ALBRA

ALBRA
35. Ancaman Frans



Dua minggu setelah kejadian malam itu berlalu. Beberapa hari lalu Qyen sempat pulang kerumahnya untuk mengurusi semua dagangannya yang tidak dijual untuk disortir dan dikembalikan kepada pengirim buah. Mengambil barang-barang keperluannya dan kembali menuju penthouse rahasia Albra.


Albra tidak mengizinkan Qyen tinggal sendiri setelah kejadian malam itu, karena ia takut sesuatu yang lebih besar terjadi kembali. Untuk urusan kehidupan Qyen, Albra siap menanggung semuanya, lagipun hanya membiayai Qyen hidup bukan hal yang sulit baginya.


Saat ini jam menunjukan pukul 1 siang, Qyen tengah membersihkan sebuah ruangan kosong yang akan dijadikan kamar Alan jika menginap disini. Dering ponselnya berbunyi, tertera nama Albra disana. Qyen tersenyum lalu membuka sarung tangan agar bisa mengangkat telpon Albra, entah mengapa akhir-akhir ini disetiap jamnya Albra selalu menelpon Qyen tanpa Alasan.


“Halo? Kenapa, Pak? Baru aja telpon beberapa menit yang lalu,” sapa Qyen sambil menyimpan alat pembersihnya.


“Kamu lagi apa? Kenapa gak bisa diem, Qyen? Harusnya kamu istirahat, jangan mengurus hal seperti itu, sudah ada yang bertugas.”


Suara Albra diujung sana, membuat Qyen selalu bersemangat disetiap harinya. “Kok kamu tau? Kamu ngawasin aku ya ….”


“Kamu gak liat CCTV disana? Kamu buka baju juga saya tahu ….”


“Aish … kaku banget candaannya gak lucu, Pak,” kesal Qyen sambil menatap tajam kearah CCTV.


Terdengar suara tawa Albra diujung sana, sepertinya Albra memang benar-benar sedang mengawasinya di CCTV.


“Sudah ya, Pak? Katanya kamu sibuk, aku juga lagi sibuk ini.”


“Ck! Berhenti bekerja atau saya pulang sekarang dan kunciin kamu didalam kamar?”


“Ancamannya itu terus.” Qyen merengek kesal, ancaman yang diberikan Albra terus saja seperti itu.


“Istirahat saja, saya pulang malam.” Telpon itupun dimatikan secara sepihak.


“Dasar om-om kaku!” kesal Qyen yang kini memilih membereskan peralatan kebersihannya yang sempat ia bawa untuk ia simpan diluar penthouse.


Qyen berjalan menuju ujung lorong tempat biasa ia menyimpan alat kebersihan. Walaupun dilantai ini hanya ada hunian Albra, tapi Qyen bisa merasakan suasana disini sangat-sangat menyeramkan. Qyen kembali berbalik untuk masuk kedalam penthouse, tapi sebelum itu ia tak sengaja mendengar lift yang berdenting dibalik tembok.


“Siapa itu? Bukannya yang bisa masuk ketempat ini hanya yang bisa memiliki akses?” Qyen mengintip dibalik tembok besar, ia sangat-sangat terkejut disaat melihat ada 3 orang yang memakai baju serba hitam dan penutup wajah.


Qyen yang ketakutan kini tangannya bergetar, bahkan untuk mengambil kartu akses yang ada disaku jaketnya tidak bisa, sampai ketiga orang yang memakai baju hitam itu ada dibelakangnya.


“Nona ….”


Darahnya berdesir hebat, kaki dan tangannya gemetar bukan main, bahkan kini bibirnya pun ikut begertar karena ketakutan.


“I—iya, ada yang bisa saya bantu?” tanya Qyen mencoba untuk menutupi rasa takutnya namun tidak bisa.


“Anda harus ikut kami,” ucapnya yang kini mencoba menggandeng lengan Qyen, namun Qyen menolak dengan cepat.


“Enggak! Kalian siapa?”


“Anda tidak perlu tahu kami siapa. Silahkan ikut kami.”


Ketiga orang yang memilki badan besar itu terus memaksa sampai Qyen lelah untuk melawan akhirnya dipaksa dan terseret untuk ikut bersama mereka.


“Tolong … tolong … lepaskan!” Qyen terus memberontak dan berteriak, walaupun usahanya tidak akan berhasil namun ia tetap mencoba mencari bantuan agar ada seseorang yang bisa menolongnya.


Qyen bisa menebak jika ketiga orang ini bukan utusan dari Albra. Bahkan Albra tidak mengatakan apapun tadi ketika ditelpon. Qyen hanya bisa pasrah saat ini ketika matanya ditutup oleh kain hitam dan dimasukan kedalam mobil.


Air matanya kembali mengalir, ia kira berada disamping Albra beberapa hari ini membuat dirinya aman dan nyaman. Namun ternyata membiarkan dirinya hidup bersama Albra itu malah memasukan dirinya kedalam jurang dengan percuma. Lagi dan lagi Qyen merasa ketakutan. Bagaimana jika Fin yang melakukan ini semua? Dan bagaimana jika persembuniannya sudah ditemukan oleh Frans? Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan didalam kepalanya saat ini.


Mobil terus berjalan, Qyen tidak tahu kemana dirinya akan dibawa, yang pasti saat ini ia merasakan mual yang sangat teramat karena hanya ada sedikit udara yang ia hirup. Semua itu berlangsung sampai beberapa jam kemudian barulah mobil berhenti, dan badannya yang lemas diseret oleh dua orang.


‘Aku sudah mengira, Kak Fin masih ada didalam penjara, satu-satunya orang yang gak akan diam tahu hubungan aku dengan Pak Albra, hanya ayahnya sendiri.’


Qyen kini berlutut, karena ada seseorang yang menendang belakang kakinya. Disaat benturan itu terjadi, ia bisa merasakan perutnya terguncang dan merasakan sakit yang amat luar biasa, namun sebisa mungkin ia tahan karena Qyen tidak ingin terlihat lemah dihadapan Frans.


“Long time no see … masih belum cukup mengurusi kehidupan keluarga saya?”


Ikatan tangan Qyen dilepas, ia pun kini merasa sedikit bebas. Qyen masih berlurut dihadapan Frans, namun ia tak lupa dengan senyum manis yang ia tampakkan didepan Frans. “Maaf Tuan jika saya lancang menjawab. Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, saya tidak pernah mengurusi kehidupan keluarga anda, dan saya tid—“


‘Plak!’


Sebuah tamparan keras dan cepat mendarat diwajah Qyen. Qyen bisa merasakan jika hidungnya mengeluarkan darah, pipinya terasa panas dan cairan bening pun kembali keluar dari pelupuk matanya, namun ia masih  bisa menampakan senyumnya didepan Frans yang sudah sangat murka.


“Perempuan murahan! Mau mengincar harta?”


Qyen membiarkan darah dihidungnya mengalir sampai terkena dagunya, dan berhasil menetes mengenai lantai dihadapannya.


“Tidak sedikitpun saya mengincar harta anda, Tuan. Tuan pastinya tau siapa saya.”


Frans memegang kepalanya yang terasa sangat pusing, urusan Albra mengenai perempuan masih saja belum selesai. Kini kembali terjadi dengan perempuan yang sama, ia merasa kalah karena tidak bisa menyingkirkan perempuan kecil seperti Qyen.


Frans memberikan kode melalui tangannya kepada orang kepercayaannya. Brian mengangguk, memberikan sebuah foto kehadapan Qyen. Qyen bisa melihat jika foto itu adalah foto kegiatan sehari-hari dirinya selama dua minggu ini didalam penthouse Albra. Bahkan difoto itupun ada gambar Albra yang sedang mencium bibirnya.


“Saya tahu hubungan kamu dengan Fin dan juga Albra. Kamu ingin menguasai keduanya? Atau kamu memiliki tujuan untuk menghancurkan keduanya?”


Qyen melipat bibirnya, ia tidak habis pikir dengan cara Frans melihat dirinya. Bagaimana bisa Qyen ingin menghancurkan dua kubu besar itu dengan tangan kosongnya? Bahkan kini umurnya baru menginjak 20 tahun, pendidikan formal pun Qyen tidak selesai, bagaimana bisa ia menyandingi Albra dan Fin?


“Jawab!” teriak Frans yang membuat Qyen terkejut.


Dirinya serba salah disini, Frans menyuruhnya diam tadi, dan Frans saat ini menyruhnya untuk berbicara. Qyen kembali mengeluarkan senyum kecilnya.


“Tuan pastinya sudah tahu tentang latar belakang saya. Mungkin Tuan lebih mengerti, dan saya tidak perlu bersuara untuk menjelaskannya.” Qyen tersenyum untuk meyakinkan Frans, bahwa tidak semua perempuan itu lemah, dan ia pun ingin menunjukan bahwa perempuan itu berhak dikasihi, juga Qyen ingin memperlihatkan jika dirinya layak bersanding dengan Albra walaupun ia hanya seorang perempuan miskin. “Saya perempuan yang tidak menyelesaikan sekolah saya, saya hanya penjual buah, dan saya tidak pantas dikatakan sebagai perempuan yang ingin menguasai Tuan Albra ataupun Fin.”


“Masalah apa yang terjadi pada malam tanggal dua belas kemarin?”


Qyen terdiam, mengingat kembali tanggal buruk itu. “Saya tidak tahu persis apa yang sedang terjadi, namun singkatnya Kak Fin menjebak saya disebuah klub malam, dan tiba-tiba saja Tuan Albra dan Tuan Ian datang menyelamatkan saya.”


“Dan?” Frans kembali bertanya untuk mendapat semua pernyataan yang benar.


“Dan … saya dibawa oleh ….”


“Dan setelah itu apa yang terjadi antara kamu dan anak saya!”


Qyen menggelengkan kepalanya. “Tidak ada yang terjadi apapun diantara kami.”


“Benar?”


Brian mendapatkan perintah untuk mengangkat Qyen berdiri. Tubuhnya tidak stabil dan hampir terjatuh, untung saja Brian dengan sigap membantu Qyen agar berdiri dengan tegap.


Qyen diam tidak menjawab, Frans kini mendekat kearah Qyen dan semakin dekat bahkan bagian depan tubuh mereka hampir menyatu, Frans pun membisikan sesuatu ditelinga Qyen. “Kamu yakin tidak terjadi apa-apa pada malam itu? Mari kita lihat apa yang akan terjadi jika kamu mengandung benih keluarga saya!”


Frans berlalu dengan menabrak bahu Qyen sampai Qyen terjatuh kembali. Kini perutnya semakin merasakan sakit yang amat luar biasa, sampai ia hilang kesadarannya.


Brian yang bertanggung jawab atas Qyen, ia pun panik karena Frans menyruhnya untuk tidak menyakiti Qyen sampai berlebihan. Ia pun memerintahkan bawahannya untuk membawa Qyen kerumah sakit. Dibawanya Qyen keluar dari sebuah ruangan rahasia bawah tanah milik Frans, yang berada jauh dipedalaman setelah rumahnya.