
Tak butuh waktu lama, Qyen kembali keluar dengan pakaian yang lebih rapih dari yang tadi. Lalu Albra bisa melihat jika Qyen sedikit menyapu wajahnya dengan make up. Dilihat dari mata sembabnya yang sudah sedikit hilang, dan bibir pucatnya yang sekarang di isi oleh lipstick berwarna pink muda.
“Aku tidak tahu harus pergi kemana untuk menyelesaikan urusan ini, tapi bisa beri aku waktu untuk membereskan dagangan ku di atas?” tanya Qyen dengan wajah canggungnya.
Albra bangun dari duduknya dan mengangguk. Mereka pun kembali ke atas, dan Qyen mulai membereskan buah-buahannya agar ia bisa menutup tokonya saat ini. Albra yang tidak bisa diam saja melihat Qyen, wanita kecil itu berbenah sendirian, ia pun mencoba membantu mengangkat keranjang buah-buahan ke dalam toko.
“Pak, tidak usah. Kamu tidak perlu membereskan seperti ini,” ucap Qyen yang merasa tidak enak.
“Hm, kamu tidak perlu banyak berbicara,” jawab Albra yang masih melanjutkan pekerjaannya.
Qyen yang merasa tidak asing dengan ucapan itu, ia menjadi teringat kepada Alan. Bagaimana bisa anak kecil itu berbicara sangat mirip dengan ayahnya, memang buah tidak jatuh jauh dari pohonnya. Walaupun sedikit kesal mendengar jawaban seperti itu, namun Qyen merasa sedikit rindunya kepada Alan bisa terobati.
Selesai dengan urusan tokonya, Qyen pun tak lupa menunci semua pintu dan jendela.
“Kamu tidak perlu takut menghadap ayah saya. Ada saya di sana,” ucap Albra yang kini berjalan terlebih dahulu menuju mobilnya.
Qyen pun mengikuti kemana perginya Albra, dengan sedikit ragu ia bingung untuk membuka bagian pintu mobil sebelah mana untuk bisa ia masuki. Qyen yang hendak berjalan menuju belakang mobil, dengan cepat pintu depan mobil pun terbuka, di mana Albra yang membukakan pintu itu dari dalam.
“Cepat masuk, sepertinya hujan turun.”
Qyen mengangguk dan masuk ke dalam mobil Albra. Mobil pun melaju kearah pusat kota yang Qyen bahkan belum kenal dengan jalan yang mereka lalui.
“Jalan menuju rumah akan sedikit lebih lama, kamu bisa tidur,” kata Albra yang memecahkan kehenigan diantara mereka.
Qyen yang sedikit tengang dengan kedua tangannya yang memegang tali seat belt-nya itu pun menggelengkan kepalanya, dan Albra melihat itu.
“Kenapa?” tanya Albra.
“Aku takut dibawa pergi ke tempat yang aku tidak tahu. Aku harus melihat jalan-jalan ini agar aku bisa kembali pulang ke rumah.”
Suara gelak tawa Albra pun memenuhi seisi mobil, Qyen yang baru pertama kali mendengar suara tawa Albra pun menengok kearah laki-laki aneh itu.
“Kenapa? Ada yang salah?”
“Hahahaha … tidak-tidak, apakah kamu akan berbicara seperti ini kepada orang yang akan menculik kamu?” tanya Albra yang sudah tidak berbicara dingin lagi.
Qyen pun tertular dengan tawa Albra, dan ia sedikit tersenyum. “Tidak juga, tapi aku memang harus memperhatikan jalanan,” ucap Qyen lagi.
Ia sedikit tidak menyangka bisa mendengar suara tawa Albra yang sangat menggelegar itu. karena pasalnya Albra terlihat sangat dingin, datar dan menjaga image-nya di depan orang-orang.
“By the way … aku masih belum tau kenapa aku bisa di sini. Memangnya ada masalah dengan Alan?” tanya Qyen untuk berjaga-jaga agar ia bisa menghadapi ayah dari Albra nanti.
Albra terdiam cukup lama sebelum akhirnya menjawab pertanyaan dari Qyen. “Alan baik-baik saja. Saya belum bisa memberitahu kamu saat ini. Mungkin nanti akan saya beritahu.”
Mendengar jawaban Albra seperti itu, jantung Qyen berdetak cukup hebat. Ia masih belum mengerti dengan hal yang sedang terjadi saat ini. Qyen yang hendak menjawab ucapan Albra itupun terhenti karena dering telpon dari ponsel Albra berbunyi.
“Bisa kamu lihat?” ucap Albra ketika Qyen sedang mengintip sedikit ponsel Albra yang tersimpan di sebelahnya.
“A … em ….”
Dengan ragu, Qyen pun mengambil ponsel tersebut dan mengangkat telpon yang memperlihatkan nama ‘Sekertaris 1’
Qyen mendekatkan ponsel Albra kepada pemiliknya dan menekan tombol pengeras suara.
“Ada apa?” tanya Albra.
“Tuan Albra, tuan muda tidak di temukan di rumah utama. Para penjaga sedang mencari dan kami butuh bantuan anda.”
“Cari ke penjuru tempat. Saya sedang diperjalanan.”
Tidak mendengar apa yang ‘sekertaris 1’ itu sampaikan, tapi Albra sudah menyuruh Qyen untuk mematikan ponselnya, dan mobil yang Albra kendarai kini semakin cepat membelah jalan yang sepi.
Qyen yang tahu situasi apa yang sedang terjadi, hatinya pun sedikit tidak tenang. Ia hanya bisa diam sambil sesekali menutup matanya, Albra mengendarai mobilnya dengan sangat-sangat cepat. Bahkan saat ini Qyen tidak berani menatap kearah wajah Albra. Jagankan menatap wajah dari papa Alan itu, di dekat dengannya saja, suasana langsung berubah menjadi dingin.
Hujan turun dengan sangat deras, menambah ketegangan yang sedang terjadi di sini. Tak lama, mereka pun sampai di depan sebuah gerbang yang sangat tinggi dan juga mewah, Qyen bisa melihat para penjaga sibuk membuka gerbang tersebut sebelum akhirnya mereka masuk dan Albra kembali menjalankan mobilnya dengan sangat cepat.
Qyen merasa dirinya sangat asing dengan tempat ini, ia pun berpikir, jika kita sudah memasuki gerbang, lalu di mana rumah milik ayah Albra tersebut?
Kini pertanyaan yang baru ia tanyakan di dalam hatinya terjawab ketika ia sudah melihat sebuah rumah putih yang sangat-sangat mewah menjulang tinggi dari kejauhan.
“Kamu akan bertemu dengan sekertaris saya nanti. Saya akan langsung pergi mencari Alan,” ucap Albra di saat mobil yang dikendarainya berhenti tepat di depan pintu rumah dengan beberapa penjaga yang sudah bersiap membukakan pintu mobil.
Qyen yang hendak membuka mulutnya untuk berbicara pun terhenti, ketika Albra langsung keluar dari mobilnya dan turun begitu saja. Qyen menatap kepergian Albra yang masuk ke dalam pintu besar itu, kini ia pun memikirkan bagaimana nasib dirinya yang ditinggal sendiri.
Tak lama, seorang perempuan yang menggunakan stelan jas, dan berambut pendek juga menggunakan kacamata hitam, membukakan pintu mobil untuknya. Mau tidak mau Qyen pun turun dan ia berdiri dengan sangat canggung di sana.
“Saya Meta, sekertaris Tuan Albra, silahkan ikuti saya. Tuan besar sudah menunggu.”
Perempuan yang mengenalkan dirinya bernama Meta itu berjalan terlebih dahulu, dan Qyen pun menyusul dibelakangnya dengan berjalan sambil menunduk. Qyen merasa dirinya sangat ketakutan karena di sini banyak sekali orang yang menggunakan stelan jas hitam.
Ketika masuk ke dalam, langkah Meta pun berhenti dan ia menyerahkan sebuah kotak kepada Qyen untuk Qyen terima. “U—untuk apa?” tanya Qyen dengan gugup.
“Simpan semua barang bawaan anda di sini,” ucap Meta.
Qyen yang tidak ingin membuat masalah ia pun menyimpan ponsel dan jugas tasnya ke dalam kotak yang sudah disediakan. Ia belum pernah melakukan kegiatan seperti ini sebelumnya ketika mengunjungi rumah seseorang.
Setelah menyerahkan semua barang-barangnya, Qyen pun kini di kenalkan dengan seseorang yang sepertinya Qyen sedikit mengenali orang tersebut.
“Silahkan ikuti saya,” ucap laki-laki yang kini mengajak Qyen untuk masuk ke dalam rumah.
Qyen yang sudah panik dan tidak bisa lagi memikirkan siapa laki-laki yang ada dihadapannya, kini perhatiannya pun teralihkan dengan isi rumah mewah yang terbilang bak istana dongeng. Semua isi dari furniture rumah putih ini adalah berwarna emas dan putih, tidak ada lagi warna selain emas dan putih bahkan tanaman buatan pun ikut berwarna emas yang sangat mengkilap.
Qyen di bawa menuju ruangan dengan pintu yang sangat menjulang tinggi. Ia tidak tahu akan dibawa kemana, dan ia pun belum tahu keselmatan dirinya akan terjamin atau tidak di sini.
“Se—sebentar, Pak. Saya tidak tahu harus apa dan kemana,” ucap Qyen yang menginterupsi ketika laki-laki yang membawanya hendak membukakan pintu besar itu.
“Anda hanya perlu menghadap Tuan besar, karena anda sudah mencampuri urusan keluarganya.”