dan pikirannya terus berperang, memilih untuk kembali berbuat jahat, atau membiarkan semuanya terjadi begitu saja.


“Tuan, anda butuh sesuatu?” Brian bertanya ketika melihat Frans terdiam dengan air mata yang mengalir begitu saja.


Frans menggeleng, lalu menutup matanya. Banyak sekali kerumitan yang ia hadapi, dan permasalahan itu tentunya tidak bisa ia selesaikan dengan uang, bahkan harta yang ia miliki.



“Sayang, masih marah?” Albra memeluk Qyen dari belakang yang tengah menyisir rambutnya.


Qyen diam seribu bahasa sejak tadi, dan tidak berbicara satu patah katapun kepada dirinya, dan hal itu membuat Albra sedikit kesal.


“Sayang … Sudahlah …” Albra terus merengek dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Qyen.


“Hm … Kamu istirahat saja, bukannya kamu lelah baru pulang dari Singapore?”


Albra menggelengkan kepalanya. “Tidak, Saya tidak lelah.”


Kini Qyen berjalan kearah tempat tidur, dan Albra pun mengikuti kemana istrinya pergi . “Masih marah?” tanya Albra lagi.


Akhirnya Qyen menghela napasnya, setelah masalah hari ini cukup rumit, Qyen tidak mau menambah masalah hanya karena ia kesal dengan Albra. “Enggak, Kak, ayo kita tidur.”


Qyen tidur di dalam dekapan Albra yang memeluknya dari belakang. “Kak, kamu sudah tidur?”


“Hm, belum,” jawab Albra dengan suara rendahnya.


“Ian, kamu tidak ingin berbicara dengan Ian? Kasihan dia,” ucap Qyen yang membuat mata Albra menjadi sepenuhnya terbuka.


Qyen mengubah posisi tidurnya dan menghadap kearah Albra. “Kak, sepertinya Ian merasa jika dirinya tidak dianggap di sini. Karena kamu kakaknya, dan kamu juga salah satu pemimpin di rumah ini, kenapa kamu tidak mengajak Ian untuk berbicara empat mata, mengobrol dari hati ke hati.”


Melihat wajah Qyen begitu serius menatapnya, membuat Albra sedikit merinding. “Biarlah, dia sudah dewasa.”


“Kak, sedewasa apapun dia, dia tetep manusia lemah, apalagi posisinya di sini dia adalah adik kamu. Walaupun Ian punya jiwa yang ceria, itu gak menutup kemungkinan dia gak punya masalah.”


Hatinya terketuk mendengar penjelasan Qyen. Benar juga apa yang dikatakan istrinya itu, dari dulu ia memang tidak pernah dekat dengan Ian. Bahkan melihat Ian remaja yang jatuh dari motor dan menangis, Albra tidak peduli saat itu, sebab ia pun tidak menerima kehadiran Ian di hidupnya.


“Mau bagaimana pun juga, kamu lahir terlebih dahulu dengan darah Papamu, dan Ian lahir setelahnya. Kalian punya darah yang sama, dan berarti dia adalah adik kamu.”


“Temui Ian, Kak. Jangan sampai dia terus merasa sendiri.”


“Apa saya harus? Bagaimana jika Ian menolak kehadiran saya?”


Qyen mengusap pipi Albra dengan lembut. “Kamu belum menemuinya, tau jika Ian akan menolak kamu dari mana?”


Setelah mendengarkan penjelasan dari Qyen, akhirnya Albra pun mengiyakan untuk menemui Ian dan mengobrol empat mata. Lagipun mereka tidak pernah mengobrol dari hati ke hati. Mereka tidak akan berbicara kecuali itu adalah urusan kantor.


Albra keluar dari kamarnya, jam saat ini menunjukan pukul 11 malam. Albra tidak tahu Ian berada di mana, karena ia sudah mencari di kamar anak itu, namun Ian tetap tidak ada.


Sampai langkahnya membawa kearah ruang bioskop mini yang berada di lantai 3 rumah ini, karena ia melihat pintu ruangan itu terbuka. Ada seorang pelayan keluar dari sana dan membawa dua botol minuman keras yang sudah kosong.


“Siapa di dalam?” tanya Albra.


Pelayan itu menunduk. “Tuan Ian, Tuan,” ucapnya dan pamit mengundurkan diri.


Albra berjalan pelan menghampiri ruangan yang terbuka itu. Suara menggelegar terdengar karena Ian menyalakan film dengan volume yang sangat kencang, bahkan mungkin Ian sengaja membuka pintu ruangan agar suaranya sampai ke lantai dasar.


Albra pun bisa melihat Ian yang tengah membaringkan tubuhnya di salah satu sofa panjang dengan selimut yang menutupi dirinya. Mata Ian terlihat kosong, dan hanya menatap lurus kearah layar tanpa adanya ekspresi.


“Sepertinya dia mabuk,” gumam Albra yang kini berjalan masuk menghampiri Ian.