
Seorang perempuan tengah duduk di sebuah kursi ayunan yang berada di sisi kolam renang. Sedari tadi, ia hanya diam melamun memperhatikan pemandangan malam kota yang terlihat dari kaca besar dihadapanya. Juga, perempuan itu ditemani oleh bintang-bintang yang bertaburan di langit, untuk melihat keindahan itu, ia hanya perlu mendongakkan kepalanya.
Kedua tangan mungilnya, terus saja memegangi perutnya yang terlihat masih rata. Walaupun perutnya masih rata, kini ia harus ingat jika ada nyawa yang harus ia jaga di dalam perutnya. Qyen masih terus bertanya-tanya tentang kejadian yang menimpa dirinya, kejadian yang begitu singkat kini berefek besar didalam hidupnya, bahkan kini mengubah alur hidupnya. Qyen tidak tahu harus mensyukuri hal ini, atau menyesalinya.
Bertemu dengan Albra dan Alan, mungkin adalah keberuntungan di dalam hidupnya. Tapi … bertemu dengan mereka pun tidak menjamin kehidupan Qyen akan baik-baik saja. Apalagi, ketika ia mengingat jika Albra dan keluarganya bukanlah orang sembarangan.
Terhanyut dalam pikiran dan nasibnya, tanpa Qyen sadari, Albra datang dan memeluk Qyen dari samping. Tangan Albra membawa satu gelas susu berwarna pink muda, lalu ia berikan kepada Qyen dengan senyumnya.
“Pak Albra … huh aku kaget banget, aku kira siapa.” Qyen membalas senyum Albra dan menerima gelas berisi susu itu.
“Sepertinya kamu harus membiasakan diri memanggil saya dengan sebutan nama, Qyen. Sudah saya bilang saya tidak setua itu.” Lagi dan lagi Albra merasa kesal karena Qyen terus memanggilnya dengan embel-embel ‘Pak’.
Qyen mencubit pipi Albra dengan tangan kirinya. “Terus aku harus manggil kamu apa? Aku juga udah bilang kalau manggil kamu pakai nama saja itu gak sopan.” Qyen pun tidak ingin kalah dengan opininya.
“You can call me, sayang or honey?” ucap Albra dengan senyum genitnya yang membuat Qyen tertawa. Jujur saja, image Albra yang datar, lalu membuat jokes receh seperti tadi, membuat Qyen merasa geli dan ingin tertawa puas.
“Hm … itu sih maunya kamu.”
Albra pun ikut sedikit tertawa. “Apapun, asal jangan ‘Pak’.”
Qyen mengangguk dan membalas pelukan Albra. Berada di dalam pelukan Albra seperti ini, membuat dirinya merasa sangat-sangat nyaman, ia merasa terlindungi dan membuat jantungnya ikut berdebar. Oh, apa ini cinta Jujur saja, Qyen baru merasakan perasaan ini pertama kali di dalam hidupnya selama 20 tahun.
“Di minum susunya. Kenapa kamu diam disini sendiri? Ini sudah malam.” Albra membuka obrolan malam mereka.
Qyen meminum susu buatan Albra, sejak kemarin setiap pagi dan malam hari Albra selalu membuatkannya susu ibu hamil seperti ini. Bahkan Albra selalu memperhatikan setiap detail yang Qyen jalani, bahkan ia pun mencari tahu diberbagai sumber tentang larangan dan kebolehan yang dilakukan oleh ibu hamil. Tak hanya itu, setiap paginya bahkan Albra selalu menelpon dokter pribadinya untuk menanyakan menu makanan untuk Qyen. Apakah hal ini tidak berlebihan?
“Kamu juga kenapa baru pulang jam segini? Biasanya kamu sudah pulang dua jam yang lalu?” Qyen bertanya karena Albra pulang terlambat hari ini, apalagi ia melihat jika Albra menggunakan pakaian yang berbeda dari pakaian paginya.
“Maaf. Saya ada meeting sampai jam delapan malam, dan mengantarkan Alan pulang lalu ke sini. Kamu menunggu?”
Albra membawa Qyen untuk bersandar di dada bidangnya, Albra yang sudah tau jika Qyen tidak suka dengan wangi parfum yang ia pakai, Albra pun selalu memiliki inisiatif untuk mengganti pakaiannya sebelum bertemu dengan Qyen.
“Iya, aku nunggu di sini.”
“Sayangnya mana?”
Qyen mengerutkan dahinya. “Maksud kamu?”
“Ck … Saya larang kamu panggil ‘Pak’ bukan berarti kalau kamu bicara itu tidak pakai nama panggilan.”
Qyen tersenyum salah tingkah. “Iya, sayang …” akhirnya kalimat itu pun keluar dari mulutnya. Ada sensasi geli, senang, dan bahagia ketika memanggil Albra dengan sebutan seperti itu.
Kecupan lembut mendarat didahi Qyen. “Sudah makan malam?”
“Hm … ini sudah malam, aku mau langsung istirahat saja. Kamu sudah makan?”
Albra mengangguk. “Yakin kamu tidak mau makan?”
“Aku sudah minum susu, sayang … lagipun kamu terus menyuruh aku memakan cake dan cookies yang ada di dalam kulkas, kayaknya aku udah gak kuat kalau harus makan malam.”
“Yasudah, mau pindah ke kamar? Saya mau olahraga, kamu bisa tidur duluan.”
Qyen kini bangun dari sandaran Albra, lalu melihat kearah wajah tampan yang kini menjadi kesayangannya. Bukan apa-apa Qyen memanggil Albra ‘kesayangan’ sebab untuk megakui Albra pacar atau suami, mereka belum membuat hubungan mereka lebih jelas.
“Kenapa diam?” tanya Albra sambil merapikan rambut Qyen.
“Aku mau lihat kamu olahraga. Aku belum ngantuk.”
“Okay. Kamu hanya lihat ya, tidak perlu ikut. Dokter bilang kehamilan kamu masih rentan dan tidak boleh banyak beraktivitas berat.”
“Iya … aku paham.”
Qyen berdiri begitupun dengan Albra. Albra yang tidak ingin Qyen kelelahan untuk pergi ke lantai dua, tanpa aba-aba ia pun memangku Qyen seperti kebiasaanya memangku Alan.
“Pak … eh sayang … nanti jatuh.”
“Syut … badan kamu seringan plastik. Sudah diam aja.” Akhirnya Qyen pun melingkarkan tangannya dileher Albra, menikmati wangi asli tubuh Albra tanpa parfum yang kini menjadi candunya. Hem … Qyen tidak berbohong, atau mungkin ini karena bawaan bayi yang ada dikandungannya.
Albra mendudukan Qyen disebuah sofa single yang ada di ruang gym-nya. Sebelum mulai berolahraga, ia pun berganti pakaian terlebih dahulu, dan mulai menulis target latihannya disebuah white board yang sudah tersedia di sana. Qyen baru tahu jika ruangan ini adalah tempat Albra berolahraga, sepertinya Albra memang selalu menyiapkan tempat olahraga disetiap rumahnya.
“Kamu kenapa liatin terus?” suara Albra kini terdengar.
“A—emm ya terus aku liatin apa?” Qyen yang salah tingkah kini menjadi gugup.
Albra terkekeh geli di sana. Menggoda Qyen adalah kesukaannya saat ini. “Kalau bosan tidur saja, nanti saya bangunkan kamu.”
Qyen menggeleng, ia tidak ingin tidur dan menyia-nyiakan kesempatan langka seperti ini. Walaupun matanya mengantuk, tapi ia sebisa mungkin menahannya.
“Kak. Boleh aku panggil kamu Kakak? Mas? Atau Bli?” tanyanya yang memberikan Albra penawaran agar dirinya tidak terus memanggil Albra dengan panggilan ‘Sayang’ Qyen rasa itu sangat menggelikan.
“Hem … senyamannya kamu asal tidak ‘Pak’,”
“Okay kakak sayang. Hahaha … kamukan yang bilang kalau kamu gak setua itu.”
Obrolan ringan mereka berlanjut sampai latihan fisik Albra pun selesai. “Kamu sudah mau selesai? Aku siapkan air hangat ya. Kamu bisa lanjutkan latihan kamu.”
“Sebentar lagi. Kamu tunggu di kamar ya.”
Qyen mengangguk dan berjalan menuruni tangga, ia berjalan kearah toilet dan menyiapkan air hangat untuk Albra. Tak hanya itu saja rutinitas Qyen yang sudah seperti seorang istri pun, tidak lupa menyiapkan piyama Albra yang berada di walk in closet.
…
Jam menunjukan pukul 23:30 sudah hampir larut malam, saat ini Qyen tengah berada di dalam pelukan Albra yang sudah menyelesaikan semua kegiatannya. Berada di dalam sebuah kamar mewah, dan tertidur di dalam pelukan Albra, merupakan mimpi yang tidak pernah Qyen bayangkan sebelumnya.
“Kamu pasti capek seharian ini di kantor. Tidur saja, Kak,” ucap Qyen yang kini ingin membiasakan diri untuk memanggil Albra dengan sebutan ‘Kak’. Ia pun baru tersadar jika umur dan wajah Albra tidak setua itu untuk dirinya memanggil sebutan ‘Pak’.
“Qyen, saya ingin menanyakan sesuatu. Bisa kamu jawab jujur?” Mendengar nada bicara Albra yang sama seperti Alan, ia pun kini menjadi teringat dengan anak kecil itu.
“Iya, kamu mau menanyakan apa?” Qyen kini membalikan badannya, dan menghadap kearah wajah Albra.
“Beberapa hari yang lalu, kamu benar pergi ke kafe?” tanya Albra memulai obrolannya. Hal itu masih mengganjal di dalam pikirannya, ia ingin mencari kejujuran sendiri dari Qyen. Mungkin jika Qyen tidak jujur kepadanya Albra akan merasa kecewa.
Qyen terdiam dan sedikit terkejut, mengapa Albra kembali membahas tentang hari itu. “Bisa kamu menjawab pertanyaan saya?”
“Me—memangnya ada suatu hal yang mengganjal?”
Albra mengusap sisi kepala Qyen, mencoba memberi kenyamanan dan kepercayaan kepada Qyen. “Saya ingin menyelesaikan suatu masalah. Kamu bisa bantu saya dengan kejujuran kamu.”
Qyen terdiam, sebelum akhirnya beberapa detik berikutnya ia pun menceritakan semua kejadian yang menimpa dirinya pada beberapa hari yang lalu. Tentang Qyen yang sedang menyimpan alat bersih-bersih, dihampiri beberapa orang berbaju hitam, sampai dirinya ditampar oleh Frans pun Qyen ceritakan kepada Albra. Qyen memilih menceritakan semuanya kepada Albra karena, jika dirinya menyimpan rahasia ini pun, keselamatannya tidak akan terjamin.
Air mata Qyen luruh bersamaan dengan cerita itu berakhir. Dirinya terlalu takut untuk menghadapi Frans, dan keluarga Albra. “A—aku gak tau di mana letak kesalahan yang aku perbuat. Tapi … papa kamu terus mengincar aku,” ucapnya sambil terisak.
Tangan kanan Albra yang dijadikan bantalan oleh Qyen terkepal, rahangnya menggeretak. Ia tidak bisa terus diam saja karena kelakuan Frans sudah diluar batas. Albra memang sudah lama tidak bertemu dengan Frans, namun kini yang Frans gangggu bukan lagi dirinya tapi Qyen.
“Saya melihat jika Brian ada di dalam mobil tersebut, setelah dari rumah Papa kamu pergi kemana?”
Qyen menggeleng. “Setauku itu bukan rumah kamu, Kak. Dan … karena kemarin perutku terasa sangat sakit luar biasa, aku gak sadar kalau aku pingsan, lalu bangun sudah ada di dalam rumah sakit.”
Albra kini sudah tau, mengapa Frans mengetahui jika Qyen hamil. Mungkin karena dokter dari rumah sakit tersebut yang memberi tahu tentang kondisi Qyen. Albra menghela napasnya.
“Ada yang salah, Kak?”
Albra menggeleng dan tersenyum, ia tidak ingin membuat Qyen stress dan berdampak buruk pada kandungan Qyen, ia tidak ingin itu terjadi. “Kamu pasti takut? Maafkan saya yang tidak tahu tentang kejadian itu.”
“Aku takut, tapi aku enggak bisa memberitahu kamu karena aku pun diancam. Maaf sudah berbohong.”
Albra mengusap air mata yang membanjiri wajah Qyen, ia mencium dalam-dalam bibir Qyen yang kini sudah menjadi candunya. “Saya akan menjaga kamu, Qyen. Jangan pernah takut untuk menceritakan hal apapun kepada saya.”
‘Klik’
Lampu utama pun mati, kini kamar mereka hanya diterangi oleh lampu tidur yang terlihat manis. “Sudah malam, waktunya tidur. Kamu tidak boleh stress, ingat kata dokter.”
Qyen mengangguk. “Iya … aku sudah paham ….”
Albra terkekeh kecil. “Good night, Qyen. I love you ….”
“Ya, I love you more ….”