
“I—ini maksudnya apa?” suara Qyen bergetar.
Albra tersenyum dan membantu Qyen untuk membuka dus kecil yang berisi tespack itu. “Kamu gak perlu khawatir, sekarang kamu pergi ke toilet dan coba tes pakai ini. Hanya untuk berjaga-jaga.” Albra melembutkan suaranya agar Qyen merasa tenang dan tidak terancam.
Tidak tahu harus menanggapi apa, Qyen terdiam sambil menatap dua buah tespack yang sudah ada digenggamannya. Bagaimana jika dirinya beneran hamil? Bagaimana bisa ia hamil diumurnya yang baru menginjak 20 tahun? Nanti bagaimana nasib dirinya? Dan masih banyak bagaimana-bagaimana lain didalam pikiran Qyen saat ini.
“Saya senang jika kamu memang benar hamil, Qyen …” Ucapan itu diakhiri dengan Albra yang membawa Qyen kedalam pelukannya.
Qyen memang tidak mendapatkan gejala apapun selain rasa mual dan pusingnya hari ini, juga rasa sakit di sekitar perutnya di saat dirinya di dorong oleh Frans tadi siang.
“Kenapa kamu diam? Kamu takut?” Albra menggenggam kedua tangan Qyen dengan lembut, ia menatap manik mata Qyen dengan tulus, terlihat rasa takut di dalam mata Qyen yang bergetar.
“Ka—kalau memang benar aku hamil … aku harus bagaimana?”
“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Jika kamu memang benar hamil, berarti anak itu adalah darah daging saya, dan saya sangat senang menyambutnya.”
Bukan, bukan itu yang Qyen maksud, dirinya teringat jika tadi sore Qyen sudah berada di rumah sakit dengan Brian, tidak mungkin dokter tidak memberitahu Brian jika dirinya hamil. Pikiran Qyen sangat kalut, yang ia pikiran saat ini adalah ketakutan tentang ancaman Frans.
“Sepertinya … em … aku harus gugurkan kandungan ini.”
Perubahan ekspresi Albra terlihat, bagaimana bisa Qyen berpikir untuk menggugurkan kandungannya disaat ia menanti kehadiran buah hatinya dengan Qyen?
“Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?”
Qyen menggelengkan kepalanya. “Aku takut ….”
Suara napas Albra terdengar, ia sangat paham dengan rasa takut Qyen, namun ia masih belum tahu ketakutan apa yang Qyen maksud. “Ada saya disini, saya akan bertanggung jawab dan menikahi kamu.”
Qyen melihat wajah Albra, tatapan Albra sangat tulus. Disisi lain ia sangat senang mendengar niat tulus Albra yang ingin menikahinya, namun … ia tidak bisa menjamin jika Frans menerima dirinya nanti.
Tidak ingin dirinya berpikir terlalu jauh, dan Qyen yang sudah sangat penasaran pun bangun dari dudukny ditemani oleh Albra untuk mengecek jika dirinya benar hamil atau tidak.
Albra terus membuntuti Qyen sampai masuk kedalam toilet, namun Qyen menghela napasnya jengah dengan sikap Albra yang semakin possessive. “Pak, please … kenapa kamu ikut masuk kesini.”
“Saya-kan mau bantu kamu,” jawabnya dengan wajah polos.
“Huft … kamu tunggu diluar atau aku gak mau tes ini.” Qyen mengangkat dua alat yang sudah ditangannya.
“Oke … oke saya tunggu diluar.” Albra keluar dari toilet dan menunggu Qyen dengan gusar. Rasa penasaran, excited dan mendebarkan membuat dirinya tidak bisa diam, alhasil ia berjalan kesana kemari sambil menunggu Qyen. Wajar saja Albra bersikap seperti ini karena ini adalah pertama kalinya, dulu ketika Alan hadir, Albra tidak sempat mengalami hal ini, bertemu dengan Alan saja setelah Alan lahir 2 bulan kedunia.
Pintu toilet terbuka, Qyen menyembunyikan dua alat tersebut dibelakang tubuhnya, bahkan ia sendiri pun tidak berani untuk melihat hasilnya.
“Bagaimana?” tanya Albra sambil tersenyum.
Qyen meringis kecil, bagaimana bisa reaksi Albra semenggembirakan itu? Apakah malam itu dirinya memang niat untuk membuat Qyen hamil? Hem … jika dilihat pun Albra belum pernah mengungkapkan rasa cinta kepada dirinya, jadi Qyen sedikit meragukan Albra tentang hal ini. Mereka sudah sangat dekat, namun mereka belum mengungkapkan saling cinta satu sama lain.
“Sepertinya harus menunggu beberapa menit,” cicit Qyen pelan. Berbeda dengan Albra yang sangat senang, kini Qyen merasa sangat-sangat gugup.
“Coba saya lihat.”
Memberikan dua buah alat tespack yang belum sama sekali ia lihat kepada Albra. Sebentar … Albra terdiam melihat hasilnya, sebelum akhirnya ia memeluk Qyen dengan perasaan yang sangat-sangat gembira. Dugaannya benar, Qyen saat ini sedang hamil karena dua alat itu menunjukkan hasil yang sama.
“Ke—kenapa?”
Albra melepaskan pelukannya, dan menciumi seluruh wajah Qyen tanpa ampun. “Thank you, Qyen … saya akan menikahi kamu secepatnya. Kamu hamil, Alan pasti bakal senang.”
Melihat Albra yang begitu bahagia, mambuat hati Qyen luluh dan tak sadar air matanya pun ikut turun. Rasa bahagia Albra menular kepada dirinya. Pikiran-pikiran negative yang sempat Qyen pikirkan tadi, kini mendadak hilang karena respon Albra yang sangat luar biasa bahagia, membuat Qyen tidak bisa menolak jika dirinya pun memang benar ikut bahagia.
Albra memangku Qyen untuk bisa duduk diatas meja, tak hentinya ia menciumi wajah Qyen sampai bibirnya bertemu dengan bibir Qyen. Ia pun mulai memberikan ciuman yang lembut kepada Qyen, ia ingin mengakui kepada Qyen jika dirinya memang benar-benar sangat bahagia.
Kegiatan mereka terus belanjut sampai mereka tak sadar sudah berada diatas kasur, dan tanpa menggunakan pakaian atas mereka. Qyen benar-benar malu kali ini, karena ini baru pertama kalinya ia melakukan hal ini dengan keadaan sadar bersama dengan Albra.
Albra memberikan jeda ditengah-tengah kegiatannya, ia mendekap tubuh Qyen seperti tidak ingin kehilangan wanita itu didalam hidupnya. “Saya baru merasakan perasaan sedalam ini dengan seseorang? Apa ini memang benar cinta, Qyen?”
“Aku juga baru merasakan perasan ini. Sepertinya kamu memang benar-benar cinta pertama aku. Jadi aku mohon … jangan pergi tinggalkan aku sendiri.”
“Qyen … sebisa mungkin saya akan menjaga kamu, jangan pernah tinggalkan saya.”
Qyen mengangguk dan tersenyum. “Boleh saya melakukannya?”
“Hm?” tanya Qyen yang belum mengerti.
“Menjenguk dedek yang ada didalam perut kamu,” ucap Albra sambil berbisik.
Hal itu sukses membuat kupu-kupu yang ada didalam perut Qyen berterbangan, dengan wajah yang memerah, Qyen pun mengangguk, membiarkan Albra menguasai dirinya malam ini. Setelah mereka mengungkapkan rasa cinta mereka, tubuh mereka pun kembali menyatu. Kali ini mereka melakukannya secara sadar.
Qyen sudah menetapkan hati untuk menerima Albra kedalam hidupnya, dan membiarkan Albra untuk bisa menguasai kehidupannya. Begitu juga dengan Albra yang sudah menetapkan hatinya untuk menjadikan Qyen pelabuhan terakhir didalam hidupnya.
…
“Ck! Ian, bisakah kamu pergi dari kamarku? Suara perempuan itu sangat mengganggu, lebih baik aku mendengarkan Qyen marah selama satu jam dari pada mendengar suara perempuan yang berasal dari ponsel kamu,” kesal Alan yang saat ini tengah berada dikamarnya ditemani oleh Ian.
Ian yang sedang bertelpon dengan temannya yang berada diluar negri itu pun terusik karena protesan anak kecil. Kegiatan sehari-hari Ian saat ini adalah menemani Alan dari pagi sampai pagi, bahkan tidur pun ia harus mendampingi Alan. Bukan karena apa, ia hanya ingin menunjukan rasa dukungannya kepada Albra yang tengah dimabuk cinta dengan Qyen.
“Teman-teman, tapi kamu seperti orang pacaran!”
Ian terkejut, bagaimana bisa Alan tahu tentang pacaran? “Dari mana kamu tahu pacaran?”
“Hm? Temanku semua pacaran didalam kelas, dan aku merasa kesal.”
“Astaga, Alan … sebentar Gue matikan dulu telponnya.” Ian mematikan telpon dan menghampiri Alan yang sedang duduk di sebuah kursi dan ditemani dengan berbagaimacam mainan mahalnya. Ian merasa tertarik dengan topic pembicaran Alan, ia pun kembali memancing Alan untuk berbicara,
“Kamu diajarin siapa? Aku laporin Papa pokoknya,” ucap Ian yang mengancam Alan.
“Stop Ian! Aku hanya bicara, aku tidak pacaran. Ada temanku yang mengajak pacaran tapi aku tidak mau.”
Ian mengusap wajahnya lelah, sepertinya ia tidak sanggup untuk mengasuh Alan setiap harinya. Anak jenius itu kini malah membahas tentang pacar. “Alan, dengerin aku … pacaran itu boleh dilakukan kalau orang sudah sama-sama dewasa. Kamu tahu apa itu dewasa?”
“Ya … aku paham makanya aku menolak.”
“Iya bagus, tapi kamu tau apa itu dewasa.”
“Seperti kamu, kamu sudah dewasa dan tua-kan?”
Ian mengatur napasnya agar tidak tegoda oleh ejekan Alan, walaupun Alan anak kecil, ejekan yang Alan sampaikan selalu mengena didalam hatinya. Muka Ian memerah, ia harus sabar dan bisa mengendalikan diri penuh dengan senyuman dihadapan Alan.
“Iya … kamu benar. Tapi aku tidak tua! Jika kamu pacaran, akan aku adukan ke papa kamu. Oke?”
“Hm … aku tidak janji karena orang yang mengajak aku pacaran itu wajahnya jelek, jika Qyen mengajak aku pacaran aku mau, karena Qyen cantik.”
Ian menelan ludahnya kasar. ‘Belum tau aja ni bocah, kalau Qyen udah diembat bapaknya duluan.’
“Kamu tidak boleh gitu Alan. Tidak baik.”
“Tapi memang benar, kalau teman yang mengajak aku pacaran itu cantik seperti Qyen baru aku mau.”
Sudah … Ian sudah pasrah menghadapi obrolan anak kecil itu. Setiap harinya ketika mengasuh Alan, ia selalu saja dihadapi hal-hal yang terjadi di luar kendalinya.
Pintu kamar Alan terbuka, sosok Frans masuk dan menyapa cucu kesayangannya. “Hai cucu Grapa, sudah lama tidak berjumpa.”
Alan tersenyum dan menerima pelukan Frans. “Grapa selalu sibuk diluar kota, makanya kita jarang bertemu.”
Frans mengintar keseluruh ruangan tidur Alan, hanya ada Alan dan Ian disini, ia pun sudah tahu jika Alan kini jarang tidur dengan Albra, dan hanya Ian yang mengurus Alan.
“Kemana Papa kamu?”
“Hm?” sebelum menjawab, Alan melihat terlebih dahulu kepada Ian, Ian pun memberikan kode x ditangannya. Walaupun masih kecil, Alan tahu jika ia tidak boleh membocorkan sesuatu tentang papanya secara sembarangan. “Papa banyak kerjaan,” jawabnya singkat.
“Really? Kamu selalu berdua dengan Ian?”
Alan menggelengkan kepalanya. “JIka pulang sekolah aku selalu makan dengan Papa. Grapa tidak perlu kahwatir, aku sudah besar.”
Frans tertawa dan mengusap kepala cucu kesayangannya itu. Melihat Alan tumbuh dengan cerdas dan tampan, terdapat kepuasan tersendiri didalam hati Frans. Sebelum beranjak pergi, Frans mengobrol dan memberikan sedikit waktunya dengan Alan, sebelum akhirnya ia mengajak Ian untuk berbicara empat mata diluar kamar Alan.
“Ada apa lagi, Pa? Aku bukan mata-mata Papa. Aku butuh kerjaan,” jawab Ian sambil melipat tangannya didada.
“Sejauh mana hubungan Albra dengan wanita itu?”
Wajah Ian berubah menjadi datar. “Apa Papa tidak risih dengan omongan orang-orang diluar sana tentang keluarga kita? Jadi please, Pa … tidak ada salahnya kami memiliki hubungan dengan wanita.”
“Maksud kamu? Kami? Kamu juga memiliki hubungan dengan wanita? Berani-beraninya kamu!”
‘Plak!’
Tamparan berhasil mendarat di wajah Ian, tamparan yang sudah biasa ia terima dari papanya, dan saat ini tamparan itu sudah tidak berarti apapun baginya.
“Tidak ada yang bisa mempengaruhi keluarga saya, Ian. Kamu hanya perlu mengikuti ucapan dan titah saya.”
Keduanya sama-sama diam. Ian merasa muak jika Frans terus membahas tentang hal ini dengan dirinya. “Tanpa kamu, saya tahu apa yang sudah Albra lakukan diluar sana. Wanita yang Albra tiduri benar-benar hamil ….”
‘Deg ….’
Jantung Ian terasa berhenti seketika. Wanita yang Albra tiduri? Saat ini tidak ada orang lain selain Qyen? Tapi mengapa dirinya malah mendapat informasi dari ayahnya, bukan dari Albra secara langsung.
“Bukannya Papa harus senang?” jawab Ian masih dengan ekspresi datar.
“Saya tidak menerima keturunan dari orang miskin dan tidak berpendiidkan seperti dia. Entah apapun caranya pisahkan Albra dan wanita itu secepatnya! Ini perintah dari Papa!”
....
Jangan lupa like, vote, share, dan komentarnya ya ...
luvluvvvv