ALBRA

ALBRA
28. Qyen yang terjebak



Suasana klub yang dihiasi oleh lampu warna warni yang selalu menyala dan berganti disetiap detiknya, juga suara musik DJ yang sangat-sangat kencang, membuat Qyen yang baru pertama kali menginjakkan kakinya ditempat ini menjadi terasa asing dan sangat-sangat ketakutan.


Saat ini tangannya digenggam erat oleh Fin yang terus membawanya menelusuri koridor dengan aksen hitam yang mewah, dari sini mereka masih bisa mendengar music dengan suara kencang namun sedikit manusia yang berlalu lalang, tidak seperti dilantai satu tadi.


Dikegelapan yang Qyen lewati, ia bisa melihat jika Fin membawanya menuju lorong yang disekitarnya terdapat pintu-pintu, seperti kamar hotel.


Fin yang hendak membuka pintu disalah satu kamar yang berada diujung lorong ini, Qyen pun menahan Fin dan mencoba untuk melepaskan genggaman tangan Fin yang sangat erat itu.


“Se—sebantar, Kak!” ucap Qyen sambil berteriak agar menyesuaikan suaranya dengan suara musik yang sangat kencang.


Fin yang mendengar itu, ia pun menatap kearah Qyen dengan tatapan mata yang sangat tajam. “Kenapa? Saya tidak akan berbuat macam-macam,” ucapnya yang kini membuka pintu tersebut dan menarik paksa Qyen untuk masuk kedalamnya.


Sampailah mereka berdua didalam ruangan cukup besar seperti kantor dan disana terdapat beberapa sofa, meja kerja dan baran-barang mewah lainnya. Setelah melihat isi ruang tersebut, Qyen sedikit lega. Ternyata ruangan ini bukan kamar, ia pun mencoba berpikir positif agar tidak menakuti dirinya sendiri.


Qyen saat ini hanya bisa berdiri dan menundukkan kepalanya, rasa takut masih menyerang dirinya. Kenapa Fin menjadi seperti ini? Ia masih bertanya-tanya tentang sikap Fin belakangan ini. Padahal dirinya dan Fin sudah berteman cukup lama.


“Qyen? Kamu kenapa? Ada yang ganggu pikiran kamu?”


Qyen bisa melihat jika Fin sudah membuka jasnya, dan saat ini hanya ada kameja biru pucat yang menempel dibadannya yang kekar. Postur badan Fin sedikit berbeda dengan Albra, jika Albra terlihat seperti bule dengan kulit putih dan tinggi, Fin memiliki kulit sawo matang dan perawakan yang sedikit lebih kecil dibanding Albra. Namun, wajah Fin sebagai laki-laki pastinya berada diatas rata-rata.


“Ha? Em … aku gak biasa ada ditempat ini, Kak …” ucap Qyen dengan suara bergetar hampir menangis.


Tanpa disangka, Fin kini dengan cepat merangkul bahu Qyen dan mengajak Qyen untuk duduk disalah satu sofa yang ada disana, dan perlu kalihan tahu jika hanya ada mereka berdua diruangan ini.


“K—kak, pelase … tidak perlu seperti ini.” Qyen mencoba untuk memberanikan dirinya berbicara seperti itu.


Fin menengokan wajahnya kedepan wajah Qyen. Qyen bisa melihat ekspresi wajah Fin yang sangat menyebalkan disana.


“Duduk, kamu berhutang banyak dengan saya saat ini, Qyen,” ucap Fin yang sedikit mendorong tubuh Qyen agar bisa duduk disofa.


“Aw!” teriak Qyen yang merasakan punggungnya terbentur cukup kuat.


Ia merasa suasana disini semakin aneh, ditambah sikap Fin yang tidak seperti biasanya.


“Kamu kenapa sih, Kak? Kamu aneh banget akhir-akhir ini.”


“Ya, itu yang ingin saya ceritakan dengan kamu malam ini. Kamu hanya perlu diam dan menemani saya, Qyen ….”


Fin duduk disebelah Qyen, sambil membawa gelas winenya, ia pun menidurkan kepalanya diatas pangkuan Qyen. Qyen terkejut, ia pun sempat menolak, namun dengan tegas Fin tidak ingin beranjak dari posisi itu.


Dengan posisi Fin yang tertidur diatas pangkuan Qyen, dari sini Fin bisa melihat wajah manis Qyen yang tidak terawat. Kulit putih yang membalut wajahnya, terasa kusam dan tidak lembab, Fin mengusap pipi Qyen yang saat ini sudah basah dengan air mata. Ya, Qyen menangis karena diperlakukan seperti ini oleh Fin.


“Kamu gak perlu nangis, saya tidak berbuat apa-apa kepada kamu,” ucap Fin sambil berbisik pelan.


Qyen menatap Fin penuh dengan kebencian dan penyesalan, saat ini tubuh lemahnya tidak bisa berbuat apa-apa, ia hanya bisa melihat keawarh wajah Fin dibarengi dengan air mata yang terus mengalir disana.


“Seharusnya saya rawat kamu dari dulu, kamu mau jadi istri saya? Saya bisa menjamin kehidupan kamu, memberikan kamu barang mewah dan semua hal yang kamu mau. Saya bisa beri itu semua.”


Mendengar itu, Qyen menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia tidak mau, dan ia tidak suka jika Fin berbicara seperti itu kepadanya. Kenapa orang-orang besar selalu menggangu orang kecil seperti dirinya.


“A—aku gak butuh uang kamu, Kak … hiks … aku mau pergi dari sini sekarang ….”


“Syut … kenapa kamu menangis? Aku tidak akan mengganggu kamu,” ucap Fin yang terus meyakinkan Qyen jika ia tidak akan mengganggu dirinya. Padahal, dengan memegang wajah Qyen tanpa seizin dirinya itu sudah mengganggu.


“Semenjak hari itu, saya harus berususan kembali dengan keluarga Max.”


“S—siapa dia? Kenapa ha—harus aku yang kamu jadikan sasaran?”


Qyen menggelengkan kepalanya cepat karena ia tidak tahu apa yang Fin bahas saat ini.


“Kamu sudah berurusan dengan mereka semenjak kamu menolong anak kecil itu,” ucap Fin dan saat ini Qyen tahu, ternyata kelurga Max itu adalah keluarga Albra, namun ia hanya diam.


“Saya harus kembali berurusan dengan kelurga itu, dan kamu tahu berapa kerugian yang sudah saya tanggung akibatnya?”


Lagi-lagi Qyen diam, hanya air mata yang bercucuran yang menjawabnya.


“Saya harus menanggung kerugian perusahaan saya sebanyak ratusan milyaran. Kamu sanggup untuk membayar?” tanya Fin yang kini mencoba bangun dari pangkuan Qyen dan menyesap winenya dengan sangat nikmat.


Fin tersenyum kecil melihat wajah Qyen yang ketakutan. Entah mengapa, melihat Qyen ada didalam genggamannya saat ini membuat Fin merasa sangat senang, dan ada kepuasan tersendiri didalam hatinya.


Namun berbeda dengan Qyen saat ini. Pikirannya kalap dan tidak tahu harus berbuat apa. Ketika awal pertama kali ia berkenalan dengan Fin, Qyen hanya tahu jika Fin adalah seorang manajer atau apalah itu disebuah perusahaan watersport, namun melihat hal ini, sepertinya semua hal yang Fin ungkapkan itu merupakan kebohongan semata.


Pintu terbuka dan ada beberapa pelayan yang mengantarkan mereka beberapa hidangan yang terbuat dari seafood.


“Tuan, silahkan menikmati,” ucap salah satu pelayan disana sebelum akhirnya mereka pergi.


“Kita makan terlebih dahulu, baru saya akan mengantarkan kamu pulang,” ucap Fin dengan suara yang berbeda.


Qyen yang ingin cepat-cepat keluar dari tempat ini, dan untuk memenuhi formalitas saja, ia pun berdiri dan duduk disamping Fin untuk memakan setidaknya satu suap hidangan mewah yang sudah disajikan dihadapannya.


“Kamu minum wine?” tawar Fin sambil menuangkan wine kedalam gelas Qyen.


Qyen menggelengkan kepalanya. “Aku tidak minum—“


“Coba saja, kamu akan merasakan kenikmatan yang luar biasa setelah ini.”


“Hm?”


“Cepat minum, kamu harus menghargai pemberian dari orang lain.”


Tangan Qyen yang bergetar mencoba mengambil gelas yang sudah diisi oleh Fin, dengan ragu, ia pun mencoba mencicipi minuman itu hanya dengan satu tenggukan saja. Qyen bisa merasakan rasa pahit, panas dan terbakar didalam mulutnya setelah mengonsumsi minuman tersebut, ia pun langsung meminum air mineral yang ada disebelahnya.


“It’s okay. Ada saya disini, kita habiskan malam ini dengan kesenangan,” ucap Fin sambil tertawa senang.


….


“Sorry-sorry Gue buang air dulu tadi,” ucap Ian yang kini menghampiri Albra yang sudah menampakan wajah hampir membunuh dihadapannya.


“Lama! Cepat!” ucapnya. Ia menyuruh Ian untuk memberikan kartu akses agar bisa masuk kedalam klub ini.


“Selamat datang Tuan Ian. Silahkan ke meja yang sudah saya sediakan,” ucap seorang pelayan wanita yang mengantarkan mereka masuk kedalam klub tersebut.


“Clubbing kok ditempat musuh,” sindir Albra yang masih bisa Ian dengar.


Mendengar itu, Ian pun tertawa dengan kencang. “Disini banyak ceweknya. Hahaha ….”


Ya, laki-laki yang mengikuti kemana perginya Qyen dan Fin adalah Albra. Namun sayangnya Albra tidak bisa langsung masuk kedalam klub tersebut karena ia tidak pernah datang ketempat seperti ini. Ia hanya pergi clubbing jika menyangkut urusan bisnisnya saja.


“By the way, tumben banget Lo ngajak Gua kes—“


“Cari Qyen. Dia dibawa Fin. Cepat saya dilantai dua,” ucap Albra disebelah telinga Ian.


Ian yang mendengar itu matanya membesar dan langsung pergi dari sana. “Loh, Tuan? Kemana perginya?” tanya pelayan wnaita yang kebingungan mengetahui Ian yang tiba-tiba menghilang.