
Burung yang bersahutan di dalam hutan terdengar di telinga Qyen. Ia bangun dari tidurnya yang tak lama, Qyen baru tertidur pukul 2 pagi karena ia menangis dalam diam dan tidak bisa tidur. Alhasil ketika ia bangun, Qyen merasakan pusing yang sangat luar biasa di kepalanya. Ia bangun, dan melihat kearah Albra yang masih tertidur dengan tenang. Qyen tidak ingin mengganggu suaminya, ia pun turun dari kasur dan berjalan untuk pergi ke toilet, ia ingin mandi pagi dan merendam tubuhnya di air hangat.
“Pak Albra sedikit berubah,” gumam Qyen pelan. Ia menatap datar kearah jendela yang menyuguhkan taman buatan tepat di belakang rumah.
‘Pak’ sebuah panggilan yang sudah nyaman melekat di lidahnya untuk memanggil Albra. Bahkan ketika sedang berbicara sendiri, ia selalu memanggil nama Albra dengan memakai sebutan seperti itu.
Qyen memejamkan matanya, menikmati air hangat yang membantunya untuk menjernihkan semua masalah yang ada di kepalanya. “Aku harus gimana kalau bertemu dengan dia?” Qyen semakin bingung dihadapi oleh sikap Albra yang tiba-tiba diam, bahkan sejak malam Qyen tidak merasakan pelukan hangat Albra di tidurnya. Bahkan Albra pun tidak peduli jika Qyen menangis.
“Mungkin aku sudah terlalu berlebihan kemarin.” Qyen mengakui itu, dirinya memang sudah berlebihan bersikap seenaknya kemarin. Tapi, ia melakukan itupun dengan kesadaran penuh, ia tidak melakukan sesuatu yang diluar batas kendalinya.
Menghabiskan waktu di dalam toilet selama 30 menit, akhirnya Qyen keluar dari toilet menggunakan bathrobe-nya. Ia menggunakan pakian yang sudah disediakan di ruangan ganti, dan sedikit memoles bibirnya dengan lipbalm yang ia bawa, tak lupa menata rambutnya agar terlihat lebih rapi.
Setelah di rasa cukup, Qyen keluar dan melihat Albra yang baru saja terbangun, ia sedang duduk di pinggir kasur sambil memainkan ponselnya.
Dengan ragu, Qyen menghampiri suaminya. “Kak, mau aku siapkan air hangat?”
Albra menatap sekilas kearah Qyen. “Tidak perlu,” jawabnya singkat dan ia pun langsung pergi menjauh dari hadapan Qyen, dan berjalan menuju toilet.
Jantung Qyen terasa copot dari tempatnya karena melihat sikap Albra yang baru pertama kali ia dapatkan. Padahal ia sudah sebisa mungkin untuk mengajak Albra berbicara, tapi sepertinya Albra masih kesal dengan dirinya.
Menerima sikap Albra, Qyen pun kini mulai melakukan tugasnya dengan membereskan tempat tidur Albra, namun ketika hendak membereskan itu sebuah ketukan di pintu terdengar, Qyen membuka pintu tersebut dan dua orang pelayan laki-laki memakai masker menyapa Qyen. “Selamat pagi, Nyonya. Biarkan kami membersihkan kamar ini.”
Mendengar itu, Qyen hanya menganggukan kepalanya, dan memberikan dua pelayan itu masuk. Qyen yang tidak bisa diam saja, ia pun pergi untuk menyiapkan pakaian kerja Albra, dan segala aksesoris yang akan Albra pakai hari ini.
Qyen yang tengah memilih pakaian atas Albra pun terkejut ketika suaminya sudah selesai mandi dan kini berdiri tegap dihadapannya. “Ya ampun, Kak. Ngagetin aja,” ucap Qyen sambil mengusap dadanya karena terkejut.
“Hm …” gumam Albra yang kini memilih untuk memakai bajunya.
Qyen menunggu Albra selesai memakai baju, ia pun kini membantu Albra untuk memakaikan dasinya. “Kamu masih marah dengan aku? Aku harus apa biar kamu gak marah, Kak? Aku takut banget liat kamu marah kaya gini,” ucap Qyen dengan suara lembutnya.
Albra hanya diam menatap kearah wajah Qyen. Sebenarnya ia tidak tega mendiamkan istrinya, namun apalah daya api cemburu kini membakar hatinya.
“Selesai. Kamu masih mau ngediemin aku?” Qyen kini menatap Albra sambil mengeluarkan jurus tatapan lucunya.
Albra semakin tidak tahan membiarkan Qyen, akhirnya ia pun luluh dan langsung memeluk istri kecilnya itu. “Hmm … Saya marah sama kamu, kamu tau?”
Qyen mengangguk di dalam pelukan Albra, ia pun kini membalas pelukan itu. “Aku salah, aku minta maaf. Kejadian seperti itu tidak akan terjadi kedua kali, Kak.”
Albra mencium bibir Qyen penuh dengan kelembutan, keduanya pun terbuai dalam ciuman mereka sampai beberapa menit kemudian. “Papa, Qyen?” Qyen mendorong pelan dada Albra agar menjauh darinya, ternyata sudah ada Alan yang tiba-tiba muncul dari dalam toilet, dan masuk ke dalam walk in closed.
“Pantas aku nunggu kalian gak keluar-keluar tenyata lagi …” Alan menggantung ucapannya sambil melipat kedua tangannya, menatap penuh selidik kearah kedua orang tuanya.
“Maaf, sayang. Aku baru selesai mandi, kamu kenapa belum mandi?” tanya Qyen yang kini membawa Alan pergi dari hadapan Albra. Ia pun sama gugupnya, walaupun sudah menjadi suami istri, Qyen masih merasa salah tingkah jika suka melakukan hal seperti itu dengan Albra.
“Argh Alan, ganggu saja.” Geram Albra, ia pun memilih untuk menyelesaikan tampilannya dan keluar dari ruangan ini.
Qyen saat ini sudah berada di kamar Alan, membantu anak kecil itu untuk membersihkan tubuhnya. “Kamu kok bisa masuk ke dalam sana?” tanya Qyen yang membuka topik pembicarannya.
Alan yang sedang berendam pun menjawab. “Aku tuh gak suka mandi di sini, dan aku suka mandi di toilet kamar Papa. Makanya Grapa buatkan pintu kemana saja di kamar aku. Bahkan dari sini aku bisa langsung menuju kamar Ian.”
Qyen menghela napasnya. Jika dari awal ia tahu akan seperti itu, Qyen memastikan akan menutup semua pintu di dalam kamar Albra terlebih dahulu.
Alan sudah selesai mandi, ia pun sudah memakai seragamnya. Frans yang tidak mengizinkan Alan datang ke sekolah, kini memilih mendatangkan guru di sekolah Alan untuk mengajar ke rumahnya. Hal itu tentu saja bisa, karena ada uang yang bermain di belakangnya.
Albra datang dengan stelan jas yang sudah lengkap, ia pun sudah membawa tas kerjanya. “Sayang,” panggil Albra.
Qyen dan Alan pun menengok kearah sumber suara. Albra mendekat mencium kening Alan lalu Qyen secara bergantian. “Papa berangkat, nanti gurumu akan datang ke sini.”
“Tidak, Qyen di sini menemani kamu.”
Alan mengangguk dan melebarkan senyumnya. Baru ia suka tentang hal seperti ini.
“Saya berangkat, vitamin dan semua kebuthan kamu, nanti dibawakan oleh Kender. Ada titipan lain untuk di bawa ke sini?”
Qyen terdiam sebentar, mengapa Albra berbicara seperti itu seolah-olah ia akan tinggal di sini lebih lama. Ia kira Qyen akan pulang saat ini. “Memangnya kita di sini lama, Kak?”
“Sepertinya akan cukup lama,” jawab Albra.
“Em mungkin itu saja. Kamu tidak sarapan?”
“Tidak perlu, perut saya masih kenyang. Kamu gak perlu antarkan saya kebawah. Saya pergi,” ucap Albra yang langsung pergi dari hadapan mereka.
“Bye-bye, Pa ….”
Mendengar itu, Albra melambaikan tangannya dan keluar dari kamar Alan.
…
Selesai memakan sarapan yang diantarkan ke kamar Alan, kini Qyen dan Alan tengah bersiap-siap menunggu guru yang akan datang mengajar Alan. Qyen rasa, Alan diharuskan home schooling karena takut jika ada sesuatu yang terjadi kepada anak kecil itu.
“Kamu ingin belajar di balkon atau di dalam kamar?” tanya Qyen mencoba mempersiapkan kondisi kamar Alan.
“Di sini saja.”
Qyen menuruti kemauan Alan, ia menyiapkan karpet berbulu sebagai alas mereka nanti. Tak lupa juga menyiapkan dua buah meja kecil, laptop, tablet dan 3 buku pelajaran Alan yang akan dipelajarkan hari ini. Juga tak lupa Qyen pun menyiapkan makanan yang akan diberikan kepada guru Alan nanti.
Mereka sesekali mengobrol dan membicarakan hal yang tak penting ketika waktu luang menunggu sang guru datang. Pintu kamar Alan terbuka, sosok Frans terlihat di sana.
Alan berlari dan memeluk kaki Frans. Qyen yang melihat itupun bangun dari duduknya dan berdiri untuk menghargai kedatangan Frans.
“Gurumu akan datang sebentar lagi. Kamu suka belajar di sini?”
Alan mengangguk. “Aku suka karena ditemani oleh Qyen,” jawabnya. “Aku sebenarnya tidak suka pergi ke sekolah karena itu sangat membosankan.”
Frans sedikit tertawa mendengar ucapan cucunya. Ia mengusap kepala Alan, dan sekilas melihat kearah Qyen yang tengah memperhatikannya sambil tersenyum. Frans menghiraukan itu, tatapannya terfokus pada kondisi kamar Alan yang lebih tersusun dan berwarna, bahkan sepertinya Frans rasa wanita itu sudah menyiapkan persiapan belajar Alan dengan rapi, terbukti dari adanya persiapan belajar di sana.
“Kamu sudah sarapan?”
“Sudah. Grapa tidak pergi bekerja?”
“Grapa mau pergi bekerja jauh, makanya Grapa pamit ke sini.”
Qyen melihat sisi baik Frans yang sangat lembut kepada cucunya. Dibalik kejamnya sifat Frans, ternyata ia pun memiliki hati yang sangat lembut untuk menyayangi seseorang.
“Baiklah, hati-hati Grapa. Jangan sampai terluka.” Frans mengangguk, ia pun melambaikan tangannya kearah Alan yang sedang melambaikan tangannya juga.
Tapi sebelum ia benar-benar pergi dari kamar cucunya, Frans mengucapkan sesuatu kepada Qyen. “Jaga cucu saya, jangan sampai terluka.” Setelah itu, Frans benar-benar pergi keluar dari kamar Alan.
Qyen mengangguk dan menundukan kepalanya untuk memberi hormat Frans.
Qyen dan Alan kembali mengobrol sampai 2 orang guru laki-laki dan perempuan datang ke dalam kamarnya. Alan pun mulai bersekolah, tidak ada bedanya antara mengajar di sekolah dan di rumah, semuanya sama hanya saja jika di rumah Alan belajar sendiri tanpa seorang teman. Untuk menghilangkan kesepian Alan, gurunya pun menampilkan sebuah tayangan langsung yang memperlihatkan kondisi kelas Alan. Selama pembelajaran itu, Alan tidak pernah hilang fokus karena Qyen selalu siap menemani Alan di sisinya.