ALBRA

ALBRA
44. Perdebatan sengit



Beberapa hari setelah kejadian Qyen bertemu dengan Fin berlalu, kini Albra sudah memberanikan diri untuk membawa Qyen pergi bersamanya ke kantor. Banyak sekali pasang mata yang memperhatikannya, karena ini pertama kalinya Albra membawa perempuan kekantornya. Apalagi perempuan yang Albra bawa masih terlihat seperti anak remaja.


Tak menghiraukan tatapan aneh dari para karyawannya, saat ini Albra masih tetap asik memegang tangan Qyen, padahal si pemilik tangan itu sudah tidak nyaman di perhatikan oleh banyak orang.


“Wow … pemandangan di pagi hari yang langka ….”


“Tidak ada rumor pernikahan tentang Pak Bos, tapi kenapa tiba-tiba gandeng cewek lain?”


“Sepertinya perempuan itu sedang hamil. Kamu lihat perutnya sedikit membesar.”


“Patah hati ….”


Masih banyak bisikan-bisikan kecil yang mereka dengar di sepanjang jalan, dan Qyen tidak memperhatikan itu, ia sibuk menutupi identitas dirinya dengan cara menundukan wajahnya.


“Kamu kaya tersangka kasus obat-obatan! Ngapain nunduk gitu? Apalagi pakai masker, kamu kenapa sih?” sepertinya Albra kini sudah tertular dengan cara bicara Qyen yang beruntutan.


“Syut … lagian kamu ngapain ngajakin aku kesini, Kak? Aku jadi malu …” Qyen masih menunduk dan mencoba berjalan menjauh dari Albra, namun laki-laki itu masih memegang tangannya erat.


Jalan mereka dipandu oleh Meta yang berada di depan, dan Kender yang berada di belakang mereka, juga diikuti oleh beberapa petinggi dibelakangnya. Sudah dipastikan jika hal ini menjadi daya tarik para manusia yang melihat kearah mereka.


“Kamu cantik, makanya orang-orang lihatin kamu,” ucap Albra sambil tersenyum malu.


Qyen yang sedang menunduk itu hanya menggerutu kesal. Ini akibatnya jika ia memiliki hubungan dengan orang yang lebih tua. Lebih possessive, lebih cemburu, lebih mengatur, dan semuanya terlihat berlebihan. Apalagi umur mereka yang terpaut 12 tahun.


Setelah berjalan cukup lama karena gedung perusahaan Albra yang sangat-sangat luas, kini akhirnya Qyen bisa bernapas lega masuk kedalam lift, dan hanya ada mereka berempat di sini, dirinya, Albra, Kender dan Meta.


“Huft …” Qyen membuang napasnya lega sambil memegang perut besarnya.


Albra yang memperhatikan itupun ikut memegang perut besar Qyen. “Kenapa? Sakit lagi? Perlu saya bawakan kursi roda? Kender tolong bawa—“


“Syut … kamu ngomong terus deh perasan … aku gak apa-apa, aku cuma pegang perut aja, Kak …” keluh Qyen disaat melihat Albra yang terlalu berlebihan.


Sedangkan Kender dan Meta kini hanya menahan tawa mereka, karena melihat wajah Albra yang panik, kebingungan sekaligus lucu.


“Ya-ya … okay saya tidak akan berlebihan.”


“Lagian sejak kapan sih kamu bawel banget, Kak … biasanya juga kamu cuek, diem, gak peduli, dingin datar!” Qyen menyebutkan semua kekurangan Albra ketika mereka pertama kali bertemu. Melihat Albra yang terlalu perhatian dan berlebihan membuat Qyen sedikit aneh.


Lift terbuka, Albra berjalan terlebih dahulu di susul oleh Qyen. “Saya ketularan kamu. Makanya jangan banyak bicara, saya juga jadi ikut banyak bicara,” jawabnya meneruskan percakapan mereka.


Qyen tidak menanggapi itu, ia hanya mendelik kesal kepada Albra. Fokus Qyen saat ini teralihkan dengan lantai yang menjadi kantor Albra. Di lantai ini, sangat sepi dan hanya ada beberapa ruangan dan sebuah ruangan besar yang bertuliskan CEO dan nama Albra di sana. Sudah dipastikan jika ini adalah kantor Albra. Qyen melihat jika desain kantor ini telihat mewah, dan elegan. Juga ada beberapa pajangan dengan teknologi yang baru Qyen lihat.


“Wow … ini kantor kamu, kak?” tanya Qyen yang menatap kagum tempat ini. Andai dirinya bisa meneruskan sekolah sampai sarjana, mungkin ia bisa memiliki kesempatan bekerja ditempat seperti ini.


“Iya, bagaimana? Kamu suka?” tanyanya.


Qyen mengangguk. “Ini luas, dan mewah ….”


“Ini tempat Meta.” Albra menunjuk sebuah tempat yang terdapat computer juga kursi mewah di sana. “Biasanya Kender juga duduk disebelahnya. Tapi Kender lebih sering kerja di kantor saya bantu saya menyelesaikan semua tugas.”


Qyen mengangguk, ia merasa sangat senang bisa diajak ke sini, walaupun Awalnya ia merasa malu ketika bertemu banyak karyawan Albra tadi. Sampailah mereka di ruangan Albra, ruangan yang lebih mewah namun simple, dilengkapi dengan banyaknya sofa, dan buku-buku tebal, juga pemandangan yang disajikan dari sini sangat-sangat luar biasa. Dari dalam kantor, ia bisa melihat keindangan pantai, batu karang, bukit, dan lampu-lampu kota.


“Bagus banget … pantas aja kamu suka kerja dan gak inget waktu,” ucap Qyen kini ia membuka maskernya dan menikmati pemandangan yang disajikan.


Melihat reaksi Qyen yang suka terhadap kantornya, Albra pun tersenyum puas.


Kini ia memperhatikan punggung Qyen yang sedang memperhatikan pemandangan, Kender menghampiri dirinya dan berbisik jika rapat akan dimulai dalam 7 menit lagi. Alasan Albra membawa Qyen kekantornya adalah untuk menjaga Qyen agar tidak ada kejadian yang membahayakan seperti kemarin.


“Qyen, saya ada rapat. Kamu bisa tunggu di sini?”


Merasa namanya dipanggil, Qyen berbalik dan menghampiri Albra. “Loh … katanya kamu gak jadi rapat hari ini.”


“Rapat beda lagi.”


Qyen terdiam dan emngangguk, lagipun di kantor ini hanya ada ruangan Albra, jadi ia tidak perlu mengkhawatirkan apapun. “Kamu gak lamakan? Aku di sini sama siapa? Di sini gak ada kejadian horror kan? Kantor kamu terlalu besar kalau ada hantu aku ngumpet dimana?”


“Saya gak akan lama, dan kamu di sini sendiri bisa? Nanti Meta akan menemani kamu setelah ikut rapat sebentar bersama saya. Dan satu lagi, di sini tidak pernah ada kejadian horror, kalau ada hantu kamu gak perlu ngumpet, karena di sini gak ada hantu.”


Kender dan Meta saling bertatapan. Ini kali pertamanya mereka mendengar suara panjang Albra yang berbicara, apalagi membahas hal yang tidak terlalu penting. Membahas pekerjaan saja, Albra hanya akan bicara paling banyak 8 sampai 10 suku kata, namun kali ini … wah … mereka sangat kagum dengan Albra.


Qyen kembali mengangguk. “Okay. Aku mau diam di sini. Semangat rapatnya,” ucap Qyen sambil memberikan finger heart.


Albra hanya bisa tersenyum kaku. Mungkin seperti ini rasanya berpacaran dengan perempuan yang masih belia, ia harus siap sedia mendengar atau mendapat perilaku aneh, menggelikan, dan sedikit mendebarkan dari Qyen.


Merasa gemas, ia pun mengacak rambut Qyen dan mengecup pucuk kepalanya. “Saya hanya sebentar, kalau ada apa-apa, telpon saya.”


“Iya, Kak … Bye-bye ….”


Albra pun pergi bersama Kender dan Meta. Kini Qyen yang bingung ingin berbuat apa, ia pun memilih untuk duduk di sofa dan memainkan ponselnya. Di atas meja sudah disediakan air mineral, keranjang buah, dan beberapa snack di dalam box. Albra selalu menyediakan itu karena jika Alan mendadak masuk kekantornya, ia tidak perlu lagi bingung mencari makanan.



Tiga jam berlalu, Albra menghabiskan waktu rapatnya lebih lama dari biasanya. Jam makan siang sudah datang, ia pun membuka ponselnya untuk mengetahui kabar Alan yang selalu dishare oleh gurunya. Ia bisa melihat jika Alan tengah makan bersama teman-temannya dengan bekal yang selalu Qyen sediakan disetiap paginya.


“Sudah, Tuan. Tapi saya dengar Tuan muda juga ingin les memasak.”


Albra sedikit terkejut. “Benar? Saya tidak tahu.”


“Tuan muda sendiri yang bilang kepada saya, Tuan. Dia ingin belajar memasak bersama dengan Nona.”


Albra mengangguk. “Siapkan saja kelas memasak, sepertinya Qyen juga suka.”


“Baik, Tuan.”


Albra berjalan dengan terburu-buru karena tidak sabar ingin bertemu dengan Qyen. Ketika hendak membuka pintu, ia melihat satu kejanggalan yang ada di pengelihatannya.


“Qyen!” teriaknya.


Betapa terkejutnya Albra melihat sang ayah kini sudah ada dihadapan Qyen yang tengah menunduk dengan bahu bergetar. Melihat kejadian ini, ia takut jika terjadi sesuatu kepada Qyen dan juga kandungannya.


Albra membawa Qyen kedalam pelukan dan mundur untuk menjauh dari Frans. Setelah berpetak umpet dengan Frans selama 4 bulan lamanya, kini Albra kembali bertemu dengan ayahnya, dengan waktu yang sangat tidak tepat.


Wajah Frans terlihat murka, ia tidak sangka dengan keberanian anak sulungnya. Baru kali ini ia melihat Albra yang membangkang semua aturannya. “Kamu pikir bisa sembunyi terus dari saya, Albra?”


“Kamu tenang, ada saya di sini,” ucap Albra sambil mengusap punggung Qyen dengan lembut.


“Saya gak butuh, Papa. Anda bisa pergi dari sini, sekarang.” Albra berbicara dengan sangat tenang agar ia tidak terintimidasi di sini.


“Saya yang masih membutuhkan kamu, dan saya tidak ingin kamu lepas dari genggaman saya.”


“Papa!” Albra memanggil Frans dengan lantang. Qyen yang berada di dalam pelukan Albra menangis bergetar hebat, ia ketakutan sangat-sangat ketakutan.


“Papa bisa pergi sekarang, kita bicara nanti.”


“Kamu sudah kelewatan Albra!” Frans berteriak dan kini menghampiri Albra. Dirasa kondisi yang tidak aman, ia melepaskan pelukan Qyen, dan membawa Qyen kebelakang tubuhnya agar terlindungi.


“Papa yang terlalu berlebihan.”


“Perempuan itu menghancurkan semuanya, Albra!”


“Apa yang menurut Papa hancur! Saya sudah mengambil semua perusahaan musuh Papa itu, dan saya juga sudah membuat banyak sekali pabrik di Indonesia. Apa yang membuat Papa hancur! Yang Papa butuhkan hanya uang kan?”


Frans geram, tangannya yang terkepal sudah memerah, bahkan kini wajahnya pun ikut memerah karena merasa marah dengan tingkah laku Albra yang berlebihan dihadapannya.


“Tinggalkan wanita itu, dan gugurkan kandungannya! Atau saya yang akan bertindak!”


Mendengar itu, kaki Qyen merasa lemas, ancaman yang sama ia dapatkan dari Frans beberapa waktu lalu. Frans juga berbicara seperti itu kepadanya, untuk meninggalkan Albra dan juga menggugurkan kandungannya.


“Saya tidak akan meninggalkan Qyen, dan … saya akan menikahi Qyen sekarang juga.”


“Albra! Berani-beraninya kamu ….”


“Saya tidak butuh restu Papa, saya hanya butuh kebahagiaan hidup saya dan Alan.”


Plak!


“Tahu apa kamu tentang kebahagiaan hidup! Perempuan itu mengancurkan semuanya Albra! Perempuan itu hanya ingin uang dan uang!” Setelah menampar Albra, Frans kembali berteriak menyalurkan semua opini-opininya yang tak masuk akal.


Albra kembali mengenang hal ini dulu, ketika ia memperjuangkan kekasih pertamanya dan meminta restu kepada Frans, namun yang terjadi adalah perempuan itu pergi karena tak tahan dengan sikap keluarga Albra.


Albra memegang pipi kanannya menggunakanan tangan kiri, ia tersenyum kecut kearah Frans. “Perempuan mana yang Papa temui seperti itu, Qyen beda! Jangan samakan dengan orang lain!”


Pertemuan setelah 4 bulan saling menjauh dengan papanya ternyata membuahkan keributan seperti ini. Frans menunjukan dirinya karena sudah tidak bisa melihat keromantisan Albra dengan seorang perempuan dari jauh. Albra selalu memiliki berbagai cara untuk bisa melindungi perempuan itu, dan hal itu membuat Frans marah.


“Mau jadikan apa anak kamu nanti jika terlahir dari perempuan miskin dan tak berpendiidkan seperti dia!”


Deg!


Jantung Qyen terasa berhenti sebentar setelah mendengar kenyataan itu. Ia sudah sadar akan hal itu, namun ketika Frans berbicara langsung, Qyen merasa dirinya sangat-sangat rendah. Qyen sudah tidak bisa berada di sini, ia pun melepaskan genggaman tangan Albra yang memegang tangannya, Qyen berjalan pelan untuk bisa pergi dari ruangan ini, namun hal itu tak berlangsung lama karena Albra kembali menghampiri dirinya.


“Sebentar, sayang ….”


“Aku mau keluar sekarang, aku udah gak tahan di sini.” Suara Qyen bergetar, Albra tidak tega mendengar itu, lagipun membiarkan Qyen di sini bukan ide yang tepat. Dengan menggunakan isyarat matanya kepada Meta, ia pun mengerti dan membantu Qyen untuk keluar dari sana.


Setelah keluar dari pintu itu, tangis Qyen pun pecah sangat-sangat kencang, ia tidak bisa hidup penuh ancaman seperti ini. Ia harus pergi dan meninggalkan Albra untuk membahagiakan dirinya dan tentunya Albra. Bahkan ketika keluar saja, Qyen masih bisa mendengar umpatan-umpatan kasar, dan juga keributan yang sangat besar dari Albra dan Frans.


“Antar aku pulang. Aku mau pergi dari sini.”


“Tidak bisa, Nona. Anda ….”


“Tolong, aku ingin pulang.”


....


Terimakasih sudah membaca :)