
Setelah melihat anaknya masuk ke dalam mobil bersama ayahnya di balik kaca kantornya, kini Albra hanya bisa terduduk lesu dan sudah tidak ingin melakukan kegiatan apapun lagi. Emosinya masih sangat memburu, bahkan napasnya terdengar oleh Ian yang kini duduk di sofa sambil memegangi pipinya yang bengkak ditampar Frans.
Albra baru sadar jika diruangan ini ada Ian, ia pun sedikit merubah ekspresinya.
“Kamu gak perlu ikut campur dengan urursan saya dan Papa,” ucap Albra yang membuka suaranya memecah keheningan diantara mereka. Dulu, Albra dan Ian tidak pernah dekat, namun karena waktu terus berjalan, hubungan mereka pun saling dekat, dan saat ini Albra memiliki ‘sedikit’ kepedulian terhadap Ian, adik tirinya.
“Gue gak ikut campur urusan Lo. Gue cuma mau bela mana yang benar,” kata Ian yang kini bersandar di sofa sambil melihat wajahnya di layar kamera ponsel.
“Kamu yang laporin?” tanya Albra yang kini bangkit dari duduknya dan berjalan menuju sofa untuk bisa mengobrol lebih leluasa dengan Ian. Bagaimana pun, Ian adalah salah satu informannya, jika menyangkut tentang Frans, sang ayah.
Ian menggeleng, dan menyimpan ponselnya. “Gue sama sekali gak pernah laporin itu. Bahkan, Gue punya niat buat ngebiarin Lo deketin Qyen. Papa tau sendiri, semua orang yang ngelola apartemen Lo, anak buah Papa kalau Lo lupa,” jawab Ian dengan santai.
Mendengar pernyataan dari Ian, Albra pun menyeritkan dahinya. Ia masih belum mengerti apa maksud dari ucapan Ian tadi. “Maksud dari membiarkan saya mendekati Qyen apa?” tanya Albra yang ingin penjelasan yang lebih tepat.
Ian mengeluarkan napasnya lelah. “Huft … Alan suka ada di dekat Qyen, begitu juga dengan Lo. Wajah Lo gak bisa bohong,” ucap Ian memperjelas maksudnya tadi.
“Saya? Mendekati perempuan yang baru saya kenal beberapa hari lalu? Tidak semudah itu, Ian,” tegas Albra yang kini memilih kembali ke meja kerjanya.
“Lo gak percaya dengan cinta pandangan pertama?” tanya Ian lebih dramatis.
“Persetan dengan pandangan pertama atau apalah itu. Intinya saya tidak sedang mendekati Qyen, dan hal itu tidak akan pernah terjadi. Saya bertemu dengan Qyen hanya karena Alan.”
“Okay …” Ian bangun dari duduknya dan membenarkan pakaiannya. “Berarti, Gue boleh ambil alih Qyen. Terimakasih untuk kesempatannya Tuan Albra,” lanjut Ian sambil membungkukkan badannya dihadapan Albra dan berjalan keluar dari ruangan kantor Albra dengan percaya diri.
Baru saja hendak Albra membuka mulutnya, tapi Ian sudah pergi begitu saja.
“Ian …” Albra mengeluarkan suaranya dengan mengeram.
“Argh!” geramnya tanpa sebab.
Albra sangat tidak fokus karena ucapan Ian yang baru saja ia dengar. Bagaimana bisa otaknya teralihkan begitu saja setelah mendengar itu? Seharusnya Albra tidak perlu terlalu peduli, tapi mengapa kali ini ucapan Ian sangat menganggu pikirannya. Bahkan, Albra merasakan penyesalan yang luar biasa dihatinya.
Di waktu yang sama, Alan kini duduk di kursi mobil dengan Frans duduk disampingnya. Jika sudah duduk berdua dengan kakeknya seperti ini, Alan tidak bisa lagi mengeluarkan air matanya. Sedari tadi sebisa mungkin Alan mengusap air matanya yang terus terjatuh dipipi chubbynya.
Saat ini perasaan Alan sangat takut, kesal, dan sedih, yang Alan inginkan saat ini adalah kembali kepada papanya. Walaupun papanya kaku, namun Alan rasa Albra adalah satu-satunya orang yang sangat peduli terhadap dirinya.
“Kamu tidak perlu menangis, Alan.” Suara Frans terdengar.
Alan tidak menjawab ucapan sang kakek, ia hanya bisa mengangguk dengan tatapan mata menuju arah jendela. Ia tidak bersemangat melakukan apapun, kecuali ada di dekat ayahnya.
“Alan? Kamu mendiamkan ucapan Grapa?” tanya Frans yang kini berbicara sambil melihat kearah wajah Alan.
“Tidak. Aku hanya ingin diam,” jawabnya dengan suara berat.
“Baiklah … tidak perlu bersedih, kamu mau Grapa datangkan temanmu?”
“Tidak perlu, lagipun aku tidak punya teman,” jawabnya.
Frans tersenyum kecil mendengar jawaban Alan yang cukup mengusik hatinya.
“Bukannya teman kamu banyak? Grapa lihat kamu suka bermain dengan teman sekolahmu.” Frans kembali mengajak Alan mengobrol agar tercipta kenyamanan diantara mereka.
“Itu kemarin. Sekarang tidak lagi,” ucap Alan dengan lesu.
Tak lama perjalanan cukup panjang mereka pun sampai, kini mobil yang mereka tumpangi sudah masuk ke dalam sebuah gerbang besar, dengan jalan panjang menuju rumah besar bak istana.
“Lalu sekarang bagaimana? Siapa temanmu?” tanya Frans kembali.
“Temanku saat ini cuma Qyen,” jawabnya dengan lesu.
Frans yang mendengar itu, mengepalkan tangannya dengan kuat. Bagaimana bisa Alan kembali membahas wanita yang bahkan Frans sendiri tidak tahu asal-usulnya. Ia harus membereskan semua ini, Alan tidak bisa bergantung hidup dengan wanita, bahkan melihat cucunya bermain dengan anak perempuan pun, Frans tidak ingin melihatnya. Apalagi seorang wanita muda yang selalu Alan sebut-sebut namanya beberapa hari belakangan ini.
“Tidak ada Qyen atau siapapun itu, Alan. Kamu tidak kenal dengan wanita muda itu. Grapa tidak suka kamu berurusan dengan dia,” kata Frans dengan cepat.
Frans dapat melihat Alan melirik sedikit kearahnya. “Grapa selalu saja tidak mengijinkan aku untuk bermain dengan siapapun itu. Aku hanya bisa bermain dengan Diego-Diego-Diego saja!”
Suara teriakan Alan menggema di dalam mobil. Tak lama mobil pun terhenti dan pintu mobil sudah terbuka, Alan yang merasa dirinya sangat marah, ia pun turun dengan cepat dan pergi berlari masuk ke dalam rumah bak istana itu.
Semua asisten yang ada di sana menunduk ketika tuan muda masuk dengan berlari, dan juga ada beberapa orang yang juga mengikuti kemana Alan pergi.
Frans ikut masuk ke dalam rumah, ia memanggil seorang laki-laki yang sedikit lebih muda darinya yang bernama Brian. Brian adalah seorang laki-laki yang sudah bekerja sangat lama dengan Frans, atau bisa dibilang Brian adalah seorang tangan kanan dari Frans.
“Tolong carikan saya informasi tentang Qyen, seorang wanita yang pergi ke apartemen Albra kemarin malam.”
Brian mengangguk. ia langsung memberikan ponselnya kepada Frans dan memperlihatkan foto seorang wanita dimana itu adalah Qyen. “Ya, saya sudah melihat foto wanita ini. Saya ingin tahu lebih jelas.”
“Saya sudah mencari informasi tentang wanita muda ini, Tuan. Benar seperti yang Tuan muda katakan jika wanita ini bernama Qyen. Ia hanya hidup sebatang kara di rumahnya yang juga ia jadikan sebagai toko buah, letak tempatnya tepat di sekitar jalan batu, tak jauh dari pusat kota,” jelas Brian untuk memberikan informasi tentang Qyen.
Frans kini duduk di ruang keluarga di sebuah sofa antik yang terlihat sangat berkelas. Ia berdehem untuk menyesuaikan suara dan emosinya saat ini. “Ada lagi informasi?”
Brian mengangguk. “Sepertinya wanita muda ini memiliki hubungan dengan keluarga Ghazi,” ucap Brian yang memberikan informasi.
“Ghazi?” tanya Frans satu kali lagi untuk memastikan. “Untuk apa anak orang kaya itu berurusan dengan wanita ini?”
“Saya masih mencari tahu bagaimana bisa Fin Ghazi selalu bersama dan menghampiri wanita ini setiap harinya.”
Frans tersenyum kecil. “Cari tahu lebih dalam, saya ingin kamu bawakan wanita muda ini ke hadapan saya,” kata Frans diakhiri dengan tatapan datarnya.
Di sisi lain, Alan yang sudah masuk ke dalam kamarnya yang tak kalah mewah, ia langsung melakukan sesuatu yang sudah biasa ia lakukan ketika sedang marah. Alan masuk ke dalam kamar mandi, dan meringkuk diam di dalam bath up. Tidak ada tempat yang nyaman di dalam rumah mewah ini selain berdiam diri di dalam bath up. Ia sudah melakukan kebiasaan seperti ini semenjak beberapa bulan yang lalu, dan tidak ada seorang pun yang tahu dimana tempat dirinya bersembunyi.