
Qyen teridam, mencerna semua ucapan Albra dan mengeja nama wanita itu di dalam hatinya sebelum ia sadar akan sesuatu. “Ga—ghazi?”
Albra mengangguk sambil menatap Qyen. “Saya baru tahu akan hal itu setelah usia Alan menginjak dua tahun. Papa memilih melahirkan cucunya dari saingan bisnisnya sendiri. Papa memang sedikit aneh dan … kejam.”
“Berarti …” Qyen masih belum bisa mencerna semua hal yang tiba-tiba ia dengar dari mulut Albra.
“Alan masih memiliki darah yang sama dengan Kak Fin?”
Mendengar Qyen masih menyebutkan nama Fin dengan embel-embel seperti itu, ia pun merasa sedikit kesal. “Kamu itu sebenarnya suka dengan dia?” Bak anak remaja, Albra berbicara seperti itu ketika umurnya sudah berkepala tiga.
Qyen menggelengkan kepalanya. “Maksudku, benarkan? Alan masih memiliki darah dengan Fin?” Qyen membenarkan kalimatnya agar tidak mengundang keributan.
Albra mengangguk. “Bisa dibilang, orang itu adalah paman Alan. Sama seperti Ian.”
‘Ya ampun … aku gak tau kalau dunia itu sesempit ini. Kalau dari awal aku tahu permasalahan ini bakal serumit ini, aku gak akan mau terlibat dengan orang-orang ini. Tapi … nasi sudah menjadi bubur, aku sudah ikut campur dengan hidup mereka.’
“Hey? Kenapa diam?” Albra melambaikan tangannya di depan wajah Qyen.
“Hah … aku masih mencerna semua cerita kamu, Kak. Tapi … kamu hebat banget, kamu ayah yang hebat buat Alan.” Qyen berbicara seperti itu untuk membuat Albra merasa bangga dengan dirinya.
“Thank you.”
Albra menarik Qyen ke dalam pelukannya. Akhirnya ia bisa bercerita tentang kisahnya kepada Qyen. Awalnya Albra ragu dan sedikit takut untuk menceritakan semua ini kepada Qyen. Tapi ternyata tidak, Qyen masih tetap menghargai dirinya dan masa lalunya.
“Kamu tidak marah dengan masalalu saya?” Albra masih butuh penjelasan dan hal itu akan menentukan sikapnya kedepan.
Qyen mendongakan kepalanya, melihat kearah wajah Albra yang semakin hari terlihat semakin tampan. “Aku menghargai masa lalu kamu, seperti kamu yang sudah menghargai kekurangan dan tentunya masa lalu aku. Aku gak berhak buat menghakimi masalalu seseorang, Kak ….”
Ya, hal itu benar, Qyen tidak berhak untuk menghakimi masa lalu seseorang, karena hal yang harus mereka fokuskan adalah masa sekarang dan masa yang akan datang.
“Kamu itu laki-laki sempurna. Aku yakin, banyak wanita yang terkagum-kagum dengan kamu dan ingin menjadikan kamu pendamping hidupnya. Dan bersyukurnya aku … bisa hidup sama kamu. Jangan capek buat ajarin anak kecil ini ya, Kak …” Qyen menyentuh hidung Albra dengan jarinya, keduanya pun berpelukan sangat erat, seolah-olah mereka tidak ingin dipisahkan barang satu detik saja.
“Saya gak pernah capek ajarin anak kecil kaya kamu. Mau saya ajarin gaya apa lagi?” tanya Albra dan sudah menunjukan gaya mesumnya.
“Aish … otak kamu ya ….”
Albra dan Qyen tertawa, bahkan saat ini mereka tidak sadar jika malam sudah larut.
…
Qyen baru saja selesai melakukan USG, dan tepat hari ini usia kandungannya menginjak 5 bulan. Bayi yang ada dikandungannya sehat, dan tentu saja aktif. Qyen sengaja belum ingin mengetahui jenis kelamin bayinya, ia pun sudah bilang ke dokter agar tidak memberitahunya terlebih dahulu. Qyen sedari tadi tersenyum memperhatikan gambar foto hasil USG nya.
Qyen tidak ditemani oleh Albra dalam pemeriksaan kali ini, ia hanya ditemani oleh Alan dan seorang supir yang selalu mengantarkannya kemana pun.
“Kema … Aku juga ingin melihat gambar dedek bayinya,” ucap Alan yang penasaran, jika duduk berdua dengan Qyen, Alan tidak menggunakan carseatnya.
“Ini,” ucap Qyen memberikan 2 lembar foto kehadapan Alan.
“Hah? Hanya gambar arus saja?”
Qyen terkekeh mendengar kepolosan Alan. “Ini bukan arus sayang … ini gambar dedeknya.”
“Aish … aku tidak mengerti.” Alan yang tidak merasa puas melihat foto itupun ia kembalikan.
Saat ini, mereka akan pergi ke kantor Albra, Albra menitipkan pesan agar Qyen bisa mengantarkannya makan siang. Tentu saja Qyen dengan senang hati mengantarnya untuk Albra.
“Sudah sampai, Nyonya … Saya akan bantu anda sampai ke lantai atas,” ucap supir yang bernama Pak Nana. Supir yang sudah setia dengan mengantarkan kemanapun Alan pergi sejak kecil.
“Baik, terimakasih banyak, Pak.”
“Tentu saja, Nyonya.”
Qyen dan Alan berjalan terlebih dahulu, saat ini mereka sedang menaiki lift untuk menuju ruangan kantor Albra. Qyen teringat jika ini adalah jam makan siang, dan banyak sekali orang yang berlalu lalang, tak sedikit diantara mereka yang menyapa Qyen dan tentu saja Alan. Melihat Qyen yang sedang berbadan dua, dandanan Qyen yang sederhana, hal itu selalu menjadi topik perbincangan di dalam kantor.
“Ayo silahkan masuk saja tidak apa-apa,” ucap Qyen penuh dengan senyuman.
Lagi-lagi ia mendapat gelengan dan salam hormat dari mereka, dan hal itu membuat Qyen sedikit sedih. Tak lama pintu lift kembali tertutup. “Hm … padahal liftnya masih kosong, kasian banget mereka mau makan terbuang deh waktunya sama aku,” ucap Qyen yang merasa tak enak hati.
“Tidak seperti itu, Nyonya. Mereka hanya respect dan menghargai Nyonya.”
“Pak, panggil aku Qyen saja kalau tidak ada Pak Albra. Aku lebih nyaman di panggil nama,” bisik Qyen pelan dan mendapat senyuman dari Pak Nana.
Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka sampai di ruangan kantor Albra. Pak Nana memberikan tempat bekal kepada Qyen, dan ia menunggu Qyen berdiam diri di dekat lift.
“Sebentar ya, Pak. Aku hanya mengantarkan ini,” ucapnya.
“Kema, biasanya Papa itu gak suka makan siang. Papa suka makan sore,” ucap Alan disela-sela langkah mereka.
“Oh ya?”
“Tapi Papa minta diantarkan sekarang ….”
Langkah ceria Qyen terhenti disaat melihat pintu ruangan Albra terbuka, ia mendengar suara-suara keributan di dalam sana, dan Qyen baru tersadar jika Meta dan Kender tidak ada di mejanya. Suara keributan itu datang dari suara seorang wanita yang tidak asing di telinganya, dan tentunya suara Albra, Qyen tidak mendengar jelas, tapi ia tahu jika suara-suara itu adalah suara keributan.
“A—alan, kamu bisa tunggu dengan Pak Nana?” tanya Qyen yang kini mengajak Alan untuk berjalan mundur, wajahnya sudah panik dan ia tidak ingin terjadi sesuatu kepada Alan.
“Hm? Kenapa Qyen? Aku hanya ingin bertemu Papa,” ucapnya dan memperhatikan ruangan papanya yang sedang terbuka.
Belum sempat Qyen kembali berbicara, Alan berlari sangat kencang dan masuk ke dalam ruangan Papanya. Mau tak mau Qyen pun ikut berlari dan menghampiri Alan.
“Alan! Sebentar …” ucapannya melemah ketika ia melihat wanita kemarin.
Sebentar, dunianya terasa berhenti saat itu juga ketika melihat ada Mey bersama Albra di sana. Qyen bisa melihat jika Alan sudah berlari memeluk kaki papanya, namun Qyen masih diam mematung mencerna semua hal yang sedang terjadi saat ini.
“Sayang …” panggil Albra dengan pelan dan Qyen masih bisa mendengar suara itu.
“A—a emm … Maaf mengganggu, aku hanya ingin mengantarkan ini.” Qyen meletakan tas makananya diatas meja, dan hal itu menjadi pusat perhatian wanita modis yang berdiri di hadapannya.
Qyen bisa melihat jika Mey pantas berada di sisi Albra, wanita cantik, berpendidikan, pintar, kaya, sukses bahkan tubuhnya yang seperti model itu sangat-sangat pantas bersaing dengan Albra.
“Come on, honey. I’m your mom.”
Qyen menggigit bibir dalamnya, ia terkejut jika Mey mengenalkan dirinya secepat itu kepada Alan, Qyen tidak siap akan hal ini.
“Pa …” Alan hanya bisa terdiam sambil melihat wanita yang sudah merentangkan tangannya.
“Mey! Sudah saya bilang tidak perlu hadir di dalam kehidupan saya!” Albra kini membuka suaranya karena Mey udah keterlaluan bersikap dihadapannya.
“Aku berhak atas Alan! Karena aku yang melahirkan dia! Kamu tidak tahukan susahnya aku melahirkan anak kecil itu?” Mey kini berjalan menghampiri Albra dan Alan.
Meta dan Kender yang juga ada di ruangan itu hanya diam dan menyaksikan kejadian yang ada, karena Albra yang menyruh mereka untuk tidak ikut campur.
“Saya gak peduli! Alan sudah memiliki seorang ibu yang lebih baik dari kamu! Saya tidak memiliki hubungan apapun dengan kamu! Pergi dari sini!”
Mey masih belum menyerah dengan teriakan Albra, ia terus mendekat kepada Alan yang bahkan anak kecil itu sudah mengeluarkan air matanya karena rasa takut dihatinya. Ia terkejut dengan seorang wanita yang sempat ia temui kemarin dan tiba-tiba datang mengaku sebagai mamanya.
“Karena Alan hadir di dunia ini, itu berarti kamu memiliki hubungan dengan aku, Albra.” Mey menatap Albra tajam, ia pun menekan semua kata-katanya.
“Alan tidak ingin melihat kamu! Bukannya kamu sudah dibayar oleh Papa saya dengan harga fantastis? Seharusnya hal itu cukup untuk membuat kamu pergi dari dunia ini.”
Melihat perdebatan yang terus berlanjut, Qyen tidak tahan, kepalanya sudah merasa pusing. Ia pun memberanikan diri untuk berbicara. “Orang tua macam apa kalian berantem didepan anaknya. Alan tertekan, kalian bisa menyelesaikan urusan kalian di belakang Alan nanti.”
Setelah mengucapkan kalimat itu, Qyen pergi tanpa mengucapkan satu patah katapun kepada Albra. Namun ia membisikan sesuatu kepada Meta. “Ambil Alan, tenangkan dia.”
Qyen berjalan keluar ruangan Albra dengan air matanya yang menetes, dan berbarengan dengan suara Albra dan Alan yang memanggil namanya. Bukannya Qyen tidak peduli, Qyen hanya tidak ingin ikut campur dengan urusan mereka. Qyen percaya kepada Albra jika ia mampu menyelesaikan semuanya dengan baik.