ALBRA

ALBRA
58. Makan malam bersama Frans



Sebuah pelukan dari orang tersayang ternyata sangat mempengaruhi kondisi seseorang. Seperti Alan yang saat ini sudah tenang dari tantrum-nya dan ia pun akhirnya bisa memakan sedikit makanan masuk ke dalam perutnya.


Jam sudah menunjukan pukul 7 malam, Qyen masih berada di rumah keluarga Max, karena Alan tidak mau Qyen pergi jauh darinya. Bahkan Qyen pergi ke toilet pun, Alan harus menunggu di depan pintu, ia takut jika Qyen kembali pergi meninggalkannya.


“Qyen …” Alan kembali memanggil Qyen dengan sebutan awalnya, karena ia sudah merasa nyaman memanggil Qyen dengan nama. Tentu saja Qyen tidak masalah akan hal itu.


“Iya, sayang? Kamu laper?” tanya Qyen yang saat ini tengah memakaikan baju ganti Alan.


Alan mengangguk, Alan tidak berbohong jika perutnya sangat lapar kali ini, karena sejak pagi perutnya hanya diisi oleh satu buah pisang yang di suapi oleh Qyen sore tadi.


“Kamu ingin makan?”


“Iya, aku ingin makan. Tapi aku tidak mau makan makanan chef di sini.”


“Lalu, kalau kamu tidak mau makan makanan buatan chef, kamu mau makan apa? Kita bukan sedang di penthouse, sayang.”


“Aku ingin makan masakan kamu. Aku ingin ayam goreng buatan kamu. Boleh ya, Qyen … Aku lapar sekali …” keluh Alan sambil memegang perutnya.


Qyen sangat kasihan melihat Alan, ia pun tidak bisa menolak keinginan anak kecil itu. Qyen berpikir sebentar, bagaimana caranya ia bisa masak di dapur yang bukan tempatnya? Apalagi tidak ada siapa-siapa yang menemaninya di sini, Ian sudah pergi, dan Albra sedang ada di perjalanan.


“Selamat malam …”


Suara Albra terdengar dari arah pintu, Qyen tersenyum melihat Albra yang datang dengan jas yang tersampir di tangannya. Sedangkan Alan yang melihat Papanya datang, ia tidak berselera, ia hanya diam menghadap tembok.


Qyen menghampiri Albra, membantu Albra untuk membawa jasnya. Dengan senang hati Albra mencium kening istrinya karena ia merasa rindu. Walaupun masalah kemarin belum sempat mereka bahas, tapi mereka tidak akan membahas hal itu di depan Alan. Albra mencoba untuk dewasa, dan Qyen pun mencoba untuk memahami situasi yang ada.


“Kak … Kamu harusnya jelasin dulu ke Alan kemarin. Harusnya kamu minta maaf dulu ke Alan sebelum kamu nyuruh Meta buat bawa Alan pergi,” ucap Qyen berbisik di telinga Albra.


Albra memperhatikan Alan dari jauh sambil tersenyum. Ia baru pertama kali melihat Alan seperti ini, mungkin karena Alan merasa Qyen memihak kepadanya.


“Saya lupa, kemarin saya tidak ingin memperpanjang masalah.”


“Minta maaf dulu kepada Alan. Lalu setelah itu dia ingin makan ayam goreng buatan aku, tapi aku tidak tahu bagaimana untuk membuatnya.”


“Sebentar saya temani kamu memasak ya. Kamu tidak lelah?”


Qyen menggelengkan kepalanya. Melakukan sesuatu untuk seseorang yang ia sayang, Qyen tidak akan pernah lelah.


Albra menghampiri Alan dengan pelan, ia pun merendahkan tubuhnya di hadapan Alan yang sedang duduk di tempat tidurnya. “Anak Papa wangi banget. Kamu baru selesai mandi, sayang?” Albra membuka suaranya, namun masih tetap tidak dihiraukan oleh Alan.


“Sayang, Papa sedang berbicara dengan kamu. Tidak baik seperti itu.” Qyen ikut membantu Albra untuk berbicara.


“Alan … Papa minta maaf. Kamu marah?”


Lagi-lagi Alan hanya diam menutup mulutnya, diam tak bersuara. Albra mencoba menggenggam tangan Alan yang terulur di sana. “Kamu mau makan? Kita lihat Qyen masak di bawah ya, setelah itu kita makan, dan Papa punya sesuatu untuk kamu. Sesuatu yang paling kamu inginkan sejak lama.”


Qyen tersenyum, dibalik sikap dingin dan datar Albra, ia memiliki hati dan sikap yang manis terhadap keluarganya. Alan mulai goyah ketika mendengar penawaran itu, ia pun mulai menengok kearah Albra. “Benar?” tanya Alan yang sudah membuka suaranya.


Albra mengangguk. “Iya, tapi kamu maafkan Papa? Setelah makan, Papa juga akan menjelaskan semuanya.”


Alan akhirnya luluh, tanpa berbicara apapun ia langsung menghambur kepelukan Papanya. Alan tidak berbohong jika ia menyayangi Papanya, hanya saja ia kesal karena kejadian kemarin, Papanya berteriak marah-marah dihadapannya, lalu menyuruhnya pulang, dan Alan tidak suka itu.


“Ayo. Saya antar kamu ke dapur.”


“Kak, kamu tidak istirahat dulu atau berganti pakaian?”


“Saya sudah mandi di kantor. Nanti jika mau tidur saja berganti pakaiannya,” ucap Albra yang diangguki oleh Qyen.


Albra menggendong Alan dengan sebelah tangannya, dan tangan kanannya ia gunakan untuk menggenggam tangan Qyen. Mereka pun menuruni tangga untuk bisa sampai di dapur.


“Kamu tidak membawa vitaminmu?” tanya Albra kepada Qyen.


Qyen tidak ingat tentang vitaminnya, bahkan ia datang ke sini tanpa memikirkan sandalnya. “Kita akan pulang ini, aku bisa meminumnya pulang nanti.”


“Sepertinya kita tidur disini, sayang. Tidak apa-apa?”


Qyen melipat bibirnya, ia ragu untuk menginap di sini barang satu hari saja, sebab ia takut terkena amarah Frans yang masih tidak suka dengan dirinya. “Kamu tidak perlu khawatir dengan Papa, ada saya di sini.”


Mendengar itu, Qyen pun hanya bisa mengangguk. Rumah mewah bak istana ini terasa seperti kuburan karena kesunyiannya, bahkan karena kesunyian itu, suara derap langkah mereka terdengar berisik. Rumah besar yang diisi oleh koleksi barang-barang antik dan mewah ini, terlihat tidak berwarna dan tidak ada kehangatan di sini. Semuanya terasa menyeramkan.


Setelah melewati panjangnya perjalanan menuju dapur, mereka pun sampai di sebuah dapur yang juga mewah. Barang-barang di dalam dapur ini hampir baru dan tak tersentuh. Lagipun Qyen berpikir siapa yang akan menyentuh barang-barang dapur jika semua yang mengisi tempat ini adalah laki-laki. Dan mungkin chef yang bertugas membuat masakan akan memasak di tempat yang berbeda.


Albra tersenyum dan mengangguk. “Siapa yang akan menggunakan dapur ini, sayang? Paling hanya Ian yang membuat mie instan di sini.”


Albra mendudukan Alan di sebuah pantry yang menghadap langsung ke dapur, ia pun ikut duduk di sebelah anaknya. Dari sini mereka bisa melihat Qyen dengan sepuasnya.


“Kamu buka saja lemari es itu sepertinya semua bahan ada di sana.”


Qyen membuka lemari es besar yang ada di sebelahnya, ternyata benar walaupun dapur ini tak tersentuh, tapi bahan-bahan makanan yang ada di sini sangat komplit.


“Kamu hanya ingin membuat ayam goreng?” tanya Qyen mengeluarkan semua bahan-bahan yang ia perlukan.


“Emm … Aku hanya ingin ayam goreng.”


“Kak, kamu ingin di buatkan sesuatu?”


“Sepertinya membuat pasta malam hari enak, Qyen. Saya akan membantu kamu.”


Qyen mengangguk dan sudah menerima request masakan yang harus ia kerjakan. Qyen mulai mengolah bahan-bahan yang ada di sana, dimulai memarinasi ayam, merebus pasta, menggoreng ayam dan juga menyelesaikan pasta yang sudah di rebus.


“Tada … Makan malam sudah siap.” Qyen membawa hasil makanannya yang lumayan banyak ke meja makan.


Ia pun tak lupa untuk menyiapkan nasi untuk Alan makan bersama dengan ayamnya.


“Wow … akhirnya aku bisa makan,” ucap Alan yang sangat semangat memakan ayam gorengnya sambil tersenyum dengan senang.


“Ayam goreng buatan Qyen paling enak ….”


Albra dan Qyen tertawa melihat Alan bahagia memakan makan malamnya. Qyen pun mengambilkan Albra pasta ke dalam piring yang sudah ia sediakan.


“Ini pertama kali aku buat, Kak. Semoga kamu suka,” ucap Qyen yang memberikan piring itu.


Qyen merasa seperti ada seseorang yang memperhatikan kearahnya dari jauh, ia pun sadar dan menengok kearah tiang besar yang ada di sana, ada Frans yang tengah memperhatikan dirinya. Qyen yang sadar akan hal itu ia pun berdiri dan menundukan kepalanya. “Tuan ….”


Albra yang tahu apa yang Qyen katakan, ia pun melihat kearah Frans berada. “Papa,” sapa Albra.


Frans hanya menatap datar kearah anaknya.


“Tuan sudah makan malam? Jika tidak keberatan, bisa bergabung dengan kami,” ucap Qyen dengan senyumnya.


“Tidak perlu.” Frans mulai melangkahkan kakinya untuk pergi dari ruang makan, namun langkahnya terhenti ketika Alan menghampirinya.


“Grapa, Grapa harus coba ayam goreng buatan Qyen. Ini enak banget, aku suka. Grapa maukan temani aku makan malam di sini?” Alan ternyata sudah niat untuk menghampiri kakeknya itu.


Frans mencoba tersenyum kecil. “Kamu makan saja, Grapa masih ada kerjaan.”


“Hm … Aku tidak pernah makan bersama dengan Grapa. Grapa selalu sibuk.”


Mendengar cucunya yang bersedih membuat Frans merasa tidak enak hanya karena cucunya. Tangannya yang digenggam oleh Alan, akhirnya membawa ia menuju meja makan, duduk bersama Qyen, Albra dan juga Alan.


Qyen bangun dari duduknya, untuk mengambilkan makan malam Frans. “Permisi, Tuan. Biar saya ambilkan.” Dengan sepenuh hati, Qyen pun mengambilkan satu piring pasta dan ayam goreng yang terpisah untuk Frans.


Setelah itu, ia pun kembali duduk di sebelah suaminya. Albra tersenyum kearah Qyen sambil mengusap rambut Qyen. “Kamu pemberani,” bisiknya di telinga Qyen.


Qyen tersenyum menanggapi hal itu.


“Ekhem,” Frans hanya berdeham untuk menyembunyikan ekspresinya.


“Grapa, aku suapi ya. Aaaaa ….”


Alan memberikan satu sendok kecil nasi yang berisi ayam gorengnya, lalu memberikan itu kepada Fans. Dengan penuh rasa yang bercampur aduk, Frans pun menerima suapan dari cucunya itu.


“Enakkan Grapa?”


Frans mengangguk sambil tersenyum. Betapa bahagianya Qyen melihat senyum Frans yang baru saja telihat olehnya.  Lagi dan lagi Frans merasa suka dengan masakan yang di buat olehnya.


“Papa harus banyak makan di rumah. Brian bilang, Papa selalu melewatkan makan. Setidaknya, jika Papa masih ingin hidup jangan seperti itu.” Suara Albra terdengar. Qyen yang mendnegar itu bingung, Albra sedang memberikan perhatikan kepada ayahnya, atau Albra sedang memarahi ayahnya? Karena kata-kata yang Albra lontarkan sangat tidak pas.


“Saya tidak perlu makan banyak,” ucapnya sambil memasukan gigitan ayam goreng ke dalam mulutnya berkali-kali.


Albra dan Qyen yang melihat itu tersenyum diam-diam. “Gimana, Pa? Qyen terbaikkan?”