ALBRA

ALBRA
24. See You



Dinginnya suhu ruangan membuat seseorang yang tengah meringkuk didalam tidurnya kini perlahan terbangun. Ditengah kesadarannya ia merasa seperti sedang tidur diatas awan, karena matras yang ia tiduri saat ini terasa lembut dan memiliki wangi yang sangat lembut, sehingga hal itu membuat dirinya nyaman. Apakah dirinya ada didalam mimpi?


Perlahan mata Qyen terbuka, mencoba menganalisis benda-benda yang ada disekitarnya untuk bisa menjawab pertanyaan tadi.


“Hah?” satu kata yang keluar dari mulut Qyen ketika menyadari bahwa ia tertidur dikamar pribadi Albra.


Sadar dengan hal itu, sontak ia terbangun dan menghembuskan napasnya lega karena ia hanya sendirian disini. Tak hanya itu saja, ia pun memeriksa kelengkapan pakaiannya, tidak ada yang aneh, berarti semuanya baik-baik saja semalam. Qyen tidak memiliki pikiran kotor, tidak ada salahnya jika ia selalu waspada jika didekat Albra, karena bagaimanapun status Albra adalah laki-laki tulen yang tidak memiliki istri.


“Untungnya … tapi, sebentar … kenapa aku bisa disini?” tanyanya sendiri.


Qyen turun dari atas kasur, ia melihat jam digital yang berada disebuah meja didekatnya. “Ternyata sudah jam enam pagi,” gumamnya pelan.


Sebelum keluar dari kamar Albra, Qyen yang menjunjung kesopanan dan rasa terimakasih, ia pun membereskan kasur Albra yang sudah ia pakai semalaman ini.


“Gimana caranya tiba-tiba aku pindah kesini ya?” tanya Qyen sambil melipat selimutnya.


Selesai, ia pun keluar dan melihat Albra yang sedang tertidur diatas sofa sambil melipat tangannya didada, tanpa selimut yang menutupinya.


Qyen meringis pelan, ia merasa bersalah dan sudah membebani Albra sejak kemarin. “Duh, memangnya boleh ya? Orang kaya tidur disofa kaya gini,” ucap Qyen dengan pelan.


Qyen mencoba mendekati Albra, untuk memastikan jika Albra tertidur dengan nyenyak.


“Tapi, kayaknya Pak Albra tidurnya nyaman deh,” bisik Qyen pelan.


Tidak hanya sampai disitu saja, Qyen pun mencoba melambai-lambaikan tangannya dihadapan wajah Albra, tapi … suatu kejadian yang tidak Qyen duga terjadi.


Dengan mata yang masih terpejam, Albra memegang tangan Qyen dan menarik gadis kecil itu sampai tubuh bagian atas Qyen terjatuh didada bidangnya.


“Aaa … ma—maaf, a—aku ….”


Perkataan Qyen terhenti ketika Albra perlahan membuka matanya. Ini kali pertama Qyen melihat seorang laki-laki membuka matanya disaat bangun tidur, tepat dihadapannya, dan hal yang mustahil yang terjadi adalah laki-laki itu Albra.


“Hem …” suara Albra yang terdengar sangat serak.


Qyen yang terjebak didalam dekapan Albra itu, kini hanya bisa menyaksikan wajah Albra yang sangat-sangat tampan secara eksklusif tanpa wajah dinginnya. Hidung yang sangat tegas, mata tajam yang besar, bulu mata yang lentik, pipi yang mengikuti bentuk rahang kokohnya, dapat semua Qyen nikmati tanpa perantara.


“Mau kabur hm?” tanya Albra yang masih betah memegang pergelangan tangan Qyen.


“P—pak, lepas ….”


“Kamu berusaha kabur dari tempat ini?”


Qyen menggeleng dengan cepat, sebelum akhirnya ia memaksa untuk bangun dari atas tubuh Albra.


“Aku cuma mastiin kalau Bapak tidur dengan nyaman disini,” ucap Qyen yang berbicara tanpa melihat kearah Albra, karena ia merasa canggung akibat kejadian yang baru saja terjadi.


“Ini pertama kalinya saya tidur disofa,” ucap Albra yang kini memilih untuk duduk dan bersandar.


“Ha … aa—iya, Pak,” jawab Qyen seadanya. Qyen menggaruk-garuk kepalanya untuk mencoba mengusir rasa canggung yang sedang melanda dirinya.


“Kenapa sudah bangun?” tanya Albra masih dengan suara seraknya.


“Jam enam pa—“


Ucapan Qyen terhenti ketika ponsel Albra bergetar diatas meja. Albra mengambil ponselnya dan mengangkat telpon tersebut.


“Iya, ada apa?”


“Lalu?”


“Yasudah, saya akan segera kesana.”


Qyen mengangkat alisnya sedikit pensaran tentang hal apa yang sedang terjadi kepada Albra saat ini.


Albra bangun dari duduknya. “Meta akan mengantarkan kamu pulang sebentar lagi. Saya harus pergi sekarang karena ada urusan mendadak di Malaysia,” ucap Albra yang tiba-tiba pergi dari hadapan Qyen.


“Iya, Pak. Terimakasih.”


Mendengar semua ucapan Albra dan melihat punggung Albra yang menjauh dari hadapannya, Qyen merasakan sedikit ruang dihatinya terasa kosong dan hampa. Tapi … apa boleh buat, Qyen memang harus kembali ketempat asalnya.



Hari-hari sudah berlalu, Qyen dan Albra menjalani kehidupannya masing-masing, terlebih lagi Qyen yang saat ini kembali fokus untuk berjualan buahnya. Terhitung sudah sekitar satu bulan lebih, semenjak hari itu, Qyen tidak lagi berinteraksi dengan Albra ataupun Fin. Bahkan ia tidak mendapatkan satu pesan teks pun dari Fin.


Ia tidak mencoba untuk mencari tahu, tapi disisi lain ia merasa kehidupan seperti inilah yang harusnya ia dapat jalankan.


“Kak?”


Lamunan Qyen tersadarkan ketika ada seorang perempuan yang menggunakan seragam sekolah datang menghampirinya.


“Iya? Ada yang bisa aku bantu?” tanya Qyen sambil tersenyum.


“Hai, Kak. Aku Lova, aku yang ngisi ruko itu sekarang,” ucap anak perempuan itu sambil menunjuk ruko yang tak jauh dari toko Qyen.


“Hai, Lova, aku Qyen. Senang bisa berjumpa … kamu masih SMP?”


Lova mengangguk sambil tersenyum. Lova memiliki tinggi yang hampir sama dengan Qyen, yang membedakan hanya saja Lova memiliki tubuh yang berisi.


“Ini, Mama nyuruh ini buat kasih ke kamu, Kak,” katanya sambil memberikan sebuah pelastik putih yang didalamnya terdapat satu kotak yang berukuran sedang.


“Wah … terimakasih Lova, salam ya buat Mama kamu, sampaikan juga terimakasihku.” Qyen tersenyum lebar sambil menerima bingkisan tersebut.


“Iya, Kak … ngomong-ngomong, kamu tinggal disini sendiri?”


Qyen yang merasa tidak sopan mengobrol dengan tamu sambil berdiri, ia pun mempersilahkan Lova untuk duduk disebuah bangku panjang yang tersedia didepan tokonya.


“Iya, aku tinggal sendiri. Kamu baru pindah kemarin?”


“Iya, Kak aku baru pindah kemarin. Kakak cantik deh, pantes aja Kakak aku selalu bilang ke Mamaku buat ngasih sesuatu kekamu,” ucap Lova secara tiba-tiba.


Qyen yang terasa asing dengan ungkapan itu, ia pun mengerutkan dahinya. “Kakak kamu? Kalau boleh tau Kakak kamu yang mana ya? Hehehe … karena kemarin ada beberapa pembeli juga, jadi aku kurang mengenal wajahnya.”


“Emm … ada deh pokoknya, hahaha …” jawab Lova dengan suara tawa lucunya.


Qyen yang merasa Lova sangat lucu pun tertawa. “Kamu bisa aja deh …”


“Oh iya, aku hampir lupa, Mama nyuruh aku buat beli mangga disini, buah di sini ternyata segar-segar juga ya, Kak …” Lova bangun dari duduknya dan menghampiri box yang terisi susunan mangga yang sangat rapi.


“Boleh, Lova. Ini segar karena buahnya dikirim tiap pagi,” jelas Qyen.


“Mama bilang pesan dua kilo saja, untuk membuat salad nanti malam.”


Dengan senyum manisnya, Qyen melayani pembeli sekaligus tetangga barunya itu dengan senang hati. Mungkin seperti ini rasanya balasan bersikap ramah kepada orang lain.


“Aku kasih bonus satu ya. Oh iya, sebentar …” Qyen memberikan plastik berisi mangga tersebut kepada Lova dan berjalan masuk kedalam tokonya untuk mengambil sesuatu.


“Karena Mama kamu mau membuat salad, ini aku kasih melon yang sangat manis, cocok banget buat dijadikan salad buah. Semoga kamu suka ya ….”


“Wah … kamu baik banget, Kak. Rasanya aku mau main kesini setiap harinya.”


Qyen mengangguk sambil mengusap pundak Lova. “Boleh dong, selesai pulang sekolah kalau kamu sudah mengerjakan PR, kamu boleh kesini temenin aku.”


“Siap, Kak! Besok aku main lagi ya kesini. Aku pulang dulu, Kak. Karena aku harus membereskan barang-barang yang ada di kamar.”


“Iya, Lova. Sampai jumpa ….”


Mereka saling melambaikan tangannya, Qyen tersenyum manis melihat Lova yang berjalan dipinggir jalan.


“Lova … nama yang lucu seperti anaknya,” gumam Qyen diakhiri tawa kecil.


Senyuman dipengujung hari ini membuat Qyen sedikit melupakan rasa hampa dihatinya.