
Pagi hari kembali menyapa, setelah membantu Albra untuk siap-siap sebelum pergi kekantor, saat ini Qyen tengah berada di ruang laundry untuk mengeringkan semua pakaian yang sudah ia cuci. Setelah Qyen tinggal bersama Albra, semua pekerjaan rumah yang ada Qyen ambil alih, dan mengerjakannnya sendiri. Bukan karena apa, ia hanya ingin membuang rasa bosannya dengan pekerjaan santai yang bisa ia lakukan.
“Qyen? Kamu yakin mau pergi belanja sendiri?” Jam masih menunjukan pukul 9 pagi, Albra akan pergi ke kantor namun ia terganggu dengan permintaan Qyen yang ingin pergi berbelanja berdua dengan Alan ke supermarket.
Albra menghampiri Qyen yang tengah berada di ruang laundry tersebut, melihat perempuan kecilnya itu sekarang sudah tumbuh menjadi dewasa, tak sadar Albra mengeluarkan senyumnya. “Kamu belum berangkat juga?”
“Jawab pertanyaan saya, saya gak akan berangkat kalau kamu masih tetep mau pergi.” Albra meraih pinggang Qyen, agar mereka bisa mengobrol berdekatan.
“Aish … kamu nyebelin banget sih, aku kan udah bilang, aku mau pergi jalan-jalan berdua sama Alan. Lagian aku udah berbulan-bulan diam di sini tanpa pergi kemana-mana, kamu kira aku Rapunzel?”
Kini Albra sudah terbiasa mendengar celotehan Qyen yang sangat luar biasa panjangnya. Albra hendak membuka mulutnya untuk berbicara, namun Qyen kembali bicara. “Dan satu lagi … kamu gak perlu siapin penjaga buat kita, kata kamu Kender yang mau ikut ke supermarket. Lagian aku cuma mau jalan-jalan aja, Kak … Kender pun gak usah ikut.”
“Kamu gak lelah bicara sepanjang itu?”
“Enggak! Dulu aku mau jadi pengacara, makannya aku banyak bicara.”
Albra mengedipkan matanya, selain Qyen suka banyak bicara, cepat sensi pun menjadi kebiasaan Qyen saat hamil. Entah itu sifat, atau hormon bawaan bayi yang membuat Qyen seperti ini. “Mau jadi pengacara? Kamu mau melanjutkan sekolah?”
Menghembuskan napasnya lelah, Qyen kini mulai menjauhkan badannya dari Albra, namun Albra masih kekeh untuk memegang pinggang Qyen. “Aku memang masih mau sekolah, tapi … sepertinya aku gak punya kesempatan untuk itu. Hus … ngapain juga jadi ngomongin ini? Pokoknya kamu mending berangkat aja, ya?”
Tidak ingin kembali mendengar Qyen yang terus mengomel dengan kalimat panjang, Albra pun mengangguk, sebelum pergi ia selalu menyempatkan diri untuk memeluk Qyen. “Jangan lama-lama, aku pengap,” ucapnya ketika Albra terlalu kencang memeluknya.
“Saya juga mau peluk kamu,” ucap Albra sedikit merajuk, sebelum akhirnya berjongkok dan mencium perut besar Qyen. “Papa berangkat dulu, jangan nakal ya ….”
“Aku gak di cium?” tanya Qyen sambil mengedipkan matanya, dan bibir mengerucut, ia tahu Albra sedikit merajuk karena ia menolak pelukannya.
Luluh dengan wajah lucu Qyen, ia pun mehujami wajah Qyen dengan ciumannya. “Jangan lama-lama, ponsel kamu gak boleh mati. Kalau ada apa-apa cepat hubu—“
“Cepat hubungi nomer di bawah ini? Kamu kira iklan! Udah ah cepet sana berangkat, gak selesai-selesai ngobrol sama kamu, bukannya sebentar lagi ada rapat?”
Albra terkekeh, rasanya ia tidak ingin pergi kekantor dan hanya ingin berduaan saja dengan Qyen di sini. Mengeluarkan sesuatu di dalam tasnya, berupa amplop coklat yang tebal. “Karena kamu gak suka belanja pakai kartu, pakai ini … kartu kamu masih bisa dipakai, tapi kalau tidak mau dipakai, pakai ini saja.”
Melihat amplop besar nan tebal, mata siapa yang tak ingin melirik. Dengan senang hati Qyen pun menerima amplop tersebut. “Ini gak terlalu banyak, Kak?”
“Simpan saja, saya sudah berpamitan dengan Alan, dia masih asik di dalam kamar dan gak mau mandi.”
Qyen mengangguk, lalu menggandeng Albra sambil menenteng amplop tebalnya, dan mengantarkan Albra sampai kedepan pintu. Sudah seperti seorang istri yang mengantarkan suaminya berangkat kerja bukan? Perannya sudah sangat jelas, namun statusnya masih belum jelas. Andai Frans merestui hubungannya, mungkin mereka sudah bahagia, ternyata jalan menuju kebahagiaan tidak semudah itu.
…
“Alan? Om Kender sudah …” ucapannya melemah disaat ia melihat betapa kotornya tubuh Alan yang sudah terbalut oleh coklat.
Qyen menarik napasnya dan meringis pelan, namun ia masih tetap tersenyum. Pantas saja Alan mengurung dirinya di kamar karena ia ingin makan coklat tanpa sepengetahuan papanya. Kender yang sudah hadir di sana, sadar dengan ekspresi Qyen, ia pun ikut melihat apa yang terjadi.
Bukannya merasa cemas, Kender malah menahan tawanya. Rambut, wajah, kaki, tangan Alan sudah dipenuhi oleh coklat, bahkan baju, sprai, selimut serta beberapa buku dan mainan itu sudah dilumuri oleh coklat.
“Kamu baik-baik aja?” Alih-alih memarahi Alan, Qyen bertanya telebih dahulu keadaan Alan, karena ia takut jika ini bukan ulah Alan, bisa saja ada coklat yang tumpah dan Alan ingin membersihkannya?
“Qyen …” ucapnya melemah.
Kender diam-diam memfoto keadaan Alan pakai ponselnya berjaga-jaga jika tuannya menannyakan kondisi Alan, juga peristiwa ini sangat lucu.
“Kender … stop jangan foto aku …” rengeknya kesal disaat tahu Kender memegang ponselnya untuk memfoto Alan.
“Tidak sopan panggil pakai Om,” tegur Qyen.
“Iya, Qyen. Maafkan aku.”
Qyen kasihan sekaligus merasa peristiwa ini sangat-sangat lucu. “Ini coklat dari mana Alan? Bagaimana bisa tumpah seperti ini? Kamu punya berapa coklat?”
Alan terus menunduk dan tidak mau berbicara. Anak kecil yang baru menginjak lima tahun itu kini terlihat seperti bayi dimata Qyen. “It’s okay, gak apa-apa. Aku gak akan marahin kamu asal kamu cerita.” Qyen menenangkan Alan, dan bantu membuka baju yang sudah terlumuri oleh coklat.
“Janji jangan bilang Papa ya? Om Kender juga, jangan laporin ke Papa,” ucapnya yang kini ketakutan.
Kender tersenyum dan mengacungkan jempolnya.
“Qyen … aku lupa kalau aku simpan banyak sekali coklat dibawah kasurku. Waktu aku buka, semuanya sudah meleleh, aku coba buat makan itu dari malam, tapi gak bisa. Aku takut Papa marah makanya aku memakan semuanya.”
Mendengar penuturan anak kecil itu membuat Qyen iba, ia memeluk Alan dengan lembut, tak peduli jika baju barunya terkena coklat. “Tidak apa-apa, biar aku membereskan semua ini, kita mandi terlebih dahulu ya?”
Alan mengangguk, dan terus meminta maaf.
“Nona, biar saya bantu. Sepertinya anda kelelahan.”
“Enggak apa-apa, kalau kamu masih ada pekerjaan silahkan selesaikan dulu. Aku mau mengurusi Alan terlebih dahulu,” ucapnya penuh dengan senyuman. Kender pun hanya mengangguk, ia bisa melihat ketulusan hati Qyen yang tidak ada duanya, tuannya memang tidak salah memilih wanita.
Qyen menyiapkan air hangat di dalam bathtub, memasukan berbagai macam racikan pembersih tubuh Alan kedalam sana, ia pun mulai memandikan Alan dengan candaan yang ia punya agar bisa menghibur anak kecil itu.
Masih penasaran dengan peristiwa yang ada, Qyen pun mulai kembali bertanya, bagaimana bisa Alan menyimpan banyak sekali coklat dikamarnya.
Sangat wajar jika Alan bersikap seperti itu, karena pengajaran dan bimbingan yang kurang dari orang tuanya. “Alan, kamu tahu bagaimana cara untuk bersikap jujur?”
Alan mengangguk. “Jujur itu tidak boleh bohong.”
Qyen membenarkan pengetahuan yang Alan miliki, lebih baik pengetahuan itupun dibarengi dengan attitude yang Alan miliki. “Iya, kamu benar. Jujur itu tidak boleh bohong. Jika ada hal yang kamu tidak bisa tangani sendiri, kamu harus meminta bantuan orang dewasa, seperti ke Papa, aku, Ian ataupun yang lain. Orang dewasa tidak akan marah jika kamu jujur. Paham sayang?”
“Kamu jangan cerita sama Papa ya. Aku takut nanti Papa gak bolehin aku makan coklat ….”
“Aku gak akan bilang Papa, asal kamu janji sama aku kalau kamu gak boleh berbohong.” Mereka tersenyum dan menyatukan jari kelingking mereka.
Setelah menyelesaikan semua kekacuan yang ada, akhirnya saat ini Qyen, Alan dan Kender berada di supermarket. Ah … rasanya Qyen bahagia bisa kembali berjalan-jalan dengan bebas seperti ini. Karena selama ini, Albra tidak akan mengizinkan Qyen keluar dari dalam rumah, dan jika ingin sesuatu Qyen hanya perlu bilang kepadanya.
Berjalan menelusuri lorong snack, Alan pun mengambil beberapa snack kesukaannya. “Qyen kenapa di sini banyak sekali orang berpacaran,” ucap Alan tiba-tiba, dan hal itu membuat Kender juga Qyen terkejut mendengarnya.
“Hah? Siapa yang pacaran Alan?”
“Lihat saja, bapak-bapak itu tertawa terus dengan ibu-ibu itu,” jawabnya.
Qyen dan Kender saling melihat satu sama lain, mereka mengerutkan dahinya dan Kender mengangkat bahunya karena tidak tahu harus menjawab apa. “Alan … Alan itu bukan pacaran.”
Ingin rasanya Qyen menangis kali ini karena merasa bingung harus menghadapi Alan yang terlalu pintar. Ini akibatnya jika selalu mengurung anak didalam rumah, rasanya Qyen ingin sekali memarahi Albra. “Iya, itu pacaran Qyen. Aku tidak suka berada di sini, semuanya berpacaran.”
“Bisa tolong aku buat naikan Alan ke sini?” ucap Qyen kepada Kender agar menaikan Alan keatas troli. Ia ingin mengobrol sesuatu dengan Alan.
Alan duduk dan tenang, kini padangannya hanya mengarah kepada Qyen yang sedang mendorong troli yang ia naiki. “Alan, bapak dan ibu tadi itu bukan berpacaran, tapi mereka itu mengobrol, bersosialisasi, menyapa satu sama lain. Kamu tahu dari mana kalau mereka pacaran?” sambil mengobrol sesekali Qyen pun memasukan barang-barang kedalam trolinya dibantu oleh Kender.
“Entah, yang pasti perempuan dan laki-laki ketika bersama mereka itu pacaran.”
Kender terkekeh mendengar anak dari tuannya, itu ia pun mencoba membantu Alan untuk menjelaskan tentang keadaan yang sedang terjadi.
“Oh … jadi mereka belum tentu pacaran. Di kelas ada temanku yang juga mengajak aku pacaran, tapi aku tidak mau karena dia jelek,” ucapnya. Perkataan itu sama seperti yang ia bicarakan kepada Ian tempo hari.
Qyen dan Kender yang mendengar itu hanya bisa menepuk dahi mereka masing-masing. Setelah pembahasan selesai, Qyen pergi untuk membeli buah-buahan. Melihat buah-buah yang sangat segar kini dirinya sangat rindu rumah dan buah-buah yang ia jual.
“Alan, Om Kender kemana?” tanya Qyen yang sadar jika Kender tiba-tiba menghilang.
“Ah … Om Kender kebelit pipis, dia bisik-bisik sama aku tadi.”
Qyen mengangguk dan kini sibuk memasukan buah ke dalam kantung plastik. “Kamu mau coba memakan jambu?”
“Apa itu? Jambu? Sejenis apa itu?”
Qyen baru tersadar jika anak bule itu masih belum kenal dengan buah-buahan lokal. “Guava.”
“Ow! I know that. Tapi Papa memberiku berupa juice.”
“Oke, aku belikan … kamu suka manggis …” Ucapannya melemah bahkan buah manggis yang ia pegang kini terjatuh.
Qyen mengerejapkan matanya, mencoba membuang pikiran aneh di dalam dirinya, badan Qyen gemetar disaat melihat seseorang yang selama ini ia hindari dan tiba-tiba hadir dihadapannya. Dia adalah Fin, berdiri memperhatikannya sambil mendorong troli yang berisi berbagai macam buah.
Qyen mundur, ia menutupi Alan dengan tubuhnya. Rasa terkejut yang berlebihan kini berpengaruh besar terhadap janinnya, karena Qyen merasakan keram yang cukup hebat, sampai ia mengaduh dan memegang perut besarnya.
“Aw. Shhh ….”
Fin ingin membantu Qyen namun ia menahannya dengan tangan.
“Qyen? Are you okay? Qyen!” ucap Alan sambil memegang punggung Qye karena saat ini ia masih duduk di troli.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Fin menjaga jarak dengan Qyen. Ia sedikit terkejut mengetahui fakta bahwa Qyen benar-benar hamil. Perutnya memang belum terlalu terlihat besar karena Qyen memakai baju terusan berwarna coklat tua, namun disaat melihat Qyen memegang perutnya tadi, kini ia tahu jika Qyen benar-benar hamil.
“Kamu kemana saja? Saya selalu pergi kerumahmu setiap harinya.” Fin membuka suara.
Qyen kembali berdiri tegak, menahan rasa kram yang menyerang diperutnya. Kini ia harus melindungi wajah Alan dari Fin. Memegang tangan Alan yang diam dibelakangnya dengan lembut. “Sebentar …” bisik Qyen pelan.
“Maaf, Kak. Aku harus pergi,” ucap Qyen mencoba untuk menarik trolinya namun Fin kembali menahan.
“Ternyata selama ini kamu bersekongkol dengan Albra untuk menghancurkan perusahaan saya?” Fin bicara dengan wajah datarnya, ia pun mendekat kearah Qyen, Qyen mundur mencoba melindungi privasi Alan yang sangat ia jaga.
“A—aku gak tau apa maksud kamu tentang menghancurkan perusahaan itu.”
“Hahaha …” Fin tertawa garing. “Perempuan sok polos!”
“Nona!” teriak Kender dari jauh dan berlari kearah Qyen.
Melihat sudah ada orang yang menciduk dirinya, Fin pun membisikan sesuatu kepada Qyen. “Kamu itu gak lebih dari ******, Qyen. Mau dijadikan senjata dan budak oleh Albra untuk meraih kekuasaannya!”